
Setelah Arini sampai di rumah,
Ia langsung bersama Dona ke rumah Dona untuk menghampiri sang Ibu.
" Mbak Arin, Nanti Kita bisa bareng jika Mbak Arin Sekolah di tempatku berangkatnya." Ujar Dona dengan berjalan perlahan.
Arini menatap Dona, " Pasti Arin bisa masuk di Sekolah Dona." Balas Arini dengan percaya diri.
" Ya iya pasti, Kan Mbak Arin di sana juara Sekolah." Sahut Rizal yang datang dari belakang setelah mengembalikan mobil.
" Tapi, Harusnya tadi Mbak lihat Sekolah-sekolah lain dahulu Mbak biar ada referensi!" Ucap Dona, Mengkhawatirkan Arini karena saingan untuk masuk ke Sekolahnya sangat ketat dan sangat tinggi standartnya karena rata-rata yang mendaftar adalah siswa berprestasi.
Melihat Arini sangat antusias maka kekhawatiran Dona mencoba Ia singkirkan.
Setibanya di rumah Om Sono,
Arini menceritakan kepada sang Ibu dengan nada yang penuh semangat.
" Kalo mau ke sana, Baiklah besok Kita mendaftar ini kata Bu Keisya juga sudah mengirim Ijazahmu ke sini kilat paling besok tiba. Rin!" Tutur Bu Sara, Menyemangati Arini.
Mendengar itu Arini tambah bersemangat, Ia melihat Rizal karena Dona segera masuk kamar untuk berganti pakaian setelah menyalami Budhenya yaitu Bu Sara.
" Biar nanti Arin, Bisa berangkat denganku Budhe." Ujar Dona keluar dari kamar setelah selesai berganti baju.
Bu Sara langsung memeluk keponakannya karena Ia paham kesedihan Dona yang tercermin seperti Arini.
" Kok Budhe nangis?" Tanya Dona.
Bu Sara hanya terdiam, Namun Dona mengerti pasti karena melihat kondisinya " Aku tidak apa-apa Budhe, Sudah jangan sedih masih ada kaki satu ini!" Ucap Dona menghibur Bu Sara yang memeluknya sambil menangis.
Bu Sara menahan air mata saat menyalami, Karena takut seragam Dona jadi kotor karena air matanya. Setelah berganti pakaian Bu Sara langsung meluapkan segala emosi kesedihan saat pertama kali berjumpa Dona.
" Sudah Mbak, Si Dona saja sudah menerima kok! Biar begitu Putriku itu sudah seperti orang normal pada umumnya, Mandiri, Bergaul dan Pintar!" Sahut Bu Yanti.
" Iya Bu, Teman Dona banyak banget. Kayak Arin dulu tapi masih banyakan Dona Bu, Karena sewaktu Arin jemput tadi tema yang menungguinya dan yang bertemu mesti menyapa Dia Bu!" Cerita Arini.
" Ya, Adekku kan hebat!" Sahut Rizal duduk di samping Bu Yanti.
" Tapi maaf Budhe, Besok Rizal enggak bisa anter. Karena Rizal besok harus kuliah!" Sambung Rizal.
" Biar Ayahmu Zal, Yang mengantar!" Balas Bu Yanti.
" Wah jadi merepotkan keluargamu, Dek!" Ujar Bu Sara.
__ADS_1
Dona terus menatap Arini, Karena hanya antusias saja tidak cukup untuk menjadi modal bisa bersekolah di tempatnya.
" Arin belum makan obatkan? Mari kita pulang saatnya Arin siap minum obat dan mandi karena mau Sembahyang!" Ajak Bu Sara kembali pulang.
Arini berpamitan kepada sang Bulik dan saudara-saudaranya
" Besok biar di antar Mas Sono Mbak, Sekalian anterin Dona!" Ujar Bu Yanti.
Bu Sara dan Arini langsung menuju rumahnya, Melihat Arini dan sang Ibu sudah jauh dan tidak kelihatan.
Dona duduk " Aku khawatir dengan Mbak Arin, Jika nanti di tolak apakah Ia siap menerima?" Ujar Dona.
" Maksudmu apa Na, Bukankah Mbakmu itu juara Sekolah terus menang lomba antar sekolah juga." Balas sang Ibu.
" Iya sih, Kan anaknya juga pandai! Apa yang musti di khawatirkan!" Sambung Rizal mencoba membela Arini.
Mendengar semua mendukung Arini, Dona memberhentikan obrolannya yang berisi kekhawatirannya tentang Mbak Arini.
