
Arini dan Sang Ibu di jemput oleh Adik Pak Romi,
" Mbak..." Sapa Om Sono memasuki rumah Bu Sara.
Bu Sara yang sedang bersantai dengan semua pun kaget melihat kedatangan Om Sono.
Rino langsung memeluk Adik dari Kakaknya yang wajahnya mirip dengan sang Ayah " Ayah..Om...Ayah...!" Tangis Rino.
" Om sudah tahu, Maaf Om sewaktu Ayahmu meninggal tidak bisa datang hanya di wakilkan keluarga yang lain. Tapi sebulan sebelum Ayahmu meninggal, Ia sudah memberikan pesan!" Balas Om Sono memeluk Rino.
Om Sono di ajak masuk ke teras, Hans mengenalkan Disa sebagai Istri.
" Maaf Om, Hans menikah tidak mengundang om karena mendadak!" Ujar Hans, Menyalami Om Sono di susul oleh Disa.
Disa lalu masuk ke dalam untuk membuat minum di susul, Ikhsan, Erin, dan Dira. Agar memberi ruang mengobrol antar keluarga.
" Om sudah tahu, Ibumu sudah menelpon om! Ini Arin masih sekolah ya?" Tanya Om Sono.
" Iya, Keponakanmu masih di sekolah baru cap tiga jari!" Balas Bu Sara.
" Mbak, Aku datang untuk menjemput Mbak Sara dan Arin sekaligus Aku ingin membacakan wasiat dari Kakakku kepada semuanya sebelum Ia meninggal!" Ujar Om Sono menatap semuanya serius.
" Wasiat apa, Om?" Tanya Hans.
" Ayahmu sudah membangunkan rumah di sana di bagian warisan dari Kakek untuk Kalian tinggali, Sebelum Ayahmu meninggal Om dan Saudaranya yang lain sudah sepakat akan mebiayai Arin sampai lulus sekolah SMA bahkan Kuliah namun Arin harus tinggal di sana di rumah yang di bangunkan Ayahmu. Dan Hans, Karena Kamu sudah menikah ini ada sedikit uang hasil dari kerjasamaku dan Ayahmu yang dulu Ia menyuruh menyimpan Om dan menyuruh Om menyerahkan setelah Kamu menikah!" Jelas Om Sono sambil mengeluarkan amplop dari jaketnya kemudian di berikan kepada Hans.
" Ini uang apa, Om?" Tanya Hans menerima uang dari Om Sono.
" Uang Ayahmu, Kami ada kerjaan sampingan itu bagian Ayahmu untukmu!" Ucap Om Sono.
" Mbak, Besok Kita harus berangkat soalnya Aku hanya ijin tiga hari! Biar surat-surat Arin di kirim via jasa paket!" Imbuh Om Sono.
Bu Sara dan yang lain pun kaget, Hans mendekat ke sang Ibu.
" Besok berangkatlah Bu, Biar surat-surat Arin besok Rino yang antar ke sana barangkali Om dan Bulik di sana menunggu Kalian." Bujuk Hans kepada Sang Ibu.
" Iya Bu, Berangkatlah demi cita-cita Arin!" Sambung Rino.
" Baiklah, Besok Ibu akan berangkat Pesan Ibu kalian harus akur dan saling bantu selama Ibu dan Arin di sana." Balas Bu Sara sambil mengelus rambut kedua anaknya yang bersipuh di kakinya.
" Terimakasih Mbak, Soalnya di sana semua ingin melihat Arin dan mewujudkan wasiat Mas Romi." Balas Om Sono.
Tak lama, Arini pulang di antar Bu Keisya.
__ADS_1
" Assalamualaikum..." Sapa Arini memasuki teras rumah.
Arini kaget kedatangan Om Sono yang mirip wajahnya dengan Ayahnya, Sontak Arini berlari memeluk Om Sono yang duduk di hadapan Ibunya.
" Om....Arin kangen, Ayah...Om...Ayah.." Ucap Arini menangis sejadi-jadinya.
" Rin...Om sudah tahu, Arin kuatkan katanya mau sekolah di kota Ayah. Om kesini akan mewujudkan cita-cita Arin! Besok Arin dan Ibu berangkat, Nanti Kita cari sekolah yang ingin Arin masuki." Balas Om Sono mengelus kepala Arini.
" Sungguh, Om?" Tanya Arini.
" Iya, Serius besok Kita berangkat." Balas Om Sono.
Bu Keisya pun terkejut, Karena keberangkatan Arini sangat cepat.
