
"Ini arahnya kemana?" Tanya Malvin yang tengah mengendari mobilnya. Di sampingnya Aisyah masih memberengut kesal memangdang ke luar jendela. Ia masih tak habis pikir dengan dokter tanpan disampingnya itu yang dengan beraninyaa meleaskan penutup kepalanya dikala ia tengah pingsan. Emang dasar nggak ada ahlak si Malvin ini.
"Lurus!" Ucap Aisyah ketus. Selain kesal ia juga masih merasakan sakit pad bagian uluh hatinya lantaran kaleparan yang sempat melandanya tadi. Untung saja Malvin mau bertanggung jawab mengantarnya pulang, jika tidak ia pasti sudah melaporkan Malvin pada pihak yang berwajib.
Ciiiit...!!!
Malvin tiba-tiba menghentikan laju mobilnya mendadak membuat tubuh Aisyah terdorong ke depan.
"Astagfirullah, dokter mau bunuh saya? Kalau nggak iklas nganterin mah nggak usah dok!" Omelnya sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Diam!" Ucap Malvin tanpa menoleh pada Aisyah. Ia membuka kaca mobilnya sambari memfokuskan pandangannya ke satu titik di seberang jalan.
Rosery Cake
Toko kue ternama itu menjadi pusat perhatian Malvin, lebih tepatnya salah satu pengunjung yang tak sengaja tertangkap indra penglihatannya.
Aisyah ikut melongok mencari taunapa yang membuat Malvin tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.
Lah, itu kan kang Andi? Oh bagus nyak enak-enakkan sama istrinya sedangkan aku hampir mati kelaparan. Ini Aish musti minta tambahan ganti rugi, karena gara-gara kang Andi aku jadi kena hukuman si jurig.
Pandangan Aisyah beralih menoleh ke sebelahnya, dimana dokter tampan itu tengah memperhatikan sepasang suami istri yang tengah menunggu salah satu buah hatinya menghabiskan cupcake di bangku yang terletak di bagian luar. Rayyan nampak menggendong menggendong Zifara tengah ngobrol dengan Shafa yangbsedang menunggu Am menghabiskan cup cakenya.
Apa dokter malvin se cinta itu sama Shafa Azura?
"Ehm... dok, ini sih mau nganterin saya pulang atau masih mau mandangin istri orang?" Ucap Aisyah, dengan membatin di ujung kalimatnya.
Malvin menghembuskan nafas berat, tergambar jelas kesedihan di matanya. Ia kembali melajukan mobilnya tanpa berucap sepatah kata pun.
"Dok?" Panggil Aisyah yang mulai tidak nyaman dengan situasi hening. Ia takut Malvin tiba-tiba putus asa dan menabrakkan mobilnya atau menerjunkan mobilnya di sungai. Hiiii, fikirannya sudah melayang sampai kemana-mana.
"Dok!" Ulangnya sedikit lebih kencang.
"Ck! ada apa?" jawabnya malas.
"Dokter jangan ngelamun, nanti kalo nabrak gimana? Saya nggak mau mati muda dok, saya belum nikah. Masa ia menghadap sang khalik dengan status jomblo!" Ujar Aisyah.
"Kamu pikir saya buta, tidak bisa lihat jalan iya?" Sahut Malvin tak kalah ketus.
"Emm... Boleh nanya nggak dok?" Tanya Aisyah ragu-ragu.
__ADS_1
"Tidak boleh!"
"Yaelah dok, pelit amat. Cuma nanya ini" Cibir Aisyah.
Alamat jomblo seumur hidup nih cowok modelan kaya gini.
"Terserah saya" Balasnya enteng.
"Dokter muslim?" Ucap Aisyah spontan. Dijawab syukur nggak di jawab terserah! Batin Aisyah.
Malvin melirik sekilas pada gadia muda di sanpingnya. "Menurutmu?" Balasnya.
Modelan nggak ada akhlak gini cocoknya atheis!
Padahal Aisyah sudah pernah melihat sebuah Al-Quran yang berada di ruangan Malvin. Entah itu miliknya atau bukan. Juga gantungan bertuliskan Allah di depan mobilnya itu sudah bisa menjadi tanda bahwa dirinya adalh seorang muslim meski hanya di KTP.
"Maaf ya dok, Ini maaf banget loh ya. Bukannya saya---"
"To the point! Tidak usah berbelit-belit" Potong Malvin membuat Aisyah menggeram.
Iblis tua!!!
