Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Pulang Bareng


__ADS_3

Hampir sepanjang malam Am tidur dengan menyebut "Ayah" membuat tidur Shafa taak nyenyak. Saat buah hatinya tersebut mulai mengigau ia akan refleks membukaa matanya dan menenangkannya sambil mengucapkan "Ayah sebentar lagi datang", sebuah kalimat ampuh yang membuat Am tenang kembali.


Shafa berfikir cukup lama, tak mungkin ia membiarkaan Am terus seperti itu, mungkin dengan mempertemukan ia dengan ayahnya sebentar bisa mengobati kerinduannya. Tapi bagaimana caranya? Tiba-tiba ia teringat akan sosok laki-laki yang sempat ia panggil ayah ketika berada di kampung pak Ali.


Mungkin lebih baik meminta orang itu kemari untuk membantu menenangkan Am. Toh Am tidak akan tahu itu ayah Rayyannya atau bukan, karena ia mengatakan orang itu mirip ayahnya. Tapi siapa dia? Bahkan namanya pun Shafa tak tahu.


Ah, Dul mungkin tahu. Aku harus menanyakan terlebih dahulu pada Dul.


"Aku harus menemui kak Jeff dan memintanya untuk mencari laki-laki itu, gumannya. Ia melirik sekilas ke arah Am, ia masih terlelap. Malam tadi Am sedikit rewel badannya pun kembali terasa hangat.


"Mom, sebentar aku mau pulang kerumah dulu sebentar. Aku titip Am ya Mom" Ujar Shafa sambil memakaikan meminumkan susu pada Zifara. Berbeda dengan Am, Zifara harus minum susu formula sejak usianya 3 bulan karena ASI Shafa yang tidak selancar pada saat ia melahirkan Am, belum lagi kondisinya kejiwaannya yang sedikit terguncang dan stress menyebabkan kurang maksimalnya jumlah ASI yang di hasilkan.


"Ya sudah, kalau mau pulang, sekarang saja keburu Am bangun" Ujar Mommy. Karena ketika bangun dan tidak mendapati mommynya disampingnya sudah bisa di pastikan Am akan menangis kejer sampai menemukan mommynya. Padahal dulu saat kecil Am tidak begitu rewel saat di tinggal Shafa belanja atau melakukan sesuatu, selama ada Rayyan di sisinya. Sejak di dalam kandungan hingga lahir Am akan sangat menurut ucapan ayahnya dibandingkan mommynya. Mungkin karena wajah mereka yang sangat mirip membuat ikatan keduanya begitu kuat.


"Tak biasanya Am doyan tidur" Shafa mengelus lembut rambut putranya yang nampak panjang bagian depan. Gaya rambut kesukaan Am, yang terinspirasi dari beberapa aktor yang tak sengaja ia lihat di televisi. Masih kecil sudah bergaya, gimana kalau besar? Untuk hal yang satu ini sepertinya ia mewarisinya hobi Shafa yang dulu suka bergaya dan gonta ganti rambut.


Barusan, setelah sarapan 2 suap bubur, Am meminum obatnya dengan patuh dan tak banyak komentar seperti kemarin-kemarin. Ia juga tidak banyak mengoceh dan memilih untuk kembali berbaring.


"Nak, mommy pulang dulu ya. Am cepat sembuh. Mommy akan segera jemput ayah" Bisiknya" Ia tahu putranya tak benar-benar tidur, terlihat dari jari tangannya yang masih bergoyang-goyang menggaruk bagian pahanya yang mungkin sedang gatal.


Kok dia nggak respon? Biasanya kalau disebut kata ayah selelap apapun tidurnya pasti akan segera bangun. Ah, mungkin Am lagi malas.


"Mau pergi sekarang Fa?" Tanya Ibu yang juga berada di situ.


"Iya bu" Jawab Shafa. Lebih cepat pergi dan lebih cepat mengetahui tentang laki-laki itu akan semakin baik untuk Am. Shafa sudah bertekat akan membawanya menemui Am. Tak apa mencari ayah bayaran sesaat.l, yang penting Am segera pulih. Setelah Am sehat, ia akan menyuruh pria itu kembali ke kampungnya dan mengatakan pada Am bahwa ayahnya sudah kembali ke Mesir.


Baru saja Shafa keluar dari kamar Am, ia kembali bertemu dengan dokter yang semalam secara tidak langsung kembaali menyatakan perasaannya kepada Shafa. Dokter tampan berkulit putih itu tersenyum lembut kepada Zifara yang ada dalam gendongan Shafa.


"Halo princess, Mau kemana?" Sapa Malvin Ramah pada balita lucu yang tengah di gendong Shafa. Tak sendiri, kali ini ini Malvin sedang bersama dengan daddy dan ayah mertua Shafa.


"Kita mau pulang sebentar dok. Oh ya dad, ayah, Shafa titip Am. Shafa mau pulang dulu sebentar" Pamit Shafa pada dua orang pria di sebelah Malvin.


"Mau pulang sama siapa? Apa pak Madi sudah jemput?"


"Belum Dad, Shafa naik Grab aja" Jawabnya santai. Ia sudah terbiasaa naik transportasi online itu sendiri.


