Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Maag


__ADS_3

Sudah menjadi watak Rayyan, jika marah ia memilih untuk menenangkan diri untuk meredakan amarahnya. Seperti yang terlihat saat ini, ia memilih berbaring terlentang di atas sajadah sambil memejamkan mata. Sejak shalat duhur tadi, ia belum berniat pulang ke rumah.


Ampuni aku ya Allah. Ampuni aku yang lalai dalam mendidik istriku.


Untung saja saat marah tadi ia tak sampai menyakiti isrinya seperti yang pernah ia lakukan dulu. Rayyan mengingat dulu ia pernah menampar wajah Shafa. Bersyukur ia masih menepati janjinya untuk tidak melakukan hal itu lagi.


Rayyan membuka matanya, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, yang artinya sudah hampir dua jam ia berada di tempat itu. Ia bangkit menegakkan kembali tubuhnya.


"Assalamualaikum" Terdengar Sapaan suara yang tak asing di telinganya.


"Wa'alaikum salam. Eh pak Imam?" Rayyan menjabat uluran tangan pria paruh baya yang dulu begitu akrab dengannya.


"Tumben masih di sini pak? Anak-anak tidak ikut?" Tanya pak Imam. Biasanya Zaf selalu bersama ayahnya ke Masjid. Namun kali ini ia tak nampak bersama sang ayah.


"Tadi ngantuk sekali pak Imam. Sampai ketiduran." Jawabnya.


"Am apa kabar pak? Sudah lama saya tidak lihat Am. Rasanya rindu dengan tingkah polahnya"


"Am tadi lagi jalan-jalan sama tante nya. Dia suka rusuh di Masjid pak Imam, jadi Mommynya larang. Dari pada nanti mengganggu yang lain". Balas Rayyan. Memang benar bahwa anaknya yang satu itu kerap usil dan tak bisa diam, sekalipun berada di masjid.


"Dia sebenarnya anak yang pintar hanya saja---"


"Nakal ya pak Imam?" Potong Rayyan. Sudah bukan hal baru ia mendengar kenakalan putra kecilnya tersebut.


Pak Imam menggeleng "Tidak, pada dasarnya dia anak yang baik hanya saja dulu teman-temannya sering menganggu. Saat pak Rayyan tidak ada"


Deg!


Seperti sebuah pukulan bagi Rayyan. Mungkin ini yang di maksud bahwa ia seronh di olok-olok karena tidak punya ayah.


"Saya salut pada keteguhan ibu Shafa dalam mendidik mereka. Meski saat itu tidak ada sosok ayah, tapi baik Am maupun Zaf tidak pernah merasa kehilangan seorang ayah. Dan Allah telah menjabah doa-doa mereka." Pak imam yang sudah berusia lanjut nampak mengusap sudut matanya yang tak sengaja berair.


"Maaf, pal Imam menangis?" Tanya Rayyan hati-hati.


"Saya terharu. Dulu, setiap menjelang shalat Ashar, Zaf dan Am biasa datang lebih awal ke Masjid. Mereka Shalat berdua di sebelah sana" Pak Imam menunjuk pojokan Masjid, "Setelah solat mereka berdoa, dan pak Rayyan tahu apa doa mereka?" Pak Imam menatap mata Rayyan yang nampak sendu.


"Mereka minta agar ayahnya segera pulang. Dan itu terus mereka lakukan. Sebelum mengaji. Tak perduli mereka habis bertengkar dengan temannya, esok hari pasti mereka akan datang lagi.

__ADS_1


Rayyan terdiam sejenak. Sebelum akhirnya berpamitan pulang pada pak Imam. Rasanya detik itu juga ia ingin memeluk dan mencium anak-anaknya. Kendati demikian ia masih menyimpan kemarahan untuk sang istri yang hingga detik ini belum juga menghapus channrl YouTube miliknya.


Rayyan kira, setelah minta maaf shafa akan segera menghapus channel YouTube miliknya. Namun, yang ia lihat saat ini, channel trsebut masih aktif dengan jumlah subscriber yang kian bertambah. Pun video-video cover lagu miliknya masih lengkap.


Rayyan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam yang hanya di jawab oleh bi Lastri.


"Anak-anak mana bi? Apa Am sudah pulang?" Tanyanya.


"Tadi di kamar sama mbak Shafa mas. Mas Am udah pulang sejak sejam yang lalu" Jawabnya yang sedang merapikan bantal sofa.


Rayyan berniat masuk ke kamarnya, namun telinganya menangkap suara yang berasl dari arah meja makan.


