Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Marahnya Rayyan


__ADS_3

Tak menunggu lama setelah melihat Rayyan, Shafa memilih untuk berpamitan. Pembahasan soal kontrak kerjasama ZR dengan Sanjaya Corp mungkin akan ia bahas lain kali. Fokusnya saat ini adalah menenangkan singa yang terlihat lapar hendak menerkam mangsanya.


Dengan cepat Shafa mengangkat Zifara menghampiri Rayyan yang masih berdiri di depan pintu masuk. Tangannya terlihat mengepal, matanya menajam dan wajahnyaa merah padam. Apakah ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang telah di rencanakan?


"Mas..."


Rayyan langsung mengambil Zifara yang berada dalam gendongan Shafa dan membawanya keluar.


"Mas tunggu!" Panggil Shafa yang berjalan cepat mengikuti langkahnya. Shafa baru amenyadari bahwa Rayyan datang seorang diri. Ia menoleh mencari keberadaan Am yang pagi tadi ikut dirinya ke kampus.


"Mas, Am mana?" Shafa menahan lengan Rayyan yang hendak masuk ke dalam mobil dengan membawa Zifara.


"Hayyo Mommy. Atu di tini" Tiba-tiba Am menongolkan kepalanya tersenyum pada snag ibu yang nampak begitu khawatir.


"Am"


"Aku akan bawa anak-anak, kamu selesaikanlah urusanmu" Rayyan berucap tanpa melihat Shafa. Hatinya begitu panas setelah menerima pesan berisi foto Shafa dengan pria yang waktu itu pernah membawakan hadiah untuk Shafa dan anak-anaknya. Dalam foto itu Shafa nampak sedang makan sedangkan Edwin terlihat mengusap bibir Zifara dengan tissu bak seorang ayah yang sedang memperhatikan putrinya.


"Nggak, aku ikut!" Ucap Shafa yang langsung membuka pintu depan mobil dan masuk ke dalam mobil. Rayyan mendengus melihat istrinya yang semaunya sendiri.


Pak Madi yang sejak tadi menunggu di buat bingung dengan pasangan yang terlihat sedang perang dingin.


"Ini mau kemana pak, bu?" Tanyanya hati-hati.


"Pulang saja pak Madi" Jawab Rayyan.


"Mommy...Mommy..." Panggil Am yang berdiri berpegang pada kepala kursi yang di duduki Shafa.


"Am, awas jatuh nak" Shafa menoleh, ia sengaja melirik Rayyan yang langsung mengalihkan pandangannya. Hati Shafa ketar-ketir, ia tahu betul bagaimana Rayyan saat marah. Dulu bahkan ia pernah di tampar olehnya. Teriakan dan bentakan Rayyan saat marah meruppakan hal yang paling Shafa takuti selain tatapan tajam membunuhnya.


"Mommy tama Zizi lagi ngapain di tana tadi?" Tanya Am.


"Acu temu om anteng tata am" Sahut Zizi karena mommynya yang terlalu lama berfikir.


"Om ganteng yang bawatan atu tobot-tobot Zi?" Am kembali bertanya yang di angguki oleh Zifara. Benar-benar anak-anak cerdas yangbtidak mengerti situasi dan kondisi. Tidak tahu bahwa nafas ayahnya sudah memburu seperti ingin menghancurkan sesuatu.


"Mas, aku bisa jelasin" Ucap Shafa lirih sambik menolwh menatap Rayyan yang diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Lebih baik kita bicara di rumah" Jawabnya dingin.


"Ayah...ayah tenapa ko mutanya celem" Tanya Am dengan polosnya sambil menyentuh wajah sang ayah membut Shafa yang tadinya deg-degan ingin tertawa lepas.


"Ayah cenyum taya gini.. iii" Zifara memperagakan senyum lebarnya membuat Rayyan mau tak mau harus memaksa wajah kakunya untuk tersenyum.


"Mommy...Mommy atu tadi tetemu tante Sonya, tatanya adek di pelutnya udah mau keluar mommy. Atu kapan punya adik kaya adiknya Bobby mommy?" Ujar Am yang kini duduk tenang disebelah sang ayah.


"Tanya Ayahmu Am" Jawab Shafa singkat. Shafa harap pertanyaan Am ini bisa sedikit mengurangi kadar kemarahan Rayyan yang akan di luapkan pada Shafa.


"Ayah kapan atu punya adik cowok kaya adiknya Bobby?" Am beralih menatap sang ayah yang nampak memejamkan matanya. Kedua anaknya ini membuat perasaannya nano-nano.


