
Saat makan di rumah Bu Keisya,
" Nduk..Nduk...Ibumu manggil!" Teriak Ibu Disa, Memanggil Bu Keisya yang sedang ada di dapur bersama Rino.
Bu Keisya dan Rino pun langsung bergegas menuju kamar Sang Ibu dari Bu Keisya.
Sang Ibu menunjuk kursi rodanya,
" Tolong bawa Ibu kesitu, Nak." Tutur pelan Sang Ibu.
Keisya pun langsung mengambil kursi roda, Sepertinya sang Ibu ingin mengajak jalan-jalan kedua Orang Tua Disa untuk melihat-lihat rumahnya.
Keisya ingin mengangkat Sang Ibu untuk di taruh di kursi roda, Melihat hal itu Rino merasa kasihan.
" Biar Aku, Saja." Kata Rino.
" Bu, Ijin Saya Rino temen Keisya untuk mengangkat Ibu ke kursi roda." Imbuh Rino meminta ijin kepada Ibu dari Keisya.
Ibu dari Keisya pun mengangguk, Langsung Rino mengangkat badan Ibu dari Bu Keisya.
Keisya melihat, Rino mengangkat penuh kelembutan tanpa ada rasa jijik seperti cowok-cowok yang sebelum-sebelumnya.
" Kuat Kamu, No." pujian dari Ayah Disa.
" Ah..Biasa Pak." Balas Rino tersenyum.
Ibunda dari Bu Keisya menunjuk dorongan di belakangnya, Memberi isyarat kalo suruh mendorong.
Rino yang langsung memahami kode, Segera memegang dorongan.
" Yuk..Bu..Mau kemana, Biar Rino anter." Kata Rino.
" Maaf, Ya Nak! Ibu menyusahkan." Tutur Ibunda Keisya terbata-bata dan lirih.
" Enggak kok, Justru Rino seneng bisa ngebantu Buk." Balas Rino.
Ibundak Keisya menunjuk arah, Di ikuti Kedua Orang Tua Disa dan Keisya. Mereka menuju taman kecil di depan rumah Keisya yang ada saung untuk santai.
Setibanya di depan rumah, Ibunda Keisya mengajak ngobrol Kedua Orang Tua Disa di saung.
Namun baru mereka sadari, Ada air yang menetes di bawah kursi roda Ibunda Keisya.
" Ibu buang air kecil?" Tanya Keisya, Takut kalo Rino merasa jijik.
" Biar enggak apa-apa, Aku yang ngepel aja. Sya tolong ganti'in baju Ibumu ya." Ucap Rino sambil tersenyum. tanpa merasa jijik.
Kedua Orang Tua Disa pun tersenyum melihat tindakan Rino sekaligus bangga.
" Biar Aku saja, Nanti Aku yang ngepel Mas." Kata Keisya merasa tidak enak.
" Udah apa'an sih, Gini aja." Sahut Rino, Langsung mengambil pel yang ada di dapur.
Rino mengepel lantai, Di lihat Kedua Orang Tua Disa.
" Keren Kamu, No. Andai Putri Ayah ada dua mungkin yang satu Ayah restui untukmu." Ujar Ayah Disa melihat Rino.
__ADS_1
" Hehehe...Enggak seberapa Pak, Gini aja ." Tutur Rino.
" Memang Ayah dan Ibumu, Berhasil mendidik putra-putranya menjadi orang yang baik." Ibunda Disa memuji Rino.
Keisya membawa sang Ibu kembali berkumpul bersama Orang Tua Disa dan Rino di depan.
Ibunda Keisya memberi isyarat untuk mengeluarkan makanan.
" Oh..Siap Buk, Biar Saya ambilkan!" Sahut Rino bergegas kedapur.
" Saya bantuin Mas." Ucap Bu Keisya.
" Udah kamu di situ aja, Temani ngobrol Ibumu dan Orang Tua Disa." Balas Rino sembari melangkah ke ruang dapur.
" Rino beda sama cowok-cowok yang lain, Biasanya kalo begitu sudah kesel tapi itu anak malah sambil tersenyum. Memang hebat itu anak." Ujar Ayah Disa.
" Kami sempet kemarin menolak lamaran Kakaknya memilih yang lebih kaya, Eh ternyata Buk tadi pagi waktu Kami mau berangkat ke pasar di keroyok anak muda Dia lari ninggalin Kami, Malah Kakak Rino dan Rino yang nolongin. Ya jadi kami mikir Buk, Kalo harta bisa di cari tapi jaminan Putri Saya bisa di jagain dan bikin kita ayem ya ternyata ukurannya emang cinta." Cerita Ibu Disa, Memandang Ibunda Keisya.
" Terserah Keisya, Saya percaya pilihan Putri Saya. Saya tidak memandang harta." Balas Ibunda Keisya lirih, Mengelus tangan Putrinya.
Keisya terus melihat ke arah dalam rumah.
" Udah di kabarin Buk, Disa?" Tanya Ayah Disa.
" Udah, Ini katanya mereka mau kesini!" Jawab Ibu Disa.
" Apa Om? Disa dan yang lain mau kesini" Ujar Keisya kaget.
