
Aisyah menelan saliva nya dengan susah payah. Ia kini nampak seperti tersangka yang tengah di hakimi. Ia duduk di sebuah ruangan dengan di kelilingi oleh orang-orang yang pandangan matanya semua tertuju kepadanya.
Beberapa kali ia menyeka keringat di keningnya. Tangan nya yang hangat berubah menjadi dingin.
Ya Allah gusti, Aish mau di apain ie teh. Si bapak natapnya serem pisan.
Batinnya menjerit, saat mata Jeffri menatapnya tajam seperti hendak menelannya hidup-hidup.
"Siapa nama mu?" Pertanyaan pertama yang di layangkan Jeffri kepada wanita berusia 19 tahun itu.
"A...Aisyah pak" Jawabnya gagap.
"Apa kamu kemari bersama Rayyan?" Tanyanya lagi tak melepaskan pandangannya pada wanita itu.
Kali ini Aisyah hanya mengangguk tak mampu mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Lehernya terasa terkancing hingganbuat bernafas pun rasanya berat.
"Kamu tahu siapa dia?" Jeffri masih belum menghentikan interogasinya.
Aisyah menggeleng. Jemarinya saling bertautan meremas satu sama lain. Ia benar-benar seperti penjahat yang tengah di hakimi. Harusnya ia tidak perlu takut, toh ia tidak berbuat salah, justru ia banyak membantu Rayyan dalam menemukan identitas aslinya. Namun, tatapan seseorang di sudut ruangan itu berhasil memporak porandakan pertahanannya. Sorot mata tajam milik sang idola itu sukses membuat Aisyah yang pemberani menjadi mati kutu.
"Ehm... Nak, Aisyah bisa di ceritakan bagaimana nak Aisyah bertemu dengan anak saya?" Tanya Ayah Rayyan dengan lembut. Ia paham, mungkin Aish sedang ketakutan dan merasa tertekan.
Aisyah mengangguk dan mulai bercerita tentang Rayyan yang di temukan oleh abah dua setengah tahun yang lalu dalam kondisi mengenaskan pasca kecelakaan di Banten. Orang-orang kala itu sedang panik atas tsunami yang terjadi di pesisir pantai sekitar lokasi kejadian, membuat Rayyan terlambat menerima pertolongan. Beruntung abah lewat bersama para kariawan nya membawa Rayyan ke klinik terdekat. Karena Amnesia yang di derita Rayyan, abah memutuskan untuk membawanya ke Bandung, merawatnya dan menjadikannya sebagai anak angkatnya.
"Ya Allah, terimakasih telah mempertemukan anakku dengan orang-orang baik" Ibu segera menghampiri Aisyah dan memeluknya.
"Tunggu!" Sela mommy Shafa sambil menatap Aisyah penuh rasa curiga.
"Ehm... Saya ingin bertanya dan tolong jawab dengan jujur" Ucap mommy serius.
__ADS_1
Lagi-lagi Aisyah mengangguk, "Apa hubungan kamu dengan Rayyan?" Tanya mommy yang membuat Aisyah mendelik.
Apa ibu ini sedang mencurigai aku sebagai orang ketiga? Ihh.. Amit..Amiit
"Saya? Saya dan kang Andi, Em.. maksud saya kang Rayyan mah tidak ada hubungan apa-apa. Aish sudah menganggap kang Andi sebagai saudara, seperti kata abah" Jawab Aisyah dengan polosnya. Tak terlihat raut bohong dan penipu di wajahnya.
Mommy Shafa langsung menyunggingkan senyum bahagia, ternyata ketakutannya tak terbukti. Ia takut kalau ternyata wanita muda ini adalah kekasihnya atau istrinya. Ia sudah cukup trauma dengan kejadian seperti yang pernah ia alami 36 tahun silam saat daddy Shafa tiba-tiba pulang dengan memberi kabar bahwa dirinya telah menikah lagi. Terlebih kondisi Rayyan yang lupa ingatan, memungkinkan hal itu terjadi.
"Oh ya, apa yang di lakukan Rayyan selama dia amnesia? Apakah dia dekat dengan seseorang atau menjalin hubungan dengan wanita lain yang di kenalnya setelah amnesia?" Imbuh mommy. Mungkin bukan Aisyah, tapi bukan berarti tidak ada wanita lain bukan?
