
Pukul 17.30, mobil yang di kendarai Rayyan sampai di kediaman mereka. Zifara yang saat itu sedang bermain ayun-ayun di teras rumah langsung melompat dan berlari ke arah Rayyan di susul Zafran di belakangnya.
"Yayah" Panggilnya yang langsung mengangkat tangannya untuk di gendong. Sedang Zafran mengambil tas laptop yang di tenteng ayahnya setelah mencium tangannya terlebih dahulu.
"Anak ayah cantik banget, siapa yang dandanin?" Rayyan mencium pipi gembul Zifara. Rambutnya saat itu di tata sedemikian rupa dengan hiasan pita berwarna merah muda.
"Ya aku lah. Gimana? Cantik kan? Aish gitu loh" Dengan percaya diri ia membanggakan dirinya. Kalau soal menghias rambut ala-ala, gadis pecinta k-pop itu ahlinya.
"Am mana? Kok nggak kelihatan?" Rayyan menoleh ke sekitarnya namun tak menemukan Am. Biasanya, Zaf, Zizi dan Am selalu bermain bersama.
"Noh, lagi di kekepin ama emaknya. Heran Aish mah, dari tadi dia nemplok mulu sama kak Shafa, udah kaya bayi koala," cibir Aisyah yang di buat geleng-geleng dengan tingkah Am.
Rayyan memasuki rumah, tak sabar bertemu dengan istri yang sejak tadi di khawatirkannya.
"Assalamualaikum" Ucapnya saat melihat sang istri tengah duduk santai sambil memeluk Am di ruang keluarga.
"Waalaikum salam" Shafa tersenyum lebar saat melihat sang suami datang. Rayyan segera mendudukkan dirinya di sebelah Shafa dan merangkul bahu istrinya.
"Apanya yang sakit?" Tanya Rayyan penuh perhatian. Ia menempelkan punggung tangannya di kening dan leher sang istri hingga mengusik Am yang tengah mendalami perannya sebagai anak mommy.
"Ayah, jangan detat-detat mommy nya atu" Ujar Am dengan wajah kesal sambil mendorong tangan ayahnya yang menempel di pipi mommy nya.
"Kenapa? Inikan istrinya ayah," Balas Rayyan yang tak mau kalah. Si duplikat cilik hari ini begitu posesive ingin menguasai Shafa seorang diri.
"Ini mommy tu. Mommy lagi cakit ayah. Ayah minggil" Jawabnya sambil mengibaskan tangannya seolah hanya dirinya yang boleh dekat dengan mommynya.
"Mommy" Am mengelus pipi Shafa kemudian menciumnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Shafa seakan ingin berbagi rasa sakit dengan wanita yang telah melahirkannya.
Shafa memberi kode pada Rayyan agar tidak mengganggu Am. Meskipun kerap membuat ulah dan membuat Shafa darah tinggi, nyatanya Am sangat tak ingin jauh darinya terlebih saat ia sakit.
Akhirnya setelah berhasil membujuk Am untuk mau bergabung bersama Aisyah dan kedua saudaranya, Shafa bisa leluasa menyiapkan pakaian yang akan di pakai suaminya ke masjid untuk shalat magrib.
"Sayang?" Panggilnya setelah keluar dari kamar mandi.
"Iya, Mas" sahut Shafa yang keluar dari ruang ganti.
Tiba-tiba Rayyan yang masih berbalut handuk sebatas pinggang itu memeluk tubuh istrinya. Ia terlalu mengkhawatirkan ibu 3 anak itu sampai-sampai tak melihatnya sebentar saja bagaikan se abad.
__ADS_1
"Badan Shafa hangat"
"Iya nih, makanya pelukin ya? Badan Mas Ray dingin" Balasnya ikut mengeratkan tangannya memeluk tubuh Rayyan.
"Pasti mas pelukin kalau nggak ada pengganggu cilik itu" Sudah pasti yang di Maksud adalah Am.
"Gitu-gitu dia anakmu, mas. Yang mewarisi setiap inci kegantenganmu"
"Oh ya, tadi dokter Malvin kesini ya?" Rayyan menuntun Shafa duduk di pinggir ranjang.
"Ia, mas tau?"
Rayyan mengangguk sambil memandang wajah Shafa yang terlihat agak sayu.
"Dia cuma ngantar Aisyah dan ngasih vitamin untukku. Nggak marah kan?" Shafa mengusap lembut pipi suaminya. Meskipun awalnya kesal, jika sudah seperti ini, siapa yang tahan untuk marah dengan Shafa.
Seusai mengganti pakaiannya, Rayyan dan Zafran berpamitan ke masjid untuk shalat magrib berjamaah. Sedang yang lain tinggal di rumah. Begitu motor Rayyan melaju keluar dari halaman rumah berlaantai dua itu, Aisyah segera menghampiri Shafa. Sebelum meminta izin pada Rayyan, ia harus izin dulu dengan Shafa.
