
Saat Rino sampai di rumah,
Rino langsung duduk di depan teras sambil cengar cengir.
Sang Ibu keluar untuk melihat suara tapak kaki yang datang, Lantas Ia membuka pintu.
" Kamu udah balik, No?" Tanya Sang Ibu, Keluar dari pintu.
" Sudah, Bu." Jawab Rino sambil cengar-cengir.
" Kak Hans, Udah pulang sama Ikhsan?" Tanya Rino balik.
" Belum, Ibu kira Kamu menyusul Mereka." Jawab Sang Ibu.
" Enggak Bu, Aku habis dari rumah Uwak Nana." Jelas Rino.
Sang Ibu langsung duduk di samping Rino ada keperluan apa Ia kesana.
" Apa Kamu ingin tinggal dengan Uwakmu lagi, No?" Tanya Bu Sara.
" Yah karena itu Bu, Aku meminta kelonggaran waktu untuk membantu Uwak. Ibu pasti paham situasinya kan." Balas Rino.
" Tapi kenapa Kamu, Senyum-senyum terus motormu mana?" Tanya Bu Sara, Tidak melihat motor terparkir.
" Motor di minta Uwak." Jelas Rino.
Bu Sara pun kaget, Dan berprasangka sang Uwak marah karena Anak-anaknya tidak menepati janji.
" Apa kamu sudah minta maaf ke Uwakmu? Enggak apa-apalah motor di ambil toh Kita juga sudah mengingkari kesepakatan dengan Uwakmu." Kata Bu Sara dengan Wajah sedih.
" Kenapa sedih Bu, Uwak enggak marah! Malah Uwak nuker motor ama ini." Sahut Rino, Sambil menunjukkan kunci mobil.
" Itu apa, No?" Tanya sang Ibu.
" Enggaklah Bu, Biar Aku yang nyari alasan nanti!" Ujar Rino.
" Ini kunci mobil, Di sana enggak kepakai karena Aku cerita tentang Orang Tua Disa langsung di kasih mobil " Jelas Rino.
" Balikin No, Nanti Kakakmu marah." Ujar Sang Ibu memperingatkan.
" Biar nanti Aku yang jelasin Bu!" Kata Rino.
" Yaudah terserah, Siap-siap sana sebentar lagi maghrib." Perintah Sang Ibu.
" Ya, Bu!" Jawab Rino.
Setelah Maghrib, Ikhsan dan Hans pulang membawa hasil pancingan memasuki rumah.
Di ruang tamu Rino dan Sang Ibu menonton tv, Sementara Arini belajar di kamar.
" Assalamualaikum.." Hans dan Ikhsan masuk rumah.
" Wa'alaikumsalam.." Jawab Bu Sara dan Rino.
" Motor mana?" Tanya Hans, Tidak melihat motor di samping rumah.
Ikhsan menaruh ikan di kamar mandi untuk segera di bersihkan lalu di olah.
" Di minta kembali oleh Uwak, Kata Uwak di tuker sama mobil Uwak tuh di halaman belakang katanya buat jaga-jaga jika Arin sakit biar bisa cepat di bawa ke klinik!" Jelas Rino.
" Kapan Uwak kesini?" Tanya Hans, Sambil menggulung celana yang kotor di depan pintu.
" Tadi Aku kesana, Membahas kesepakatan niat awalnya." Cerita Rino.
" Terus Kamu cerita, Masalahku?" Tanya Hans, Menatap Rino.
" Uwak nanya, Kapan Kalian nikah ya terpaksa Aku cerita!" Jawab Rino.
" Kamu jujur No, Itu bukan buat Arin kan tapi buat Aku mobilnya?" Ujar Hans, Mulai kesal dengan Rino.
" Ya Uwak nggak terima!" Balas Rino.
" Balikin, Udah terima enggak terima Kita hidup begini saja." Kata Hans, Memararahi Rino.
" Yaudah, Tapi Aku tidak akan pakai mobil itu! Aku lebih baik naik angkot dengan uang hasil jeri payahku dari pada naik mobil bukan dari keringatku!" Ujar Hans kesal, Kemudian menyusul Ikhsan di dalam.
" Ya terserah, Yang penting ini bisa buat jaga-jaga." Ujar Rino melihat Hans melangkah masuk.
" Bener kan No, Balikin saja Kakakmu marah besar itu." Ujar Sang Ibu.
" Tinggal nggak usah di pakai, Dari pada di balikin Uwak malah tersinggung!" Kata Rino.
...****************...
Keesokan Harinya,
__ADS_1
Rino, Hans dan Ikhsan sehabis subuh bersiap jualan.
" Yukk...Berangkat. Ibu masih istirahat." Ucap Rino.
Hans masih terhadap Rino, Ia mengacuhkan Rino hingga mendorong gerobak sendiri.
" Tuh, Masih ngambek!" Kata Ikhsan, Sambil berjalan menggunakan kostum badutnya.
