
Rayyan melajukan motor sport hitam miliknya dengan kecepatan tinggi. Satu-satunya yang ia fikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar segera sampai ke rumah. Ia harus memastikan bahwa wanita yang ada dalam video yang tengah viral di YouTube itu adalah orang lain, bukan istrinya.
Suara deru sepeda motor yang berhenti tepat di depan rumah, membuat si bungsu berlari menghampiri ayahnya.
"Yayah" Panggilnya sambil merentangkan tangan mendongak pada sang ayah.
Rayyan meraih tangan kecil putrinya dan membawanya dalam gendongannya. Rasa marahnya yang tadi menggebu perlahan berkurang saat putri kecilnya memeluk erat lehernya.
"Yayah, tata Am unya ubing-ubing bayu" Ocehnya.
"Mobil-mobil?"
"Iya, Mommy beyitan tata Am. Atu enggak" Lanjut Zizi dengan wajah cemberutnya. Nampaknya si kecil tengah cemburu pada sang kakak.
Rayyan melangkah masuk ke kediamannya setelah mengucapkan salam, yang di jawab oleh Shafa.
"Mas, sudah pulang?" Sapanya Ramah dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Hmm" Jawab Rayyan singkat. Ia memilih mendudukan tubuhnya di sofa ruang tengah rumahnya.
"Ayah, pip...pip. Atu mau lewat" Teriak Am yang tengah bertengger di atas mobil-mobilan barunya.
Rayyan menoleh pada Shafa yang tengah menuang air kedalam gelas. Seakan mengerti dengan tatapan suaminya Shafa mencoba buka suara.
"Am dari beberapa hari merengek minta itu, jadi aku belikan. Mas nggak marah kan?" Ucapnya sambil memberikan gelas berisi air. Rayyan tak menjawab. Ia menegak air yang ada di dalam gelas kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Rayyan tak tahu harus dari mana memulai. Ia sendiri ragu jika istrinya berani berbuat sesuatu tanpa sepengetahuannya. Tapi, hatinya yakin, pendengarannya tak mungkin salah. Pun, bentuk tubuh wanita dalam video tersebut semakin menguatkan keyakinannya. Sekalipun wanita dalam video tersebut memakai pakaian tertutup serta cadar.
Aku harus cari tahu.
"Mas," Shafa masuk seiring dengan dorongan pada pintu kamar yang tak terkunci.
"Mas, kenapa? Apa ada masalah" Shafa mendekat. Jari-jari lentiknya dengan lincah menarik res jaket yang masih melekat di tubuh suaminya. Rayyan bahkan lupa membuka jaketnya. Padahal, ia sudah berada di dalam rumah.
"Mau mandi bareng?" Shafa menatap wajah suaminya yang terlihat lesu. Ia menebak suaminya sedang banyak pekerjaan. Oleh sebab itu ia menawarkan diri untuk mandi bersama agar dapat sedikit mengobati lesunya.
Rayyan menunduk membalas tatapan manja istrinya. Ia tahu Shafa berusaha menggodanya. Dan sialnya ia mulai tergiur dengan tawaran sang istri. Untuk beberapa detik ia cukup terhipnotis dengan senyum manis yang tersungging di bibir ranum itu. Belum lagi tatapan mata yang begitu menenangkan.
"Yuk!" Ajaknya lagi. Membuat Rayyan tersadar akan kekesalannya tadi. Rayyan melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Ia menjatuhkan dagunya di bahu Shafa.
"Apa ada yang Shafa sembunyikan dari mas?" Tanyanya. Kepalanya masih setia bersandar di bahu sang istri. Jika benar itu istrinya, ia harap Shafa mau jujur. Sungguh, ia tak rela jika Shafa menjadi bahan tontonan yang di anggap menarik, bukan hanya karena suaranya tapi juga wajahnya meski tertutup cadar sekalipun. Ia yakin di luar sana bukan hanya pak Benni yang mengagumi sosok bersuara merdu itu.
__ADS_1
"Sembunyiin apa sih mas? Mas kenapa sih? Apa ada masalah?" Shafa menoleh menatap wajah lelah suaminya.
"Ga, apa - apa. Mas hanya lelah saja"
Jika Shafa tak mengakuinya, bisa jadi orang itu bukan Shafa. Tapi mengapa hati kecil Rayyan berkata lain. Ia harus cari cara untuk membuktikannya.
Setelah selesai mandi bersama, keduanya keluar kamar. Mereka mencari keberadaan ke tiga anak mereka yang tak nampak di dalam rumah.
