
Shafa melirik ke kiri dan ke kanan memastikan kedua putranya sudah duduk dengan tenang di sebuah kursi berbahan jati yang memiliki motif jepara di bagian atasnya. Rasanya tak nyaman saat bertamu dengan membawa seluruh pasukan kecilnya, apalagi Am, si ganteng yang tak pernah bisa diam. Sepertinya ia harus memikirkan kembali untuk menambah momongan.
"Silahkan di minum dan di cicipi" Suara lembut sang empunya rumah mempersilahkan mereka meminum teh hangat yang aromanya begitu wangi tercium. Istri dari pak Ustad tersebut memperhatikan dengan seksama satu persatu anak Rayyan juga Shafa.
"Terima kasih bu" Ucap Rayyan sopan.
"Mommy atu mau itu" Ucap Am sambil menunjuk cookies coklat yang tersaji di dalam toples bening di hadapan mereka.
Shafa menghela nafas melihat polah Am yang baru saja iaa khawatirkan.
"Emm... Maaf ya bu, Am memang suka coklat" Ujar Shafa malu-malu. Sebelumnya ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, apalagi di rumah orang yang baru di kenalnya.
"Tidak apa-apa nak, ayo di makan. Ini kue buatan Risa anak saya" Ucap bu Hamidah dengan ramah. Ia membukakan tutup toples dan mempersilahkan Am mengambil cookies itu sendiri.
"Bilang apa nak?" bisik Shafa setelah Am berhasil mengambil sepotong cookies coklat tersebut.
"Telimakacih" Ucapnya yang di sambut anggukan ramah dari tuan rumah.
"Bagaimana rasanya? Enak?" Tanya bu Hamidah lagi. Tak bisa di pungkiri ia sendiri merasa gemas melihat Am yang begitu tampan terlebih sangat mirip dengan Rayyan.
"Atu mau dua" Ucapnya sambil menunjukan angka dua dengan jarinya sambil mengangguk-angguk menikmati cookies nya.
"Ya Allah anakmu mas" Bisik Shafa yang malu setengah mati.
"Dihabiskan dulu baru ambil lagi ya nak" Ucap Rayyan sambil mengusap kepala jagoannya tersebut.
"Mommy itu itan apa? Atu mau itan begitu" Belum juga habis cookies yang ia makan, Am kembali mengoceh saat matanya tak sengaja menangkap penampakan ikan hias yang berada di dalam aquarium di sudut ruangan.
"Am?" Tegur Shafa.
"Oh itu ikan hias, Adek suka?" Tanya pak Ustad yang langsung di anggukki senang oleh Am.
"Kalau suka nanti boleh kok di bawa pulang buat Adek" Ucap pak Ustad.
__ADS_1
"Maaf ya pak Ustad, bu" Ucap Shafa yang merasa tak enak dengan kelakuan Am, takutnya ia di anggap tidak bisa mendidik anak untuk sopan santun.
"Tapi atu nggak mau bawa pulang pak ustad. Dilumahtu juga ada ikan betang-betang di kolam. Iya tan mommy?" Ia berbalik meminta persetujuan Shafa.
"Iya... Am jangan ribut ya?" Bisik Shafa.
"Oh ya, Risa kok tidak kelihatan pak Ustad?" Tanya Rayyan. Biasanya bidan cantik nan lembut itu selalu tinggal di rumah tapi ini sama sekali tak nampak.
Risa? Siapa Risa? Apa teman Mas Ray?
Sebagai seorang istri dengan tingkat kecemburuan yang luar biasa, di tambah lagi dengan kegalauannya soal perasaan Rayyan padanya kini, membuat Shafa bertanya-tanya.
"Oh, Risa lagi bantu di pustu barat, ada yang mau melahirkan katanya" Jawab bu Hamida. Kalau Risa tahu Andi sudah menikah dan sekarang bersama istrinya pasti dia akan kecewa. Batin sang ibu.
"Oh ya? Kebetulan besok saya dan istri mau ke villa abah, mudah-mudahan bisa ketemu sekalian mau ngenalin istri dan anak-anak saya" Ucap Rayyan. Baginya Risa adalah sosok wanita yang baik meski tak di sukai oleh Aisyah. Sudah sepantasnya ia mengenalkan istri dan anak-anaknya pada perempuan yang anggap sebagai teman.