"Jangan!!!" Ucap Ayah dan Daddy bersamaan. Seketika itu pula dua orang berstatus ayah dan mertua Shafa itu melirik dokter Malvin seolah memberikan kode

__ADS_1


"Mari saya antar, kebetulan saya mau mengambil sesuatu" Ucap dokter malvin. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut, terlebih sudah mendapatkan izin dari para sesepuh. Ia yakin hanya tinggal menunggu waktu saja, dan Shafa akan luluh padanya.


"Tidak usah dok, saya tidak mau merepotkan" Tolak Shafa dengan halus.


"Tidak apa-apa, saya sama sekali tidak repot kok. Ia kan inces? Mau kan pulang sama om?" Ia mengalihakan perhatiannya pada balita cantik yang nampak senang-senang saja.


"Iya Fa, ayah khawatir kalau kamu dan Zifara naik transportasi online. Atau ayo ayah antar kalau Shafa tidak mau bareng Nak Malvi" Ujar Ayah yangbsudah siap mengeluarkan kunci mobil dari dalam sakunya.


"Jangan-jangan. Shafa sama dokter Malvin saja" Tolak Shafa. Mana tega ia membiarkan ayahnya mengantarnya kembali. Ia bahkan baru saja tiba.


"Ya sudah, Vin saya titip anak dan cucu saya. Tolong di antar dengan selamat" Daddy menepuk bahu Malvin.


"Siap pak! Saya akan menjaga Shafa dan Zi dengan segenap jiwa dan raga" Ucapnya bak peaajurit yang siap melaksanakan perintah.


"Apaan sih! Ayo cepetan, keburu Am bangun" Ucap Shafa yang terlihat sedikit kesal. Ia tahu ayah dan Daddy nya kompak mendekatkan ia dengan Malvin.


Maafkan Ayah Ray! Ini semua demi kebaikan Shafa dan anak-anakmu.


Setelah kepergian Shafa dengan dokter Malvin, Ayah dan Daddy Shafa segera masuk ke dalam ruangan tempat Am di rawat. Amasih terlihat tidur dengan memeluk guling kecil pemberian Zafran ketika ia baru lahir dulu. Am hanya akan tidur dengan memeluk guling tersebut, meski sudah butut, ia tak mau menggantinya.


mommy. Ia tengah membaca buku di sofa tak jauh dari ranjang Am.


"Iya, daddy ketemu dia di luar"


"Kok nggak di antar pulang dulu? Kan kasihan kalau pulang sendiri" Mommy melotot ke arah Daddy.


"Jangan khawatir Fan, Shafa di antar sama Malvin" Sahut ayah. Membuat mommy dan ibu terlonjak. Sebuah kejadian langka yang mereka harapkan selama ini. Apakah ini tandanya Shafa mulai membuka hati?


"Yang bener yah? Ayah nggak ngigau kan? Malvin dokter Saraf itu kan? Yang naksir Shafa?" Ibu segera menghampiri ayah dan menodongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Iya bu iya" Jawab Ayah.


"Alhamdulillah" Ucap ibu dan mommy bersamaan. Meski belum tentu jadian, ini sudah merupakan pencapain yang luar biasa, mengingat bagaimana kondisi Shafa selama ini.


Lantaran sura heboh dan berisik dari para sesepuh-sesepuh itu, Am jadi terusik. Ia membuka matanya mendengarkan kata-demi kata yang akan di ucapkan oleh kakek dan nenenknya yang terdengar begitu girang.


"Semoga Shafa bisa membuka hatinya untuk Malvin" Ucap mommy.

__ADS_1


"Benar, sudah cukup Shafa tersiksa dan berbohong selama ini. Semoga perlahan Shafa bisa menerima kenyataan bahwa Rayyan tidak akan pernah kembali" Sahut ibu. Meski berat jika posisi anaknya tergantikan oleh laki-laki lain, setidaknya itu lebih baik dari pada menantu dan cucu-cucunya hidup dalam kebohongan ibunya.


"Semoga Malvin bisa menjadi Ayah yang baik untuk Am dan saudara-saudaranya"


"Amiiin"


Tiba-tiba...


"AYAAAHHHH!!!!"


Raut bahagia di wajah mereka seketika pudar saat mendengar jeritan histeris yang tak pernah mereka harapkan.


Am sudah terduduk dengan Air mata yang siap tumpah.


"Am?"


"AYAAAAAHHHH" Jeritnya lagi lebih kencang hingga membuatnya serak.


"Am? Tenang sayang, jangan teriak teriak nanti sesak nafas lagi" Mommy mencoba menwnangkan cucunya itu, begitupun dengan ibu.


Am memberontak, kepalanya terus menggeleng dan terus menjerit histeris.


"AYAAAAAAHHH"


"ATU MAU ITUT AYAH LAYYAN TU!!!"


"AYAAAAAAAAHHH"


"AYAAAHH.... Uhuk.. Uhuk"


"AMM!!!" Teriak Mommy dan Ibu panik saat tubuh Am tiba-tiba lemas.


___________


Panik ..Panik... Sabar...Ga lama lagi ketemu kok.πŸ˜€ Kalo ga sabar skip aja deh.. bacanya mnggu depan. Pasti udah ketemu😘😘😘


Oh ya jangan lupa like and vote... Jangan cuma mau minta up tapi pelit Like...Karena Like and vote kalian mempengaruhi mood penulis loh...

__ADS_1


__ADS_2