"Kak?" Ia mendaratkan bokongnya di samping Shafa yaang sedang mengenakan mukena kecil pada Zifara.
"Kenapa Aish?"
"Malam ini?" Tanya Shafa memastikan. Aisyah mengangguk pasti.
"Kenapa baru bilang? Kamu udah nyiapin dresscode dan lainnya?" Inilah yang paling di sukai Aisyah dari Shafa. Ia begitu pengertian dan sangat perhatian. Aisyah menggeleng pertanda ia belum menyiapkan apa-apa.
Ajakannyaa juga mendadak.
"Ya sudah, kamu siap-siap Sholat magrib gih. Nanti kakak bantu milih bajunya" Ucap Shafa membuat Aisyah tersenyum lebar. Tidak sia-sia ia jadi baby sister beberapa jam. Batinnya.
"Tapi kak? Emm... pasti aku nanti di interogasi sama bapaknya Am." Ia mengutarakan salah satu ketakutannya. Jika Rayyan mencari tau, sudah pasti ia tidak akan di izinkan keluar rumah.
"Ah, nanti biar kakak yang bicara"
Dan benar, setelah selesai shalat magrib, Shafa mengajak Aisyah ke kamarnya yang ada di lantai 2. Koleksi baju-baju Shafa masih berjajar rapi di sana. Mata Aisyah berbinar saat Shafa menyuruhnyaa memilih dress ataupun gaun yang cocok dengan dirinya. Bukan hanya itu, Shafa juga memilihkan sepatu dan tas yang matching dengan baju yang Aisyah kenakan.
Sebuah gaun panjang berwarna dusty pink, dengan rempel di bagian bawahnya menjadi pilihan Aisyah.
__ADS_1
"Kak, ini kepanjangan deh kayaknya" Keluhnya, setelah mengenakan gaunbtersebut.
"Gampang! Sini kakak benerin" Dengan cekatan Shafa menarik keatas sedikit kain di bagian pinggang dan mengancingnya dengan pin kecil berbentuk kristal di sekeliling pinggang Aisyah.
"Woah... Cantik banget kak. Kakak kenapa nggak jadi designer aja sih?" Puji Aisyah setelah melihat hasil karya Shafa pada dirinya.
"Nanti deh, kakak jadi designer kalo mereka berdua udah agak besar" Jawab Shafa asal sambil melirik dua anaknya yang sejak tadi memperhatikan dari atas kasur.
"Kamu pakai sandal yang ini aja, terus tas nya ini" Shafa mengeluarkan sendal bertali, berwarna senada dengan gaun yang Aisyah kenakan. Juga sebuah tas jinjing kecil berwarna putih keluaran salah satu brand ternama JA'DIOR yang menambah cantik penampilannya.
"Am? Zizi?" Suara Rayyan terdengar memanggil dari balik pintu. Rupanya ia sudah pulang dari Masjid.
"Kak? Gimana?" Bisik Aisyah. Ia tak yakin Rayyan akan mengijinkannya keluar mengingat dirinya yang begitu disiplin. Bahkan di rumah Aisyah sendiri pun, Rayyan selalu memata-matainya lewat mak Das. Ia benar-benar menunaikan amanah abah dengan baik.
"Tenang," ucap Shafa sambil menepuk bahu Aisyah.
"Kami disini Mas," Shafa melangkah menuju pintu menemui sang suami.
"Sayang? Ngapain disin" Rayyan bertanya sambil mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut kamar yang dulu jadi saksi bisu malam pertama mereka. Pandangan Rayyan jatuh pada sosok Aisyah yang tengah menaut dirinya di depan cermin yang ada di kamar itu.
"Aish, Mau kemana kamu?" Tanyanya spontan saat melihat penampilan Aisyah yang beda dari biasanya.
"Aisyah hanya bisa menelan ludah, berharap Shafa benar-benar menolongnya."
"Mas, Aisyah ada undangan pesta dari temannya. Nggak papa ya? tadi seharian dia sudah jagain Zizi dan Zaf" Bujuk Shafa sambil menuntun suaminya duduk di ranjang dengan anak-anak mereka.
"Pesta di mana Syah? Kamu pergi dengan siapa?"
Deg! Mati aku.
"Di.. Di.."
"Mas, ih kepo deh. Kaya Am!" Potong Shafa.
"Bukan begitu Mom, Mas hanya mau tau dia pergi sama siapa" Ellak Rayyan.
"Aku pergi sendiri kok kang, nanti ketemu sama teman-teman di tempat acara" Jawab Aisyah cepat sebelum gagapnya kumat.
__ADS_1
Rayyan menghembuskan nafasnya, "Ya sudah, pulang jangan lewat dari jam 9" Ucap Rayyan.
Jam 9? Gue aja dulu kalau party baaliknya subuh. Batin Shafa meringis mengingat kenangan jaman jahiliahnya dulu.