
Di saat Shafa tengah berjuang mengembalikan ingatan suaminya tentang dirinya, di tempat lain ada seseorang yang tengah berjuang melupakan dirinya. Siapa lagi kalau bukan dokter Malvin. Ditengah ramainya acara keluarga yang ia hadiri kali ini, ia memilih untuk menyendiri di sudut kolam, menikmati suasana petang yang baru menjelang.
Apakah jatuh cinta memang sesakit ini?
Ia bahkan baru membuka kembali hatinya setelah bertahun-tahun lamanya dan kini harus berakhir patah hati. Kalau saja ia bisa memilih, tentu ia tak akan pernah mau berada di situasi seperti saat ini. Mencintai milik orang lain! Tidak pernah terlintas di kamus dalam hidupnya menjadi serendah itu karena menginginkan milik orang lain.
Sejak awal dia tidak pernah mencintai milik orang lain. Yang ia cintai adalah wanita menyedihkan yang kehilangan suaminya. Tentu saja tidak ada larangan mencintai seorang janda bukan? Terlebih saat semesta seakan mendukungnya.
"Vin, kenapa nggak gabung dengan yang lain?" Kedua orang tua Malvin mendekati putra bungsunya tersebut.
"Malas mah, Malvin lebih nyaman disini" Ia meletakkan gelas minumannya kembali di atas meja.
"Apa karena Shafa?" Tebak mama Malvin yang tahu benar kegundahan putranya.
"Sudahlah Vin, lupakan dia. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan single yang pasti mau sama kamu. Kamu laki-laki boy!" Ujar papa Malvin sambil menepuk bahu putranya.
"Benar Vin, Eliza juga masih single. Bukannya dulu kalian pacaran dan kelihatannya dia masih mengharapkan kamu" Balas Mama Malvin sambil memberi kode yang mengarah pada seorang wanita cantik bertubuh tinggi tersebut.
"Malvin nggak minat!" Jawabnya singkat.
"Come on Vin! Jangan seperti perempuan yang terlalu lebay dengan urusan asmara. Masih banyak wanita cantik yang menunggu kamu. Lupakan Shafa!" Papa Malvin mencoba menguatkan tapi justru membuat Malvin marah.
"Lebay papa bilang?" Malvin menyunggingkan senyum sinis.
"Dulu, siapa yang terus memaksa Malvin untuk membuka hati. Siapa yang terus merong-rong Malvin untuk mendekati putri dokter Harsha. Saat Malvin sudah benar-benar mencintainya, papa dengan mudahnya menyuruh Malvin melupakannya seolah semua adalah salahku. Papa lupa? Papa dan Mama pernah begitu menginginkan Shafa jadi menantu di rumah ini. Melupakan tidak semudah membalikkan telapak tangan mah, pah!"
Kedua orang tua Malvin terdiam mendengar ucapan putranya yang memang benar adanya.
"Tapi, suaminya sudah kembali nak. Kamu harus ikhlas" Mama mencoba berbicara halus sambil mengusp lembut dada putranya yang tengah bergejolak.
"Tidak semudah itu Ma"
"Vin, papa tahu. Tapi kamu tidak punya pilihan lain. Kamu tidak mungkin merebut istri orang kan?"
Malvin menatap tajam papanya.
Yes I will!
"Permisi, Malvin mau ke kamar" Ucapnya meninggalkan kedua orang tuanya.
"Atur perjodohan Malvin dengan Elliza secepatnya. Ia harus di paksa menikah agar bisa melupakan Shafa. Dia tidak akan menolak jika ibu yang meminta. Papa akan bicara pada ibu" Ucap papa Malvin serius. Ia harus mengambil tindakan secepatnya sebelum putranya semakin menggila.
***
__ADS_1
Sore itu Shafa yang baru saja pulang dari salon di kejutkan dengan pemandangan memukau di halaman rumahnya. Rayyan yang sudah nampak rapi dengan kemeja koko dan celana kain panjang tengah mendorong stroler berisi Zifara yang sudah cantik dengan dress bewarnaa merah muda. Am dan Zaf pun terlihat sudah ganteng sore itu. Ke empatnya nampak berbincang bincang seru di halaman rumah. Disana juga ada Aira yang sedang ngobrol bersama Zafran.
Shafa memarkirkan mobil putih miliknya di halaman dan memberikan kuncinya pada pak Madi. Ia segera menghampiri anak-anaknya yangs sudah menanti kedatangannya.
"Mommy... Mommy" Panggil mereka kegirangan saat melihat Shafa mendekat.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Am dan Zafran langsung berlari memeluk mommy nya.
"Mommy itu apa?" Pandangan Am tertuju pada paper bag yang dibawa oleh Shafa.
"Oh, ini donat buat kalian" Ucap Shafa.
"Buat cici juga mommy?" Am menunjuk Aira yang sedang mengajak Zizi bercakap-cakap.
"Iya"
Setelah memberikan pelukan pada kedua putranya Shafa beralih menghampiri Zifara yang masih anteng di atas stroller.
"Hallo anak mommy yang cantik. Zizi nggak nangis kan, selama mommy pergi?" Tanyanya sambil mengangkat tubuh Zifara dalam pelukannya.
"Gak" Jawabnya singkat.
"Ini udah cantik siapa yang mandiin?"
