
Am masih berada di Klinik, dokter belum memperbolehkannya pulang, karena terkadang ia masih merasakan sakit di bagian dadanya. Sore itu ia tengah asik bermain pesawat-pesawatan dari kertas bersama Zafran. Ia hanya duduk melemparkan pesawat kertas tersebut di udara sedangkan Zafran akan menangkapnya dan memberikannya lagi pada Am, Begitu seterusnyaa sampai Aam merasa bosan.
"Permisi" Suara pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang berumur sekitar 35 tahun bersama seorang gadis kecil nan cantik.
"Cici" Teriak Am, saat mengetahui yang datang adalah Aira dan maminya.
"Hai adek Am" Aira melambaikan tangan ada Am yang berada di atas ranjang.
"Mari silahkan masuk. Kok nggak ngabari sih kalau mau kesini" Shafa menjabat tangan mmi Aira yang merupakan tetangga depan rumahnya.
"Aira, kamu kok nggak bilang kalau mau ke sini. Tadi kan kita sama-sama di sekolah" Ujar Zafran.
"Supraise!!! Kaya yang di tivi-tivi itu loh Zaf, masa kamu nggak tau" Jawabnya. Bakat centil dan kemayu sepertinya sudah nampak pada gadis cantik berumur tujuh tahun itu.
"Gimana kondisinya Am? Kenapa lama sekali?" Tanya mami Aira yang sudah berada di sebelah Am, mengusap lembut kepalanya. Bocah kecil yang sering bertengkar di halaman rumahnya ini cukup membuatnya khawatir sebagai tetangga.
"Sudah mendingan bu, hanya terkadang dadanya masih sakit" Jawab Shafa.
"Am cepat sembuh, supaya bisa main sama cici lagi"
"Atu mau cembuh talo ayah tu pulang bu gulu. Tata mommy, ayah tu mau pulang" Balasnya sambil tersenyum lebar. Mami Aira hanya menanggapinya dengan senyum, ia tahu betapa rindunya bocah kecil itu pada ayahnya. Saat bertengkar dengan temannya pun, tak ada lain yang mereka pertengkarkan selain tentang ayah Am yang tak kunjung pulang.
"Iya, Am harus rajin berdoa pada Tuhan supaya keinginan Am bisa terwujud" Balas mami Aira.
"Cici, itu apa?" Am menunjuk paper bag yang di pegang Aira.
"Oh iya sampai lupa. Ini puding coklat buat Am" Jawab mami Aira. Puding cokkat juga merupakan salah satu makanan favorite Am.
"Bilang apa Nak sama ibu guru"
"Telima kacih ibu gulu. Nanti talo Am cembuh Am mau cekolah di tempatnya ibu gulu" Ucapnya dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Am, Kok makasihnya cuma sama mami aja. Tadi cici juga bantu buat loh" Protes Aira.
"Memangnya kamu bisa bikin kue Aira?" Tanya Zafran.
"Bisa dong Zaf, iya kan mami" Aira menoleh kepada maminya, meyakinkan sahabatnya itu bahwa ia bisa membuat kue.
"Iya, tadi Aira bantu masukin susu sama coklatnya" Jawab mami Aira. Walaupun hanya sekedar memasukkan, itu termasuk kategori membantu.
"Assalamualaikum" Pintu kembali terbuka.
"Waalaikumsalam"
Kali ini yang datang adalah seorang pria tampan dengan jas dokter dan stetoskop yang mengalung di lehernya. Siapa lagi kalau bukan dokter Malvin yang terus berusaha menluluhkan hati Shafa.
Dokter Malvin sendiri baru mengenal Shafa dua setengah tahun yang lalu saat berusaha mengobati Shafa. Kala itu, Shafa sempat depresi dan mengalami trauma beberapa waktu setelah berita kematian Rayyan.
Sejak saat itu interaksi keduaanya menjadi sering. Sebagai laki-laki lajang dan normal, tentu saja kecantikan Shafa mampu menggetarkan hatinya. Rasa yang mula nya biasa kini menjadi rasa yang tak biasa. Sekalipun sudah memiliki 3 orang anak, Shafa tetaplah Shafa yang mampu menghipnotis banyak pria dengan wajah cantiknya di tambah lagi status sosialnya. Banyak orang yang benar-benar mengharapkan Rayyan meninggal agar mereka memiliki kesempatan mendekati pewaris HS klinik itu.
