
Aisyah kini hanya terbengong-bengong melihat Andi yang kini berubah menjadi sosok lain yang terlihat kaku. Entah memang karakter asli Andi atau karena dia yang sedang berada dalam mode marah, hanya Allah dan Andi yang tahu.
"Ehm..." Aisyah berdehem untuk mencairkan suasana canggung di dalam mobil yang mendadak tercipta setelah terungkapnya identitas Andi secara perlahan. Ia sedikit melirik apa yang tengah di baca orang di sebelahnya. Wajahnya begitu serius dan tatapan matanya sangat tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
"Kang... Eh pak, mas, aduh aku manggilnya apa ya" Gumam Aisyah yang kini merasa canggung dengan pria yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
"Biasa saja Syah" Sahut Andi yang masih fokus membaca, tanpa menoleh pada Aisyah.
"Oke..oke. Kang, kenapa nggak masuk ke rumah saja tadi. Itu istrinya akang loh. Shafa Azura yang cinta mati sama akang." Ujar Aisyah, ia sedikit lega ternyata istri Rayyan adalah Shafa, meski awalnya hampir jantungan tapi setidaknya, dokter Malvin yang menjadi idola itu akan kembali mencari tambatan hati. Nggak mungkin kan dia mau ngerebut istri orang apalagi menjadi orang ketiga.
"Buat apa, kalau dia sendiri sudah menemukan penggantiku." Ucapnya sambil melihat ke luar jendela. Hatinya masih panas mengingat kejadian dimana Shafa keluar dari mobil yang sama, artinya dia tengah berduaan dengan Malvin di dalam mobil itu, terlebih ia sudah mendenganr dari Aisyah bahwa Malvin sangat mencintai Shafa, meski di sisi lain Aisyah juga mengatakan bahwa Shafa sangat mencintai suaminya.
Diam-diam saat Aisyah ngobrol bersama ART tadi, ia membuka G**gle dengan memasukkan Keyword Shafa Azura dan HS Clinic. Nama yang menurutnya tak asing, dan benar saja, ia langsung mendapat jawaban dari tanyanya selama ini setelah membaca beberapa artikel tentang Shafa Azura, lengkap dengan fotonya bersama sang suami yang tak lain adalah dirinya. Di lihat dari segi manapun wajah meraka memang sama. Dalah artikel tersebut juga mengatakan bahwa suami Shafa yang merupakan seorang dosen, dinyatakan hilang pada saat tsunami di Banten membuat Andi semakin yakin ditambah dengan adanya informasi bahwa jenazahnya sampai kini belum di temukan.
"Belok kanan di depan pak, supaya lebih cepat sampai" Ujar Andi yang membuat Aisyah semakin melongo. Bagaimana mu gkin Andi tahu jalan yang bahkan baru pertama kali Aisyah lewati.
"Kang, akang sudah sembuh?" Ia tak berkedip menatap Andi yang sangat serius berbeda dengan Andi yang ia kenal sebelumnya.
"Hmmm"
"Akang ingat siapa diri akang? Keluarga, teman, tem..."
"Tidak" Jawabnya singkat.
"Ya kalau tidak ingat ngapain ngarahin lewat sini! Kalo nyasar gimana?" Omel Aisyah kesal, ingin rasanya ia mencekik laki-laki kaku di sampingnya ini.
"Insting Syah" Jawabnya singkat apdat dan tidak jelas bagi Aisyah.
"Ck! Akang nggak waras. Kalau Aish jadi Shafa, udah Aish cekik akang." Balas Aisyah dengan nada ketus.
Dan benar saja, instingnya lagi-lagi tidak meleset, ia berhasil sampai di HS Clinic lewat jalan yang ia tunjukan pada pak Marno tadi. Terkadang ingatannya mengalir begitu saja, tapi hingga saat ini ia masih belum mengingat dengan jelas tentang dirinya dan wanita yang di sebut sebagai istrinya di media online tersebut.
Begitu keluar dari mobil, Andi segera berlari memasuki klinik tersebut. Aisyah yang berada di belakangnya pun ikut berlari sambil berteriak memnggil namanya. Kalau saja bukan Andi, pasti ia sudah meninggalkannya di jalanan.
"Permisi, saya mau bertanya di mana kamar..."
__ADS_1
"Maaf pak tunggu sebentar" Ucap salah seorang perawat yang bertugas di bagian depan. Ia tengah sibuk mengangkat telepon yang terlihat begitu penting.
"Ada apaan ya? Kok pada lari-lari" Gumam Aisyah menyaksikan beberapa perawat berlarian seperti ada kondisi genting.
"Kak Emi" Panggil Aisyah pada salah satu perawat yang ia kenal, sebagai perawat senior di tempat itu.
"Maaf Aisyah saya buru-buru" Ucapnya tapi langsung di tahan oleh Aisyah.