"Yahhh" Jawabnya lagi sambil menunjuk Rayyan. Rayyan tersenyum bangga putrinya kini sudah bisa mengenali dirinya bahkan memanggilnya ayah.
"Beneran mas?"
"Iya, Am juga tadi saya yang mandiin" Ucapnya dengan senyum penuh bahagia.
Terus aku kapan di mandiinnya? Astagfirullah hal adzim... Masih sore setan mesum udah pada beraksi.
"Em tante Lilis kemana Mas? Biasanya tante yang mandiin Zi"
"Tante tadi pamit pulang, katanya udah lama nggak nengokin rumahnya" Ujar Rayyan.
"Tumben, sama Yola juga?" Tanyanya masih heran. Si tante biasanya nggak bisa lama-lama jauh dari Zifara yang sejak bayi ia bantu rawat seperti merawat anaknya sendiri.
"Iya, Katanya tempat magang Yola lebih dekat dari rumahnya. Kalau dari sini kejauhan, Bosnya disiplin banget jadi dia harus srlalu on time terang Rayyan.
Karena kepulangan tante Lilis yang secara tiba-tiba membuat Shafa sedikit kelimpungan mengurusi tiga orang anaknya. Ia merasa semua ini seperti di rencanakan. Pasalnya, hari ini tak satu pun dari orang tua mereka yang datang berkunjung. Untung ada bi Lastri dan mbak Yati tetap tinggal.
__ADS_1
Malam ini Shafa di dalam kamarnya tengah mencoba beberapa pakaian seksinya yang dulu sering ia kenakan. Mumpung Rayyan dan Zaf masih di masjid ia segera masuk ke dalam kamarnya membuka daster dan hijab instantnya kemudian mencoba kembali pakaian andalannya dulu.
Ia mematut bayangan dirinya di cermin, berputar-putar dan berpose dengan beberapa gaya.
Cantik!
Ia tersenyum puas melihat wajahnya yang tak pernah berubah, ia benar-benar merindukan style nya yang dulu. Perawatan salon tidak hanya membuat wajahnya menjadi fresh tapi juga telah berhasil mengembalikan energi positif dalam dirinya.
Setelah memastikan penampilannya akan terlihat cantik, Shafa memakai kembali daster dan hijabnya. Ia akan memberi kejutan pada Rayyan nanti setelah anak-anak mereka tidur.
"Mommy kapan atu punya adik di tini?" Am tiba-tiba mendekat menyentuh perut mommynya. Rayyan yang tengah mengajar Zaf pun menoleh seketika. Putra kecilnya itu rupanya masih belum puas dengan jawaban "nanti" yang selalu di ucapkan Rayyan dan Shafa.
"Nanti pelut mommy jadi besal kaya pelutnya tante Sonya tan mom?" Imbuhnya lagi.
"Iya"
"Telus kapan mommy. Kapan?" Desaknyaa terus menerus membuat Shafa pusing mendengarnya.
"Am tanya sama ayah ya nak. Mommy pusing" Ucap Shafa. Padahal kan untuk menghasilkan sebuah adik harus ada kerja sama yang baik antara ibu dan ayah.
"Am, dan abang bobo yuk, udah malam. Ayah ceritain kisah nabi lagi. Mau?" Bujuknya. Selain untuk mengalihkan pertanyaan seputar adik, qaktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. waktunya dua jagoannya tidur.
Tanpa banyak komentar, Am dan Zaf langsunh masuk ke dalam kamar mereka. Cerita nabi dan para sahabat selalu menjadi cerita yang di tunggu-tunggu oleh Am dan Zaf. Dan karena itu pula Am menjadi semangat tidur bersama Zafran karena tidak mendapat gangguan dari Zizi setiap pagi.
Setelah memastikan Am dan Zafran tidur, Rayyan segera mematikan lampu dan keluar menuju kamar Shafa. Saat ini Shafa pasti sedang menidurkan Zifara atau sibuk dengan ponselnya. Dalam hati Rayyan ingin sekali membangun hubungan yang lebih intens dengan istrinya itu, tapi dia bingung harus dari mana. Ia takut salam berbuat, karena tak tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai Shafa. Ia pun tersiksa dalam kebingungan tanpa tau harus berbuat apa.
Rayyan membuka pintu perlahan. Jantungnya mulai bermasalah di saat-saat seperti ini. Ia menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan Shafa. Di lihatnya Zizi sudah tidur pulas dengan guling guling kecil bermotif Hello Kitty di sisi kiri dan kanannya. Zizi menempati sisi Kiri ranjang berukuran King Size tersebut. Alasannya, karena beberapa kali Shafa sempat mengigau dan ketindisan dalam tidurnya membuat Rayyan harus siaga.
"Shafa!" Panggilnya saat tidak mendapati sang istri di kamar mandi.
"Mas nyari aku?" Sahutnya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang ganti. Shafa baru saja mengganti pakaiannya dengan salah satu dress yang dulu kerap ia kenakan.
Ia tersenyum lembut menghampiri Rayyan yang nampak tertegun dengan penampilan istrinya. Rayyan menyipitkan matanya menatan intens wanita yang kini berada di depannya.
"Aku mau mobil"
"Mas, aku maluu"
"Mas Ray mesuuuum"
"Ich liebe dich mein maan"
Satu demi satu suara itu muncul di sertani bayangan wanita di hadapannya ini.
__ADS_1