
Rino terus melihat Arini lewat kaca di pintu ruangan,
" Lagi dan lagi seperti ini, Namun sekarang hanya Kita Hans yang harus mencari solusi!" Ujar Rino.
Hans tertunduk di kursi tunggu dengan di temani Disa di sampingnya, Ikhsan bangkit dari duduk menghampiri Rino untuk Ia melihat Arini.
" Kalian mesti bisa melewati ini, Sabar." Kata Ikhsan menepuk-nepuk bahu Rino.
" Terus gimana No, Biaya untuk Arin sekarang?" Tanya Disa.
" Udah kita buatkan jaminan kesehatan, Jadi untuk masalah biaya sudah bisa di atasi. Hanya saja pikiranku sekarang tentang Ibu." Jawab Rino.
" Udah, Kita kasih tahunya nanti saja kita tunggu dulu perkembangan Arini." Kata Disa menenangkan semua.
Tiba-tiba dari lorong terdengar suara rintik hujan, Semakin lama semakin deras.
" Semoga tidak terjadi apa-apa dengan, Arin." Gumam Hans lirih.
Terdengar seseorang berlari menuju tempat mereka menunggu.
Semua menoleh ke arah suara langkah kaki, Semua memandang Hera Sahabat dari Arini. Dengan sedikit basah masih memakai pakaian olahraga.
" Bagaimana Arin, Kak?" Tanya Hera langsung di depan pintu melihat Arini dari kaca.
" Ya begitulah, Kamu kesini dengan siapa Dik?" Tanya Ikhsan.
" Itu Kak, Sama Bu Keisya." Jawab Hera.
Dari jauh Bu Keisya datang dengan baju yang sedikit basah karena hujan. Bu Keisya menyalami semuanya.
" Gimana keadaan, Arin?" Tanya Bu Keisya.
" Ya belum sadar Bu, Nunggu Arin sadar!" Balas Rino.
" Sya, Kamu kesini dengan Sahabat Arin naik apa?" Tanya Disa.
" Tadi Aku nyewa angkot, Jadi ya nggak basah turun di depan rumah sakit pas." Jawab Bu Keisya.
Hera terus memandang Arini yang terbaring sambil menangis tersedu-sedu.
" Udah Dik, Arin pasti tidak kenapa-napa! Adik Kakak hanya baru capek." Ujar Rino, Menunduk menatap Hera.
Bu Keisya yang semula berdiri di samping Disa, Melihat Hera yang sedih langsung bergegas menghampirinya.
" Sudah Her, Doain! Karena air mat tidak akan membantu apa-apa. Hanya Doamu yang bisa menguatkan Arini!" Nasehat Bu Keisya, Membungkuk di samping Rino.
Ikhsan berinisiatif membelikan semua makanan karena Ia tahu dari tadi pagi belum ada satu pun yang makan, Terlebih di situ ada Hera yang selesai perlombaan pastilah capek dan lapar.
" Bentar ya, Aku keluar dulu." Ujar Ikhsan, Pamit meninggalkan Mereka.
Rino mengajak Hera dengan memegang tangan Hera untuk duduk.
" Dik, Kamu kan sahabat Arin. Terimakasih ya bisa buat Arin hari ini senang." Kata Rino tersenyum menatap Hera yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Tapi Kak, Dulu Hera sering nyakitin Arin. Apa mungkin ini karena perbuatan Hera dulu?" Tutur Hera sambil menitihkan air mata.
Hans melirik ke arah Hera, Ia bangkit dari duduknya lantas menghampiri Hera. Semua yang melihat takut jika Hans marah karena pengakuan Hera, Rino pun bersiap-siap andai Hans marah kepada Hera.
Tiba-tiba semua terkejut, Hans jongkok di hadapan Hera.
" Arin sudah cerita semuanya Dik, Kami tidak marah dan sudah melupakannya. Adik jangan sedih ya, Doain Arin kan sekarang kalian sudah Sahabatan." Tutur Hans sambil tersenyum.
Bu Keisya melihat kelembutan Hans dan Rino kepada Hera dari depan pintu.
Tiba-tiba pintu ruangan Arin di buka oleh perawat.
" Silahkan Bapak atau Ibu yang mau masuk tapi harap dua orang ya, Dan jangan membikin keributan pasien sudah siuman." Kata Perawat.
Semua menyuruh Hans dan Rino untuk duluan, Tapi keduanya menolak.
" Udah biarkan Sahabatnya dulu, Arin butuh dukungan dari Sahabatnya sekarang!" Ucap Rino.
Hera di temani Bu Keisya masuk ke ruangan Arini di rawat.
" Bu.." Sapa Arini, Berusaha bangkit dari tidurnya.
"Sssst...Udah gitu aja, Ini lihat Bu Guru sama Hera sahabatmu ke sininya." Kata Bu Guru melihat Hera.
Hera memandang Arini dengan wajah sendu.
" Kenapa Kamu menangis, Her?" Tanya Arini.