"Selama kang Rayyan di rumah abah, setau Aisyah dia hanya bantu abah di kebun teh atau di pabrik mengawasi pekerja dan mengontrol teh yang mau di pasarkan. Kalau soal wanita, setahu Aish kang Rayyan tidak dekat dengan siapapun. Cuma sama Aish saja. Kalau yang suka sih banyak, tapi kang Rayyan selalu menolak dengan alasan takut menyakiti hati kekasihnya tau mungkin istrinya yang belum dia ingat" Ucap Aisyah.
Sekuat itukah cinta kalian? Gumam Malvin. Ia tak tahan mendengar penuturan Aisyah tentang Rayyan yang begitu setia meski ingatannya hilang.
Malvin segera beranjak saat melihat Rayyan berada di ambang pintu hendak bergabung bersama keluarganya juga Aisyah yang tengah mendapat interview dari para orang tua.
Ia berjalan menuju sebuah balkon yang semalam ia tempati bersama Shafa.
Shafa...Kenapa harus kamu? Harus kah aku menyerah?
🍃🍃🍃
Cup! Cup! Cup!
Shafa tersadar kembali, dan merasakan seseorang menciumi pipinya. Sebuah sentuhan lembut begitu terasa di pipinya. Ia mengintip, siapakah yang telah mencuri ciumannya ketika ia sedang tertidur?
"Am?" Panggilnya lirih pada sang buah hati yang tengah menatapnya dengan tatapan sayang. Anak-anak Shafa memang gemar menciumi mommy nya ketika sedang tertidur.
"Mommy" Am memeluk Shafa. Wajahnya begitu berbinar dan bahagia.
__ADS_1
"Anak Mommy sudah sehat?" Shafa membalas pelukan Am sambil beberapa kali mengecup keningnya. Ia sendiri lupa kenapa tiba-tiba ia bisa bangun dari ranjang yang sama dengan Am.
"Atu cudah cembuh, tan ayah am udah datang" Ucapnya begitu bahagia.
Ayah?
"Astaga!!! Apa Am mimpi ketemu ayah juga?" Tanya Shafa yang kembali mengingat pertemuannya dengan Rayyan yang terasa seperti mimpi.
"Itu bukan mimpi Shafa!" Suara berat itu membuat Shafa refleks menoleh.
"Ayah!!!" Teriak Am kegirangan, sementara Shafa masih tertegun menatap wajah yang kini tengah tersenyum manis kepadanya. Biasanya Rayyan akan langsung memeluknya atau menciumnya ketika lama tak bertemu, tapi laki-laki ini? Dia hanya memberikan senyum tanpa sentuhan sedikitpun.
Cairan bening itu kembali meluncur bebas. Ia masih tak percaya bahwa Rayyan nya telah kembali. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Rayyan mengangkat Am dan mendudukkan nya di pangkuannya. Am terus saja memeluk Ayahnya bagaikan bayi Koala yang tak mau lepas dari induknya.
"Aku pasti mimpi" Gumamnya yang tak melepaskan pandangannya pada kedua mata bening berbingkai itu.
"Tidak Shafa, ini bukan mimpi" Rayyan meraih tangan Shafa dan menggenggamnya erat. Awalnya ia ragu dan gugup tapi, dorongan kuat dari dalam hatinya membuatnya nekat menyentuh wanita yang belum sepenuhnya ia ingat.
"Hiks...Hiks.." Ia menarik tangan Rayyan dan menempelkannya di pipinya.
"Kamu kemana aja Mas?" Tanyanya sambil terisak dan terus menggenggam tangan suaminya.
"Maaf, Saya tidak bermaksud meninggalkanmu. Hanya saja takdir membuat kita terpisah..."
"Enggak! Aku nggak mau pisah! Nggak mau!" Ucapnya sambil menggeleng dan menangis semakin menjadi.
"Maksudku..
"Jangan tinggalin aku lagi Mas. Aku nggak kuat mas! Nggak kuat. Aku lebih baik mati kalau harus...
__ADS_1
"Ssttt" Rayyan menggeleng, "Jangan berkata seperti itu. Saya tidak pernah berniat meninggalkanmu Shafa. Saya menikahi mu karena Allah, dan Saya berharap karena Allah pulalah kita berpisah"