Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Ujian belum berakhir


__ADS_3

Pagi itu keributan kembali terjadi di kamar Shafa dan Rayyan. Dimana kedua anak mereka yang hanya selisih umur 15 bulan itu saling berebut memeluk sang ibu.


Plak...!


Sebuah pukulan mendarat di kepala Am yang membuatnya meradang.


Plak...!


Pukulan balasan di daratkan Am di bahu sang Adik yang berusaha naik ketubuh mommynya, memeluknya dari atas.


"Hua....Hua... Mommy tata Am akal!


Tangis Zifara pecah, sementara Am terus mendorong tubuh sang adik agar menyingkir dari mommynya.


"Zizi minggil! Mommy cakit Zi!" Bentak Am yang tak terima di katai nakal oleh sang adik.


"Sudah...sudah. Zizi jangan nangis nak. Am juga jangan ganggu adek ya nak" Shafa mencoba membuka matanya meski kepalanya semakin terasa berat.


"Aww" Rintihnya saat mencoba mengangkat kepalanya. Langit-langit kamarnya terasa berputar-putar. Seperti ia belum benar-benar sembuh.


Kedua bocah yang sempat adu mulut seketika terdiam saat mendengar keluhan sang Mommy. Zifara langsung beringsut turun dari tubuh Shafa.


"Mommy... Mommy cakit?" Tanya Am. Dengan penuh perhatian ia menempelkan tangannya di pipi dan leher Shafa yang di ikuti oleh Zifara.


"Am tolong ambilkan air nak" pintanya pada bocah yang sudah berumur 3 setengah tahun itu. Dengan sigap Am mengambil botol air mineral yang terletak di nakas samping ranjangbdan segera memberikannya pada Shafa.


"Assalamualaikum" Suara Rayyan seiring dengan pintu yang terbuka. Ia dan si sulung baru saja pulang dari Shalat subuh di masjid.


"Ayah. Mommy cakit... Cepat tini ayah" Teriak Am yang terlihat begitu panik. Rayyan segera menghampiri Shafa yng sedang dalam posisi setangah duduk bersandarkan pada kepala ranjang.


"Badanmu demam lagi mom. Sebaiknya kita ke klinik" Ujar Rayyan setelah memeriksa suhu tubuh Shafa dengan telapak tangannya.


Shafa menggeleng, "Obat dari dokter Malvin masih mas. Dia bilang aku hanya kelelahan saja," tolaknya dengan suara lemas.


"Tapi Shafa demam"

__ADS_1


"Disitu ada obat pereda deman juga mas" Jawabnya. Ia tetap kekeh tidak mau klinik.


"Ya sudah, Shafa sudah sholat?" Tanya Rayyan lagi. Dan kembali Shafa menggeleng.


"Gimana mau Shalat, bangun aja kepalaku rasanya kepalaku seperti berputar-putar. Kalau berdiri pasti serasa mau jatuh" Balasnya.


"Sini, mas bantu. Shalat sambil duduk saja ya?" Ucap Rayyan lembut. Taangannya bergerak merapikan rambut Shafa kebelakang telinganya.


"Mas, aku kan lagi sakit. Bukannya tidak apa-apa kalau lagi sakit nggak sholat?" Ucapnya sambil memegang pelipisnya yang terasa nyut-nyut.


"Sayang, Sakit tidak menggungurkan kewajiban kita untuk melaksanakan Shalat. Selagi kita masih memiliki kesadaran, sakit sekalipun. Sholat tetap wajib untuk di kerjakan" Ucap Rayyan.


"How come?" Shafa merasa aneh dengan ucapan Rayyan. Yang benar saja, puasa saja boleh tidak di kerjakan jika sedang sakitbatau dalam perjalanan, ini malah orang sakit di suruh Sholat. Batin Shafa. Ilmunya yang masih cetek terkadang sulit mencerna ucapan suaminya yang level pemahamannya soal agama jauh di atasnya. Terlebih setelah perpisahan mereka selama hampir tiga tahun membuat Shafa tak pernah lagi mendengar dalil-dalil atau sekedar pelajaran singkat seputar kehidupan sehari-hari.


"Pada prinsipnya orang sakit tidak dicabut kewajiban sholatnya. Namun mendapatkan beberapa keringanan  Untuk itu dalam menetapkan bentuk-bentuk keringanan sholat ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan.Seseorang yang sakit tetap diwajibkan untuk mendirikan sholat. Caranya dengan melakukan gerakan dan posisi-posisi sholat semampu yang bisa dilakukan, meskipun tidak sampai sempurna. Hal ini ditegaskan dalam Alquran dan hadits.


Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa." (QS  At-Taghabun: 16)


"Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan." (HR. Bukhari)


"Prinsipnya, apapun gerakan dan bacaan sholat yang masih bisa dikerjakan, maka tetap wajib untuk dikerjakan. Apa yang sudah mustahil untuk dilakukan, barulah boleh untuk ditinggalkan. Prinsipnya, apa yang tidak bisa didapat secara keseluruhannya, bukan berarti harus ditinggalkan semuanya.Tidak mentang-mentang mendapatkan keringanan sholat, lantas seseorang boleh mengarang-ngarang sendiri bentuk keringanan sholat seenak seleranya. Keringanan yang Allah SWT berikan kepada orang sakit bukanlah cek kosong yang boleh diisi seenaknya. Karena tetap ada banyak batasan syariah yang mengiringinya."


"Begitu juga yang seharusnya sholat lima waktu dalam sehari semalam, tidak boleh diubah jadi cuma tiga waktu saja. Maka keringanan sholat yang dijalankan harus bentuk-bentuk keringanan yang ada dalilnya dan tidak boleh keringanan yang seenaknya sendiri."


