
Rayyan memandang wajah Shafa tanpa berkedip, pandangannya mulai turun menyusuri lekuk tubuhnya yang sangat ideal dibalik dress tipis bak saringan tahu itu. Shafa masih berusaha bergerak namun tangan Rayyan terlalu kuat menahan tubuhnya agar tetap berada di posisi mengangkanginya dengan lutut terlipat di atas sofa.
"Mas... Ini posisinya nggak enak" Ucapnya lirih. Shafa menunduk menggigit bibir bawahnya. Tatapan Rayyan membuat Shafa berada di titik selemah lemahnya. Adek nggak kuat bang!
"Enak kok" Jawabnya santai tanpa mengalihkan pandangan pada sosok cantik di hadapannya itu.
Enak di kamu nggak enak di aku mas!!! Ini jadi aku yang kelihatan nafsu dan mau nyosor duluan.
Rayyan melemparkan ponsel Shafa begitu saja di atas sofa. Kini kedua tangannya berada di pinggang ramping Shafa, merangkak naik kepunggung nya, mengusapnya lembut.
Lah, ini kenapa jantung gue ikutan ketipak ketipuk. Batin Shafa yang merasakan tubuhnya menghangat, wajahnya pun ikut merona seiring detak jantung yang kian cepat.
"Lihat mas!" Rayyan mengarahkan tangan kanannya ke wajah Shafa mengelus pipi mulus yang tak pernah di tempeli jerawat maupun flek lainnya. Shafa mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap wajah teduh di hadapannya. Ayolah Shafa, bukankah ini yang selama ini kamu tunggu, kenapa jadi malu?
Rayyan tersenyum lembut, ia mendekatkan wajah Shafa dengan wajahnya.
"Ich liebe dich Mommy Am"
CUP!
Bisiknya di telinga Shafa sebelum mendaratkan kecupan di pipi kiri istrinya.
Hati Shafa berbunga mendengar ucapan cinta yang ke dua kalinya dari sang suami. Seketika ia melupakan semua beban dan pedih yang pernah menghimpitnya, rasa pedih yang menahun itu seakan sirna seketika. Ia merasa sudah menemukan obatnya.
Shafa tersenyum malu-malu mendengar ucapan Rayyan. Ia seperti menemukan mata air di gurun tandus. Bahagianya sungguh sesederhana itu. Shafa membalas tatapan Rayyan dengan tatapan penuh cinta, Tangannya pun tanpa ragu mengalung di leher suaminya. Jika bisa ia ingin waktu berhenti saat itu juga, ia ingin lebih lama menatap wajah teduh milik Rayyan yang selalu di rindukan.
"Ich liebe dich auch Ayah Am" Ucap Shafa manja.
CUP!
Ia pun ikut mendaratkan kecupan hangat di pipi Rayyan.
"Shafa belum jawab pertanyaan mas!" Tanyanya. Pake "mas" loh dia sekarang, padahal sebelumnya "saya-kamu".
"Pertanyaan apa?" Ekspresi polos Shafa membuat Rayyan gemas untuk tidak menciumnya.
"Foto tadi. Shafa nggak pikun kan?" Rayyan menaikkan sebelah alisnya.
"Mas!" Shafa memukul bahu Rayyan kesal. Baru juga romantis-romaantisan udah di buat sensi aja.
"Enak aja ngatain aku pikun!!! Mas Ray tu yang pikun, nggak ingat apa-apa" Omelnya sambil mengerucutkan bibir lucu.
"Makanya mas nanya!"
Shafa memutar bola matanya malas sambil mencebikkan bibirnya
Modus aja terus. Pake nanya foto habis ngapain. Nggak liat apa bahu gue volos se volos volosnya. Apa matanya juga nggak ngeliat itu badannya cuma ketutup bawahnya doang. Itu foto habis ibadah mas Rayyy... Ibadah "ea ea" in aku!!!
"Menurut mas habis ngapain?" Shafa memiringkan wajahnya menatap polos wajah datar di hadapannya. Sekali-kali gantian dia yang membolak-balikkan pertanyaan.
"Habiiiiiiiiiiiis...ngapain ya?" Rayyan tersenyum simpul sambil tangannya bergerak menyusuri punggung Shafa membuat sang empunya badan menggeliat geli.
"Habis mancing!!!" Ujar Shafa ketus, suaminya ini beneran bod*h atau pura-pura bod*h.
__ADS_1
"Mancing buaya kan?" Balas Rayyan sambil tertawa kecil, Ia ingat kembali ucapan Shafa siang tadi di mobil. Kini tangannya berpindah menyusuri paha mulus yang terbuka sempurna. Mengelusnya lembut membuat tubuh Shafa meremang. Cepat sekali tubuhnya bereaksi.
Ini nih buayanya lagi gr*pe-gr*pein paha gue!!!
