
Sore hari sehabis Isy'a,
Arini di nyatakan boleh pulang, Rino bergegas menemui bagian administrasi Rumah Sakit sedang Hans, Disa, Ikhsan dan Bu Keisya menunggu di kamar rawat Arini.
" Dik, Kamu sudah boleh pulang inget pesan kak Disa ya!" Tutur Disa sambil mendekap Arini.
" Iya Kak, Arin janji." Balas Arini sambil menatap Disa.
" Kenapa Bu Keisya masih di sini? Tidak pulang tadi sama yang lain?" Tanya Arini melihat Bu Keisya berdiri di sampingnya.
" Kalo Ibu pulang, Nanti Ibu'mu curiga Rin! Kan motor Bu Guru di titipin di rumahmu." Jawab Bu Keisya.
" Oh...Iya ya, Bu. Nanti Ibu pasti nanya-nanya ya." Tutur Arini.
" Yaudah, Yuk siap-siap biar piala di bawa Kak Ikhsan." Perintah Hans.
" Kak, Tolong bawain piala-piala teman Arin ya! Maaf Arin ngerepotin." Ucap Arini meminta bantuan.
" Iya Sayang Kakak, Tenang! Tapi dari pagi kita kan belum makan, Nanti mampir makan dulu ya bakso gitu!" Balas Ikhsan,Sambil tersenyum.
" Ya boleh tuh ramai-ramai, Nanti sampai rumah Arin tinggal minum obat! Tapi besok Arin boleh masuk apa harus absen ya?" Tutur Disa, Setuju Ide Ikhsan.
" Kalau belum kuat, Istirahat dulu aja nggak apa-apa." Sahut Bu Keisya.
" Enggak Kak, Arin kuat kok. Besok Arin mau masuk sekolah kan hari sabtu jadi minggu Arin bisa istirahat." Ujar Arini.
Rino pun kembali dari administrasi langsung masuk bersama Perawat untuk mencabut infus Arini.
" Minggir semua, Ibu perawat mau melepas infus!" Kata Rino memasuki ruangan Arini.
Perawat pun melepas infus di tangan kanan Arini.
" Sudah ya Dek, Jaga kesehatan!" Tutur Ibu Perawat.
" Terimakasih, Bu." Balas Arini.
" Tetimakasih, Bu Perawat." Ujar Semuanya.
Ibu Perawat pun langsung meninggalkan ruangan untuk mengurus pasien yang lain.
" Sini, Kakak Rino gendong!" Kata Rino sambil membungkukkan badannya di samping ranjang Arini.
Arini pun di gendong Rino, Semua pun meninggalkan ruangan.
Sampailah di depan Rumah Sakit, Mereka berdiri di tepi jalan untuk menghadang angkot yang lewat.
" Enggak usah nyari kelamaan, Tuh kita sewa aja! Biar Aku yang bayar!" Ujar Disa, Menunjuk Angkot yang ngetem.
" Katanya mau ngebakso dulu?" Tutur Ikhsan, Sambil membawa piala-piala.
__ADS_1
" Natilah, Di deket rumah aja! Yang penting sampai di rumah dulu San. Tahan bentar!" Balas Rino, Khawatir dengan Arini.
" Iya, Mending begitu Mas. Jadi Sehabis makan Arin bisa langsung istirahat!" Imbuh Bu Keisya.
" Ya uda yukk, Kita carter aja tuh angkot!" Imbuh Disa, Sambil segera mengajak melangkah menuju angkot yang tidak jauh dari tempat mereka.
Mereka pun menyewa angkot lantas menuju pulang ke rumah.
" Kamu nggak ngerasain apa-apa, Kan Rin?" Tanya Hans.
" Enggak Kak, Arin baik-baik aja." Jawab Arini duduk di sebelah Rino di hapit Bu Keisya.
" Kamu kenapa San, Mukamu lama-lama pucat?" Tanya Rino, Melihat wajah Ikhsan semakin pucat melihat ke luar angkot.
" Namanya belum makan, Ini udah pertahanan diri versi maksimal. Dari pagi cuman ngopi, Ini terasa sekarang senut-senut." Jelas Ikhsan.
" Tapi masih kuat kan San, Nggak harus Aku bopong kamu kan!" Gurau Hans.
" Sabar ya Mas, Sebentar lagi sampai." Sahut Bu Keisya.
" Yang sakit Adikku, Kenapa yang di perhatikan yang laper. Tenang San baru berapa jam nggak mungkin kenapa-napa, Udah senderin aja tuh kepala atau kalau pengen kenyang buka mulut biar makan angin!" Gurau Disa lalu tertawa.
Arini kecil pun tertawa melihat dan mendengar gurauan Kakaknya.
" Lihat tuh Rin, Itu efek kalo Kamu telat makan kayak Kak Ikhsan!" Tutur Disa, Menertawakan Ikhsan.
