Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Sengit


__ADS_3

Rayyan terbangun saat merasakan getaran pada ponsel di nakas sebelah ranjangnya. Ia memasang alarm pukul 03.15 dini hari. Sudah menjadi kebiasaannya sejak pulih dulu untuk melaksanakan Shalat tahajjud dan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran hingga subuh menjelang. Selama sakit, Rayyan semakin meningkatkan kualitas ibadahnya di malam hari, karena ia yakin tidak ada pertolongan selain dari Allah ta'ala. Ia meyakini tak ada obat yang lebih mujarab dari Al-Qur'an yang telah dijaga kesuciannya. Allah bahkan menyebutkan hal ini dalam surah Al-Isra' ayat 82 yang artinya "Dan kami turunkan Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". Hal ini sudah terbukti sejak jaman nabi dan semakin diperkuat dengan penelitian tentang keajaiban Al-Qur'an.


Menurut sebuah studi ilmiah Efek Terapi Membaca Alquran: Sebuah Studi Ilmiah yang dilakukan oleh Dr Ahmed Al-Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat membuktikan bahwa perubahan fisiologis terjadi pada sistem saraf otak dari sampel pasien yang mendengarkan pembacaan Al-Qur’an ketika sedang dipantau oleh sistem yang sangat canggih di klinik yang terletak di Panama City, Florida. Studi ini melakukan 120 eksperimen pada lima relawan dari dua jenis kelamin, kelompok usia yang berbeda, yang non-muslim dan tidak mengerti Bahasa Arab. Percobaan yang dilakukan melibatkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an bersama dengan teks Arab biasa.


Menurut Every Muslim, para objek percobaan tidak bisa membedakan antara bacaan Al-Qur’an dan teks Arab biasa. Namun percobaan yang dilakukan oleh Dr Ahmed Al-Qadhi membuktikan bahwa ada 97 persen efek positif pada subjek percobaan yang mendengarkan bacaan dari Al-Qur’an dibandingkan dengan yang hanya mendengarkan teks Arab biasa. Ini membuktikan bahwa mendengarkan Al-Qur’an bisa menjadi obat, seperti namanya As-Syifa yang artinya obat


Di sepertiga malam ini lah ia menghabiskan waktu untuk bermunajad memohon pertolongan dan kesembuhan dari Allah. Namun baru saja ia hendak beranjak, lagi-lagi ia dikejutkan dengan sesuatu yang di luar dugaannya. Seonggok tubuh dalam balutan dress tidur berwarna maroon yang malam tadi jangankan melihatnya atau sekedar bercerita sebelum tidur, Shafa bahkan tidur dengan posisi membelakanginya mengambil posisi di sisi paling pinggir dari kasur empuk itu.


Kejadian sebelumnya telah sukses membuat istri sah dari Zidane Ar-Rayyan itu malu hingga ke ubun-ubun. Kalau saja bisa ia ingin sekali menghilang dari hadapan Rayyan. Dan kini seolah berbanding terbalik dengan kejadian tadi, dia yang sebelum tidur tadi menolak menatap Rayyan ataupun menyahut panggilannya kini telah terlelap dengan posisi memeluk tubuh Rayyan. Selimut tebal yang tadi membungkus tubuhnya entah pergi kemana, karena yang nampak sekarang kaki dan paha mulus yang tengah menumpang di kakinya. Mungkin Shafa mengira tubuh Rayyan adalah guling empuk siap untuk di peluk.


Rayyan mengulas senyum tipis di bibirnya. Seketika Perasaanya berubah nano-nano. Ia yang niat awalnya hendak bangkit kembali menyamankan kepalanya pada bantal berwarna peach tersebut. Ia membiarkan saja tangan Shafa memeluk perutnya. Hanya saja ia agak terusik lebih tepatnya sangat terusik dengan penampakan dress yang sudah menyingkap ke atas membuat paha Shafa terekspose sempurna. Dadanya berdesir hebat. Bagaimanapun juga dia adalag laki-laki normat, sekalipun hilang ingatan ia masih bisa membedakan mana paha ayam dan mana paha istrinya yang menggoda itu.


Sekarang aku paham, kenapa Am dan Zizi jaraknya begitu dekat.


Hingga 15 menit berlalu, Shafa masih berada di posisi itu. Rayyan kembali melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 03.30. Ia harus segera bangun untuk menjalankan sunnah yang paling utama. Tapi melihat Shafa yang sangat pulas tertidur membuatnya tak tega, Shafa pasti akan terbangun jika Rayyan memindahkan posisi kaki dan tangannya.


