Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Damai


__ADS_3

Sudah hampir seminggu sejak kejadian di mall tempo hari, Shafa mendiamkan Rayyan. Diam adalah senjata andalannya untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya meski semua itu bukan salah Rayyan. Dalam hal ini Rayyan juga adalah korban, tapi siapa yang bisa menahan seorang Shafa Azura jika sedang berada dalam mode ngambek dan cemburunya.


"Pokoknya besok Am harus ikut ayah ke kampus ya?" Ucapnya pada sang anak yang tengah di keloni di kamarnya. Shafa menepuk-nepuk bokong Am agar ia cepat terlelap.


"Tenapa Mommy?" Tanyanya.


"Nggak kenapa-kenapa, memangnya Am nggak mau lihat sekolahnya Ayah? Disana banyak kakak-kakak lo Am" Bujuk Shafa.


"Mau mommy, atu mau! Atu mau cekolah tama ayah" Akhirnya Am termakan bujukan sang momny.


"Kalau mau, besok ikut ayah ya! Tapi jangan bilang mommy yang suruh, oke?" Shafa mencoba membuat kesepakatan dengan putra kecilnyanitu.


"Iya Mommy"


Bagus! Kalau Am ikut, dia bisa jadi mata-mataku.


Setelah menidurkan Am dikamar Zafran, Shafa kembali ke kamarnya sendiri. Zifara sudah terlelap di kasur bayi miliknya. Sejak kedatangan mereka dari Bandung, tiba-tiba ada box bayi dikamarnya yang tak lain adalah perbuatan ibu mertuanya. Katanya, supaya tidak mengganggu proses pembuatan anak ke tiga Shafa dan Rayyan.


Melihat Shafa yang baru saja masuk kamar, Rayyan segera meletakkaan buku yang tengah di bacanya di atas nakas. Ia mengikuti langkah istrinya menuju ruang ganti. Rasanya sudah tidak tahan di cuekin seperti itu. Selama beberapa hari ini ia sudah berusaha mencairkan suasana tapi Shafa tetap cuek. Ia hanya akan berbicara seperlunya, sekalipun begitu ia tetap melayani semua kebutuhan Rayyan dengan baik kecuali kebutuhan biologisnya.


"Mommy..." Ia memeluk Shafa dari belakang. Kepalanya ia sandarkan di bahu kanan istrinya. Ia sangat merindukan aroma tubuh Shafa yang begitu menenangkan. Tak ada penolakan dari Shafa, ia juga sebenarnya lelah mendiamkan Rayyan, tapi jika mengingat kejadian waktu itu rasa kesal dna curiganya tiba-tiba muncul. Rayyan pun tidak berinisiatif merayu atau apalah yng membuat Shafa tidak ngambek lagi. Pada dasarnya wanita itu simple, ia hanya butuh perhatian lebih.


"Maaf" Ucap Rayyan lagi.


Bosan gue denger kata maaf mulu. Rayu kek apa kek yang bikin gue seneng.


"Aku rindu kamu Shafa" Ucapnya lagi semakin menempelkaan wajahnya di leher Shafa.


Cup!


Ia mendaratkan satu kecupan sayang di leher Shafa. Shafa masih tak bergeming. Sebenarnya ia tidak marah, ia hanya ingin di rayu tapi rayyan kurang peka akan hal itu.


"Boleh cium nggak?" Ucap Rayyan yang masih memeluk Shafa.

__ADS_1


Ngapain ake izin sih? Biasanya juga langsung nyosor.


"Aku mau ganti baju mas? Ini kalau di dekep gini gimana mau ganti baju?" Jawab Shafa sambil berusaha lepas dari dekapan suaminya.


"Kalau udah ganti baju boleh kan?" Tanyanya lagi masih belum melepas pelukannya.


"Iya...iya!" Jawab Shafa membuat Rayyan seketika itu juga melepaskan pelukannya.


"Shafa mau pakai baju apa?" Rayyan ikut melongok ke lemari pakaian yang penuh dengan beraneka macam gaun tidur, mulai dari yang seksi saampai yang sangat seksi. Shafa masih memilih dan memilih sampai akhirnyaa ia menarik sebuah piyama panjang bermotif kotak dari lipatan.


"Jangan yang ini, yang ini saja!" Rayyan merebut piyama di tangan Shafa dan menggantikannya dengam dress pendek bertali spageti berwarna putih yang memiliki aksen renda di bagian dadanya.


