
Hari kepulangan Rayyan kembali ke rumahnya di sambut dengan ucapan syukur dan doa yang lafazkan bukan saja oleh orang-orang terdekatnya, melainkan juga tetangga, sahabat dan kerabat.
Siang itu kediaman Shafa dan Rayyan tak seperti biasanya, di sana telah nampak orang-orang yang menurut Rayyan asing tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang mengenal Rayyan.
Malam tadi, pak RW yang tak lain adalah papi Aira menyampaikan kepada para tetangga bahwa Rayyan telah kembali, hal itu
di perkuat oleh ayah Rayyan yang menyampaikan secara langsung pada imam masjid kompleks agar mengumumkan acara syukuran yang akan di gelar malam ini di kediaman Rayyan. Ayah mengundang semua warga termasuk rekan-rekan Rayyan untuk menghadiri acara makan malam sebagai bentuk syukur atas kembalinya putra tunggal mereka. Tak hanya membuat syukuran, Ayah Rayyan memberikan santunan yang tak sedikit jumlahnya kepada fakir miskin dan anak-anak yatim. Ia benar-benar bersyukur Allah memberikan kesempatan Rayyan untuk hidup. Rayyan adalah satu-satunya yang ayah harapkan bisa memberikan doa saat dia tiada kelak. Dia satu-satu penyambung amal yang tidak mungkin terputus.
"Pak, ini ada apa ya kok rame? Ada tenda juga?" Tanya Shafa saat mobil yang di tumpanginya mulai masuk ke halaman rumah yang di penuhi pohon buah yang mulai berbunga tersebut.
"Tuan Luthfi membuat syukuran atas kepulangan pak Rayyan bu, hari ini ada makan siang bersama dan malam nanti pengajian" Terang pak Madi.
Rayyan tak banyak berkomentar ia lebih memilih memperhatikan setiap sudut tempat yang menjadi kediamannya tersebut.
Begitu mobil mereka berhenti di depan teras rumah, suara takbir, tahmid, dan tasbih terdengar dari para tetangga yang hadir menyambut kepulangan Rayyan. Ibu dan Ayah Rayyan nampak berdiri di samping pilar besar teras rumah meraka.
"Subhanallah!!!"
"Alhamdullilah ya Allah"
"Allahu akbar!!"
Ucap mereka silih berganti ketika Rayyan keluar dari dalam mobil dengan menggendong Am. Beberapa orang nampak menangis haru melihat keluarga kecil ini berkumpul kembali. Shafa yang juga tengah menggendong Zifara dan menuntun Am ikut menjatuhkan air matanya. Tak terfikir dalam benaknya hari ini akan tiba. Allah benar-benar mendengarkan doanya.
"Masya Allah, selamat datang pak Rayyan" Seorang pria bertubuh besar memakai peci hitam dan baju koko biru memeluk Rayyan. Ia adalah Imam masjid di perumahan tempat Rayyan tinggal yang merupakan teman baik Rayyan, sekalipun usia mereka terpaut cukup jauh. Mereka sering bertukar pikiran dan berdiskusi masalah umat bersama setelah shalat subuh atau sholat isya.
Rayyan tersenyum hangat menerima uluran tangan satu persatu orang-orang yang menyalaminya. Sekalipun ia tak ingat, tapi rasa kekeluargaan itu begitu jelas terasa.
__ADS_1
Beberapa ibu-ibu tetangga yang datang juga ikut memeluk Shafa, mereka memberikan selamat pada wanita yang baru akan menginjak usia 28 tahun tersebut. Diantara mereka terlihat mami Aira yang tak henti-hentinya meenyeka air matanya. Ia merupakan salah satu tetangga yang tahu persis penderitaan Shafa dan anak-anaknya. Ia tahu persis bagaimana Am yang kerap bermain bersama putrinya bertengkar dengan sesamanya hanya karena Am dan Zaf yang tidak memiliki ayah menjadi bahan olokan mereka.
Disana juga ada tante Lilis yang menyambut Rayyan dengan haru. Kesan pertama saat Rayyan memasuki rumah dua lantai tersebut adalah tenang.
Inikah yang dinamakan pulang?
Rayyan mengamati dengan seksama rumah bernuansa putih dan cream tersebut. Ada rasa yang tak bisa di jelaskan. Ia harap rumah ini bisa membantunya kembali mengingat moment-moment indah bersama keluarganya.
