
"Eeeengh" Shafa meleguh saat merasakan sesuatu yang mengusik tidur nyenyaknya. Dingin kamar ber AC ditambah dengan cuaca di luar yang masih berselimut gerimis membuatnya harus mencari kehangatan lain. Ia menggeliat saat sesuatu yang kenyal nan lembab terasa menyusuri punggung polosnya. Belum lagi rem*san-rem*san lembut pada bagian dadanya membuatnya merinding. Ia yakin ini pasti ulah ayahnya Am.
Dasar mesum!!!
Shafa mendelik saat tangan itu mulai tidak bisa di kondisikan. Jam berapa sih ini kok udah main raba-raba aja.
"Mash.." Panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Tangannya menahan tangan Rayyan yang mulai menjelajah bebas. Dasar laki-laki! awalnya aja sok-sok an yang malu lah, inilah, itulah. Sekalinya udah nyoba, rasa nggak pengen berhenti.
"Sayang, once more ya?" Bisiknya. Wajahnya sudah menempel di tengkuk Shafa menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuhnya. Shafa menyunggingkan senyum di bibirnya tat kala panggilan 'sayang' itu terdengar kembali. Percintaan mereka tadi rupanya memberikaan pengaruh besar terhadap perubahan sikap Rayyan. Shafa membalikkan tubuhnya, Ia mengeryitkan keningnya kemudian mengendus bagian dada Rayyan yang sudah berbalut kaos putih.
"Mas udah wangi! Ini jam berapa?" Wanginya bikin pengen nempel terus. Shafa mencari posisi nyaman mendusel di dada Rayyan sambil memeluknya, tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang masih polos.
"Saya sudah mandi, barusan sholat tahajjud" Ucap Rayyan sambil mengelus pipi Shafa.
"Udah sholat masih juga mesum!" Ucap Shafa sambil kembali menempelkan wajahnya di dada Rayyan, tak menghiraukan permintaan suaminya tadi. Nyaman! Ia kembali memejamkan matanya, namun lagi ia membelalak saat merasakan remasan kuat pada bok*ngnya.
"Mas Ray!!!" Shafa menjerit. Rayyan malah tertawa. Untung ganteng.
CUP!
Ia mengecup bibir Shafa yang mengerucut lucu.
"Aku masih ngantuk mas?" Ucapnya sambil kembali mendusel di dada bidang Rayyan.
"Ayolah mom, biar nggak ngantuk lagi" Rengeknya membuat telinga Shafa gatal, belum lagi tangannya yang masih saja meraba sana-sini. Bukannya tidak ingin ataupun menolak, hanya saja Shafa sungguh sangat mengantuk dan masih merasakan perih sisa penyatuan mereka malam tadi.
"Mas ini, kemaren-kemaren aja aku di anggurin sekarang mau lagi! Kemana ya mas Ray ku yang kaku kaya robot kehabisan baterai" Ledek Shafa. Pasalnya sikap Rayyan kini benar-benar beranding 180 derajat dengan kemarin-kemarin.
"Kemarin kan masih malu mommy Am--"
"Jadi sekarang sudah nggak malu-malu lagi?" Potong Shafa cepat.
Enak bener hidup anda pak Rayyan, pas malu-malu gue kesiksa batin nah pas udah nggak malu-malu gue kesiksa badan. Emang bener-bener nggak ada perasaan yah, baru juga sekali mau nyosor terus!
"Bukan begitu sayang, mas cuma---"
"Apa tadi? Panggil apa tadi?" Shafa pura-pura menulikan pendengarannya.
__ADS_1
"Sayang!"
"Ulangi coba?"
Rayyan menghembuskan nafas "Sayang!" Ucapnya mengulangi. Shafa terkekeh mendengar ucapan sayang yang terdengar tidak ikhlas itu.
"Shafa ingin tahu sesuatu?"
"Hah? Apa?" Shafa menyelipkan rambutnya yang terurai di belakang telinga agar dapat mendengar dengan jelas.
"Mas mengingat sesuatu saat berhubungan dengan Shafa. Mas---"
"Serius?" Potong Shafa. Ia mengangkat kepalanya, menatap pada manik mata Rayyan. Rayyan mengangguk serius.
"Mas ingat Shafa pernah ngambek, diemin mas kan?"
"Mas juga ingat waktu malam pertama kita, lalu..."
"Tunggu disini!" Ucap Shafa yang segera berangsut turun dengan selimut yang masih melekat di tubuhnya menutupi tubuh polosnya.