" Biarin aja." Balas Rino.
Mereka berjalan hampir 45 menit, Namun sebelum sampai di pasar Mereka melihat Disa, Dira, dan Kedua Orang Tuanya sedang di kerubuti 8 pemuda.
" Hans, Tuh..!" Ujar Rino, Melihat ke arah Disa.
Disa, Dira dan Orang Tua keluar dan berdiri di samping mobil karena pagi jalanan masih sepi.
Hans menghentikan langkah, Di ikuti Rino dan Ikhsan.
Melihat Orang Tua Disa tersungkur keduanya,Dan Disa yang di tarik oleh beberapa pemuda sedang Dira malah lari.
Hans dan Rino sontak mendekati dan membela Disa dan Orang Tua.
Hans dan Rino berkelahi dengan 8 pemuda, Ikhsan yang selesai melepas kostum berlari ingin membantu keduanya.
Seorang pemuda ingin memukul Disa dengan kayu, Namun Hans menghalangi terkena pelipisnya hingga berdarah.
Hans, Rino dan Ikhsan melawan 8 orang.
" Kalian masuk ke mobil, Kunci mobil dari dalam!" Instruksi Hans kepada Disa.
Disa mengajak kedua Orang Tua masuk mobil dan melaksanakan Instruksi Hans.
Kedua Orang Tua Disa terus memperhatikan, Akhirnya 8 orang itu kabur.
Setelah pemuda itu kabur, Hans langsung meninggalkan Disa tanpa bicara sepatah kata. Disa langsung keluar mobil.
" Hans..." Teriak Disa, Namun di tarik Kedua Orang Tua Disa.
Rino dan Ikhsan yang masih di dekat Disa, Langsung berlari menyusul Hans.
" Kamu kenapa Hans, Langsung pergi?" Tanya Ikhsan.
" Udah, Ayok cepet ke pasar keburu siang." Balas Hans dengan dingin.
Rino pun mebantu Ikhsan membawakan kostum sedang Ikhsan membawa speaker untuk Ia mengamen.
Setelah aman Dira baru berani keluar dan menghampiri Disa dan Orang Tuanya.
" Maaf, Bukan Aku meninggalkan tapi Aku mencari batuan!" Ujar Dira.
" Plak...Plakk " ( Suara tamparan Ayah Disa ke Dira)
Disa pun tercengang melihatnya.
" Aku kecewa, Ternyata benar pilihan putriku. Menyesal Aku memilihmu menjadi pendamping Putriku ternyata kamu pengecut! Andai Nak Hans tidak datang mungkin Putriku akan kenapa-napa!" Bentak Ayah Disa sambil menunjuk-nunjuk Dira.
" Laki-laki pengecut! Untung belum terlalu jauh!" Makian Ibu Disa pada Dira.
" Yukk..Kita jalan Nak, Nggak sudi Aku naik mobil bersama laki pengecut!" Ujar Sang Ayah.
Mereka pun berjalan ke pasar untuk melihat usaha yang Disa punyai yaitu jualan minuman dengan mobil yang di jalankan karyawannya.
Hans, Rino dan Ikhsan tiba di lapak jualan.
" Darahmu menetes terus, Hans. Biar Aku minta perban ke kantor pasar. San titip Hans!" Ujar Rino langsung berlari menuju kantor pengelola pasar.
Hans hanya menunduk dan memegangi lukanya.
" Sakit Hans?" Tanya Ikhsan.
" Enggak San, Hanya nyeri." Jawab Hans sambil bergurau.
Disa dan Kedua Orang Tuanya melihat dari jauh.
" Yukk..Kesana..!" Kata Sag Ayah.
Disa pun kaget, Ia mengikuti kata sang Ayah.
Mereka berdiri di hadapan Hans, Melihat Hans yang duduk sambil menahan sakit. Ikhsan yang mengetahui kedatangan Mereka langsung menyingkir ke samping memberikan tempat untuk mereka.
" Jagoan kok sakit." Tutur Ayah Disa.
Hans pun menatap ketiganya dan hanya diam.
" Maafin kata-kata Kami Nak, Yang pasti sudah melukai hatimu. Sekarang Bapaj lega Disa memang sudah memilih pria yang tepat!" Ujar Ayah Disa, Merestui.
__ADS_1
" Maksud Ayah?" Tanya Disa meminta kejelasan.
" Nak, Udah nggak usah pacaran. Kami mau Kamu jadi menantu kami, Biar Kami yang mengurus semuanya pernikahan kalian." Imbuh Ibuk Disa menyatukan tangan Disa dan Hans.
" Apakah benar, Kalian merestui Kami? Saya hanya pedagang kayak gini loh Bu, Pak!" Balas Hans berdiri, Menunjuk gerobak.