"Bobby..." Am yang duduk bersila di atas karpet tebal bersama sang ayah berteriak begitu melihat teman bermainnya datang bersama orang tuanya. Am beranjak menghampiri Bobby yang juga duduk di di atas karpet yang sama.
"Bobby ayah tu sudah puyang. Tuh kan atu bilang apa!" Ucapnya sambil menunjuk sang ayah.
"Iya. Aku kira ayah kamu mati seperti kata orang-orang" Balas Bobby dengan polosnya yang langsung mendapat teguran dari ayahnya. Anak usia segitu memang tidak bisa menjaga rahasia apalagi memfilter ucapaannya.
"Ayah tu ga mati. Aku juga mau di bitintan adik kaya Billy Bobby. Iya tan Ayah?" Ucap Am yang seketika mengundang gelak tawa orang-orang yang hadir di ruang tamu tersebut.
"Iya kakung... Tan katanya abang Zaf, ayah mau buatin Aam adik banyak" Balasnya dengan sangat antusias.
"Kayaknya pak Rayyan mau langsung program ini. Zifara juga sudah besar. Sudah waktunya punya adik" Imbuh pak Imam yang ikut meramaikan suasana di ruang tamu tersebut.
"Gass poll pak Rayyan, jangan di tunda lagi." Sahut yang lainnya.
"Biasanya kalau lamaa nggak ketemu langsung tokcer!" Rayyan semakin malu dengan respon yang diberikan para bapak-bapak yang mengaku sebagai tetangganya. Ia hanya tersenyum sambil menjawab "Insha Allah".
Malam itu kediaman Shafa dan Rayyan kembali ramai dengan tamu yang menghadiri acara pengajian dadakan tersebut. Di dalam rumah tepatnya di teras samping nampak Aisyah sedang berbincang-bincang dengan Yola setelah sebelumnya mereka ngobrol bertiga bersama Shafa. Shafa sempat sedikit mengutarakan isi hatinya yang rindu pada sosok Rayyannya yang dulu begitu hangat. Ia merasa setiap kali berdekatan dengan Rayyan dirinya seperti orang asing. Rayyan yang sekarang terlihat lebih menjaga jarak dengan Shafa. Dan karena curhatan Shafa tersebutlah tiba-tiba muncul ide cemerlang dari kepala kedua gadia tersebut.
"Am...Am... Sini! Sama Zaf juga" Yola memanggil Am yang tengah melintas bersama Zafran.
__ADS_1
"Duduk sini!" Ia menepuk bangku kosong di sebelahnya saat dua bocah tersebut menghampirinya.
"Tenapa tante Yola?" Tanya Am.
"Eh, Am nanti malam bobo sama abang ya? Di kamar kalian. Maukan?" Ucap Yola sambil memandang mereka bergantian.
"Nda mau! Atu mau bobo sama ayah" Ucapnya sambil bersendekap tangan.
"Em... Am, mau punya adik kan?" Kini Aisyah ikut mengompori bocah berusia 3 tahun itu. Am langsung mengangguk dengan semangat.
"Atu mau punya adik lima" Ia mengangkat kelima jarinya di depan wajah Aisyah.
Busyet dah... Banyak bener!
"Makanya, Am kalau mau adik harus bobo sama abang. Kalau Am bobo sama mommy dan ayah nanti adiknya nggak jadi" Terang Aisyah. Dalam hati ia cekikikan membayangkan bagaimana ekspresi kaku kakak angkatnya tersebut saat berhadapan dengan Shafa. Ingin rasanya ia memasang kamera tersembunyi untuk melihat aksi Rayyan yang selama ini ia kenal sebagai laki-laki kalem dan anteng. Bahkan anak pak ustad yang kalem nan sholihah itupun tak mampu menggetarkan hatinya.
Am nampak berfikir. Ia mengetuk-ngetukkaan jari telunjuknya di dagu bak orang dewasa.
"Gimana Am? Mau kan? Besok tante ajak main ke time zone deh" Bujuk Yola.
"Tapi Zizi, bobo sama mommy tante. Nanti ayah tu di ambil" Ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya. Ia masih saja iri dengan adik perempuannya itu.
"Nanti Zizi bobo sama tante Yola atau sama nenek Lilis deh" Jawab Yola meyakinkan Am. Di antara anak-anak Shafa, Am lah yang paling susah di bujuk apalagi diajak kompromi.
"Oke deh!" Am mengacungkan jempolnya setuju.
Yess!!!
__ADS_1