"Ada apa kak? Apa ada kecelakaan?"
"Tidak, cucu dokter Harsya kritis" Ucapnya nampak panik, kemudian berlari menuju lift.
"Cucu dokter Harsha? Astaga!!!"
.
"Am?" Aisyah dan Andi saling pandang dalam keterkejutan. Secepat kilat Andi berlari menyusul perawat yang tadi berbincang dengan Aisyah di ikuti Aisyah di belakangnya.
"Lantai 3 kang!" Ujar Aisyah. Wajah Andi yang sudah tegang semakin menegang. Beberapa kali ia menghembuskan nafas berat, jantungnya berpacu sangat cepat. Wajah lucu Am dengan tawa manisnyaembuat Andi semakin kacau.
"Arrghh" Ia mengacak rambutnya saat laju lift terasa begitu lambat.
Tring...
Pintu lift terbuka, Andi segera keluar dan mencari keberadaan ruangan Am. Ia berlari menuju sebuah pintu yang nampak di jaga dan terlihat ramai oleh perawat dan dokter.
"Permisi...Permisi!!!" Ia berusaha menerobos masuk kedalam. Degan sigap 4 orang penjaga berbadan kekar menahan tubuhnya untuk menjauh.
"Maaf pak, anda di larang masuk" Ucap seorang berwajah sangar berpakaian serbaa hitam.
"Atas dasar apa kalian melarangku masuk?" Tantang Andi yang sudah terlihat semakin marah.
"Hanya keluarga inti dan dokter yang boleh masuk pak, tuan Am sedang di tangani" Balasnya, tetap menahan tubuh Andi.
"Saya ayahnya Am, kalian tidak bisa melarang saya masuk!" Bentak Andi yang sudah mengepalkan tangan siap untuk memukul jika dia kembali di halang-halangi.
__ADS_1
Bukannya mempersilahkan masuk setelah mendengar ucapan Andi, penjaga tersebut malah tersenyum mengejek membuat habis kesabaran Andi.
"Sudah selesai pak? Harap bapak menunggu di sana" Ujara penjaga sambil menunjuk sebuah bangku panjang tempat menunggu.
"S*al*m kalian!!!" Umpat Andi, yang sudah tak memiliki sisa kesabaran.
"Buugh"
Satu pukulan ia layaangkan pada penjaga yang banyak bicara itu, ketiga penjaga yangblain segera meringkus Andi yang kian menjadi.
"Lepaskan!" Berontaknya yang semakin di kunci pergerakannya oleh 3 orang yang badannya lebih besar dari pada dia.
"Hehh... lepasin... Lepasin!!! Dia memang ayahnya Am, kalian lihat ini!!!" Aisyah berteriak sambil menunjukkan foto keluarga yang sempat ia save dari internet dan juga beberapa foto lainnya.
"Tuh Liat!!! Pake mata kalian lihat baik-baik" Teriak Aisyah yang mencuri perhatian beberapa orang di tempat itu.
Setelah merasa pegangan para penjaga sudah mulai longgar Andi segera melepaskan diri tanpa perlawanan dari mereka.
"Kalian semua dengar baik-baik! Saya, Zidane Ar-Rayyan suami dari Shafa Azura dan bapak dari Am. Kalian ingat baik-baik! Saya belum mati dan sekarang saya kembali untuk bertemu dengan anak saya!!!" Ucapnya dengan penuh penekanan.
Kini tak ada lagi yang menghalangi langkahnya satu persatu mereka minggir memberikan jalan kepada pria berkacamata tersebut. Kasak-kusuk mulai terdengar, beberapa nama terdengar di sebut-sebut, diantaranya adalah nama dokter Malvin yang membuat hati Andi memanas.
"BRAAAKKK"
Andi tertegun melihat kondisi ruangan yang tengah ramai oleh beberapa dokter dan perawat yang sibuk bekerja hingga tak menyadari kedatangaannya. Ada juga suara tangisan yang membuatnya kian khawatir. Tanpa pikir panjang ia segera menghampiri para dokter yang tengah bekerja menangani bocah kecil yang tengah kesulitan bernafas tersebut.
"AM!"
"AM, Awas!!!" Ia mendorong dokter yang tengah memeriksa Am. Dab langsung memeluk tubuh Am yang terkulai lemas dengan selang oksigen di hidungnya.
"AM... Bangun Nak, ini Ayah Nak, ini Ayah Am pulang" Ucap Andi sambil mendekap erat tubuh Am.
"Hei!!! Apa-apaan Ka--"
"Diam!!!" Bentak Andi pada salah satu dokter yang mencoba menegurnya.
__ADS_1
Semua tertegun saat Andi mengangkat wajahnya, terutama dokter yang berada di sebelah Am.
"Ra...Rayyan?"