"Mas ini lupa atau pura-pura lupa? Atau mau ngerjain aku aja? Habis di peluk-peluk, di cium cium, di raba - raba terus di tinggal tidur! Iya?" Shafa bersendekap dada memberi tatapan kesal. Ia mengungkapkan kemungkinan dirinya di PHP lagi.
Rayyan terkekeh mendengar ucapan Shafa yang terdengar begitu menyudutkannya, sepertinya ia layak menyandang gelar suami tukang PHP istri.
"Makanya bantu mas mengingat"
Shafa mendengus kesal Rayyan seperti sengaja membuatnya kesal. Sabar Shafa, Sabar! Awass aja kalau besok-besok nemplokin gue kaya cicak nggak mau lepas!!!
"Merem!!!" Ucap Shafa memerintah. Rayyan ini harus di kasih syok terapi agar otaknya bekerja dengan benar.
"Kaca matanya di buka!" Imbuhnya lagi. Rayyan nurut saja. Di lepaskannya kacamata bening berwarna hitam yang membantu mempertajam penglihatannya itu.
"Udah" Balasnya setelah memejamkan matanya. Ia masih menerka apa yang akan di lakukan istri cantiknya itu.
Shafa tersenyum sinis. Setelah ini kita lihat, apa masih mau sok jaim? Ia melepas cardigan yang menutupi dress tipisnya dan melemparkannya kesembarang arah. Hanya laki-laki sakit saja yang tidak tergoda dengan tampilannya yang cantik paripurna, seksi dan menggoda.
Tangan kanan Shafa menyentuh rahang sebelah kanan Rayyan. Ia mendekatkan wajahnya. Sasarannya kali ini adalah bibir manis Rayyan. Ciuman panjang dan lama mungkin bisa sedikit membantu meluriskan otakmu Mas. Batin Shafa.
Saat bibir mereka tinggal beberapa centi saja tiba-tiba Rayyan membuka matanya, tersenyum tipis membuat Shafa terlonjak.
"Let me do it (biar aku yang melakukannya)" Tanpa menunggu lama ia langsung mencecap bibir Shafa bahkan saat ia belum siap. Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?
Shafa ikut memejamkan matanya menikmati sensasi manis dan bikin nagih yang lama ia rindukan. Rayyan menahan tengkuk Shafa, rasa yang tidak asing itu membuatnya semakin memperdalam c*umannya.
Cukup lama mereka merasai bibir satu sama lainnya, hingga terdengar deru nafas Shafa yang mulai terengah.
"Kenapa sayang?" Rayyan mengelus pipi Shafa saat Shafa sedikit menarik wajahnya kebelakang.
"Udah ah" Shafa hendak turun dari pangkuan Rayyan namun Rayyan justru bangkit membuat Shafa refleks memeluk leher Rayyan. Ia menggendongnya bak bayi koala.
"Mommy Am berat ya?" Godanya setelah berjalan beberapa langkah.
"Mana ada? Mungkin mas udah nggak kuat lagi. dulu pas aku hamil Am, mas bolak balik gendong naik tangga juga biasa aja" Ledek Shafa.
"Oh ya? Kita buktikan yuk?" Rayyan membaringkan tubuh Shafa di atas ranjang empuk. Ia tak beranjak dari posisinya yang setengah menindih. Gelenyar aneh mulai menjalari tubuhnya tak kala ia memandang tubuh molek yang halal baginya. Nikmat Allah yang mana lagi yang kamu dustakan Ray?
"Cantik!" CUP!
Sekarang bukan hanya bibirnya yang berani memuji dan mencium. Tangannya pun mulai ikut andil menyusuri tubuh Shafa dan berhenti di gundukan favoritnya dulu. Perasaan Shafa kini bercampur aduk seperti iklan permen yang rame rasanya.
Rayyan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Shafa, rasanya sudah tidak bisa menahan lagi apa yang selama hampir dua minggu ini ditahannya. Rasa malu atau gugup tak lagi di rasakan nya. Benar, bahwa nafsu melupakan segalanya. Ia bahkan lupa kalau sejam yang lalu ia masih merasa canggung. Merasa tak mendapatkan penolakan bahkan tindakannya tersebut mendapat respon dan balasan dari sang istri, Rayyan semakin menjadi. bukan hanya menyentuh, mer*mas, tangannyaa kini sudah menyusup di balik dress yang sudah berantakan.
"Maaash" Panggil Shafa menahan wajah Rayyan yang tengah menjelajah di sekitar tulang selangkanya. Rayyan mendongak menatap wajah Shafa yang merona.
"Aku... Aku..." Ia menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia mengatakannya? Kening Rayyan mengernyit. Ia mengangkat tubuhnya bertumpu pada lengannya.
