
Sepulang dari mancari Kost'an,
Arini sangat senang karena menemukan kost yang cocok untuknya, Hingga di dalam mobil Ia terus tersenyum.
" Kenapa, Mbak?" Tanya Rizal yang melihat Arini dari spion tersenyum
Sontak Dona menoleh ke arah Arini " Seneng ya, Sudah dapet kost'an." Ujar Dona.
Arini mengangguk, Sambil memandang Laptop.
" Jangan seneng dulu Mbak, Ijin dari Ibumu belum kita dapati." Sahut Rizal.
" Ya, Nanti Kita bantu Kak." Balas Dona.
Mereka lalu fokus ke jalan menuju rumah, Arini mendengar Dona ingin membantunya merayu Ibunya agar dapat ijin membuat Arini sangat senang dan antusias.
" Zal, Sudah kabari kalau Arin di terima?" Tanya Arini.
" Belum Mbak, Aku punya ide untuk membuat kejutan untuk semuanya." Jawab Rizal.
" Nah, Baik Zal. Arin setuju!" Tutur Arini.
Lalu semua pun sepakat, Memberi kejutan ke semuanya.
...****************...
Sampailah di rumah, Rizal memarkirkan mobil di samping Rumah Arin.
Semua turun dengan wajah yang kusam seolah Arini tidak di terima.
Bu Sara mendengar suara mobil datang langsung berlari menyambut Arini di ikuti Bulik Yanti dan Om Sono.
Melihat ketiganya dengan berjalan lunglai dan wajah kusam, Bu Sara langsung memeluk Arini.
" Sudah Nak, Jangan bersedih besok cari Sekolah yang lebih bagus lagi." Ujar Bu Sara menghibur Arini.
Bulik Yanti juga langsung ikut mendekap Arini, Karena ingin menghibur agar Arini tidak kecewa dan putus asa.
" Om boleh lihat hasilnya?" Tutur Om Sono.
" Yah, Hasil Arin akan membuatnya sedih." Kata Dona berusaha membuat seolah-olah Arini sangat kecewa.
" Enggak apa-apa Rin, Om pasti akan mencarikan sekolah yang lain buatmu! Jangan menyerah terus berusaha." Kata Om Sono menyemangati Arini.
__ADS_1
Lalu Rizal datang memberikan kertas pengumuman ke Bu Sara.
" Budhe, Ini hasil ujian! Silahkan di baca." Tandas Rizal dengan Wajah kusam.
Bu Sara, Bulik Yanti dan Om Sono yang penasaran membuka hasil ujian Arini.
" Kalian, Mengerjai Orang Tua?" Ujar Bulik Yanti Ibu dari Dona dan Rizal dengan suara keras.
" Hahahhaha....Iya Bu, Ini suprise dari Kami!" Balas Dona.
Bulik Yanti langsung memeluk Dona dan Rizal, Yang telah membantu Arini agar di terima.
" Om bangga Rin, Di Sekolah Dona tidak di terima tapi di Sekolah ini Arin bisa nunjukin bahwa Arin semangat agar cita-cita Arin bersekolah di kota Ayah Arin tercapa. Pasti Ayahmu senang Rin, Disana." Tutur Om Sono.
" Tapi ada yang ingin Kami diskusikan dahulu, Ayo Kita masuk." Ajak Rizal.
Bu Sara, Bu Yanti dan Om Sono mengikuti ketiganya dengan rasa penasaran apa yang ingin di diskusikan anak-anak.
Setelah semua duduk di ruang tamu, Rizal selaku yang paling tua pun mengawali diskusi.
" Budhe, Buk, Dan Ayah mungkin ini akan membuat kalian terkejut atas rencana Mbak Arin yang sudah Kami sepakati dan Kami dukung." Ujar Rizal mengawali pembicaraan.
" Maksud'mu, Apa Nak?" Tanya Bu Sara.
Duduk saling berhadapan anak-anak dan Orang tua.
" Apa tidak sebaiknya jangan Rin, Lebih baik Om yang nganter jemput saja!" Sahut Om Sono yang khawatir dengan kondisi kesehatan Arini.
Dona hanya diam menyimak pembicaraan terlebih dahulu sebelum mengutarakan alasan untuk membantu Arini.
" Iya Nduk, Udah di anter dulu saja!" Imbuh Bu Sara.
" Tapi Budhe dan Ayah, Mbak Arin jika ngekost akan lebih enak, Terus enggak capek pulang perginya. Kondisi Mbak Arin pasti stabil." Sahut Rizal.
Bu Yanti melirik ke Rizal " Tapi Zal, Kami selaku orang tua khawatir dengan kondisi Mbakmu." Balas Bu Yanti.
