
"Shafa mengantuk?" Rayyan memperhatikan Shafa yang beberapa kali menahan kepalanya agar tidak terjatuh.
"He.em." Jawabnya singkat. Matanya sudah nampak sayu.
"Sini tidur!" Rayyan menepuk pahanya, menawarkan untuk di jadikan bantal.
Mimpi apa mas Rayyan? nawarin pahanya? tawarin yang lain napa bang! Ya Allah otak gue!!!
"Atau mau sandar?" Rayyan memberikan opsi lain.
Tak membuang kesempatan, Shafa yang di tawari langsung merebahkan kepalanya di paha Rayyan.
Ah nyaman. Bantalable banget!!!
Untung saja ketiga anaknya ikut bersama rombongan para nenek dan kakek di mobil yang satu, sehingga mereka berdua bisa berdua-duaan di dalam mobil tanpa adanya gangguan dari anak-anaknya. Rayyan segera menumpangkan tangannya di lengan atas untuk menahan agar tubuhnya tidak terjatuh. Sejak kejadian pagi tadi, dimana Shafa dwngan beraninya buka-bukaan di hadpaan Rayyan meembuat Rayyan sedikit menurunkan kadar malunya. Lagi pula sudah saatnya untuk semakin mendekatkan diri sebelum istrinya semakin di dekati orang lain.
"Pak Madi?" Panggil Rayyan setelah beberapa Saat.
"Iya pak" Jawabnya sambil melirik pada kaca di atasnya.
"Pak Ali sudah lama bekerja di rumah?"
"Alhamdulillah sudah hampir 4 tahun pak. Waktu itu ibu dan bapak masih pengantin baru" Jawab pak Madi dengan detail.
"Lama ya pak? Berarti pak Madi tahu bagaimana ibu dan saya waktu dulu" Mumpung Shafa sedang tidur, ia ingin menggali informasi sebanyak-banyaknya dari supir pribadinya itu.
"Jelas tahu pak. Saya bersyukur bisa mengikuti Lika-liku perjalanan bapak dan ibu hingga sekarang"
"Bisa bapak ceritakan bagaimana ibu dan saya dulu? Kalau bapak tidak keberatan?" Pinta Rayyan. Mendengarkan cerita masa lalunya mungkin bisa menghilangkan kantuk yang kini ikut menyapanya. Ia tidak boleh tidur, ia harus tetapa terjaga untuk memastikan bidadari yang tengah tertidur di pahanya.
Pak Madi nampak mengulas senyum tulusnya.
"Semoga apa yang saya ceritakan ini bisa membantu bapak mengingat semuanya" Ucap apk Madi.
__ADS_1
"Amiiin"
Pak Madi mulai bercerita tentang perjalanaan rumah tangga Rayyan dan Shafa.
"Jadi, waktu saya datang dulu bapak dan ibu masih mengajar di yayasan milik pak Luthfi. Kalau bapak jadwalnya ngajar di yayasan maka saya libur, kalau bapak waktunya ke kampus maka saya mengantar bu Shafa dan mengawasinya seperti perintah bapak" Ujar pak Madi mesam-mesem mengingat betapa possesive dan overprotektiv nya majikannya dulu.
"Mengawasi? Memangnya kenapa pak? Apa Shafa mau kabur sampai perlu di awasi?"
"Bukan kabur, tapi di yayasan banyak yang suka ibu, Jadi bapak suruh saya lapor kalau ibu ketemu atau ngobrol berdua dengan laki-laki" Ya, karena sejak kejadian dimana pak Rudi meminta bicara berdua dengan Shafa kala itu membuat Rayyan tidak mengizinkan Shafa membawa mobil sendiri ke sekolah.
Masya Allah... Apa aku pecemburu?
"Apa kami dulu sering bertengkar pak?" Tanya Rayyan lagi.
"Tidak pak, bapak dan ibu selalu harmonis dan meembuat iri pasangan lainnya." Ucap pak Madi. Meski ia tahu kejadian saat Shafa kabur di pesantren waktu itu, tapi bginya tak pantas jika dirinya menceritakan hal itu pada Rayyan. Cukup ia menceritakan yng baik-baik saja.
"Apa saya pencemburu ya pak?" Tanya Rayyan sambil memandangi wajah tenang Shafa. Memiliki istri secantik ini sudah pastii membuat siapa saja ketar-ketir.
"Ibu lebih pencemburu pak, apa lagi waktu hamil mas Am. Haduuh" Pak Madi nampak menggeleng kecil sambil tersenyum mengingat tingkah polah Shafa dulu.
