Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Licik


__ADS_3

"Jam 7 lewat 18 menit! Kamu terlambat 18 Menit!" Suara dingin itu menyapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dengan nafas terengah-engah.


Dasar tirani!


Aisyah mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Keringat dingin bercampur keringat panas keluar dari pori-pori wajahnya. Aisyah harus mempersiapkan mentalnya untuk melewati hari ini. Dokter tampan dihadapannya kini telah menjelma menjadi sosok menakutkan.


"Ma...Maaf dok, tadi macet" Ucap Aisyah sambil meremas jemarinya. Sebenarnya ia bukan tipe penakut atau gentar, biasanya dia akan selalu protes jika menemukan ketidak adilan dan kesemena-menaan seseorang, tapi ini bukannya peoter atau paling tidak membela diri, Aisyah malah tercekat seribu bahasa. Wajah tampan dokter di hadapannya ini berhasil merubah psikologi berpikirnya.


"Bereskan ruangan ini! Jangan sampai ada sedikit saja debu atau kotoran yang tersisa!" Titahnya sambil berdiri dari kursinya.


Aisyah melongo, jauh-jauh di suruh datang cuma disuruh membersihkan? Apa sekarang pekerjaan OB berpindah kepadanya.


"Tapi dok, saya kan---"


Tatapan tajam itu menghentikan ucapan Aisyah. Senyum smlirik yang baru saja di tampakkan membuat gadis muda itu semakin menciut.


"Kamu lupa, saya memberikan tugas khusus sebagai asisten saya? Ha!" Ucap Malvin penuh penekanan.


Babu dok...babu!!! Asisten apaan disuruh kaya gini!


"Ta...Tapi dok, saya kan harus be..belajar seperti teman-teman yang lain. Apa Kesalahan saya yang terlambat kemarin begitu fatal dok?" Aisyah mencoba membela dirinya. Memperjuangkan hak nya, bahwa dia berada di klinik tersebut untuk mempraktikkan ilmu yang selama hampir 3 tahun ia dapat. Bukan praktek menjadi pesuruh. Asisten yang dimaksud Malvin tak jauh beda Dengan pesuruh a.k.a babu atau jongos.


Berani juga bocah ini melawan! Kamu tahu kesalahanmu bukan hanya fatal, tapi sangat fatal! Harusnya kamu tak perlu muncul dihadapan ku terlebih dengan membawa Rayyan kembali! Malvin menatap Aisyah dengan tatapan nyalang.


"Kesalahanmu bukan hanya fatal tapi sangat fatal" Ujarnya penuh penekanan membuat tubuh kecil Aisyah yang tadi bersimpah peluh menjadi pucat pasi. Nafasnya seakan tertahan di tenggorokan.


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan pintu itu berhasil membuat Malvin mengalihkan perhatiannya. Aish Menghembuskan nafas lega. Siapapun itu ia harus berterimakasih pada orang yang baru saja akan masuk, setidaknya ia telah menyelamatkan dirinya dari amukan sang dokter pagi ini.


"Good morning dear" Suara merdu nan mendayu terdengar dari seorang wanita yang baru saja masuk. Seorang wanita cantik betubuh tinggi bak super model tanpa canggung memeluk dan mencium Malvin yang baru membuka pintu.


Astagfirullah... Mataku ternoda!!! Aisyah segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hari ini apes nya berkali-kali lipat. Selain dapat omelan gratis is harus menyaksikan live adegan tak senonoh dari wanita yang baru saja masuk. Malvin pun nampak biasa saja.


"Ada perlu apa kamu kemari Angela?" Tanya Malvin pada wanita bernama Angela yang sebenarnya adalah mantan kekasihnya dulu.

__ADS_1


Menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu Angela langsung melepaskan tautan manjanya pada leher Malvin.


"Who is she?" Tanyanya menatap curiga pada gadis muda yang berdiri mematung di sisi meja.


"Oh, dia asistenku" Ucap Malvin santai sambil berjalan menuju sofa di ruangan itu.


"Asisten?" Angela mengikutinya dengan perasaan penuh tanya.


"Ya, Ada masalah?" Malvin menyunggingkan senyum. Sepertinya ia mendapat ide untuk memberi pelajaran pada gadis kecil yang telah berani menentangnya.


Angela menatap Aisy dengan tatapan tak suka. Baru saja ia bergembira atas kabar kembalinya suami dari Shafa Azura yang selama dua tahun ini menjadi ancaman terbesarnya mendapatkan Malvin kembali, kini hadir lagi gadis cantik nan polos yang usianya masih sangat muda. Iaa memindai penampilan Aisyah dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Tidak mungkin Malvin menyukai gadis kecil seperti ini. Gumamnya. Jika di bandingkan dengan dirinya, Aisyah tentu hanya sebahunya, belum lagi rambut indah dan tubuh moleknya. Ah sangat tidak bisa dibandingkan dengan hijaber cilik ini.