"Bi, anak-anak kemana?"
"Di depan mbak, lagi main sama non Aish" Jawab Bi Lastri yang baru saja mengangkat jemuran.
"Aisyah datang, bi?"
"Iya, Mas. Di antar sama cowok ganteng banget tadi, Mas." Jawab Bi Lastri.
"Cowok? Siapa?" Gumam Rayyan.
"Udah biarin aja. Aisyah juga sudah besar ini. Ayo ke depan!" Shafa menarik lengan suaminya menuju halaman depan.
Shafa tersenyum senang, mendengar suara tawa ke tiga anak-anaknya. Am dan Zizi yang tengah menaiki mobil-mobilan nampak heboh saat mobil-mobilan miliknya di lambung oleh motor-motoran milik Zafran. Sementara tak jauh dari teras, Aisyah yang sedang memegang remot control mobil-mobilan Am, terus berteriak memberikan instruksi ada si pemegang kemudi.
"Alhamdulillah" Serunya.
"Dari tadi Syah?" Rayyan menghampiri Aisyah yang tengah duduk manis. Wajahnya terlihat bahagia. Rayyan menebak adik angkatnya ini tengah jatuh cinta. Mungkin benar, pria yang barusan mengantarnya adalah pacar Aisyah.
"Lumayan. Kang Andi dan kak Shafa apa kabar?" Tanyanya sambil menyalami sepasang suami istri yang nampak segar.
"Alhamdulillah, kami baik"
"Tante, ayah tu namanya ayah Layyan! butan Andi!" Sela Am tak terima dengan panggilan lama ayahnya.
"Iya... iya. Pak Rayyan" Aisyah memutar bola matanya malas mendengar suara nyaring Am.
"Gimana kuliahmu Syah? Masa magangmu sudah selesai kan?" Tanya Rayyan.
"Udah kang. Alhamdulillah semua lancar pisan kang. Malahan pas pengerjaan tugas akhir kemarin, Aish banyak di bantu sama dosen-dosen di kampus. Mungkin ini yang namanya rejeki anak solehah kali ya Kang," Aisyah cekikan, menceritakan bagaimana urusannya di kampus berjalan lancar tanpa hambatan.
"Alhamdulillah, berarti bisa cepet wisuda dong Syah?" Shafa pun terlihat bahagia mendengar cerita Aisyah.
"Hu.um. Minggu depan aku sidang karya tulisku kak. Doain ya kak. Ini aku perdana di angkatanku loh kak." Ucapnya dengan bangga.
__ADS_1
"Pasti kakak doain yang terbaik untuk Aish" Balas Shafa.
"Ayah, atok kapan kecini? Atu kangen"
"Minggu depan Am. Katanya, abah juga kangen sama Am. Abah Keinget terus loh kang sama Am." Jawab Aisyah.
"Nanti kalau datang, langsung ke sini aja Syah. Biar kakak siapin kamar buat Abah dan Ambu"
"Nah itu dia kak. Aish tu mau bilang itu tadi. Abah teh mau nginep di sini katanya. Biar deket sama anak-anak"
Hari itu, Aisyah memutuskan untuk bermalam di rumah Shafa. Masa magangnya di Klinik telah usai. Tugas akhirnya pun tinggal ia baca-baca saja. Ia tak menyangka bahwa urusannya akan semudah ini. Terlepas dengan campur tangan pihak lain, ia tak peduli. Yang terpenting ia bisa cepat selesai kuliah.
"Syah, kamu nggak bawa mobil?" Rayyan memulai sesi introgasinya setelah anak-anaknya tidur.
"Enggak kang," Jawabnya santai sambil menatap layar lebar yang menayangkan drama korea favoritenya.
"Terus, kesini tadi sama siapa?" Lanjutnya.
"Mas! Berisik deh" Shafa menoleh pada suami yang tengah mengganggu ke khusyukannya dalam menonton.
Aisyah tak menjawab, ia masih fokus pada adegan menegangkan di layar televisi.
"Syah?" Panggil Rayyan lagi.
"Hmm" Jawab Aisyah.
"Tadi kesini sama siapa?" Tanyanya lagi.
"Kak Malvin!"
Menyadari dirinya telah keceplosan, Aisyah segera menutup mulutnya. Ia tersadar bahwa Rayyan dan Shafa tengah menatapnya serius.
"Siapa?" Ulang Rayyan.
Gluk.
Mati aku!
"Eh.. Itu, Dokter Malvin" Jawabnya lirih.
"MALVIN?" Ucap Rayyan dan Shafa serentak.
__ADS_1