"Di awal-awal kehamilan ibu dulu suka minta aneh-aneh. Kalau saya antar pasti pulangnya borong buah-buahan, terus ibu tidak suka bapak dekat-dekat dengan perempuan lain kecuali nyonya Wina, nyonya Fanny dan Lastri" Jawab pak Madi.
"Sampai segitunya pak Madi?" Rayyan menggeleng heran. Dia merasa menjadi pencemburu padahal istrinya lebih parah, apa wanita di luar sana semenggoda itu?
"Iya pak, sampai makan siang pun ibu ngantar sendirinke kampus. Malahan pernah ibu marah-marah di kampus sampai mengancam bapak segala gara-gara ada mahasiswi bapak yang melarang ibu masuk"
"Meengancam? Mengancam bagaimana pak?" Tanya Rayyan penasaran.
Pak Madi terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Rayyan.
"Mengancam bapak tidak di kasih jatah malam" Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Astagfirullah haladzim" Rayyan menghempaskan punggungnya ke sandaraan kursi. Paandangannya tak teralih pada wanita cantik di pahanya tersebut.
__ADS_1
"Pokoknya waktu mengandung mas Am itu, banyak sekali permintaan aneh ibu pak. Termasuk waktu pagi-pagi bapak di minta manjat pohon mangga papinya Aira." Lanjut pak Madi.
"Pohon maangga yang di depan yang tinggi itu pak Madi?"
"Benar pak, selain minta aneh-aneh ibu juga jadi cemburuan sekali. Walaupun begitu ibu tidak pernah mau di tinggal sama bapak. Mungkin karena itu mas Am lengketnya sama bapak sejak bayi.
"Sepertinya begitu pak Madi. Waktu di bandung juga saya selalu kepikiran Am setelah melihatnya. Padahal saya belum tahu bahwa Am itu anak saya"
"Mas Am itu walaupun nakal, tapi sabar pak. Sama seperti ibu. Ibu sabar dan tegar sekali" Ucap pak Madi lirih.
"Benar pak Madi, dia memang sabar dan tangguh" Rayyan mendaratkan sebuah kecupan di kening Shafa yang membuat Shafa terjaga namun belum membuka mata.
Gue lagi mimpi ya? Kok kerasa nyata. Apa mas Ray sengaja nyium gue pas gue lagi tidur? Gumamnya.
"Lalu bagaimana saat ibu hamil Zi pak Madi? Saya ingin tahu, karena saat itu saya tidak di dekatnya" Rayyan mengusap lembut kepala Shafa membuat Shafa yakin kecupan yang tadi bukan lah mimpi.
Mending pura-pura tidur lagi ah.
"Mungkin bapak sudah dengar bahwa ibu di ketahui sedang hamil setelah ibu pingsan beberapa kali pasca mendengar kejadian itu. Kami semua kaget karena mas Am saat itu masih sekitar 7 bulan, tapi kata ibu, bapak ingin anak perempuan. Berbeda dengan kehamilan mas Am dulu, ibu waktu hamil mbak Zizi lebih sabar dan tidak mintabyang neko-neko. Kami semua sangat bersyukur karena ibu ngidamnya tidak separah waktu hamil mas Am, meski harus keluar masuk rumah sakit karena kondisi mental ibu yang sering histeris kalau ingat bapak. Dan yang kami lebih bersyukur lagi saat melahirkan mbak Zizi prosesnya cepat sekali, baru tiba di klinik tidak sampai satu jam sudah lahir. Berbeda dengan waktu mas Am dulu, yang hampir 6 jam baru lahir" Terang pak Madi.
"Alhamdulillah pak Madi. Semua karena pertolongan dari Allah." Lagi-lagi Rayyan melabuhkan ciuman di kening Shafa.
Nah kan bener gue nggak mimpi! Kenapa beraninya kalau aku lagi tidur mas?
"Bapak belum ada rencana nambah momongan lagi? Saya lihat mas Am tiap hari nyeritain adik baru" Tanya pak Madi. Bukan hanya pada mommybdan ayahnya Am demo minta adik, tapi pada pekerja dirumahnya pun ia sudah gembar-gembor pamer akan memiliki adik.
Nah lo, mau jawab apa kamu mas? Terus pak Madi, komporin terus!
"Insha Allah pak Madi. Mohon doanya ya pak?" Ucap Rayyan.
"Insha Allah saya selalu mendoakan pak, semoga paj Rayyan dan ibu di beri keberkahan dan anak-anak yang sholih, Sholihah."
"Amiiin... Semoga setelah dari sini nanti ada kabar baik ya pak Madi" Balas Rayyan
__ADS_1
"Amiiin"
Kabar baik? Wow...wow...wow. Apa mas Ray beneran mau nambah anak lagi? itu artinya sebentar lagi...