Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
MOTIVASI TERTINGGI


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Wajah Arini murung karena Kecewa berat.


" Arin, Jangan patah semangat. Nanti Kita cari Sekolah yang lain yang sama bagusnya." Kata Bu Sara melihat Arini yang duduk di sampingnya menjadi pendiam.


" Iya Rin, Besok Rizal bantu cariin deh! Besok pagi-pagi sekali Kita keliling Gimana?" Tanya Rizal.


Arini masih murung dan Diam, Tak sepetah kata keluar dari mulutnya hanya lurus memandang ke depan.


Sesampainya di rumah, Arini langsung berlari menuju kamarnya.


" Arin...Arin...." Teriak Bu Sara sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Namun, Arini tidak membuka pintu hanya duduk terdiam di atas ranjangnya.


" Arin...Buka sayang, Bulik mau bicara!" Kata Bulik membantu Kakaknya membujuk Arini.


" Arin dengerin Rizal, Besok Aku janji cari'in Arin Sekolah yang sama kayak Sekolah Dona!" Teriak Rizal membujuk Arini.


Bu Sara lalu menangis " Rin, Kasihanni Ibu, Sekarang Kita hanya berdua Rin." Ujar Bu Sara, Lalu terduduk di depan pintu Kamar Arini.


" Rin, Ini Om Sono bukak! Kamu lihat sekarang Ibumu menangis!" Teriak Om Sono.


Bulik Yanti lalu membawa Bu Sara untuk di dudukkan di ruang tamu.


Om Sono dan Rizal mengikuti dari belakang untuk membahas masalah Arini.


" Nampaknya Ia terpukul, Mbak." Ujar Om Sono.


" Terus Kita musti gimana, Dek." Balas Bu Sara menangis memikirkan Arini yang baru pertama Ia dapati sangat kecewa.


" Bentar, Aku coba hubungi Dona siapa tahu ada jalan lain masuk ke Sekolahnya." Sahut Rizal, Langsung mengeluarkan hp dari sakunya.


Rizal mengirim pesan ke Dona, Namun tidak di balas hanya di baca Dona.


" Dona, Tidak membalas! Mungkin baru ada pelajaran masih di kelas." Kata Rizal.

__ADS_1


" Mbak tenang, Kita mencari cara bersama-sama!" Ujar Om Sono menenangkan sang Kakak.


" Maafin Kami, Kami kesini malah merepotkan Kalian." Ucap Bu Sara.


" Tidak Mbak, Tidak apa-apa Kita kan keluarga." Balas Bu Yanti mendekap sang Kakak yang bersedih.


Tak lama Arini keluar dengan wajah yang habis orang menangis, Ia menghampiri sang Ibu.


" Bu, Kita balik saja ke rumah yukk?" Ucap Arini berdiri di hadapan sang Ibu.


Bu Sara melihat Putrinya yang sudah putus asa, Semakin membuatnya sedih lalu memeluk Arini erat.


" Ayo pulang Bu, Mungkin bukan di sini Arin harus bersekolah." Ucap Arini terus mengulangi kata-kata keputus asaan sambil menangis.


" Jangan Nduk, Ayahmu sudah menyiapkan semuanya di sini. Nanti Kami selaku Om, Bulik dan Adikmu Rizal pasti akan mencarikan Sekolah yang sama bagusnya dengan tempat Dona." Ujar Bulik, Mengelus rambut Arini


Arini terus menangis, Bu Sara pun ikut menangis karena terus memikirkan keputus asaan sang Putri.


" Ya Nduk, Lebih baik kalau Kita pulang." Tutur Bu Sara tak kuasa melihat Arini bersedih.


" Jika Mbak dan Arin balik, Bagaimana Kami akan bertanggung jawab atas janji Kami ke almarhum Mas Romi, Mbak?" Tutur Bu Yanti sembari menitihkan air mata.


" Sudahlah Dek, Mbak nggak mau lihat Arini hanyut dalam kekecewaan biar Kami pulang saja ke kampung. Disana Arin bisa mendaftar ke sekolah yang Ia mau, Dan pasti di terima karena Arin kan berprestasi!" Kata Bu Sara, Kekeh ingin pulang ke kampung.


Semua pun terdiam karena tidak ada yang bisa Mereka lakukan untuk Arini.


Arini terus menangis, Bu Sara pun bangkit berniat mengemasi barang-barang kembali ke kampung halaman.


