Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Apa Dia Mencintaiku?


__ADS_3

Siang itu, suasana Haru masih menyelimuti HS Clinic, terutama di ruang perawatan Am yang kini berubah menjadi ruang perawatan ibu dan Anak karena Shafa juga ikut terbaring di ranjang pasien. Berbeda dengan kondisi Am yang sudah sangat membaik, Shafa justru tumbang, tekanan darahnya sangat rendah membuatnya harus ikut di rawat. Mungkin tubuhnya lelah dan sedang meminta haknya untuk di istirahatkan. Daddy yang tidak tahan melihat Shafa yang terus menangis akhirnya memberikan obat tidur agar putrinya tersebut bisa beristirahat dengan tenang.


"Ray..." Ibu yang baru saja masuk menghampiri putra semata wayang yang sangat ia rindukan.


Rayyan memandang lamat-lamat wajah ibunya, benar-benar tidak asing. Beberapa ingatan muncul bersamaan dengan gerakan wanita yang kini kembali memeluknya. Tanpa ragu ia membalas pelukan sang ibu.


"Ibu merasa seperti mimpi Ray. Ibu pikir ibu tidak akan pernah melihatmu lagi nak" Ucap ibu sambil terisak. Kembalinya Rayyan ia anggap sebagai keajaiban dan mukjizat dari Allah.


"Alhamdulillah, Allah maha baik bu, Dia masih memeberikan saya kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga" Ucap Rayyan dengan lembut dan sopan. Ibu semakin mengeratkan pelukannya pada Rayyan. Untung saja Am juga kini tengah tertidur di samping mommynya setelah mengoceh panjang lebar tanpa lelah bersama dengan ayahnya.


"Bu, boleh saya minta tolong" Ucap Rayyan ragu. Haruskah ia menanyakannya sekarang? Ah, kalau tidak kapan lagi? Ia benar-benar penasaran dengan kisah hidupnya.


"Apa itu Ray?"


"Bisa ibu ceritakan bagaimana perjalanan saya dengan wanita itu?" Ia memberikan kode dengan lirikan matanya.


"Kamu benar-benar tidak mengingatnya nak?" Ibu mengusap bahu Rayyan. Rayyan menggeleng memberikaan jawaban atas pertanyaan ibunya.


"Bagaimana dengan ibu dan Ayah? Apa Rayyan juga sama sekali tidak ingat?" Wajah ibu nampak sendu. Bagaimanaa tidak, anak yang ia lahirkan dan ia besarkan dengan sepenuh hati tiba-tiba tidak mengingatnya, tapi setidaknya Rayyannya telah kembali meski dengan ingatan yang hilang. Itu sudah merupakan satu kesyukuran tersendiri bagi ibu. Mau seperti apapun kondisinya, Rayyan tetaplah anaknya yang selalu ia pintabdalam doa.


"Rayyan mengingat ibu dan ayah, tapi tak banyak" Sebuah senyuman terbit dinsudut bibir Rayyan. Benar, dia lebih banyak mengingat tentang ibunya di baanding dengan yang lain. Ia mendengar omelan ibunya, kata-katanya dan suaranya yang perlahan mulai membentuk sebuah ingatan akan wanita tua yang masih terlihat cantik di hadapannya itu.

__ADS_1


"Jangan di paksa nak, biar waktu yang menyembuhkan. Yang perlu Rayyan ingat, ibu adalah ibunya Rayyan yang akan selalu ada untuk Rayyan" Ucap ibu.


Rayyan mengusap lebut air mata yang lolos dari mata ibunya, ia merasa berdoa melihat wanita yang ia muliakan itu menangis. Meski baru 4 jam bertemu, namun perasaan itu begitu kuat.


"Jangan menangis" Ucapnya. Rasa sedih itu tiba-tiba muncul saat buliran bening yang menetes semakin banyak.


"Bukankah ibu mau bercerita tentang kisah hidupku?" Ia menatap ibunya dengan tatapan teduh yang menenangkan.


Ibu mengambil tisu, mengelap sisa air mata dan cairan bening yang juga keluar dari hidungnya. Ia memposisikan duduk senyaman mungkin untuk mulai bercerita. Setelah mendengar penuturan dari Aisyah tadi, daddy dan mommy dan kedua orang tua Rayyan segera berkonsultasi dengan ahlinya yang tak lain adalah dokter Malvin. Menurutnya, ingatan Rayyan yang timbul tenggelam bisa jadi pertanda baik dan bisa jadi pertanda buruk. Untuk hasil lebih lanjut, ia harus melakukan CT-Scan untuk mengetahui apakah terjadi penyumbatan atau kerusakan saraf di bagian kepalanya. Satu hal yang ibu tangkap dari penjelasan dokter Malvin, memaksa Rayyan mengingat bisa membuat kerusakan pada sarafnya yang akan berakibat fatal.


