
Sudah hampir seminggu ini Malvin terus menghindari kedua orang tuanya yang memanfaatkan eyangnya untuk menikah dengan Angela. Malvin sampai harus berbohong dengan segudang alasan yang sebenarnya ia buat untuk menghindari orang-orang rumahnya. Seperti pagi ini, ia sudah berada di klinik dengan alasan ada pasien penting yang harus ia tangani.
S**epertinya lusa aku harus ikut mengawasi anak-anak magang itu di lokasi baksos. Setidaknya aku bisa menghindari papa dan eyang.
Malvin merogoh ponselnya yang berada dalam celana menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan asisten pribadinya yang akhir-akhir ini mulai sedikit bersahabat dengannya.
"Segera ke klinik, dan bawakan sarapan seperti biasa!" Ucapnya.
Malvin menyandarkan tubuhnya di kursi putar miliknya. Angannya kembali melayang ke beberapa tahun sebelumnya dimana dirinya dan Angela sangat dekat waktu itu. Tapi sekali lagi, serapat-rapatnya e rggkau menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Rasa cintanya yang begitu dalam padaa gadis cantik yang ia pacari semenjak kuliah berubah menjadi rasa benci dan jijik yang teramat. Angela yang dengan suka rela memberikan tubuhnya untuk di jamah oleh para lelaki hidung belang demi kelancaran karirnya di dunia permodelan itu membuat Malvin sangat geram. Dan sekarang dengan tak tahu malunya ia kembali ingin mencuri perhatian Malvin dengan mendekati orang tuanya.
Ditempat lain, setelah menyelesaikan sarapan singkatnya seorang wanita paruh baya di temani seorang yang sudah berumur bergegas masuk ke dalam mobil. Keduanya memakai masker, selain utuk menjaga kesehatan mereka sedang dalam misi pengintaian.
"Ibu, yakin Malvin ada di klinik?" Tanyanya sambil menelisik penampilannya lewat kaca depan mobil.
"Yakin Mel, ibu penasaran apa yang membuat Malvin terus menghindari kita, apa mungkin Malvin..." Eyang menjeda ucapannya, menyingkirkan fikiran buruk yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Laki-laki tampan, mapan dan berumur yang masih lajang memang patut di curigai. Hanya ada dua kemungkinan kalau bukan homo ya brengsek. Tapi jika dilihat lagi Malvin tidak menunjukan ke duanya, ia masih cukup normal untuknbergaul dengan sesama jenis dalam artian lebih.
Keduanya telah sampai di parkiran mobil klinik elit tersebut. Eyang mengulas senyum saat melihat mobil Malvin terparkir di sana. Cucunya berarti tidak berbohong. Ia benar-benar berada di klinik.
Sesaat setelah mereka tiba, sebuah mobil berwarna putih berstiker hello kitty pun parkir di sebelah mobil mereka.
"Iya...iya, saya sudah sampai di klinik. Sabar dikit bisa kan?" Ucap gadis cantik baru saja turun dari mobil dengan susah payah karena satu tangannya menenteng kantong dan yang satu lagi memegang handphone.
"Mariii..." Sapa Aisyah ramah pada dua orang yang masih berdiri diparkiran. Ia sendiri segera mempercepat langkahnya sebelum mendapat semprotan tambahan dari dokter tampan itu.
Tanpa mengetuk pintu Aisyah langsung saja menyelonong masuk ke dalam ruangan Malvin. Nampak ia tengah duduk diam menghadap ke jendelan.
"Nih... Sarapannya dokter Malvin yang terhormat" Ucap Aisyah setelah meletakkan kantong di atas meja Malvin. Malvin mengulum senyum, merupakan kesenangan tersendiri membuat gadis muda nan lucu itu ngomel sepanjang hari. Ia memutar kursinya yang langsung mendapat tatapan tak suka dari Aisyah.
"Apa? Kamu tidak iklas melaksanakan perintahku?" Tanyanya.
"Iklas dok iklas... iklas lahir batin!" Jawab Aisyah.
"Bagus! Jangan lupa, kelulusanmu ada di tanganku. Lagipula kamu harus bersyukur karena banyak perawat lain yang sangat menginginkan posisimu saat ini" Ucapnya sambil membuka kantong berisi bubur ayam.
Ieuuu...Jijik aku dengarnya. Sok atu kalau mau gantiin Aish jadi babunya dokter. Aku iklas!
__ADS_1
"Tolong buatkan susu hangat, pagi ini saya ada oprasi besar" Perintahnya. Ya...ya... Bukan Malvin namanya kalau membiarkan Aisyah tenang sebentar saja. Kendati demikian ia tetap menjalankan apa yang menjadi perintah Bosnya tersebut.
"Mel, itukan gadis tadi yang di parkiran?" Ucap eyang saat melihat Aisyah keluar dari ruangan Malvin.
"Iya bu, yang tadi lagi nelpon itu kan?"
