Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Suara Hati Arini


__ADS_3

Setelah bangun dari tidurnya. Arini mengambil buku diary yang ada di samping meja tempat tidur Ia menulis bahwa hari-hari ini semua sayang pada Arini, Sampai ketika Ikhsan datang membawa kado untuk Arini.


" Eh Rino, Sorry Aku langsung masuk. Pintu terbuka sih!" kata Ikhsan melihat Rino di kamar tamu sedang melihat tv.


" Gag apa-apa, Bentar Aku panggil'in Kak Hans." Balas Rino.


Rino pun ke kamar memanggil Hans karena jika berteriak takut membangunkan Arini.


Hans pun menghampiri bersama Rino.


" Oe..Bro, Ada apa nih?" Tanya Hans melihat kado di tangan Ikhsan.


Hans duduk yang di mana di sampingnya Rino dan berhadapan dengan Ikhsan.


" Ini mau nepatin janji ma, Arin! Ini kostum Putri!" Ujar Ikhsan.


Arini dari kamar senang karena Kak Ikhsan memenuhi janjinya, Namun Ia masih menulis diary menunda menemui Kak Ikhsan.


" Itu tadi Disa nangis, Kenapa?" Tanya Ikhsan.


" Lah Kamu ketemu di mana?" Hans Kaget.


" Di ujung jalan mau masuk sini!" Terang Ikhsan.


" Nggak apa-apa!" Hans menutupi masalahnya dengan Disa.


Rino memandang tajam ke arah Hans.


" Udah Aku tahu kok, Kamu di suruh milih Dia atau Arini kan!" Jelas Ikhsan.


" Iya, Harusnya Dia tahu situasiku. Arini sakit dan butuh perhatian lebih, Mungkin bukan satu atau dua bulan bisa sembuh maka Aku harus menjaganya lebih!" Kata Hans.


Arini mendengar di kamar, Arini pun kaget mengetahui kondisinya.Ia memutuskan terus menyimak obrolan di ruang tamu.


" Ia makanya tadi Aku juga bilang demikian, Namun ya Dia masih nangis!" Sambung Ikhsan.


" Aku bingung San, Harus bagaimana! Di satu sisi Adikku dan di sisi lain Pacarku yang sudah Aku sayang banget, Sebenarnya Aku tidak mampu dan tidak bisa memilih ini sangat melukaiku San." Curhat Hans sambil berkaca-kaca.


" Biarkan Aku yang merawat, Kamu beri pengertian dulu sama Disa. Kan dari tadi Aku bilang begitu!" Sahut Rino.


" Biarinlah, Kalo berjodoh pasti kembali. Fokusku kini Arin! Soalnya Ia yang lebih butuh perhatian penyakit yang menyerang ginjalnya pasti akan berdampak pada semua cita-citanya. Aku memilih menemaninya dan menjadi bahu saat Ia lemah untuk bersandar." Kata Hans.


Arini di kamar menulis dengan bercucuran air mata mendengar cerita Hans yang mengorbankan Hatinya demi Dirinya.

__ADS_1


" Kamu jangan menjadikan Arin bebanmu sendiri, Aku juga Kaknya pasti Aku juga akan melakukan hal yang sama. Masa depanmu kejarlah biar Aku yang menjaga Arin!" Pungkas Rino sambil menepuk bahu Hans.


" Benar kata Rino, Hans! Jika kamu anggap Arin menjadi bebanmu sendiri maka Kamu akan kehilangan semua di hidupmu sendiri. Biar masalah Arin kita tanggung bersama, Aku juga akan ikut menjaga Arini karena Ia Ku anggap sebagai pengganti Almarhum Adikku." Ikhsan menasehati


Arin pun mulai tak kuat, Hingga memutuskan untuk keluar kamar menemui Kakaknya.


" Kak, Arin sakit Apa?" Tanya Arini sambil menangis.


Semua pun terdiam tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


" Kak, Jawab! Arin sakit apa? Kenapa Arin membebani Kakak?" Tanya Arin sambil menangis.


Mereka hanya tertunduk diam.


Arin pun langsung berlari keluar rumah sambil menangis.


" Arin.....!" Triak Semuanya mengejar Arini.


Hans, Rino dan Ikhsan takut Arini kenapa-napa mereka terus mengejar Arini.


Arini berlari tanpa tujuan sambil menangis tersedu-sedu hingga Ia terjatuh.


Disa yang melihat buru-buru ke arah Arini.


" Arin...Arin...Bangun..!" Disa terus berusaha membangunkan Arini yang pingsan.