Dona langsung memilih masuk ke kamar dan mengalihkan kekhawatirannya dengan belajar.
...****************...
Keesokan paginya,
Arini dan Bu Sara menunggu Om Sono dan Dona menghampiri.
Mereka berangkat dengan menaiki mobil Bu Sara dengan Om Sono yang menyopiri.
Sesampainya di Sekolah Dona, Dona segera masuk namun sebelum itu Ia mencium tangan dan bersalaman dengan Semuanya.
Om Sono mengajak Arini dang Bu Sara ke ruang administrasi Sekolah untuk mendaftarkan Arini.
Sekembalinya, Arini akan mengikuti tes masuk yang di adakan minggu depan satu hari full dan membawa syarat-syarat yang di berikan.
Mereka pun lanjut kembali pulang, Di dalam mobil Om Sono melihat Arini yang duduk si sampingnya " Jangan lupa belajar dan berdoa ya, Nduk!" Pesan Om Sono.
Arini menjawab dengan anggukan " Pasti Arin di terima kok Om." Kata Arini bersemangat.
Hari ujian tiba,
Arini mengikuti ujian masuk yang di ikuti oleh ratusan siswa siswi terbaik lulusan Sekoalah Mereka masing-masing.
Arini dengan semangat mengikuti setiap ujian, Sewaktu Dona istirahat Ia melihat Arini yang sedang ujian.
__ADS_1
" Semoga Kamu di terima, Mbak." Gumam Dona melihat Arini dari jendela ruangan di mana Arini ujian.
" Baiklah, Hasil penerimaan akan di umumkan dua hari lagi! Jadi terimakasih dan selamat beristirahat." Kata panitia ujian mengakhiri ujian hari itu.
Semua pengantar di larang masuk ke dalam sekolah sehingga Bu Sara, Om Sono dan Bulik Yanti hanya menunggu di depan gerbang.
Arini keluar dengan semangat.
Bulik Yanti menghampiri Arini " Gimana Sayang, Bisa?" Tanya Bulik Yanti.
" Bisa Bulik, Semoga besok dua hari lagi Arin bisa sekolah di sini!" Jawab Arini sambil tersenyum.
" Yuk, Kita ngebakso biar Putriku kenyang setelah berjuang!" Ujar Bu Sara, Mengajak makan keluarga.
Dua hari, Tepat hari pengumuman.
Semua wali pendaftar beserta pendaftar mendapat amplop berisi daftar nama Siswa yang di terima.
Bu Sara membaca bersama Arini, Sedang Om Sono, Bulik Yanti dan Rizal menunggu di depan pagar sekolah.
Bu Sara langsung mematung karena nama Arini tidak ada.
Dona melihat dari kejauhan, Melihat ekspresi Budhenya sudah dapat di pastikan Arini di tolak. Lalu Dona kembali ke ruang kelas karena tidak sanggup melihat ekspresi kesedihan Bu Sara dan Arini.
" Arin, Arin yang kuat ya." Ucap Bu Sara sambil jongkok menenangkan Arini.
" Apakah Arin di tolak, Bu?" Tanya Arini melihat sang Ibu.
Bu Sara langsung memeluk Arini, Arini mengerti bahwa dirinya tidak di terima Ia langsung menangis.
" Udah Rin, Kita cari Sekolah lain yang sama bagusnya." Bu Sara menghibur Arini.
Bu Sara langsung membawa Arini keluar Sekolah karena tidak ingin Arini semakin sedih melihat anak-anak yang di terima.
Saat keluar dari gerbang, Bu Yanti dan semua melihat ekspresi Bu Sara dan Arini mereka pun sudah dapat mengambil kesimpulan.
Segera Bu Yanti berlari menghampiri untuk membantu sang Kakak menghibur Arini.
Arini menangis memeluk Buliknya " Bulik, Arin tidak diterima." Kata Arini sambil menangis terisak-isak karena harapannya di patahkan kenyataan.
" Ya sudah Rin, Nanti Bulik dan Om carikan sekolah yang bagus. Arin tetap semangat ya!" Bulik Yanti berusaha menghibur Arini.
" Ayo Dek, Segera kita pulang!" Kata Bu Sara.
__ADS_1
Bulik Yanti tahu dan paham maksud sang Kakak, Segera Ia mengajak semuanya pulang.
Rizal saat di mobil teringat kata-kata sang Adik Dona, Lalu Ia berencana ingin mewawancari mengapa Arini tidak bisa di terima.