"Am tanya mommy saja" Spontan jawaban yang keluar dari mulut Rayyan sama dengan jawaban Shafa tadi.


Merasa tak puas dengan jawaban kedua orang tuanya, tAm memukul kursi kosong di sebelahnya sebagai bentuk protes.


"Mommy! Ayah!" Panggilnya dengan perasaan jengkel membuat dua orang dewasa itu menoleh ke arahnya yang sudah cemberut.


Wajah Am sudah memerah dengan mata berkaca-kaca "Atu malah sama mommy dan ayah" Ucapnya ketus dengan bibir bergetar.


"Am, sini nak sama mommy disini" Bujuk Shafa sambil melambaikan tangannya pada Am.


"Sudah cup cup... Nggak boleh marah anak ganteng ayah ini" Rayyan membujuk dengan mengelus kepala Am dan merangkulnya.


"Isk..isk.. Huaaaaa" Tangis Am malah pecah saat ayahnya membawanya dalam pelukannya.


"Ayah tama mommy nda tayang Am" Ucapnya di sela sela tangisnya.


"Eh, anak ayah kok ngomong gitu? Ayah sayang kok sama Am" Rayyan semakin erat mendekap.


"Telus kapan atu punya adik ayah!" Ucapnya meninggi lantaran begitu kesal dengan jawaban yang tadi di lontarkan ayah dan mommynya.


"Iya... iya... Nanti ya nak" Rayyan berusaha menenangkan Am.


"Nanti kapan ayah?" Tanyanya lagi, Aam tidak akan berhenti sebelum ia mendapat jawaban yang memuaskan dari ayahnya.


Rayyan menarik nafaa panjang dan menghembuskan nya perlahan sebelum menjawab pertanyaan putra kecilnya yang sangat menggemaskan itu.

__ADS_1


"Sabar Am... Am mau adik?" Rayyan menatao mata Am yang kemudian di angguki oleh bocah tampan itu.


"Am harus banyak berdoa dan meminta sama Allah. Karena hanya Allah yang tahu kapan adik Am ada" Pelan-pelan Rayyan mencoba memberi tahu putranya bahwa perkara adik merupakan rahasia Allah.


"Tapi tan adikku nanti di pelut mommy ayah. Ayah nanti-nanti telus" Balas Am.


"Am, kalau perut mommy sudah besar berarti adik Am ada di dalam" Sahut Shafa yang gemes swjak tadi mendengar ocehan putranyya itu.


"Mommy, bibi Ati pelutnya betal tapi ga ada adiknya." Bukan Am namanya jika tidak memiliki seribu cara untuk membuat orang dewasa di sekitarnya pusing tujuh keliling. Ia tahu bahwa perut besar bukan patokan seseorang akan memiliki adik. Karena Mabak Yati, istri pak Ali memiliki perut besar yang bukan karena hamil tapi karena timbunan lemak.


"Pokoknya atu mau adik cepat!" Ucapnya seakan menghadirkan seorang adik seperti membuat kue yang setelah di adoni dan di oven siap untuk di sajikan.


"Insha Allah Nak... Insha Allah" Hanya itu jawaban yang masuk akal untuk berikan kepada Am.


Sesampainya di rumah, Rayyan segera membawa Am dan Zifara ke ruang tengah untuk bergabung dengan Zafran yang sedang bermain. Ia meminta Zaf untuk menemani adik-adiknya bermain sejenak. Sedangkan ia menyusul sang istri yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar jantung Shafa berdetak lebih cepat. berulang kali ia menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus ia katakan pada Rayyan. Haruskah ia mengatakan bahwa bisnisnya saat ini sedang terancam? Bukanlah itu akan semakin memperburuk kondisi Rayyan yang belum sepenuh ya pulih. Ia sungguh dilema.


Maafkan aku mas jika terpaksa harus berbohong. Semua ini demi kamu.


Ceklek!


Ia menoleh saat pintu kamar terbuka. Rayyan menutup kembali pintu dan menguncinya agar anak-anaknya tidak masuk dengan tiba-tiba.


"Mas, Aku---"


"Saya sudah tahu!" Jawabnya dingin. Aura dingin begitu terasa saat langkah Rayyan semakin mendekat, membuat Shafa terpundur karena takut akan sorot tajam yang seakan mengulitinya.



Ayah senyum dong...😀😀😀



Senyum itu ibadah yaaa😘😘😘


__ADS_1


Lagi ngambek " Kapan Atu punya Adik?" Demo terusss Amm🤣🤣🤣


__ADS_2