"Ibu akan bercerita, tapi jangan di paksa bila Rayyan tidak ingat" Ibu menatap wajah putranya yang terlihat tak sabar. Ia mengangguk setuju, padahal dalam hati ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingat kembali memorinya yang sempat hilang.


Laki-laki seperti apakah Rayyan ini ya Allah. Gumamnya, bukan hanya ingatan tentang orang di sekitarnya, tapi juga ingatan tentang siapa, dan bagaimana dirinya juga menjafi tanda tanya besar di benaknya.


"Kenapa bu?"


"Dia adalah istrimu, wanita yang Allah pilihkan untukmu" Ucap ibu.


"Maksud ibu? Kami di jodohkan?" Rayyan mengerutkan dahinya. Ia menduga pasti dirinya di jodohkan.


"Awalnya kami hendak menjodohkanmu dengannya, tapi ternyata Allah punya cara lain untuk menyatukan kalian"

__ADS_1


Rayyan masih tak pahan dengan ucapan ibu, yang ia tangkap dar ucapan ibu adalah niat untuk menjodohkaan mereka yang artinya mungkin pernikahan mereka tidak di dasari dengan cinta.


"Kalian menikah karena sebuah kesalah pahaman." Ibu menceritakan kejadian yang menimpa Rayyan dan Shafa hingga mereka harus dinikahkan secara paksa. Juga kehidupan setelah menikah yang ibu tahu keduanya saling menjaga jarak satu sama lain hingga kejadian yang menandakan awal dari babak baru hubungan mereka. Yaitu setelah kepulangan Rayyan dari umroh kala itu. Berkat bi Lastri yang ibu tugaskan sebagai mata-mata, ibu jadi bisa menceritakan secara detail kehidupan rumah tangga mereka yang penuh dengan drama lucu dan menguras emosi.


Rayyan tersenyum tipis, mendengar kisah mereka. "Apakah kami saling mencintai pada akhirnya?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama melihatnya.


"Menurutmu?" Ibu bertanya balik.


"Saya tidak tahu bu, hanya saja ada yang aneh dengan perasaan saya ketika melihatnya" Ia tak mau menjelaskan lebih lanjut apa yang ia rasakan. Cukup ia dan Tuhan yang tahu, sebuah perasaan yang baru ia rasakan sejak ia membuka matanya kembali detelah kecelakaan maut itu.


"Apakah kamu mencintainya? Tanyakan pada hatimu. Ingatanmu bisa saja lupa Ray, tapi ini..." Ibu menyentuh lembut dada putranya sambil menatapnya dalam.


"Hati ini tidak akan pernah lupa siapa pemiliknya" Ucap ibu.


"Lalu, apakah dia mencintai saya?" Tanyanya pada ibu. Jika benar yang ia rasakan adalah perasaan cinta, akan sangat menyedihkan jika itu bertepuk sebelah tangan. Bukankah ibu mengatakan bahwa Shafa dulu memiliki kekasih, meski pada akhirnya putus tetap saja ia harus tahu perasaan istrinya padanya. Apakah yang mereka jalani selama ini atas dasar paksaan atau karena ada cinta di dalamnya.


Ibu menghela nafas berat mendengar pertanyaan putranya tersebut. Shafa pasti akan sangat terpukul saat Rayyan melayangkan pertanyaan itu padanya.


"Selama ibu hidup, tidak pernah ibu melihat cinta seperti cinta yang Shafa berikan untukmu" Air matanya kembali berlinang.


Rayyan tertegun mendengar kalimat pertama yang di ucapkan ibunya.

__ADS_1


Sedalam itukah dia mencintaiku?


"Saat semua orang menyerah dan memilih iklas atas kepergianmu, dialah satu-satunya yang tetap bertahan menyakini dengan sepenuh hati bahwa kamu akan kembali. Banyak yang mengatakan ia gila karena kehilanganmu, tapi yang pasti, dia tetap bertahan di posisinya sebagai istrimu. Kamu tahu Ray, ibu dan ayah bahkan sempat ingin menjodohkannya dengan dokter yang merawatnya karena kami tak tega melihatnya terus terpuruk dalam kesedihannya. Tapi lagi-lagi dia menolak dan selalu mengatakan bahwa dia adalah wanita bersuami. Waktunya ia habiskan untuk menunggumu. Itulah juga yang ia tanamkan pada anak-anakmu" Ucap ibu sambil sesunggukan. Ada kenyataan lain yang tak sanggup ia utarakan pada Rayyan.


__ADS_2