"Nak Andi mau lama disni?"
"Tidak juga bu, mungkin 2 sampai 3 hari, karena Zaf harus masuk sekolah dan saya juga harus menyelesaikan beberapa hal terkait masalah pekerjaan" Balas Rayyan. Dirinya memang sudah berniat kembali ke kampus menjalankan kewajibannya sebagai ASN yang bertugas mencerdaskan anak bangsa. Namun sebelum itu ia harus mengurus beberapa berkas sebagai syarat kembalinya ia ke dunia pendidikan.
"Insha Allah bu"
Mereka bertamu di rumah pak Ustad tak lama, di karenakan Am yang mulai merengek minta pulang lah, ngantuk lah, mau main sama atok lah, pokoknya banyak sekali alasan bocah kecil itu yang membuat sang ibu menggeram.
"Pokoknya besok Am nggak usah ikut ke Villa" Ucap Shafa setelah masuk ke dalam mobil.
"Nda Mau!!! Atu mau itut" Balasnya penuh percaya diri.
"Am nanti gangguin mommy sama ayah" Balas Shafa. Ia ingat benar momen langka saat tidur siang tadi yang harus buyar gara-gara putranya yang tiba-tiba ingin di keloni sang ayah. Dasar anak ayah! Nampaknya Zizi lebih mudah di ajak kompromi. Asal sudah bersama dengan ibu atau mommy Shafa dia pasti anteng, terlebih saat bersama dengan keduanya.
"Mommy tama ayah memangnya mau ngapain?" Wajah polosnya itu membuat Rayyan ingin mencubit pipi Am.
"Mommy mau ngapain Mom?" Tanya Rayyan menggoda mengulangi pertanyaan Am membuat Shafa mendengus kesal.
__ADS_1
"Mau mancing" Jawab Shafa asal.
"Atu ikut...Atu ikut! Atu uga mau mancing mommy" Balas Am yang terlihat senang, sementara Rayyan hanya tersenyum melihat anak dan istrinya yang membuatnya semakin mencintainya.
"Mommy mau mancing buaya Am? Am mau ikut? Buaya gede lo, segede Ayah!" Ucapnya. Kali ini kekesalannya telah berada pada level puncak.
"Hiiiii...Atut mommy. Atu nda mau ikut!" Ucapnya sambil bergidik.
"Bagus!!!" Ucap Shafa sambil mencium pipi Am.
Sesampainya di rumah abah, Am dan Zaf segera berlari masuk, mereka hendak menagih dongeng yang tadi sempat di janjikan oleh abah untuk mereka.
"Zizi sudah tidur?" Rayyan mengintip Zizi yang sudah tertidur di pelukan sang ibu.
"Iya, dia capek kayaknya Mas"
"Kalau mommy nya capek nggak?" Rayyan tersenyum ke arah Shafa.
"Kenapa memangnya? Mas mau mijetin kalau aku capek?" Tiba-tiba muncul secercah ide di kepala Shafa.
"Shafa mau di pijitin sama saya?" Mereka malah memperlambat langkahnya masuk ke dalam rumah. Pembahasan seperti ini memang tidak untuk di dengar oleh orang lain.
Malah nanya balik. Jangankan di pijit doang, di apa-apain aku mau kali mas. Ih, ini laki gue kapan sadarnya sih?
"Nggak mau ya? Makanya diam?" Belum lagi Shafa menjawab, lagi-lagi Rayyan sudah menyimpulkan sendiri.
"Memangnya Mas berani nyentuh aku?" Tantang Shafa. Terlanjur basah sekalian mandi, mandi wajib sekalian kalau perlu.
Lagi-lagi Rayyan hanya tersenyum. Sebuah senyum yang terlihat sangat menyebalkan bagi Shafa. Ia tak bisa menafsirkan arti dari senyuman Rayyan. Senyum bahagia kah atau senyum mengejek!
"Ayo masuk, Kasian Zizi" Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Tuh kan nggak berani kan, pake ngeles segala! Jadi bukan aku ya yang nggak mau tapi mas Ray yang---"
__ADS_1
CUP!
"Mau lebih? Ayo di dalam jangan di sini" Shafa terdiam setelah ciuman mendadak pada bibirnya menghentikan ocehannya. Ia menurut saja saat lengannya di tarik masuk kedalam rumah besar tersebut.