Mereka lagi apa?


Ia segera menghampiri Zaf, Am dan Zi yang terlihat sibuk.


"Ayamnya belum bang?" ucapnya sambil menunjuk piring berisi ayam goreng.


"Zizi, kamu bawa ini" Am memberikan sebuah apel yang langsung di terima dengan kedua tangan Zifara.


"Atu bawa minumnya bang" Ucapnya lagi sambil mengangkat gelas berisi Air. Rayyan masih memperhatikan apa yang sedng dilakukan oleh ketiga anaknya tersebut.


"Itu mau di bawa kemana nak?" Tanya Rayyan kepada ketiga anaknya yang tengah membawa sesuatu di tangan mereka.


"Mommy belum makan ayah. Mungkin momny lagi sakit." Jawab Zafran yang sejak pulang sekolah tadi menemani Shafa.


Shafa sakit? Bukannya tadi baik-baik saja?


"Pelmisi ya ayah, atu mau lawat mommy tu dulu" Am nyelonong mendahului Zafran yang di ikuti oleh Zifara di belakangnya. Rayyan hanya bisa geleng-geleng melihat putra ke duanya itu.


"Ya sudah, kamu suruh mommy makan dulu ya" ucap Rayyan sambil mengusap kepala Zafran. Sementara ia sendiri memilih untuk kembali masuk ke ruang kerjanya.


Belum lama ia berada di dalam ruang kerja. Terdengar pintu ruangannya di gedor-gedor dari luar.


"Ayah... Buta pintuna!" Terdengar jelas suara teriakan Am. Rayyab segera bangkit dan berlari ke arah pintu.


"Am? Kenapa naik tangga sendiri?" Ia segera mengangkat tubuh Am.

__ADS_1


"Ayah... Mommy takit" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sakit?"


"He.em Mommy nda mau matan. Pas matan mommy muntah-muntah ayah. Ayo bawa ke lumah sakit ayah"


Mendengar ucapan Am, Rayyan segera turun menuju kamarnya. Ia cukup tertegun ketika masuk ke dalam kamar, Zafran sedang mengelap kening Shafa. Sedang Zifara di samping kirinya memandang sang ibu dengan mata yang sudah basah. Nasi yang tersimpan di atas nakas pun terlihat masih utuh.


Melihat Ayahnya datang, Zafran segera bergeser ke samping Zifra. Mata Shafa terpejam rapat dengan kening yang terus berkeringat.


"Apa yang terjadi?" Rayyan yang tadi marah, mau tak mau harus menurunkan egonya saat melihat sang istri tak berdaya seperti saat ini.


Shafa segera membuka matanya saat mendengar suara Rayyan. Tanpa di minta air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.


"Maafin aku Mas" Suaranya lirih.


"Kamu makanlah dulu." Rayyan hendak meraih piring yang ada di atas nakas namun tangannya di tahan oleh Shafa. Ia menggeleng tanda tak ingin memakan makanan itu.


"Tolong maafin aku Mas" Ulangnya sambil menggenggam tangan Rayyan.


Dasar keras kepala!


Rayyan menghembuskan nafas kasar. Tak di pungkiri dirinya sangat mencintai wanita di hadapannya itu. Tapi masalah di antara mereka berdua tidak akan selesai hanya dengan kata maaf.


"Kita bicara nanti. Sekarang makanlah dulu" Kini piring berisi makanan itu telah berada di tangan Rayyan.


Baru mengunyah satu suap, perut Shafa kembali bergejolak. Ia segera menutup mulutnya dan bangkit menuju kamar mandi.


"Mommy!" Teriak ketiga anaknya yang segera menyusul sang ibu ke kamar mandi. Dan karena ketiganya melihat sang ibu muntah menyebabkan tangis yang pecah di kamar mandi. Am dan Zizi menangiss sejadi-jadinya melihat ibunya mengeluarkan isi perutnya.


"Zaf, bawa adikmu ke luar. Biar ayah yang bantu Mommy" Titah Rayyan pada si sulung yang begitu cekatan.


"Kamu kenapa sih? Apa kamu punya penyakit Maag?" Tany Rayyan di sela-sela aktifitasnya mengurut leher Shafa.


Shafa tak menjawab, hanya mengangguk lemah.


"Makanya, lain kali jangan telat makan. Kasihan anak-anak"

__ADS_1


Jadi kamu cuma kasihan sama anak-anak, mas. Bukan sama aku.


Tiba-tiba matanya memanas, hatinya sakit. Ah, air mata itu kembali meleleh dari mata indahnya.


__ADS_2