Merasa berada dalam situasi yang begitu sulit Aisyah mencoba untuk mencari kesempatan menghindar, Ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk yang langsung di sambut tatapan tidak suka dari Angela.


"Em... Maaf dok, bisa saya keluar sekarang" Tanyanya hati-hati. Selain ingin menghindar dari dokter tanpan berhati licik itu ia juga ingin menyelamatkan penglihatannya dari hal senonoh yang mungkin saja terjadi.


"Tunggu!" Malvin bangkit dan tersenyum ramah pada Aisyah. Sebuah senyuman yang membuat Angela merasa kepanasan. Aisyah melongo mendapat jawaban begitu hangat pluss senyum manis dari orang yang tadi begitu menakutkan. Bukannya merasa senang Aisyah merasakan hawa mencekam saat tak sengaja bersitatap dengan Angela yang menatapnya sinis.


"Apa kamu sudah sarapan?" Tanyanya lembut sambil menghampiri Aisyah. Sumpah demi apapun tubuh Aisyah langsung mengahngat mendapat sapaan ramah dari dokter tampan yang menjadi cassanova di klinik tersebut.


"Tunggulah di sini, dan jangan kemana-mana. Saya akan membawan sarapan untukmu" Ucap Malvin dengn sangat lembut dan terdengar penuh perhatian.


"Tapi dok--"


"No..No..No" Malvin mengayunkan telunjuknya di depan wajah Aisyah pertanda ia tak menerima penolakan. Sebuah senyum iblis terbit di sudut bibirnya, dan detik itu juga Aisyah sadar bahwa dirinya telah menjadi umpan bagi singa betina yang mungkin saja akan menerkamnya.


Mati aku!


Klek.


Terdengar knop pintu tertutup membuat tubuh Aisyah serasa tak berpijak di atas bumi lagi.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Senyum bahagia menghiasi wajah bocah kecil yang tengah asik berjibaku dengan ikan ikan kecil di anak sungai yang dangkal. Tangan kecilnya berulangkali menangkap ikan-ikan kecil yang sengaja di lepas untuk menyenangkan dua orang bocah kota yang sangat jarang bermain di sungai.


"Tangkap Zi... tangkap" Teriaknya pada sang adik yang jugaa ikut turun ke sungai bersama istri juragan Amir.


"Atok, mana jalingku" Pintanya pada lelaki tua yang ikut menemaninya bermain air. Juragan Amir mengeluarkan sebuah jaring kecil dengan pegangan kayu yang sebenarnya adalah saringan teh yang ia siapkan khusus untuk Am.


Saat mereka berempat tengah berkutat dengan air sungai yang dingin dan jernih, sepasang suami istri yang tengah di mabuk cinta untuk yang ke dua kalinya justru mojok di bawah pohon mangga yang sangat rindang membiarkan anak-anak nya bermain dengan kakek dan nenek baru mereka.


"Lihat deh mas, mereka seneng banget. Kayaknya kita harus sering-sering kesini. Abah sayang banget sama Am dan Zi" Ucap Shafa sambil menunjuk anak-anaknya yang terdengar tawanya.


"Apalagi kalau ada adiknya Zi pasti abah akan semakin sayang" Balas Rayyan yang tak bosan menatap wajah cantik istrinya. Meski hanya berbalut daster rumahan yang di pinjam dari istri juragan Amir, ia nampak sangat memukau.


"Mas apaan sih, kok bahasnya adik terus! Nggak bosan apa"


"Kenapa? Mas hanya ingin merasakan ikut marawat bayi, melihatnya tumbuh kembang setiap hari. Bukankah mas belum pernah merasakannya?" Balasnya. Rayyan memang banyak kehilangan momen tumbuh kembang sang anak, makanya ia ingin mengganti moment tersebut dengan anak-anaknya selanjutnya.


"Hmm...Terserah mas saja" Balas Shafa santai.


"Shafa nggak KB kan?"


Astaga! Sampe segitunya pengen punya anak sampe nanyain gue kb atau enggak...ck..ck..ck. Kb juga percuma kalo ujung-ujung nya jebol lagi!


"Nggak!"


"Bagus! Shafa nggak keberatan hamil lagi kan?" Tanyanya lagi sambil merangkul bahu Shafa.


"He.em" Jawab Shafa singkat.


Baru juga nikmatin tubuh langsing cantik mempesona, udah mau di gendutin lagi!


"Kok jawabnya gitu?" Rayyan mengerutkan dahinya memandang heran istrinya.


"Kenapa?"


"Shafa nggak iklas?"

__ADS_1


" Iklas kok mas, Iklas. Lagian ngapain mas Ray pake nanya, dulu aja waktu buat Zizi mas Ray nggak bilang-bilang. Padahal Am masih kecil, masih minum ASI" Ledek Shafa mengingatkan akan keganasan dan kenekatan Rayyan kala itu.


"Asalamualaikum"


__ADS_2