Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Untuk Sahabatku Arini


__ADS_3

Ketika perlombaan lari,


Hera melihat dimana Arini duduk mendukung, Seolah ingin menepati janji Ia memberi tanda jempol ke Arini.


Sebelum memulai perlombaan Ia berdoa, Lalu melihat ke arah kedua sepatu yang di berikan Arini.


" Lihat Rin, Aku akan tepati janjiku!" Gumam Hera bersiap-siap lomba.


Sementara di tribune, Disa menggoda Hans.


" Yang, Ini seperti saat awal kita ketemu ya?" Goda Disa di samping Hans.


" Kamu emang atlet Hans?" Tanya Bu Keisya.


" Hans atlet? Paling dulu kisah nganter Arin! Sewaktu Arin SD kan, Sa!"Sahut Rino,Yang duduk di depan Hans sebelah kiri Bu Keisya.


" Yang pentingkan punya Pacar, Enggak Kayak belakangku ( Ikhsan) sama Depanku sama aja jomblo." Sindir Hans.


" Aku diem aja, Masih kena sikat!" Sahut Ikhsan.


Arini fokus ke pertandingan Hera, Tak menggubris obrolan yang ada di belakangnya.


"HERA....HERA....SEMANGAT....!" Teriak Arini.


" Pasti Hera juara, Rin. Karena di sini ada sahabat yang tulus mendukung sahabatnya." Ujar Bu Keisya.


" Andai Arin nggak sakit ya Bu, Pasti Arin bisa bersaing dengan Hera sekarang. Tapi mau gimana lagi, Arin juga harus tetap semangat meski bukan dengan kaki Arin, Arin akan juara dengan Berfikir seperti janji Arin pada Ayah." Balas Arini kecil.


Semua sontak terdiam, Mendengar ucapan Arini. Mereka semua menyayangi Arini dan paham perasaan Arini sekarang karena bisa memenangkan lomba lari adalah salah satu cita-citanya.


" Arin juga harus semangat, Mungkin sekarang belum tapi ketika Arin sembuh mungkin Arin akan bisa mengikuti kompetisi lari! Tetap semangat." Sahut Disa di belakang Bu Keisya memotivasi Arini kecil.


" Pasti Kak, Pasti Arin akan berlatih agar bisa berlari cepat." Jawab Arini kecil dengan semangat.


" Nanti jika Arin yang tanding, Kak Ikhsan janji pakai kostum buat menyemangati Arin!" Ujar Ikhsan.


Di dalam lapangan, Hera selalu memenangkan pertandingan hingga tinggal babak terakhir penentuan juara.


Wajah Hera di penuhi keringat yang mengucur karena saking lelahnya bertanding, Hera berdiri terus menatap ke arah Arini yang bersorak.


" Enggak, Ini belum waktunya menyerah. Disana masih ada seorang sahabat yang harus ku berikan piala untuknya, Ayo Her...Semangat!" Gumam Hera memotivasi dirinya sendiri.


Pak Isman menghampiri Hera yang kelihatan sudah capek, Hingga nafasnya ngos-ngosan dan wajah di penuhi keringat.


" Apa kamu capek, Her?" Tanya Pak Isman.


" Belum Pak, Saya belum capek." Jawab Hera masih memandang ke arah Arini.

__ADS_1


" Yah, Tentu kamu nggak capek, Bukan di sini orang yang ingin kamu kalahkan tapi Dia yang di sanakan? Kamu ingin membuktikan padanya bahwa Kamu pantas untuk di sini dan menggantikannya! Jangan buat Ia kecewa, Her." Kata Pak Isman, Sambil tersenyum.


" Andai Dia tidak sakit, Mungkin Saya akan lebih menikmati persaingan ini. Tapi Saya udah janji untuk menang akan saya ganti sepatu pemberiannya dengan tropi kemenangan, Pak!" Tutur Hera.


" Baik, Bapak percaya padamu dan Sahabatmu itu juga sudah percaya padamu!" Pak Isman terus memotivasi Hera.


" Ingat jika kamu menang, Bayangkan Ia turun dan memelukmu dan mengakui kehebatanmu." Imbuh Pak Isman.


" Ya Pak, Saya pasti juara." Kata Hera di penuhi ambisi kemenangan.


Waktunya Hera bertanding kembali,


" Hera...Hera...Hera..Kamu pasti menang!" Teriak Arini keras menyemangati Hera.


" Dia pasti menang Rin, Karena Sahabatmu Hera sudah tahu tujuan menangnya." Ujar Bu Keisya.


" Maksudnya, Gimana tuh?" Tanya Rino.


" Ia, Itu anak bukan ingin menang mengalahkan peserta lain. Tapi Hera sebenarnya ingin mengalahkanmu Arin, Makanya Arin harus semangat sembuh agar bisa bertanding dengan Hera." Jelas Bu Keisya.


" Jadi Hera ingin ngalahin Arin, Bu?" Tutur Arini.