Hans, Rino dan Ikhsan melihat Disa menggendong Arini, Langsung saja mereka berlari menghampiri.


" Kenapa dengan Arin?" Tanya Hans dengan khawatir.


" Biarkan Aku menggendong hingga kamarnya, Baru Aku jelaskan!" Kata Disa.


Semua pun menyetujuinya. Setelah sampai di kamar Disa membaringkan Arini di tempat tidurnya.


" Kenapa Arin?" Tanya Hans langsung menggenggam tangan Arini karena khawatir.


Disa melihat Itu, Langsung mengelus pundak Hans.


" Maafin Aku terlalu egois, Kini Aku baru sadar andai Aku di posisimu pasti ini sangat berat." Kata Disa sambil menangis.


Hans pun mendengar perkataan Disa, Langsung berbalik badan memeluk Disa.


" Maafin Aku yang tidak punya waktu belakangan ini!" Ujar Hans di pelukan Disa.

__ADS_1


Ikhsan dan Rino pun terharu melihat keduanya


" Aku mau tanya, Kenapa Arin bisa pingsan?" Tanya Disa, Melepas pelukan Hans.


" Nampaknya Ia mendengar percakapan kita, Mungkin Ia mengetahui penyakit yang Ia derita." Sahut Ikhsan


" Kak...Kak...Kak..Hans!" Panggil Arini sadar dari pingsan.


" Hans biarkan Aku dan Arini, Kalian percayakan sama Aku!" Kata Disa.


Ketiganya meninggalkan kamar Arini da Membiarkan Disa yang menerangkan tentang penyakit Arini.


Pintu kamar di tutup, Namun ketiganya berdiri di balik pintu untuk mendengarkan.


" Arin..Ini Kak Disa." Ujara Disa lembut mengelus kening Arini.


Arini sontak langsung memeluk Disa.


" Kak Disa Maafin Arin, Karena Arin Kak Disa berantem sama Kak Hans." kata Arini sambil menangis di pelukan Disa.


" Enggak Arin, Kalo orang dewasa itu berantem bukan karena Arin. Tapi karena beda pendapat Arin!" Disa menghibur Arini.


" Tapi Kak, Tadi Arin denger Kakak marah gara-gara Kak Hans lebih perhatian ke Arin karena penyakit Arin." Cerita Arini.


" Arin dengar Kakak, Jika Kak Disa marahan nggak mungkin dong di sini bisa ngobrol sama Arin." Balas Disa.


" Kak, Arin mau nanya tolong Kak Disa jawab jujur Arin mohon...!" Ujar Arini duduk memandang Disa.


" Yah tanyalah, Nanti Kak Disa jawab asal arin tidak nanya berapa jumlah bintang di langit. Pasti Kak Disa nggak jawab soalnya dulu waktu sekolah nilainya jelek." Disa menghibur Arini dengan Wajah tersenyum


Arini tidak tertawa, Wajah Arini tegang dengan mata sembab.


" Kak, Apakah karena penyakit Arin. Arin tidak dapat menggapai cita-cita Arin, Kak?" Tanya Arini menatap serius Disa.


" Nih Arin lihat, Bisa kan mereka menjadi yang mereka inginkan walau dalam keterbatasan asal semangat dan berusaha gigih!" Jawab Disa memperlihatkan foto-foto motivasi.


" Arin bakal sembuh, Dan Kakak-kakak Arin ditambah Kak Disa dan Kak Ikhsan akan membantu Arin menggapai cita-cita dan selalu mendoakan Arin agar cepat sembuh. Hanya saja Arin harus denger apa yang dikatakan Kakak-Kakak Arin demi kesembuhan Arin, Okey?" Imbuh Disa.


Arin pun tersenyum mendengar kata-kata Disa.


" Berarti Arin bisa sembuh ya Kak, Bisa lari-lari terus makan apa aja, Sama Kak Hans tidak marah-marah lagi sama Arin ya!" Arini menanggapi dengan antusias dan semangat.


" Emang Kak Hans memarahi Arin, Biar nanti Kak Disa yang marahin Kak Hans balik!" Ujar Disa kembali menghibur Arini.

__ADS_1


" Jangan Kak, Nanti Kak Hans bisa sedih!" Arini merasa kasihan ke Hans.


Di sebalik pintu Hans terharu ternyata hanya Disa yang mampu mengembalikan semangat Arini, Rino dan Ikhsan tersenyu karena mendengar Arini sudah semangat kembali dan bisa tertawa bersama Disa.


__ADS_2