" Iya, Mereka selesai jualan. Tadi chat tanya Kita di mana, Ya Saya sharelok, Boleh kan Nduk?" Tutur Ibu Disa.
" Boleh..Boleh Buk..Malah seneng bisa ramai ini rumah." Jawab Bu Keisya.
" Mas, Nanti Kakak Mas dan Disa mau kesini!" Kata Keisya memberi tahu.
Langkah kaki Rino pun terhenti.
" Memang Mereka tahu rumahmu?" Tanya Rino berbalik menatap Keisya.
" Aku yang kasih tahu, Nak." Sahut Ibunda Disa.
" Owh...Ya enggak apa-apa malah ramai." Ucap Rino, Kemudian melanjutkan langkahnya.
" Tok...Tok..." ( Ketukan pintu)
" Assalamualaikum..." Suara Disa di depan pagar.
" Wa'alaikumsalam..." Balas Keisya, Melangkah untuk membuka pagar.
Setelah pagar di buka, Hans, Disa, Dira dan Ikhsan pun masuk.
" Loh Kamu, Berani beraninya masih di sini!" Teriak Ayah Disa kesal melihat sosok Dira.
" Ampun Om...Saya khilaf." Dira meminta maaf langsung bersimpuh di kaki Kedua Orang Tua Disa.
" Udah yah, Itu yang ngajak Mas Hans. Kasian katanya." Ucap Disa berdiri di samping Bu Keisya di belakang kursi roda Ibunda dari Keisya.
__ADS_1
" Emang penyesalan tuh datang belakangan, Makanya kalo mau apa-apa mikir dulu konsekuensinya!" Ujar Ayah Disa masih marah.
" Maafin aja Om, Soalnya percuma juga dendam toh Dira udah dapet hukumannya. Udah biarkan jadi pelajaran hidup." Tutur Hans, Menenangkan Ayah Disa.
" Kamu itu loh Nak, Kemarin di hina sekarang dengan mudahnya maafin orang! Mana tadi Ini anak mau nyelakain Kalian." Imbuh Ibu Disa, Memarahi Dira.
" Iya nih Bu, Tahu keluarga Mereka itu hatinya terbuat dari apa. Tiap ada yang jahat, Eh dengan mudahnya di maafin." Sahut Ikhsan.
" Udah jangan provokasi, Yang udah ya udah gitu loh San." Ujar Rino, Keluar dari dalam rumah.
" Oh iya Mas, Gerobak jualannya di mana?" Tanya Keisya.
" Tuh di samping rumahmu!" Sahut Disa.
" Masukin garasi aja, Sini mas." Kata Keisya.
" Biar ajah, Takut nanti keramik rumahmu pecah kalo di masukin garasi." Tolak Hans.
" Udah enggak apa-apa, Atau mau Aku bawa ke sini?" Ujar Keisya.
" Biar Ikhsan aja yang ambil, San tolong!" Sahut Rino setelah menaruh nasi di saung.
" Okeh!" Kata Ikhsan menaruh alat ngamen, Kemudian keluar mengambil gerobak.
" Ini Buk yang sering Keisya ceritakan, Adik Mereka yang sakit tapi masih berprestasi di tingakat kota." Ucap Keisya, Memberitahu sang Ibu.
" Owh..Mereka.." Balas Ibunda Keisya sambil tersenyum.
" Emang Adik kalian sakit apa, Nak?" Tanya Ibunda Disa.
" Ada sakit di ginjal, Nanti Aku ceritakan di rumah." Sahut Disa.
" Yah, Walau sakit Dia tetap juara sekolah. Hanya saja dulu olah raga sekarang berprestasi di mata pelajaran. Pokoknya Arin is the best lah, Salut pantang menyerah." Cerita Bu Keisya.
" Ya percaya, Orang kedua Kakaknya aja begini pasti Adiknya berhasil. Didikan Orang Tuamu Nak luar biasa bikin iri Bapak." Tutur Ayah Disa.
" Yah dari tadi muji terus, Om. Udah biasa kok Om, Kami hanya menjalankan apa yang kami anggap benar aja asal enggak ngerugiin orang!" Sahut Rino.
" Oh ya, Nanti habis ini kita pulang terus lihat-lihat Ruko. Akan Aku belikan buat kalian usaha." Ucap Dira.
" Enggak usah, Biar begini aja lebih sehat." Kata Hans menolak bantuan Dira.
" Udah Aku tebak pasti di tolak, Udah gini kalian mau apa bisa bilang sebagai tanda permintaan maaf." Ujar Dira.
" Tenang Mas Bro, Besok kalo kepikir aja ya!" Sahut Rino sambil cengengesan.
Ikhsan memasukkan gerobak ke garasi samping tempat mereka mebgobrol.
Tiba-tiba Ibunda Keisya meminta tangan Rino, Lantas di satukan dengan tangan Keisya.
Semua pun sontak terkejut dan kaget.
" Jaga Putriku ya, Mas." Tutur Ibunda Keisya.
Rino dan Keisya saling menatap dan tersipuh malu.
__ADS_1
" Ya, Budhe. Rino akan jaga Keisya." Balas Rino dengan nada mantap.
" Ya udah, Ayo di makan." Kata Ibunda Keisya mempersilahkan, Setelah merestui Keisya dan Rino.