"Shafa mau kemana?" Rayyan ikut bangkit dari posisi berbaringnya. Ia bahkan masih mengenakan sarung seusai shalat tahajjud tadi. Awalnya ia hanya ingin berbaring santai saja, namun saat melihat punggung mulus Shafa yangbtak tertutup, sisi lain dari dirinya meronta untuk di lepaskan.
"Mau mandi" Sahutnya sambil berjalan pelan memegang selimut menuju kamar mandi.
"Nggak usah mandi, Sini!"
"Nggak mau, lengket!" Jawabnya sebelum menghilang di kamar madi. I melepaskan selimutnya begitu saja di depan pintu kamar mandi tersebut. Rayyan hanya bisa menggeleng melihat tingkah istrinya yang kian menggemaskan.
Huh... Am, Sepertinya tidak lama lagi kamu akan punya adik lagi! Gumam Rayyan.
Shafa menelan liurnya dengan susah saat mematut tubuhnya dalam cermin. Seganas apa suaminya semalam hingga hampir semua bagian depan tubuhnya penuh dengan tanda merah. Untung saja Zizi tidak minum ASI, kalau tidak ia pasti akan bertanya dari mana asalnya merah-merah yang bertebaran di dadanya itu. Ia melangkah kan kaki menuju shower sambil meringis.
Ya Allah perih banget. Ini masih mau di tambahin lagi, gimana gue jalan nanti. Susah amat sih jadi perempuan. Malam pertama sakit, melahirkan sakit, eh lama nggak di sentuh juga sakit. Shafa membatin sambil menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
"Kalau kayak gini, gue bakalan tekdung lagi nih" Sambil menggosok tubuhnya ia sambil berfikir bagaimana jika ia hamil kembali, pasti akan sangat repot. Apalagi tante Lilis sudah kembali ke rumahnya.
Tapi demi kebaikan Mas Ray, gue rela deh biar perih juga, toh gue juga menikmati! Ish..otak gue malah jadi ikutan mesum gini sih.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan mandi singkatnya Shafa keluar dengan memakan jubah mandi, rambutnya sengaja tak ia basahi karen tahu nanti juga akan mandi lagi. Di lihatnya Rayyan tengah berbaring di atas ranjang dengan tenangnya. Shafa mendekat memastikan suaminya apakah sedang tidur atau masih terjaga. Bukannya tadi mau lagi ya?
Lah, malah tidur. Udah capek-capek mandi juga. Shafa mendekatkan tubuhnya dan
Grep!
Sekali tarik Shafa berhasil jatuh dengan posisi menindih Rayyan.
"Mas Ray ih, kaget tauk!" Omelnya. Meski mulutnya mengomel tapi getaran getaran cinta itu kian membuncah di hatinya. Berada sedekat ini dengan Rayyan membuat Shafa hilang akal bahkan rasa perihnya pun sejenak terlupakan saat senyum hangat itu menyapanya.
"Sudah mandi?" Tanyanya tanpa melepaskan Shafa dari posisinya yang masih berada di atas tubuhnya.
"Udah dong"
"Masa sih? Shafa bohong ya? Kok nggak kecium baunya?" Tanyanya memancing.
Seriously? Perasaan gue pake sabun deh.
"Coba Mas periksa" Rayyan mengguligkan Shafa ke samping hingga posisi berubah Rayyan yang berada di atas.
"Mas mau ngapain?" Shaga menahan jubahnya yang hendak di buka.
"Mau meriksa, Shafa beneran mandi atau bohong" Jawabnya sambil berusaha membuka jubah berwarna putih itu.
"Mas Ray Moduuuuss!!" Ucap Shafa setelah tau apa yang di lakukan suaminya.
Ini mah bukan ngecek udah mandi atau belum tapi ngecek pabrik susu gue! Gerutu Shafa.
"Ternyata sudah mandi" Ucapnya dengan senyum bahagia diwajahnya. Dan tanpa meenunggu persetujuan Shafa ia kembali melayangkan serangan kedua di penghujung malam. Mereka kembali meneguk manisnya surga dunia yang di halalkan bagi keduanya. Keduanya kembali hanyut dalam pergulatan panas yang berlangsung lebih lama dari sebelumnya.
Fix, gue nggak bisa jalan besok! Gumam Shafa yang mulai merasakan tubuhnya letih tak terkira. Pergulatan kedua ini benar-benar menguras habis energinya hingga tak bersisa.
"Are you okay?"
"Hmmm" Jawabnya yang memilih untuk tengkurap meregangkan otot-ototnya.
Cup!
__ADS_1
"I know that. Mommy Am adalah wanita kuat" Ucap Rayyan smabil mengecup puncak kepalanya.
Kuat dari Hongkong, nggak lihat gue udah mau sekarat ini!!!