"Dalam islam, haram hukumnya meminang di atas pinangan saudaranya. Apa lagi menyukai seseorang yang telah di halalkan oleh saudara sesama muslim, itu adalah dosa besar dok, karena manusia itu---"
"Saya hanya mengingatkan dok! Tidak ada maksud untuk---"
"Cukup! Atau kamu turun disini" Ancam Malvin membuat Aisyah bungkam seketika.
Dasar batu! Kena Azab baru tau rasa!
Setelah menurunkan Aisyah Malvin langsung pulang ke rumahnya. Entah mengapa ucapan Aisyah di mobil tadi cukup mengusik fikirannya. Terlebih pemandangan yang menampakkan wajah bahagia wabita yang di cintainya terus melintas di fikirannya. Ia hanya bisa berandai-andai jika laki-laki yang bersama Shafa itu adalah dirinya.
****..!!! Umpatnya saat bayangan cantik ibu dari tiga orang anak itu terbayang di otaknya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi ia bergegas menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat keluarga besarnya tengah berkumpul di ruang keluarga .
"Itu Malvinku pulang" Ucap wanita tua yang berusaha bangkit dari duduknya.
"Eyang?" Malvin segera menghampiri wanita yang telah berusia kepala 7 itu.
"Kamu baru dari mana Vin? Kenapa baru pulang" Eyang menepuk pundak cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Malvin kerja eyang" Jawabnya setelah mendudukkan dirinya di sebelah sang eyang. Niat awalnya hendak beritirahat ia tunda lantaran kehadiran eyang dan beberpa saudara dari ayahnya di rumah itu.
"Ini yang di tunggu sudah tiba. Langsung saja mas di sampaikan" Ucap Adik dari papa Malvin yang juga berada di tempat itu.
"Ada apa ya om?" Malvin masih bingung dengan ucapan omnya tadi. Seperti ad hal serius yang ingin mereka bicarakan. Perasaannya mulai tidak enak, biasanya kalau ada eyangnya topik pembicaraan asti tak jauh-jauh dari perihal pernikahan. Dan Malvin belum siap untuk itu. Lukanya baru saja kembali berdarah.
"Jadi begini Vin, eyang dan om mu kemari papa panggil untuk membicarakan pertunangan kamu dengan Angela" Ucapan papa Malvin itu sontak membuatnya membelalak.
"Tunangan?"
"Iya Vin. Eyang sudah tua Vin, setidaknya sebelum eyang pergi eyang ingin melihatmu menikah dan punya anak" Ucap Eyang denga raut wajah sedih. Bagaimana tidak, Malvin si bungsu di keluarga Wijaya itu adalah cucu kesayangan sang eyang. Kekhawatiran tentu menyelimuti mereka dikala usia Malvin yang sudah kepala 3 namun belum juga berniat membina rumah tangga.
"Eyang ngomong apa? Malvin nggak suka eyang bicara seperti itu" Ucap Malvin sambil mengelus tangan keriput itu.
"Mau sampai kapan Vin, kamu sudah nggak muda lagi. Apa Malvin tidak ingin lihat eyang bahagia untuk teralhir kalinya?" Balas eyang sambil menatap Malvin. Inilah kelemahan Malvin, ia akan susah menolak jika sudah eyangnya yang berbicara
"Iya. Bukannya dulu kalian saling mencintai? Apa salahnya kalau sekarang kalian serius. Angela bahkan terus terang pada mamamu bahwa dia masih menunggumu Vin" Ucap papa.
"Tidak pa! Malvin tidak mau bertunangan dengan Angela." Tolaknya mentah-mentah. Ia tidak mungkin sudi menikah dengan wanita yang rela menjual tubuhnya demi sebuah popularitas.
"Tapi kenapa? Jangan bilang kamu masih mengaharapkan Sha---" Papa Malvin segera menghentikan ucapannya tatkala wajah tua ibunya mulai terlihat khawatir.
"Mengharapkan apa Hen?" Tanya Eyang.
"Tidak ada bu"
"Pokoknya Malvin tidak mau meenikah dengan Angela! Eyang... Malvin tidak mencintainya eyang" Malvin mencoba merayu eyangnya.
"Malvin akaan menikah tapi bukan dengan dia" Imbuhnya. Seketika itu pula mata eyang berbinar.
"Malvin sudah punya calon?" Tanyanya senang. Dengan ragu Malvin mengangguk.
Berbohong sedikit tak apa, dari pada eyaang jatuh sakit.
"Terimakasih Vin" Eyang memeluk Malvin dengan perasaan bahagia.
"Siapa Vin" Tanya papa sambil memicingkan matanya.
"Jika sudah saatnya Malvin akan kenalkan!" Ucapnya mantap.
__ADS_1
Maafkan Malvin eyang!
"