" Apa ini, Ini rasa jahe? Kamu ingin lambungku semriwing di kala laper? Duh, Punya temen gini amat ya!" Kata Ikhsan memelas.
Angkot pun berhenti di tujuan. Segera Ikhsa berlari menuju warung bakso di pinggir jalan tidak menunggu teman-temannya karena sangat kelaparan.
" Itu Bocah, Ternyata tidak tahan lapar!" Ujar Hans melihat Ikhsan berlari.
" Yah biarin, Emang semua sebenarnya juga laperkan." Ucap Disa.
" Berapa Pak?" Tanya Disa.
" Udah, Aku aja." Sahut Hans, Mengeluarkan dompet.
" 75 ribu." Kata Sopir.
Hans pun langsung membayar kepada sopir.
" Yaudah, Biar nanti bakso Aku yang bayar." Kata Disa.
Mereka pun menyusul Ikhsan masuk ke warung bakso dengan Arini masih di gendong Rino.
" Capk nggak, No? Aku ganti'in?" Tanya Hans.
" Iya Kak, Kalo capek Arin turun aja jalan sendiri!" Imbuh Arini.
__ADS_1
" Enggak, Kamu itu ringan makannya banyak makan dan istirahat Rin biar bobotmu tambah berat." Pungkas Rino sambil tertawa.
Setelah masuk ke warung bakso mereka kaget, Ikhsa sudah memakan semangkuk bakso dan es di gelas tinggal separo.
" Laper beneran Kamu, San?" Ujar Rino, Kaget.
" Namanya laper emang bo'ongan, Tapi tenang Aku temenin kalian kok ini udah di bikinin lagi." Ujar Ikhsan, Dengan wajah cengengesan.
" Tekor Aku yang traktir, Ternyata kamu boros ya San." Gurau Disa dengan tertawa.
" San-san baru berapa jam, Coba seminggu pasti udah blingsatan Kamu!" Tutur Hans duduk di samping Ikhsan.
" Kalo seminggu pasti bukan bakso Hans yang Aku makan, Tapi cairan infus !" Balas Ikhsan cengengesan.
" Makannya kenapa Aku numpang di rumahmu, Pertama kalo laper deket warung terus kedua posisinya ramai jadi kalo Aku kelaperan pasti kalian peduli kan!" Imbuh Ikhsan.
" Ih...Belum tentu, Ya tergantung ada makanan apa enggak, Kalo Ibu nggak masak kamu merintih kelaparan ya Aku hanya bisa bilang kedepan San, Ada warung...Hahahha..!" Gurau Rino.
" Misi Mas, Pesan apa?" Tanya Penjual bakso.
" Kalo Bu Keisya bakso tanpa sayur satu terus banyakin mie kuning, Kalo Saya bakso jumbo tapi Bu Keisya juga jumbo ya baksonya." Tutur Rino.
Semua pun melongo melihat Rino hafal dengan kesukaan bakso Bu Keisya, Menandakan ada perhatian khusus Rino pada Bu Keisya yang membuat Bu Keisya wajahnya memerah karena malu.
" Hafal Kamu No, Baru ngebakso berapa kali." Sindir Disa, Sambil melirik Bu Keisya ingin menggodanya.
" Kalo yang lain, Mas?" Tanya Penjual bakso.
" Tanya sendiri-sendiri, Pak. Soalnya suka berubah-ubah!" Pungkas Rino.
" Yah gimana, Kan tiap ngebakso selalu pesen itu jadi hafal lah." Imbuh Rino.
Arini melihat ke arah Bu Keisya yang tersipuh malu.
" Maafin Kakak-Kakak Arin ya Bu, Yang selalu menggoda Ibu." Ucap Arini, Takut kalo sang Ibu Guru marah.
" Enggak apa-apa Sayang, Ini bukti bahwa kalo berteman akrab. Ibu enggak marah kok." Balas Bu Keisya tersenyum.
" Arin, Nggak usah takut kami orang dewasa sering bercanda kok! Jadi enggak mungkin Kami marah." Sahut Ikhsan melihat Arini, Sambil tersenyum.
" Arin takut gitu ya, Kalo Bu Keisya marah?" Tanya Disa di hadapannya.
Arini kecil hanya terdiam malu.
" Enggak Arin, Kak Disa sudah bersahabat sama Bu Keisya udah dari jaman SMA jadi Kakak tahu yang Ibu Guru benci dan Ibu Gurumu suka!" Kata Disa melirik Bu Keisya.
" Maafin Kakak ya Rin, Kalo buat Arin takut atau malu." Tutur Rino.
Arini pun setelah mendengar penjelasan Kakak-Kakaknya akhirnya bisa tersenyum dan tidak malu-malu tertawa jika Kakak-kakaknya dan Ibu Guru membuat lelucon.
__ADS_1