Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Persiapan


__ADS_3

"Aku percaya sama mas Rayyan" Ucap Shafa setelah mendengar penuturan Rayyan. Ia tak boleh egois, meskipun ia masih penasaran dengan wanita itu.


"Shafa tidak marah kan?" Rayyan menatap mata istrinya dalam-dalam, sepulang dari kampus tadi ia menunda untuk bercerita lantaran kedatangan Aisyah yang hendak meminta izin mengikuti baksos di luar kota yang terbilang terpencil .


Shafa mengulas senyum lembut sambil menggeleng.


"Terima kasih sayang" Rayyan memeluk Shafa yang sudah berganti pakaian dengan piyama pendeknya. Anak-anak mereka sudah tertidur setelah bercerita tentang kkegiatan mereka hari ini.


"Apa besok Shafa akan menyuruh Am untuk ikut lagi?" Tanya Rayyan sambil mengelus kepala wanitanya yang sedang bersandar di dadanya.


Mendengar ucapan Rayyan, Shafa segera menegakkan kepalanya. Mas Ray tahu?


"Am cerita apa mas?"


Rayyan tertawa kecil kemudian menarik gemas hidung mancung istrinya "Am itu anak mas, jadi dia nggak mungkin bohong sama mas. Astagfirullahh--" Rayyan menutup mulutnya. Ia melupakan janji kelingking yang tadi di ikrarkannya bersama putra kecilnya itu.


"Ck! Iya anak mas bocor banget mulutnya, awas aja besok ya"


"Jangan sayang. Jangan di marahi. Mas tadi sudah janji sama Am tidak akan bilang mommy eh malah keceplosan" Ujar Rayyan yang menyadarin kesalahannya.


"Emang ya, bapak sama anak sama-sama ember" Cibir Shafa.


"Tapi mommy sayang kan?" Rayyan kembali meraih kepala Shafa untuk bersandar di dadanya.


"Sayang banget...sampai-sampai aku nggak bisa move on pas Mas Rayyan tinggal" Ucapnya sambil memeluk sang suami.


"Apa sudah ada tanda-tanda?" Rayyan mengelus perut rata Shafa. Ia berharap calon anaknya sudah berkembang di dalam, dengan begitu ia tidak perlu khawatir para penggemar Shafa akan mendekatinya lagi.


"Ya ampun mas, nanamnya aja belum cukup sebulan, udah mau tumbuh aja. Mas beneran pengen nambah anak lagi ya?"


"Iya, Gimana kalau kita nyari baby sister buat Zizi. Biar ada yang nemenin di bobo" Jawabnya masih terus mengusap perut Shafa. Shafa melepaskan pelukannya sambil menatap Rayyan penuh tanya.


"Baby sister? Temen bobo? Mas mau misahin aku sama Zizi? Dia belum genap duaa tahun loh mas" Ujar Shafa keberatan dengan ide Rayyan.


"Bukan gitu sayanga, mas hanya---"


"Aku bilang enggak ya enggak!" Shafa menyilangkan tangannya di dada.

__ADS_1


"Dengar dulu!" Rayyan menarik Shafa agar kembali mendekat.


"Maksud Mas, kita cari baby sister supaya kalau Shafa hamil nanti, Zizi sudah terbiasa dengan susternya. Pasti akan sangat repot kalau harus mengurus mereka secara bersamaan" Ujar Rayyan memberikan pengertian.


"Kalau nggak mau repot ya jangan nambah anak! Lagian selama ini aku ngurus mereka sendiri juga bisa" Ucapnya kembali mengungkit masa-masa sulit itu.


"Iya sayang iya... Mas minta maaf kalau gitu" Rayyan memilih mengalah karena tidak ada gunanya berdepat dengan Shafa yang keras kepala seperti Am.


"Aku nggak mau mas, anak-anakku lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan aku ibunya" Suara Shafa melemah.


"Iya, mas ngerti"


"Kalau ngerti ya jangan maksa pake baby sister"


"Mas hanya tidak mau Shafa capek" Rayyan berucap selembut mungkin agar tidak menyakiti hati istrinya.


"Makanya mas bantuin ngurusin, jangan cuma taunya bikin aja" Semakin Rayyan menjawab akan semakin memicu kekesalan Shafa.


"Masya Allah... Iya sayang iya istriku yang terbaik"


Cup!


Ia mengecup kening Shafa sebagai penutup perdebatan malan itu. Ia pasrah saja akan kemauan istrinya yang tidak bisa di bantah.


Pagi itu Rayyan dan Shafa sudah berada di kediaman abah yang di tinggali Aisyah. Mereka yang tahu Aisyah hendak pergi baksos selama dua minggu di daerah terpencil turut andil dalam menyiapkan segala keperluan dan perbekalan Aisyah mengingat Aisyah yang terkadang teledor dan kurang teliti.