" Oh, Cuma segini Rin mental juaramu!" Ucap Dona yang tiba-tiba datang memasuki pintu rumah Arini.


" Rin, Jika Kamu memang berprestasi kegagalan ini adalah pacuan untuk Kamun lebih giat belajar. Sudah ku duga kemarin karena di Sekolahku tidak bisa hanya dengan antusiasme masuk! Jangan kira hanya Kamu yang berprestasi yang gagal, Mereka juga berprestasi gagal selain Kamu banyak Rin!" Sambung Dona sembari berjalan mendekati semuanya.


Arini menatap Dona yang pelan-pelan melangkah ingin mendekatinya.


" Tapi, Arin sudah gagal Dona!" Teriak Arini, Sambil menangis.

__ADS_1


" Kamu gagal? Ini baru awal, Jika Aku jadi Kamu yang katanya memang mental prestasi. Aku akan buktikan ke sekolah itu, Bahwa Ia harus menyesali karena menolakku menjadi siswa di sana lewat jalus prestasi akan Aku permalukan sekolah itu di perlombaan antar Sekolah!" Kata Dona duduk di samping Bu Yanti menatap Arini yang berdiri memeluk Sang Ibu.


" Bener Rin, Apa kata Dona! Kita cari Sekolah untukmu yang setara dengan Sekolah Dona agar kamu bisa buktikan bahwa mereka harus menyesal tidak menerimamu!" Sambung Rizal.


Arini menatap Sang Ibu, Bu Sara juga memandang Arini " Terserah Kamu, Rin! Kalau Kamu pengen pulang maka Ibu hanya akan menuruti." Tutur Bi Sara.


Arini terdiam memikirkan kata-kata dari Dona, Ia pun langsung menatap tajam Dona " Baiklah, Aku tetap di sini dan Aku akan lakukan apa yang di katakan Dona." Kata Arini kembali bersemangat.


" Ayo Rin, Kamu harus punya dendam ke Sekolahku! Kalahkan di prestasi secara fairplay, Buktiin Kamu harusnya pantas bersekolah di tempatku!" Kata Dona terus memotivasi Arini.


" Rizal dan Om Sono juga Bulik, Arin mohon carikan Arin Sekolah yang standart seperti Sekolah Dona. Pasti Aku akan membuktikan bahwa Aku pantas bersekolah di tempatnya." Kata Arini kembali bersemangat atas motivasi Dona.


" Pasti...Pasti Kami carikan!" Balas Om Sono.


Bu Sara memandang Dona lalu tersenyum, Karena berkat Dona Arini bisa kembali bersemangat.


" Rin, Nanti sore Aku mau membimbingmu agar bisa diterima di sekolah favorite. Jika Kamu mau sore nanti Kamu ke rumahku, Aku akan ajari semua kunci agar diterima." Kata Dona.


" Baiklah Dona, Tolong bimbing Arin ya!" Balas Arini kembali terseyum.


" Nah begitu Rin, Biar Dona membantumu. Jangan bersedih lagi, Ikuti perintah Dona pasti kamu bisa lulus dan di terima di sekolah yang kamu inginkan di kota ini!" Kata Rizal tersenyum memotivasi Arini.


Bu Yanti mendekap Dona, Karena berkat Putrinya Arini bisa kembali bersemangat.


" Ya sudah, Dona mari Kita pulang! Kamu pasti capek." Ajak sang Ayah.


Akhirnya keluarga Om Sono pamit pulang, Meninggalkan Arini dan sang Ibu sendirian.


Bu Sara kembali duduk menatap Arini " Kamu yakin Rin, Masih mau tinggal di sini?" Tanya Bu Sara.


" Masih Bu, Ternyata Dona benar. Arin harus lebih giat belajar, Agar bisa balas dendam dengan membuktikan harusnya Arin yang pantas masuk ke sekolahnya Dona." Jawab Arini, Sambil menyeka air mata dengan tangannya.


" Ya sudah, Ibu pasti berdoa untuk Arin dan apa pun keputusan Arin. Ibu pasti ikut saja." Tutur Bu Sara mengelus rambut Arini yang bersandar di bahunya.


" Jika Arin pulang membawa kegagalan, Nanti pasti Hera dan Sahabat Arin marahin Arini. Bu!" Kata Arini.

__ADS_1


" Ya , Semua pasti sedih Rin. Kamu harus semangat karena Semua Kakakmu mendukungmu beserta sahabat-sahabatmu!" Kata Bu Sara terus memotivasi Arini.


__ADS_2