Hera menangis melihat Arini di pasangi kabel di dada, Infus dan memakai oksigen.
" He..hehehe...Aku enggak apa-apa kok, Her. Aku kan udah nepatin janji." Kata Arini.
" Ayo Kita pulang Rin, Kamu di sini buat Aku bersedih!" Tutur Hera.
" Arin, Kenapa Kamu?" Sahut Bu Keisya.
" Maafin Arin ya Bu, Sudah buat Ibu dan Hera khawatir." Balas Arini dengan wajah tertunduk.
" Kamu udah buat Aku menangis Rin, Harusnya Aku yang buat Kamu menangis!" Gurau Hera mengingatkan saat dirinya menjahili Arini sewaktu kelas satu.
" Sekarang Arin udah nggak cengeng, Her. Arin kan anak hebat." Balas Arini tertawa kecil.
" Arin, Jaga kondisi Kamu sebentar lagi mewakili sekolah kita. Kamu harus ikutin anjuran Dokter agar bisa mengikuti dan sekaligus menepati janjimu pada Sahabat-sahabatmu!" Nasehat dari Bu Keisya.
Suara gaduh terdengar dari sebalik pintu, Alangkah terkejutnya ketiganya melihat wajah Dina, Nayla, dan Tary ada di depan pintu.
" Mereka juga kesini, Bu?" Tanya Arini.
Hera dan Bu Keisya pun bingung kenapa mereka bisa sampai di rumah sakit dan dengan siapa.
" Bentar ya Rin, Kamu di temani Hera di sini. Ibu mau melihat di luar!" Pamit Bu Keisya menuju keluar ruangan.
Setelah Bu Keisya tiba di luar ruangan, Melihat Pak Isman, Tari, Dina,dan Nayla berdiri di hadapannya.
__ADS_1
" Lah, Kok nggak pulang malah kesini? Apa nggak capek?" Tanya Bu Keisya.
" Kami ingin memberikan Arin ini, Bu!" Kata Nayla memegang piala, Di ikuti Tary dan Dina.
" Iya Bu, Mereka minta hadiah sama Saya katanya minta di anter buat bertemu Arin!" Sahut Pak Isman.
" Lah terus yang lainnya?" Imbuh Bu Keisya
" Yang lainnya sudah di pulangkan, Hanya Kami yang ke sini." Jelas Tary.
" Kalian boleh ketemu Arin, Satu-satu dan janji jangan berisik!" Bu Keisya memberi kesempatan.
Nayla langsung masuk ruangan, Ia membawa piala untuk di berikan kepada Arini.
" Hey, Aku punya hadiah ini buat Kamu, Rin." Kata Nayla sambil melangkah mendekati Arini.
" Kamu menang, Nay?" Tanya Hera.
" Iya dong, Kan udah janji! Eh Her, Gantian Dina sama Tary juga mau bertemu Arin!" Pungkas Nayla.
" Oke, Aku keluar dulu Rin gantian!" Pamit Hera.
" Nih, Buat Kamu Sahabatku!" Kata Nayla menaruh piala di samping Arini terbaring.
" Selamat ya Nay, Maaf Arin nggak bisa lihat Nayla dan mendukung Nayla!" Balas Arini dengan mimik muka sedih.
" Alah nggak apa-apa, Tadi di kasih tahu Dina jadi setelah nunggu Tary dapet piala langsung sama-sama ngerayu Pak Isman buat anterin ke sini." Cerita Nayla sambil cengengesan.
Masuklah Tary yang juga membawa piala.
" Hey, Sahabatkuh. Yah kita yang tanding situ yang cidera." Gurau Tary, Membuat Arini tertawa.
" Nih buat Kamu, Aku sudah menepati janjiku kan." Tutur Tary, Menaruh Piala di samping piala Nayla.
" Kalian hebat, Pasti besok Arin juga bisa mendapatkan piala kayak kalian. Doain ya?" Ujar Arini.
Di luar ruangan Kakak- Kakak Arini melihat sahabat-sahabat Arini yang begitu sayang dan peduli kepada Adiknya sangat senang.
" Terimakasih ya semua sahabat-sahabat, Arin." Ujar Disa sambil tersenyum.
" Iya Kak, Sama-sama." Balas Dina, Menatap Disa.
Dari lorong Ikhsan melihat keramaian.
" Kok jadi banyak orang? Makanan ini enggak cukup dong." Gumam Ikhsan terus melangkah menghampiri semuanya.
" Kamu bawa apa itu, Bos?" Tanya Rino melihat pelastik hitam di tangan Ikhsan.
" Makanan ya?" Ujar Disa.
" Iya, Tapi tidak cukup untuk semua!" Terang Ikhsan.
" Ya udah, Biarin itu buat teman-teman Arini aja. Kita semua gampang." Sahut Hans.
__ADS_1
" Yaudah, Ini buat para juara. Dik tolong di bagikan ya." Tutur Ikhsan menyuruh Dina, Sambil menyodorkan plastik yang ber isi makanan.