"Keringanan yang ada dalilnya di antaranya, wudhu atau mandi janabah boleh diganti dengan tayamum, dan bila tidak bisa berdiri maka boleh sholat sambil duduk atau berbaring. Kemudian keringanan sholat lainnya bisa tidak menghadap ke kiblat, gugur kewajiban sholat berjamahnya dan gugur kewajiban sholat Jumat." Terang Rayyan panjang lebar, dan Shafa pun mendengarkannya dwngan seksma. Ia beristigfar dalam hati, karena selama ini ketika ia sedang sakit, ia lalai akan kewajibannya mendirikan Shalat, padahal itu adalah wajib.


"Kurang baik gimana coba Allah sama kita? Sekarang ayo, mas bantu ke kamar mandi. Kalau masih pusing Shalatnya sambil duduk saja" Dengan hati-hati Rayyan menuntun Shafa menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Akhirnya, dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang Shafa melaksanakan shalat subuh di dampingi kedua anaknya yang setia duduk tenang di sebelahnya. Rayyan sendiri pagi itu mengantikan semua tugas Shafa. Ia sudah menyiapkan pakaian sekolah Zaf, dan kedua anak balitanya.


"Am, Zi, ayo mandi" Rayyan memghampiri kedua buah hatinya untuk membawanya mandi.


"Nanti dulu ayah. Ini masih malam belum pagi" Tolak Am saat sang ayah mengajaknya mandi


"Ini sudah jam setengah 6 Am. Ayo mandi sama ayah" dengan sekali angkat tubuh Am sudah berpindah di lengan kiri ayahnya sementara tangan kanannya menggendong Zifara. Keduanya berontak tak mau mandi bahkan hingga terdengar tangisan ke duanya lantaran sang ayah yang memaksanya mandi.

__ADS_1


"Mommy... Mommy" Teriak keduanya saat sang ayah memaksanya masuk ke dalam kamar mandi. Shafa hanya tersenyum melihat kedua anaknya sedang di urus oleh sang ayah. Tak apalah sesekali Rayyan merasakan bagaimana sibuknya ibu-ibu saat pagi.


Setelah memandikan ke dua anaknya, Rayyan pun memakaikan baju pada mereka berdua. Polah keduanya yang tak mau diam membuat Rayyan harus beberapa kali istigfar. Sayangnya tak bisa mengomel seperti sang istri.


"Kang, kak Shafa kenapa nggak di bawa ke klinik aja sih?" Tanya Aisyah yang kini tengah sarapan bersama Rayyan dan ketiga anaknya.


"Dia nggak mau Syah, katanya kemarin sudah ad obat dari dokter Malvin" Ujar Rayyan yang dengan telaten menyuapi Zifara dan Am secara bergantian.


"Maaf mas Rayyan, di luar ada tamu" Ucap bi Lastri sopan.


"Siapa bi?" Tak biasanya ada yang bertamu pagi-pagi.


"Nggak tau mas, orangnya pake jas, mungkin temannya mas Rayyan"


Pakai jas? ini kan hari sabtu, nggak mungkin orang kampus kan?


"Syah, tolong suapin Zizi dan Am" Rayyan pun bangkit dari duduknya hendak menemui tamu yang di maksud bi Lastri.


"Selamat Pagi, benar ini kediaman ibu Shafa Azura?" Tanya laki-laki berperawakan tinggi tersebut.


"Benar, saya suaminya. Ada apa ya pak?"


"Ah, saya hanya ingin memberikan ini" Pria tersebut menyodorkan sebuah map pada Rayyan.


"Klien kami ingin pembayaran material yang gagal produksi di percepat, jelas tertera di surat tersebut" Ucap pria yang tak lain adalah pengacara tersebut.


"Tapi pak, berdasarkan surat perjanjian sebelumnya, pihak kami bisa membayarnya sampai akhir tahun ini" Sela Rayyan. Perjanjian awal dengan salah satu perusahaan pemasok bahan baku yang digunakan untuk memproduksi pakaian itu memang mencantunkan bahwa pembayaran dapat di selesikan akhir tahun.


"Tapi, bisnis anda sudah tidak produksi lagi pak. Jadi klien kami memutuskan untuk mempercepat proses pembayaran. Anda bisa menghubungi saya bila semua sudah siap. Kami beri waktu 2 kali 24 jam untuk menyelesaikan semuanya pak." Ucap pengacara itu membuat Rayyan sulit bernafas. 2x 24 jam itu berarti 2 hari. Matanya terfokus pada nominal yang mencapai angka lebih dari setengah milyar yang tertera di dalam kertas tersebut.


Ya Allah, apa yang harus ku lakukan?


"Kalau begitu saya permisi pak." Ucap pengacara tadi membuayarkan lamunan Rayyan.


"Ah, iya. Saya akan segera menghubungi bapak" Balas Rayyan menghantar kepergian pria ber jas tersebut.

__ADS_1


Rayyan terduduk, di sofa ruang tamu sambil memijat pelipisnya. Tak mungkin ia minta bantuan ayah dan daddy. Mereka sudah banyak mengucurkan dana untuk menutupi kerugian pasca kebakaran kemarin. Terutama Daddy yang sampai harus melepas beberapa sahamnya di anak perusahaan lain.


"Kang, kenapa akang nggak pakai uang dari abah saja?" Suara Aisyah mengagetkan Rayyan. Gadis berusia 19 tahun itu ternyata menguping pembicaraannya sejak tadi.


__ADS_2