
Setelah sepulang dari Rumah Sakit dan Harus melakukan rawat jalan.
Arini bangun dari tidur dan Ia langsung ke ruang tamu, Melihat keheningan rumah karena semua orang sedang berisirahat karena capek.
" Ah Arin main saja lah, Arin sudah lama tidak melihat teman-teman Arin." Gumam Arini kemudian membuka pintu rumah untuk bermain di luar bersama teman-teman sebayanya.
Rino yang pertama kali bangun pukul 14.30 wib untuk bersiap beribadah solat ashar.
Rino langsung ke kamar Arini karena Adik kecilnya itu sangat rajin beribadah dan Ia lah yang selalu mengingatkan kedua Kakaknya.
" Arin...Arin...Bangun yukk! Kita Sholat yuk..!" Kata Rino mengetuk kamar.
Setelah lama mengetuk tidak ada jawaban, Rino pun membuka kamar Arini. Alangkah kaget kamar Arini kosong.
Segera Ia berlari keluar untuk mencari Adiknya, Ia mendatangi tempat di mana Arin sering main.
Tiba-tiba dari kejauhan Rino melihat Arini duduk jongkok melihat teman-temannya bermain lompat tali di depan mushola belakang rumah.
" Arin, Kenapa duduk sendiri?" Tanya Rino menghampiri Arin.
" Uhuk..Uhuk....Arin capek, Kak! Arin lelah, Mau pulang tapi kaki Arin lemas tidak bisa di gerakkan sehabis tadi Arin main lompat tali, Kak!" Arini menjelaskan apa yang Ia rasakan pada Rino.
" Arin jangan capek-capek ya, Kan Arin habis dari Rumah Sakit nggak mau kan Arini di pasangi selang lagi di tangannya!" Kata Rino dengan senyuman.
" Sini Kak Rino gendong!" Kata Rino membungkukkan Badan agar Arini bisa memanjat ke tubuhnya untuk di gendong.
Setelah Arini di gendong mereka pun berjalan untuk kembali ke rumah.
" Kak, Arin sakit apa? Kenapa Arin tidak bisa bermain seperti dulu, Kak!?" Tanya Arini.
" Arin nggak sakit, Arin hanya kecapek'an sementara jangan capek kata Dokter kan!" Rino menghibur Arini.
" Kak, Arin tadi mimpi banyak teman-teman Arin memakai baju putih cantik kayak puteri. Mereka mau mengajak main Arin!" cerita Arini tentang mimpinya.
Sontak Rino kaget, Karena Ia paham arti mimpi itu.
" Arin, Main saja sama Kakak, Sama Kak Hans, Sama Ibuk dan Ayah kan ada Wak Nana juga. Jadi itu hanya mimpi Rin, Kan Arin minta Kak Ikhsan buat jahit kostum puteri buat Arin, Mungkin mimpi itu tandanya Kak ikhsan baru menjahit baju pesanan Arin." Jelas Rino untuk membuat Arini senang.
" Arin belum sholat Ashar'kan?" Tanya Kak Rino.
" Belum, Kak. Arin mau Sholat !" Balas Arin.
__ADS_1
" Ya udah, Nanti Kak Rino yang jadi Imam ya! Kita sholat berjama'ah!" Ujar Rino.
Sesampainya di rumah, Hans kaget Rino menggendong Arini dan Baru sadar jika Arini tidak di kamar.
" Kamu ajak kemana Arin, Rino?" Tanya Hans melihat Rino memasuki teras rumah menggendong Arini.
" Arin, Habis main Kak. Ini di jemput Kak Rino, Karena Arin tidak bisa jalan Kak. Kaki Arin lemes." Jawab Arini.
Rino tahu Hans pasti akan memarahi Arini karena khawatir.Namun,Sebelum Hans memarahi Arini terlebih dulu Rino mengajak Arini masuk ke Kamar.
" Minggir Hans, Aku dan Arin mau sholat bersama-sama." Kata Rino untuk menghindari Marah Hans.
Mereka melalui Hans begitu saja, Arini pun di taruh di tempat tidurnya oleh Rino.
" Kak Arin tidak bisa wudhu, Kaki Arin masih lemas." Kata Arini menatap Rino.