"Kenapa? Shafa tidak ingin melakukannya?" Tanya Rayyan. Ada rasa khawatir yang menyusup hatinya. Ia takut, takut jika ternyata Shafa nya tidak menginginkannya lagi. Padahal sejak video call dengan Malvin tadi, ia bertekad tidak akan membiarkan Shafa jatuh ke pelukan orang lain. Ia bahkan kepikiran untuk membuat Shafa hamil kembali agar ia tak bisa lari dari Rayyan.
Shafa menggeleng, ia menarik wajah Rayyan mendekat dan membisikkan sesuatu "Aku lupa doanya" Ucapnya lirih menahan malu. Wajar bila ia lupa, sudah hampir 3 tahun ia tidak melafalkan doa yang dulu hampir tiap malam di ucapkan nya.
__ADS_1
"Huuuh" Rayyan menghembuskan nafas lega, ia sempat berfikiran yang tidak-tidak. Ia mengusap lembut kepala Shafa.
"Bismillah...Ikuti" Perintah Rayyan.
"Bismillah" Ucap Shafa mengikuti.
"Allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa"
Dengan sekali sebut Shafa langsung bisa mengikutinya.
"Artinya: “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerah kan kepada kami.” Terang Rayyan.
"Amiiin"
Keduanya saling tatap penuh cinta. Kini baik Shafa maupun Rayyan sudah siap melaksanakan ibadah yang tertunda. Kini bukan lagi Rayyan yang malu melainkan Shafa. Karena seperti itulah hakikatnya seorang wanita, Allah melebihkan rasa malu padanya. Sedangkan pada lelaki Allah melebihkan akal dan kekuatan karena laki-laki adalah pemimpin dan pelindung bagi wanita.
Dibawah cahaya temaram lampu kamar, di iringi suara hujan, dua insan manusia tengah menunaikan kewajiban satu sama lain. Keduanya hanyut dalam penyatuan yang di penuhi kerinduan. Malam ini akan menjadi awal bagi keduanya memulai kembali kehidupan seperti dulu, tanpa rasa takut, canggung dan asing yang selama beberapa hari ini memprovokasi hati keduanya.
Bukan hanya desahan dan geraman saja, pekikkan Shafa pun turut meramaikan penyatuan mereka. Ini memang bukan yang pertama baginya, ia bahkan telah 2 kali melahirkan. Namun, tetap saja ia tidak bisa membohongi diri bahwa rasa sakit itu kembali terasa meski tak sesakit saat pertama, tapi rasanya benar-benar sakit terlebih saat Rayyan terus menyerangnya tanpa henti. Rayyan sungguh menuntaskan semua hasrat yang selama ini dipendamnya.
Cukup lama, mereka bergelut dibawah selimut tebal bermotif mawar, hingga sebuah geraman panjang sebagai tanda berakhirnya percintaan mereka terdengar.
"Alhamdulillah. Terima kasih sayang" Ucap Rayyan yang masih terengah engah, setelah berhasil menjebol gawang yang tersegel selama hampir 3 tahun itu. Tak lupa ia memberikan kecupan sayang di kening Shafa.
Sebuah senyum cerah terbit dari wajah keduanya. Meskipun harus menahan perih dibagian intinya, Shafa tetap senang karena Rayyan hanya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pelampiasan nafsu biologisnya.
Gilak! Kenapa perih gini...!!!
"Apa mas menyakiti Shafa?" Tanya Rayyan saat melihat ekspresi tak nyaman dari wajah istrinya. Shafa menggeleng kemudian menyusupkkan wajahnya di dada Rayyan.
Nyaman!
"Kalau sakit bilang" Ucap Rayyan sambil mendekap tubuh polos istrinya.
"Sedikit perih, mungkin terlalu lama puasa" Balas Shafa yang berada dalam dekapan Rayyan.
"Makanya harus sering-sering begini biar terbiasa" Ucapnya seolah paling tahu urusan beginian.
"Hmmm" Jawab Shafa singkat ia tak ingin banyak komentar, tubuhnya sangat lelah setelah di serang dari berbagai arah. Saatnya ia tidur nyaman dalam pelukan Rayyan.
"Sekali lagi mau?" Ucap Rayyan yang membuat Shafa refleks membuka matanya dan melepaskan pelukannya.
Yang bener aja! Ini belum juga kering mau di tambahin lagi! Situ niat apa nafsu!!!
"Tapi Bohong! he..he..he" Ucapnya setelah melihat ekspresi terkejut istrinya. Sekalipun ia masih menginginkannya, ia tak ingin memaksa wanitanya. Baginya kenyamanan Shafalah yang utama.
"Mas ih!"
CUP!
Ciumnya pada bibir Shafa yang mulai mengerucut.
"Tidur!" Rayyan kembali mendekap tubuh Shafa yang butuh istirahat menepuk nepuk lembut punggungnya menghantarkan Shafa dengan cepat ke alam mimpi.
__ADS_1
"I love you so much Shafa"