"Mas mau lihat aku ganti baju?" Tanyanya menoleh pada Rayyan yang masih berdiri di belakangnya.


"Zizi sendiri mas, tengokin gih ntar dia bangun gimana?" Imbuh ya mencari alasan, Shafa merasa malu jika harus ganti baju di hadapn Rayyan, meski biasanya bukan hanya ganti baju, ia bahkan pernah lebih dari itu.


"Ya udah mas keluar" Rayyan ngalah dan memilih keluar, dari pada memicu krmarahan Shafa lagi, lagi pula ia juga harus mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa ke kampus besok. Esok adalah hari pertama Rayyan mengajar, setelah menyelesaikan sederet berkas pengurusan kembalinya ia di dunia pendidikan kembali.


Shafa keluar dari ruang ganti tengah mendpati Rayyan yang sedang membereskan buku-bukunya. Melihatbsangbistri telah naik ke atas Ranjang ia pun mempercepat gerakannya dan menyusul Shafa yang sedang memainkan ponselnya.


"Mas harus gimana?" Ucapnya dengan nada pasrah. Ia tak tau harus berbuat apa lagi. Minta maaf sudah berulang kali ia lakukan tapi seperti tidak membuahkan hasil. Shafa sungguh mengerikan saat sedang dalam mode kesal.


"Ck! Mas ih, nggak kreatif. Rayu kek, gombal kek, apa kek, ini malah diam" Ucap Shafa yang sudah tidak tahan dengan ketidak pekaan Rayyan sebagai suami.


"Masya Allah, istriku yang cantik ini mau di rayu seperti apa?" Rayyan langsungbmeraih kepala istrinya, membawanya dalam dekapannya. Ia memang tidak peka, tapi kalau urusan sayang menyayangi Shafa tak perlu ragu lagi. Ia mencium kening Shafa berkali-kali.


"Mas tidak pintar gombal sayang mas bisanya ngaji sama bercerita saja" Ucap Rayyan sambil mencium rambut wangi istrinya.


"Ada kalanya perempuan itu pengen di gombalin juga mas" Jujur Shafa.


"Jadi Shafa ku ini pengen di gombal, iya?" Rayyan menarik gemas hidungbmancung Shafa.


"Aw... Mas ih, bukannya di sayang-sayang malah di cubit"

__ADS_1


"Sini mas sayang-sayang"


Cup!


Cup!


Cup!


Rayyan menghujani ciuman bertubi-tubi di wajah Shafa.


"Anna Uhibbuka Jidan Ummi Am, I love you so much, Ich liebe dich, Saranghaeyao sayangku"


Cup!


Ucapan cinta yang terakhir meembuat lengkunga di bibir Shafa terbit. Hatinya berbunga, su gguh semudah itu membuat seoamrang Shafa senang. Ia tak menyangka Rayyan akan mengucapkan cinta dalam bahasa Korea juga.


"Aku cinta mas Rayyan" Balasnya sambil mendongak menatap mata teduh Rayyan penuh cinta.


Cup!


"Mas genit!" Ucap Shafa saat Rayyan mengecup bibirnya.


"Mas rindu sayang" Ia menyentuh wajah Shafa agar tetap menatapnya.


"Terus?" Goda Shafa sambil tangannya bermain di dadanbidang Rayyan yang tertutup kaos tipis.


"Boleh ya?" Bisiknya pelan di telinga Shafa.


"Boleh apa?"


"Apa saja" Balas Rayyan yang sudah semakin berkabut. Shafa tahu suaminya pasti sedang menahan sesuatu. Ia tersenyum lembut mendekatkan wajahnya dengan wajah Rayyan hingga terasa sapuan hangat nafasnya di indra peraba Rayyan.


Tanpa menunggu lama, ia segera menyambar bibir ranum tersebut. Salah sendiri menggodanya. Tak ada penolakan dari Shafa, ia justru ikut menikmati semua perlakuan yang Rayyan berikan padanya. Masing-masing dari mereka telah sedang menuntaskan kerinduannya selama beberapa hari terakhir ini. Keduanya hanyut dalam malam yang membahagiakan. Semarah apapun Shafa, jika sudah seperti ini ia seakan lupa akan segala kekesalannya. Semuanya akan berjalan normal lagi ke esoakan harinya.

__ADS_1


Selamat menikmati malam panjang dua sejoli yang selalu dimabuk cinta, karena hari esok telah menanti dengan segudang kejutan yang menggetarkan hati.


__ADS_2