"Permisi sus!" Mama Malvin kembali bertanya pada suster yang berjaga.
"Iya bu, ada apa?"
"Itu tadi, perempuan yang keluar dari ruangan dokter Malvin siapa?" Tanya mama Malvin penasaran.
"Perempuan yang mana ya bu? Maaf saya tidak memperhatikan" Ucap suster penjaga.
Mama Malvin nampak gusar, bagaimana menjelaskan pada suster penjaga ini.
"Sus..sus... yang itu sus yang itu!" Mama Malvin segera menunjuk wanita yang kembali masuk ke ruangan Malvin dengan membawa segelas susu dengan santainya.
"Oh itu Aisyah. Perawat magang yang menjadi asisten pribadi dokter Malvin" Ucap suster tersebut.
Mama mengulas senyum kemudian menuntun eyang menuju ruangan Malvin. Iaa ingin memastikan sendiri ucapan suster penjaga tadi.
Tanpa mengetuk dan tanpa permisi, mama Malvin langsung masuk ke ruangan anak bungsunya tersebut. Seolah membenarkan apa yang ada difikirannya, apa yang di lihatnya kali ini semakinenguatkan dugaannya. Malvin yang tengah sarapan berdua dengan Aisyah di ruangan itu nampak begitu akrab.
"Mama? Eyang?" Malvin segera meletakkan mangkuknya di atas meja menyadaribkedatangan dua wanitabyang sangat dicintainya itu.
"Ambilkan air putih" Titahnya pada gadis cantik di sampingnya. Gila ya, ada orang tuanya pun ia masih perintah-perintah Aisyah seenak jidatnya.
"Ya udah kalian lanjutin sarapannya, kami tadi cuma mampir kok" Mama Malvin segera membawa eyang keluar ruangan tersebut.
"Menurut ibu gimana?" Tanya Melly kepada mertuanya yang terlihat bahagia.
"Cantik Mel, dan sepertinya dia gadis baik-baik" Ucap eyang.
"Bener bu, nggak nyangka pilihan Malvin perempuan berjilbab" Jika dibandingkan dengan Angela Aisyah tentu lebih banyak nilai plusnya dimata orang tua Malvin, selain masih muda, ia juga lebih cantik dan terlihat sholehah walaupun kalau soal body ia kalah jauh dengan Angela yang tinggi semampai dengan tonjolan yang menyilaukan mata pria yang melihatnya.
.
__ADS_1
.
.
.
Di kediamannya Shafa mondar-mandir di depan teras rumah menunggu Rayyan dan Am pulang dari kampus. Sejak tadi handphone Rayyan tidak bisa di hubungi. Ia khawatir kalau Am rewel atau membuat ulah di kampus. Selama ini Shafa hampir tidak pernah jauh dari Am membuatnya merasa ada yangbkurang saat bocah lucu itu tak di sampingnya. Ia melirik jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 2.10 siang yang merupakan jam tidur siang Am. Kedua saudaranya yang lain sudah lelap di kamar masing-masung setelah lelah bermain. Tidak seharusnya Shafa menyuruh Am ikut bersama ayahnya.
Baru saja di batin, sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali masuk ke halaman rumah. Shafa langsung berlari menjemput putra kecilnya yang mungkin sekarang sedang tidur. Diluar dugaannya begitu membuka pintu ia langsung berteriak.
"Mommy!!!" Panggilnya terlihat sumringah dalam gendongan ayahnya. Di bajunya terdapat beberapa noda coklat yang sudah bisa di tebak oleh wanita berhidung mancung itu.
"Atu abis matan es tlim dan kue mommy" Adunya sebelum sang ibu menebak.
"Ya sudah, ayo masuk. Mommy kangen banget sama Am" Shafa meraih tubuh Am dan menciumi wajah imut putranya.
"Sama ayah enggak?" Rayyan menyenggol lengan Shafa sambil tersenyum jahil.
"Mas apaan sih, ikut-ikut aja"
"Tapi ayah kangen mommy" Bisiknya di telinga Shafa. Baru juga masuk rumah sudah main kode-kode. Batinnya.
"Mommy tadi to di tekolah ayah, banyak tata-tata yang liatin ayah mommy" Ucap Am dengan polosnya membuat sang ibu menoleh dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan lihatin ayah, tapi lihatin Am" Elak Rayyan.
"Butan ayah. Itu tadi tata yang nangis tan liatin ayah telus"
Deg
Mati aku! Aaaaammmmm....
"Nangis? Siapa Mas?" Nada Shafa terdengar serius.
"Ah, nanti kita cerita di dalam" Ingin rasanya Rayyan mencubit sang putra yang tidak bisa menjaga rahasia. Rayyan memang berniat untuk memberitahu Shafa, tapi bukan saat ini juga.
"Nggak! Aku mau sekarang! Siapa yang nangis?" Balasnya.
__ADS_1