" Yah yang penting halal dan Bisa menjaga Putri kami satu-satunya, Dari pada kaya ketika ada bahaya Putriku malah di tinggal sendirian !" Kata Ayah Disa sembari tersenyum menyindir Dira.
" Terimakasih, Pak!" Ucap Hans langsung memeluk Ayah Disa.
" Jaga putriku ya, Nak." Pesan Ibu Disa.
" Pasti Bu, Masalah pernikahan Saya sudah ada sedikit tabungan bersama Disa jadi Kami bisa kalau hanya pesta kecil." Jelas Hans.
Disa memeluk kedua Orang Tuanya.
Ikhsan pun tersenyum.
Di pojok pasar Dira membuntuti tidak terima di tampar Ayah Disa.
Ia pun ingin membalas, Melihat ada 3 preman sedang menjaga parkir. Dira menghampiri.
" Misi Bang, Aku mau menawarkan uang untuk kalian!" Ujar Dira di depan ke tiga preman.
" Apa yang bisa Kami bantu?" Tanya salah satu preman sekaligus pimpinan.
" Lihat itu, Ini uang untuk kalian asal kalian porak porandakan dagangan dan kalian pukuli yang ada di sana!" Kata Dira sambil memberi segepok uang.
Preman itu pun mengambil uang di tangan Dira.
" Oh itu, Anak Almarhum Pak Romi yang bernama Hans dan Rino. Itu lapak mereka!" Ujar Kepala Preman.
" Yah Aku tidak peduli siapa mereka, Pokoknya berikan pelajaran!" Balas Dira.
Ketiga preman saling lirik, Kemudian Mereka memukuli Dira.
" Aduh.....h....h...Kenapa Kalian pukuli Saya, Saya minta Mereka yang Kalian pukuli!" Teriak Dira kesakitan.
" Mana mungkin Kami pukuli saudara Kami sendiri, Keluarga Pak Romi terkenal sangat baik terutama pada Kami. Habis Kau ingin mencelakai mereka.." Kata Pimpinan Preman sambil terus memukuli Dira.
Rino yang melihat Dira di pukuli pun menghampiri.
" Bang, Itu kenapa di pukuli?" Tanya Rino membawa perban.
" Nih Orang bayar Kami, Buat ngacak-ngacak dan Mukulin kalian Bro. Jadi ya Kami cuma nurutin perintahnya!" Ucap Anak Buah Preman.
" Oh..Yaudah lanjut...!" Balas Rino sambil cengengesan melihat Dira kesakitan.
" Ok!" Jawab Kepala Preman.
Rino melihat Hans akrab dengan Orang Tua Disa segera Ia mendekati.
" Wuih...Akur nih!" Ujar Rino.
" Kenalin Pak, Ini Adik Saya Rino dan Itu Ikhsan teman Kami yang seperti keluarga sendiri juga teman Disa." Tutur Hans memperkenalkan Rino.
Rino pun menyalami kedua Orang Tua Disa.
Ikhsan berdiri mengikuti Rino.
" Oh iya, Itu laki-laki yang dekat dengan kalian tadi pagi lagi di pukulin Bang Jem tuh( Nama Kepala Preman) Katanya mau bayar Bang Jem suruh ngacak-ngacak lapak Kita dan Mukulin Kita." Cerita Rino menunjuk pojok Pasar.
" Apa, Biar Aku kesana." Sahut Ikhsan kesal.
" Udah Bonyok, Tenang di beresin Bang Jem!" Ujar Rino sambil ketawa.
" Bagaimana ceritanya preman Ia yang bayar, Tapi justru Ia yang di pukuli?" Tanya Ayah Disa.
" Yah begitulah Pak, Kami Pedagang kecil hanya bisa mengandalka rasa persaudaraan sesama pedagang, Juru parkir atau pun preman Pasar bagi kami sudah seperti keluarga. Jika ada yang ingin di sakiti, Ya semua maju." Jelas Hans, Sambil tersenyum.
" Oh..Begitu." Balas Ayah Disa.
" Disa, Kamu obatin Hans. Biar Ibu sama Ayah keliling dulu pasar mau lihat-lihat. Nak Rino, Bisa temani Kami?" Kata Sang Ibu.
" Boleh, Nih Kak." Kata Rino menggoda Disa, Memberikan perban dan obat merah.
" Mari Pak, Buk..!" Ajak Rino, Kepada Orang Tua Disa.
" Kami tinggal, Jaga Putri Bapak ya Nak!" Pesan Ayah Disa.
" Pasti, Pak!" Jawab Hans sambil tersenyum.
" Ya udah ngamen, Ah...Takut ganggu." Ujar Ikhsan bersiap mengamen dengan kostum badut.
Tinggalah Hans dan Disa sendiri.
__ADS_1
" Sakit?" Tanya Disa
" Ya sakitlah, Kayu! Tapi enggak apa-apa kalau imbalannya bisa nikahin Kamu." Ucap Hans sambil cengengesan.