" Pahamlah Kamu, Zal." Imbuh Bu Sara.
Rizal pun langsung terdiam, Dona melihat wajah Arini yang berubah musam.
" Beginikah Kalian memperlakukan anak yang memiliki kekurangan? Apakah Kami tidak boleh mandiri, Aku yakin Kak Arin bisa mandiri dan akan lebih bertanggung jawab dengan kesehatannya. Enggak usah khawatir, Kalian bisa jenguk toh cuman dua jam dari sini! Kalau Kak Arin harus berangkat pagi buta dan datang selalu sore atau petang, Bukankah lebih kasihan istirahatnya kurang dan belajarnya terbengkalai karena rasa lelahnya!" Ujar Dona yang langsung mengambil kesempatan mengutarakan alasan mendukung Arini.
Rizal dan Arini pun melihat ke arah Dona.
__ADS_1
" Bukan, Kan Arin bisa istirahat di dalam mobil!" Balas Sang Ayah, Ingin membantahkan alasan Dona.
" Oh, Istirahat di mobil emang bagi Kami anak yang mengejar prestasi dan sungguh-sungguh ingin menggapai cita-cita itu mudah? Enggak yah, Jarakku ke sekolah hanya 30 menit saja Aku keteteran saat belajar apalagi yang 2 jam. Yakin bisa jamin Kak Arin tidak telat dengan lalu lintas padat setiap pagi?" Balas Dona.
Ketiga Orang Tua pun saling memandang, Rizal tersenyum karena soal berdebat Dona pasti selalu menang dengan kata-kata logis yang Ia berikan.
" Tapi Nak, Bukan begitu. Apakah Arin bisa menjaga diri, Soalnya Budhe sering kecolongan sewaktu masih SMP." Jelas Bu Sara.
Dona melihat ke arah Arini " Apakah dulu Arin sedewasa ini, Budhe?" Tanya Dona.
" Maksudnya gimana, Nak?" Tanya Bu Sara yang tidak paham maksud Dona.
" Iya Budhe, Semakin dewasa Kak Arin. Soalnya Aku sewaktu mengajarinya untuk masuk ke Sekolahku kini Ia mulai mengerti arti tanggung jawab dan berjuang, Jika Aku tidak yakin maka Aku tidak akan mendukung Kak Arin buat ngekost." Jelas Dona, Memberi alasan yang tepat.
Bu Yanti menghela nafas bersama Om Sono, Karena Mereka tahu jika sudah Dona yang berdiskusi maka segala alasan Dona akan logis dan tak terbatahkan karena itulah Ia di sebut anak yang Cerdas.
Semua mata orang tua melihat ke Arini, Wajah Arini tegang khawatir jika Ia tidak di berikan ijin.
" Baik, Kita buat kesepakatan! Jika Kak Arin tidak bisa menjaga kesehatan selama 1 bulan maka ijin kostnya di cabut, Bagaimana?" Ujar Dona.
" Kak Arin, Bersediakan?" Tanya Dona, Menatap Arini.
" Iya, Arin mau." Balas Arini sambil mengangguk.
" Mbak, Sudah berikan kesempatan Arin." Ujar Bu Yanti lalu membela Arini.
Bu Sara menatap Arini sangat lama, Karena rasa Khawatir yang menaunginya.
" Sudah Budhe, Izal janji akan pantau Mbak Arin di kost! Jika ada apa-apa, Izal akan segera kabari Budhe." Ujar Rizal.
" Apa Kalian sudah mencari tempatnya?" Tanya Bu Sara.
" Sudah, Budhe." Sahut Dona,
" Tempatnya pasti Budhe suka, Jika masih ragu besok Kita kesana biar Kalian tidak khawatir. Nanti akan ada Kakek dan Nenek yang menjaga Arin!" Imbuh Dona.
Ketiga Orang Tua, Saling memandang bergantian.
" Baiklah, Gitu aja Mbak! Kita lihat dulu tempatnya, Jika memang mendukung ya Kita sebagai Orang Tua ikuti kemauan anak-anak agar Anak lebih maju." Sahut Om Sono.
" Ya, Begitu saja! Rin. Ibu, Bulik dan Om Sono akan kesana dulu! Jika nanti cocok, Pasti Kami berikan ijin." Kata Bu Sara.
Arini pun senang, Langsung bangkit dari duduk mendekap Sang Ibu.
__ADS_1
" Tuh Rin, Kamu contoh adikmu Dona! Jika sudah berdebat ya harus memberikan alasan logis, Yang membuat lawan diskusinya sulit memberi batahan." Tutur Om Sono sambil tersenyum.
Bu Sara pun tersenyum kepada Rizal dan Dona, Karena telah membimbing Arini hingga Ia di terima di Sekolah Favorite.