" Kakak tahu, Biar Kak Rino siapin tempat dulu buat Arin berwudhu." Balas Rino dengan senyuman.
Hans ingin masuk ke kamar Arini, Ingin memarahi Arini karena Khawatir. Sebelum Ia masuk Rino sudah memegang tangannya dan membawa Hans ke luar rumah untuk menasehati dan menenangkan Hans.
" Kamu mau ngapain, Hans?" Tanya Rino.
Bu Sara dan Pak Romi yang berada di kamar mereka pun terbangun mendengar ada suara Rino yang gaduh, Karena kamar mereka di samping ruang tamu. Segera mereka menghampiri Rino.
" Ada apa ini?" Tanya Pak Romi.
Hans hanya mematung setelah mendengar kata-kata dari Rino. Kemudian Rino meninggalkan semuanya dan ke kamar mandi untuk membuat tempat agar Arini bisa berwudhu.
" Ada apa, Hans?"Tanya Bu Sara.
" Tadi Hans hampir saja memarahi Arin karena Ia habis bermain, Namun Rino menasehati Hans. Benar kata Rino ke khawatiran Hans akan membuat Arin lebih sakit lagi." Tutur Hans.
Kemudian Bu Sara memeluk Hans.
" Memang kita pantas khawatir, Tapi jangan sampai merenggut masa kecil Arin. Benar kata Rino." Nasehat Bu Sara pada Hans.
" Hans, Ayah tahu Kamu sangat sayang pada Adikmu. Namun Kamu juga harus memberi ruang Adikmu untuk menikmati masa kecilnya, Tidak perlu membatasinya hanya saja kita perlu memberi pengawasan lebih sekiranya sudah melampaui batas atau mau capek cukup kita hentikan Dia!" Pak Romi membumbuhi Nasehat buat Hans.
Setelah Rino selesai menata kamar mandi, Kembalilah Ia untuk membopong Arini ke kamar mandi.
" Yuk, Udah Kakak tata!" Kata Rino, Duduk di tempat tidur dan memberi isyarat agar Arin naik ke punggungnya.
__ADS_1
Kembali Rino menggendong Arin untuk Berwudhu di kamar mandi.
Wak Nana melihat kasih sayang Rino pada Arini di depan kamar yang buat Ia menginap.
Setelah berwudhu keduanya kembali ke kamar Arin.
" Kak, Arin gimana solatnya? Arin belum kuat berdiri Kak." Kata Arini dengan wajah ingin menangis.
" Udah sambil duduk, Kakak akan mempraktekan buat Arin." Jelas Rino.
" Tapi apa boleh, Kak? Apa Sah?" Tanya Arini khawatir shalatnya tidak di terima.
" Boleh Arin, Dulu Guru Ngaji Kakak sewaktu mengaji yang mengajari!" Kata Rino memberi pengertian.
Kemudian Rino mempraktekan di depan Arini.
Arini pun selanjutnya mempraktekkannya.
Wak Nana dan Hans melihat dari luar pintu kamar Arini.
" Ternyata Rino ya Wak yang lebih dewasa dari pada Saya!" Ujar Hans.
" Itu karena Rino berfikir untuk merasakan apa yang di rasakan Arin pada Dirinya sendiri!" Terang Wak Nana.
Kemudian selesai Sholat, Rino berlinang air mata saat berdoa untuk meminta kesembuham pada Arini adiknya.
Arini melihat Rino yang menangis membasuh air mata Rino dengan Mukena yang Ia pakai.
" Kak Rino kenapa nangis?" Tanya Arini.
Rino hanya membalas dengan senyuman.
" Kak Rino, Kalau doa sambil nangis nanti habis loh air mata Kakak dan ALLOH S.W.T nanti nggak suka sama Kakak yang lemah!" Kata Arini kembali menguatkan Rino.
Rino pun menyeka air mata dan pura-pura kuat di hadapan Arini.
Dalam hati Rino.
" Arin saja yang sakit bisa menguatkanku, Alangkah lemahnya Aku! Aku sebagai Kakak harus memotivasi bukan menunjukkan kelemahanku di hadapan Arini."
Wak Nana dan Hans pun mendengar ucapan polos Arini ikut berlinang air mata.
__ADS_1