"Aish... bangun Aish jam berapa ini?" Rayyan mengetuk-ngetuk pintu kamar Aisyah. Benar saja, sudah pukuk 7.15 ia masih molor, kebiasaan buruk tidur setelah subuh yang sangat sulit untuk di rubah padahal jadwal keberangkatan rombongan baksos adalah jam 9.30.


"Apa barang-barang yang mau di bawa sudah siap mak Das?" Tanya Rayyan pada pengasuh Aisyah.


"Belum den, neng Aish semalam nonton pilem korea sama teman-temannya den. Teman-temannya baru pulang subuh tadi" Ujar mak Das.


"Biar aku aja yang bangunin" Shafa mencoba masuk ke dalam kamar Aisyah yang tak terkunci. Ia menggeleng melihat Aisyah yang tengah lelap memeluk guling dengan masih mengenakan mukenah lengkap.


Shafa mendekat sambil menggoyangkan bahunya "Aish... Aisyah bangun dek, sudah siang" Ucapnya.


Aisyah mulai mengerjab merasakan seseorang membangunkannya.

__ADS_1


"Kak Shafa?" Matanya tebuka sempurna saat mendapati Shafa di sampingnya. Iaa segera bangkit dan menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Kang Andi mana?" Tanyanya.


"Di depan sama anak-anak" Jawab Shafa.


Aisyah melirik jam yang ada di atas pintu sudaha menunjukkan pukul 7.30 "Mati aku bentar lagi ada orang ceramah" Aisyah segera melompat dari ranjangnya buru-buru membuka mukena dan berlari menuju kamar mandi.


"Kak Shafa, tolongin! Aku belum berkemas. Pakaian ku ada di lemari" Ucapnya setelah menongolkan kepalanya dari balik kamar mandi.


"Iya, kamu cepetan mandinya sebelum ayahnya Am ngomel" Balas Shafa. Ia kemudian keluar mengambil paper bag yang di bawanya tadi. Ia membawa 4 paperbag khusus buat Aisyah.


"Gimana mom?"


"Aisyah masih siap-siap Mas!"


"Pasti baru bangun kan? Anak itu kapan dewasanya. Zizi kalau besar nanti nggak boleh males kaya tante Aish ya?" Ujar Rayyan pada Zizi yang tengah menikmati biskuit dalam angkuannya.


"Aish mau bawa baju berapa?" Tanya Shafa. Ia sudah memilih baju yang nyaman dibpakai di tempat baksos tinggal memasukkan nya ke dalam koper.


"Terserah kakak lah, kan Aish disana 2 minggu, banyakin baju lapangan kak, kalau seragamnya Aish udah siapin" Ujarnya. Sekarang Aisyah merasa lebih enak dengan adanya Shafa dan Rayyan yang memperlakukan nya dengan sangat baik. Ia benar-benar mendapatkan sosok seorang kakak laki-laki dan perempuan dari mereka berdua.


"Ini Aku bawain sweeter rajut dan hoodie buat Aish pake di sana kalau malam" Shafa mengeluarkan dua buah dari dalam paper bag.


"Wow... ini yang baru keluar 2 hari lalu kan kak?" Matanya berbinar mendapati dua buah benda branded keluaran terbaru yang menjadi incaran kaum hawa.


"Iya, kakak pesan khusus buat kamu loh Syah" Ucap Shafa.


"Makasih kak, kak Shafa memang terbaik. Duh beruntungnya kang Andi yang galak itu mendapatkan mu kak" Pujinya. Matanya melirik dua paper bag yang masih berada di belakang Shafa.


"Itu apa kak?" Tunjuknya sambil senyum-senyum. Semoga firasatnya benar, itu adalah barang-barang untuknya.


"yang ini Sneaker buat di pake kesana, yang ini vitamin, obat-obatan dan perawatan kulit yang bisa kaamu pakai disana" Terangnya. Mata Aisyah kian berbinar sampai berkaca-kaca. Baru kali ini ia mendapatkan perhatian lebih selain dari Ambu dan abah.


"Kak, aku mau ngomong! Tapi jangan bilang-bilang kang Andi ya?" Ucapnya ragu, tapi menurutnya Shafa adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita. Selain karena sesama perempuan, Shafa terlihat lebih welcome daripada Rayyan yang terkesan kaku.


"Aisyah mau ngomong apa?" Ia siap mendengarkan gadis yang terpaut 9 tahun darinya ini.

__ADS_1


"Sebenarnya ..."


"Tante Aisy mau temana? Kok tasnya betang tekali?" Am menu


__ADS_2