Sayangnya, hati Shafa tetaplah saama. Ia sama sekali tak goyah. Cintanya kepada Rayyan seakan membutakannya dari segala bentuk pesona laki-laki yang ada. Bukan hanya dokter Malvin, beberapa kolega daddynya dan juga partner kerjanya pun sempat mencoba peruntungan mendekati Shafa. Mereka semua menganggap Rayyan adalah laki-laki paling beruntung, dibandingkan dengan mereka, mungkin wajah Rayyan biasa saja, tubuhnya biasa saja namun dimata Shafa, tak seorangpun mampu menandingi suaminya tersebut.
.
.
.
Setelah Shalat Isya Aisyah duduk bersila di hadapan Andi. Disana juga ada pak Marno selaku supir yang akan menunggui mereka selama beberapa hari, dan juga ada mak Das, tukang masak dan bersih-bersih yang bertugas menemani Aisyah di rumah itu.
"Jadi, Apa rencana kita besok? Ke klinik atau ke alamat anak itu?" Aish bertanya layaknya detektif handal yang hendak memecahkan masalah.
"Ke alamat itu dulu. Saya harus memastikan dulu apakah ada anggota keluarganya yang hilang atau tidak" Jawab Andi.
__ADS_1
"Oke, jadi besok pertama-tama kita ke alamat itu dan mencari tahu. Akang yankin akang memiliki hubungan dengan anak itu?" Tanya Aisyah.
"Yakin!" Jawabnya mantap.
"Alasannya?"
Andi mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan fotonya dan foto Am saat di warung bakso.
"Lihat! Perhatikan, apakah kita mirip" Ia menghadapkan gambar tersebut tepat di hadapan Aisyah.
"Waw... Ini teh Asli?" Aisyah langsung menyahut ponsel Andi dan melihat gambar tersebut dengan seksama.
"Asli"
"Kebetulan yang kebetulan" Aisyah menggeleng melihat betapa miripnya wajah mereka berdua. Sah-sah saja jika Andi mengharap bahwa Am benar-benar putranya, terlebih Am sendirilah yang lebih dulu meembawa Andi dalam angan dan harapan iti saat bertemu pertama kali di kebun teh.
"Apa menurutmu kebetulan? Dia memanggilku ayah, yang ke dua dia sangat mirip dengan ku dan yang ke tiga semua bayangan-bayangan dan suara yang menurut dokter berasal dari ingatan ku semuanya terjadi setelah pertemuanku dengan Am. Apakah semua itu masih bisa di katakan kebetulan?" Tanya Andi.
Aisyah manggut-manggut. "Ini terlalu sempurna untuk di katakan kebetulan. Lalu, kenapa akang nggak langsung kesana saja sekarang?" Balas Aisyah, ia bahkan sudah siap mengantar Andi ke alamat yang di tuju jika dia benar-benar yakin.
"Tidak, sebelumnya saya harus memastikan semuanya dulu Aish. Saya tidak ingin malu karena di nggap mengaku-ngaku atau melkukan hal bodoh yang tidak di rencanakan matang-matang." Jawab Andi.
"Lha terus besok mau ngapain?" Aisyah jadi bingung dengan jalan fikiran Andi yang kadang terlihat cerdas dan kadang membingungkan seperti saat ini. Bukannya ia ke Jakarta ingin segera bertemu Am?
"Kita cari tahu dulu siapa ayah anak itu, memastikan itu aku atau orang lain. Yang aku tahu dari dia Ayahnya sedang berada di Mesir. Menurutmu, apa yang di lakukan seorang ayah di Mesir?"
"Mungkin dia TKI? Ah nggak mungkin, atau dubes? Lebih tidak mungkin lagi. Ahh... Teing ah" Aisyah tak mau lagi menerka-nerka yang membuat kepalanya lebih pusing.
"Tapi sebelum ke alamat itu, tolong antar saya ke optik. Rasanya tidak nyaman saat tidak bisa fokus di saat genting seperti sekarang" Balas Andi. Ia takut salah mengenali orang atau tak fokus saat berjalan dan berkendara tanpa menggunakan kaca mata.
Am... kita pasti ketemu lagi.
__ADS_1