" Om kenalin, Ini Pacar Ikhsan namanya Keisya sekaligus Guru SMP dari Arin. Sya kenalin ini Om Sono, Adik dari Ayahku." Kata Rino mengenalkan Om Sono.
Lalu, Disa keluar membawa minuman untuk Om Sono dan Semuanya.
Om Sono dan Keisya pun berkenalan.
Keisya menatap Arin, Lalu menghampiri." Sayang nanti di sana, Ari harus tetap jaga kesehatan ya! Dan harus berprestasi!" pesan Keisya pada Arini.
" Iya Bu, Eh..Kak! Arin pasti akan berprestasi di sekolah." Ujar Arini memeluk Keisya.
Lalu Rino meminta Ijin kepada Dira, Karena akan mengajak Omnya menginap semalam di rumahnya.
" Arin, Kita kemas-kemas yukk!" Ajak Bu Sara.
Lalu Arini dan Bu Sara masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
Rino keluar, Lalu Keisya mengikuti untuk membantu membereskan kamar untuk Om Sono.
Tinggalah Hans, Disa dan Om Sono.
" Om, Aku titip Ibu dan Arin di sana." Kata Hans menatap Om Sono.
" Pasti Hans, Jangan khawatir keluarga di sana pasti menjaga Arin dan Ibumu. Kami sudah tahu semuanya tentang penyakit Arin, Kami sudah berkonsultasi dengan Dokter di sana untuk membantu memantau Arini!" Jelas Om Sono.
" Terimakasih sebelumnya, Om! Dan Om Saya antar ke kamar Om untuk beristirahat sambil jalan-jalan dulu! Om pasti ingin lihat Makam Ayah kan?" Ucap Hans.
" Iya, Om sebenarnya baru akan memintamu mengantar Om ke makam Ayahmu! Tapi Om nitip Tas dulu!" Ucap Om Sono.
" Sayang, Tolong anterin tas Om Sono, Kepada Rino biar di taruh di kamarnya." Pinta Hans pada Disa.
__ADS_1
Disa pun mengangguk, Lalu membawa tas Om Sono untuk di bawa ke Rumah Dira.
Hans dan Om Sono pun keluar rumah menuju makam sang Ayah.
...****************...
Ke-esokan harinya,
Semua mengantar Om Sono, Bu Sara dan Arini ke terminal Bus.
" Kami pamit, Hans jaga keluargamu dan Ibu nitip adikmu Rino." Pesan Bu Sara.
"Terimakasih untuk semuanya ya, Om seneng lihat Kalian sehat dan bahagia." Sambung Om Sono.
" Kakak, Arin pamit ya! Nanti Kakak, Arin tunggu di sana. Kunjungi Arin dan Ibu ya." Ucap Arin.
Disa langsung memeluk Arini sambil menangis karena sedih akan berpisah dengan Arini.
" Sayang, Jaga diri ya! Jangan lupa minum obat." Ucap Disa, Memeluk erat Arini.
Setelah itu Dira yang memeluk Arini sambil menangis " Sayangnya Kakak, Tolong ya jaga diri nanti Kapan-kapan Kami akan main ke sana! Ini Kakak punya hadiah buat Arin, Ini dari Kakak dan Ini dari Kak Erin!" Ucap Dira memberikan Tas baru kepada Arini.
" Terimakasih Kak, Tapi kok berat!" Ucap Arini.
Lalu Ia membuka tas, Ternyata isinya laptop dan Hp.
" Ini semua buat Arin, Kak?" Kata Arini terkejut.
Dira tersenyum, Lalu Arini kembali memeluk Dira kemudian Erin yang ada di samping Dira.
" Jangan lupa ya Rin, Telpon Kami! Itu sudah Kakak masukin semua nomer Kakakmu!" Ucap Erin, Dengan mata berkaca-kaca.
Om Sono dan Bu Sara terharu karena banyaknya orang yang sayang kepada keponakan dan Keluarga mendiang sang Kakak.
" Arini....Tunggu!" Teriak Hera berlari di ikuti Nayla, Tary dan Dina.
Arini menoleh, Lalu Ia juga berlari menghampiri ke empatnya.
Ternyata Keisya memberikan kejutan perpisahan dengan menghadirkan Sahabat-sahabat Arini.
Setelah perpisahan yang menyedihkan, Arin dan Ibu beserta Omnya naik ke Bus yang akan berangkat.
Hera dan Yang lain menangis melihat Bus yang di naiki Arini berangkat.
__ADS_1