" Ya, Target Hera adalah mengalahkan kamu Rin. Makannya Kamu jangan mengecewakan sahabatmu ya, Jika sudah sembuh kalian bisa bertanding biar Hera puas." Terang Bu Keisya.


" Emang kenapa harus, Arin?" Tanya Disa bingung.


" Suatu saat pasti Arin, Kalah'in Hera. Bu! Jika nanti Arin sembuh Arin langsung akan giat berlatih." Ucap Arini, Sambil melihat Hera yang bertanding.


" Sebenarnya kemarin siswa yang paling terpukul ketika mendengar Arin sakit ya Hera itu, Seolah Ia kehilangan rival bertanding dan semangat berjuang. Tapi sekarang saat Mereka sudah bersahabat malah saling menjadi suportsystem satu sama lain, Hebat memang Murid-muridku!" Tutur Bu Keisya melihat pertandingan.


" Arin, Kamu harus sembuh Kami Kakak-Kakakmu akan melihatmu berlomba! Inget, Jika nanti Arin sembuh akan Kak Hans belikan sepatu lari yang mahal agar Arin bisa berlari cepat dan nyaman di kaki Arin!" Kata Hans ikut Memotivasi sang Adik.


Hera pun menjadi juara Satu, Dari lapangan Hera menunjuk ke arah tribun Arini untuk memberi isyarat agar Arini turun untuk menunggu piala di berikan kepadanya.


" Tuh, Hera memberi tanda Kita turun ya Rin. Biar Kakak-Kakakmu menunggu di sini!" Kata Bu Keisya bangkit dari duduk ingin membawa Arini turun ke lapangan.


Setelah berada di lapangan, Arini berlari untuk menghampiri sahabatnya begitu pula sahabatnya Hera.


" Selamat Her, Akhirnya Kamu menjadi juara!" Ujar Arini memegang kedua tangan Hera sambil lompat-lompat kegirangan.


" Iya Piala nanti untuk Kamu, Rin!" Ujar Hera.


" Aku sudah menepati janjiku menang, Tinggal besok Kamu yang menepati janji untuk menang di lombamu!" Ujar Hera kegirangan.


" Hey, Hera kamu kesana dulu ambil pialamu!" Perintah Bu Keisya menunjuk podium yang ada di panggung yang sudah di siapkan panitia.


" Iya, Bu." Kata Hera menyalami Bu Keisya lalu berlari ke arah panggung yang ada di pinggir lapangan.

__ADS_1


" Pak." Sapa Arini, Ketika Pak Isman datang mendekat kemudian bersalaman tidak lupa mencium tangan.


" Sahabatmu menang, Rin. Berkat kamu datang ke sini!" Ujar Pak Isman.


" Besok tolong ya, Kamu juga harus menang demi Hera dan sahabat-sahabatnya." Imbuh Pak Isman.


" Doain ya, Pak." Balas Arini.


Entah dari mana tiba-tiba Dina datang menghampiri ketiganya.


" Pak, Bu..Arin...!" Sapa Dina langsung memeluk Arini masih dengan seragam beladiri.


Kemudian Dina mencium tangan Bu Keisya dan Pak Isman.


" Gimana hasil pertandingan, Mu?" Tanya Pak Isman.


" Hehhehe....Nanti Arin temenin Aku naik panggung ya!" Jawab Dina sambil cengengesan.


" Jadi Kamu juara, Din?" Ujar Arini kaget.


" Ya begitulah, Demi sahabatku satu ini ya harus juara." Balas Dina dengan gaya konyolnya.


" Tuh Rin, Teman-teman Kamu bertanding motivasinya adalah mempersembahkan piala untukmu. Besok giliran Kamu, Persembahkan pialamu untuk Mereka semua." Tutur Bu Keisya.


" Pasti Buk, Besok pasti Arin akan juara. Untuk itu Arin akan berdoa dan giat belajar Bu." Balas Arini penuh semangat.


Hera dan Dina menunggu di bawah panggung untuk naik menerima piala.


Arini, Bu Keisya, Dan Pak Isman ada di belakang Mereka.


" Ini tinggal Nayla dan Tari, Semoga Mereka berdua juga juara." Ujar Arini.


" Habis ini, Kita lihat Mereka. Kamu semangatin ya Rin!" Kata Hera.


" Siap, Kita semangatin." Balas Arini.


Bu Keisya dan Pak Isman sangat senang melihat anak-anak didiknya mengharumkan nama sekolah.


Di atas tribun justru Rino yang sedih,


" Apakah Arin baik-baik saja ya menyaksikan ini? Dia yang punya tujuan ini justru kini hanya jadi penonton." Ujar Rino.


" Adik Kita tak selemah itu, Pastilah sekarang Ia lebih bersemangat karena sahabat-sahabatnya sudah memotivasinya." Balas Hans.


" Bener tuh No, Kakakmu Arin pasti lebih menggebu-gebu." Imbuh Disa.


" Kita dukung aja No, Nggak usah mematahkan semangat Arin!" Ikhsan menasehati.

__ADS_1


__ADS_2