"Emmhh" Shafa bergerak kecil memutar tubuhnya dari miring menjadi terlentang. Ia sedang melanglang buana dalan mimpi indah yang belum lama ini masuk ke alam bawah sadarnya.


Rayyan menghembuskan nafas panjang setelah terbebas dari pelukan sang istri kini ia harus di hadapkan dengan pemandangan yang benar-benar menggetarkan hati terdalamnya. Di posisi ini bukan hanya pahanya yang terekspose bebas tapi juga dadanya yang sangat menantang dalam balutan dress tidur berpotongan rendah itu.


"Astagfirullahhaladzim" Rayyan mengusap wajahnya kasar. Ia segera bangkit mencari keberadaan selimut dan menutupkannya ke tubuh Shafa.


Seperti ini lebih baik! Gumamnya saat tubuh molek itu telah tertutup sempurna oleh selimut tebal.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Diruangan berukuran 4x4 meter itu dokter Malvin tengah duduk dengan serius. Tangannya baru saja membuka sebuah amplop berwarna coklat yang merupakan hasil CT-SCAN milik Rayyan.


Malvin memperhatikan dengan seksama kertas lembaran berisi gambaran kondisi kepala Rayyan saat ini. Jujur saja ia enggan melakukan ini semua jika tidak terlanjur membuat kesepakatan dengan dokter Harsha. Harusnya kemarin ia membuat syarat yang lebih berat dari sekedar membayarnya 3 kali lipat dari yang ia dapatkan selama ini.


Malvin menyipitkan matanya saat menganalisis gambar di depannya, ia tak benar-benar yakin dengan apa yang di lihatnya. Ia berharap apa yang di lihatnya salah tapi mana mungkin hasil CT-SCAN menunjukkan kesalahan.


"Bagaimana dok? Apa ada masalah yang serius?" Tanya Daddy Shafa yang juga berada di ruangan itu bersama Rayyan.


Malvin sekilas melirik ke arah Rayyan yang nampak tenang.


"Bisakah saya bicara berdua dengan pak Rayyan?" Pintanya pada daddy. Daddy Shafa menyetujui dan segera keluar dari ruangan tersebut.


"Apa ada masalah dokter?" Tanya Rayyan.

__ADS_1


"Ehm... Dari hasil CT-SCAN saya tidak melihat ada kerusakan pada sistem Limbik di kepala anda, tapi bukan berarti semua baik baik saja" Ucap dokter Malvin. Sebenarnya ia enggan menyampaikan berita baik ini, bisa saja kan ia merekayasa keterangannya untuk membuat Rayyan panik, namun sebagai dokter yang telah di sumpah ia harus bersikap professional.


"Lalu?"


"Apakah selama ini bapak melakukan terapi, atau pengobatan lainnya?" Tanya Malvin. Ia harus mengetahui riwayat pengobatan Rayyan agar bisa menentukan tindakan selanjutnya.


"Tidak ada dok"


"Apa selama dua tahun terakhir ini anda pernah mengalami pusing, sakit kepala atau sejenisnya?"


"Tidak juga dok, terkhir saya mengalami pusing hingga pingsan saat melihat Am, anak saya. Sejak itu sedikit demi sedikit ingatan itu muncul meski saya sendiri kadang bingung apakah itu ingatan atau hanya halusinasi saya saja" Ucap Rayyan.


"Bagaimana dengan jati diri anda?"


"Sedikit-sedikit saya mulai mengingatnya. Tapi untuk mengingat sesuatu saya butuh stimulus. Seperti pada saat saya membaca artikel dan biografi saya, ingatan itu perlahan muncul" Terangnya.


"Apakah anda mengingat... Istri anda" Tanyanya. Ada kegetiran di setiap ia mengingat cintanya yang mungkin tak berbalas. Walaupun begitu, ia akan berusaha meski memperjuangkan perasaannya. Egois bukan?


Rayyan terdiam... Entah mengapa ia merasa dokter Malvin memiliki maksud lain dari pertanyaan yang ia ajukan.


"Saya mulai mengingatnya setelah tidur berdua dengannya, dan akan semakin mengingatnya jika terus bersamanya" Ucapnya dengan penuh penekanan seolah ingin menunjukan bahwa Shafa adalah miliknya, hanya milik Zidane Ar-Rayyan seorang.


"Really? Jika seperti itu, teruslah berjuang mengingatnya. Karena saya khawatir dia lelah karena terlupakan dan akhirnya berpaling pada orang yang selalu mengingatnya. Ups, bukan maksud saya menyinggung anda tapi..."

__ADS_1


"Saya tahu itu. Dan saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!"



__ADS_2