Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Hilangnya Disa


__ADS_3

Setelah pertemuan sebulan setelahnya, Disa dan keluarga tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar,


Hans mulai duduk dan bengong setiap hari di depan teras rumah hingga Bu Sara khawatir dengan Hans, Lalu Bu Sara duduk di sebelah Hans " Nak, Apakah masih belum ada kabar dari Disa dan keluaganya?"


Hans memegang kepala dengan kedua tangannya, Tanpa menjawab pertanyaan Ibunya.


Sementara Rino dan Ikhsan yang sedang di pasar jualan, Ikhsan mencopot kostum lalu menghampiri Rino di samping lapak Ikhsan langsung duduk " Aku prihatin melihat Hans sekarang!"


Rino sembari melayani pembeli dagangannya " Aku juga, Sekarang nampaknya memang lebih berat baginya selain masalah Arin." Balas Rino.


" Aku sudah telpon Dira, Untuk membahas masalah Disa! Mungkin Ia tahu." Imbuh Ikhsan.


Lama menunggu Dira, Mereka terus membahas masalah Hans yang semakin terpuruk.


Pukul 13.00 wib, Dira datang ke lapak Rino dimana Ikhsan dan Rino sudah menunggu.


" Hey, Maaf telat tadi ada kerjaan." Ujar Dira duduk di sebelah Ikhsan.


Ikhsan langsung memberinya sebotol air mineral pada Ikhsan " Nih minum dulu, Pasti kamu hauskan."


" Thank's, Pasti mau membahas masalah Disa kan?" Kata Dira mengetahui maksud Ikhsan menelponnya.


Setelah pembeli sepi, Rino duduk di samping Dira " Iya nih, Kasihan Hans. Harapannya buat menikah apakah harus kandas? Kira-kira kamu tahu di mana Disa, Enggak Dir?"


" Aku sudah nyuruh orangku buat ke rumah orang tua Disa, Namun kosong!" Balas Dira sambil menatap Rino.


" Kemana tuh cewek, Kemarin matahin hati karena Kamu Dir sekarang menghilang tanpa kabar yang jelas!" Pungkas Rino.


" Kenapa firasatku tidak enak ya? Yuk, Segera pulang!" ujar Ikhsan terus kepikiran dengan Hans.


" Yuk, Aku bantuin kemas-kemas No!" sahut Dira.


Di rumah,


Bu Sara terus menemani Hans yang hanya menatap lurus dan kosong, Ia kasihan dengan sang anak hingga mendekapnya " Sudah Nak, Ibu sedih melihatmu begini! Yuk masuk makan dulu dari kemarin kamu biarin perutmu kosong hingga wajahmu pucat begini." tutur Bu Sara sambil menitihkan air mata.


" Uh...!" Hans menggaruk kepala layaknya orang frustasi.


Datanglah Keisya mengantar Arini pulang, Ia melihat dari depan jalan rumah Hans seperti orang yang tidak terurus hanya menatap kosong di temani Bu Sara.


" Assalamualaikum." Ucap Arini dan Keisya masuk ke dalam teras.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam." balas Bu Sara, Sambil memegangi Hans dengan mata berkaca-kaca.


Hans tiba-tiba menatap Keisya " Dimana temanmu? Dimana Disa?" Sambil bangkit memegang kedua tangan Keisya.


Bu Sara pun kaget, Lalu menarik Hans " Sudah Nak...Sudah...Bu Keisya tidak tahu apa-apa!" teriak Bu Sara sambil menarik Disa.


Arini pun membantu Ibunya agar Hans melepaskan Ibu Gurunya.


Keisya menatap Hans yang menatapnya seperti serigala yang mau menerkam mangsa.


" Aku..Aku enggak tahu Mas, Andai tahu pasti Aku beri tahu." Jawab Keisya ketakutan dengan Hans.


Mendengar jawaban Keisya, Hans melepaskan cengkramanya langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


" Maafin, Hans ya Bu guru." Tutur Bu Sara, Sembari menangis


" Bu, Kenapa Kak Hans jadi suka marah-marah Bu?" Tanya Arini memandang k atas ke arah wajah Ibunya.


" Tenang Rin, Kak mu hanya kecapek'an mencari Kak Disa. Arin masuk gih ganti baju." Sahut Keisya karena tak ingin Arini bersedih.


Setelah Arini masuk, Keisya mengajak Bu Sara duduk untuk Ia tenangkan.


" Berat banget Nak, Setelah kehilangan Ayah Arin sekarang melihat putra ibu Hans seperti itu! Belum lagi ibu harus memikirkan penyakit Arin. Kenapa seperti ini ya Nak hidup kami." Curhat Bu Sara sambil terus menitihkan air mata.


" Harusnya Nak Disa ngomong kalau tidak mau dengan anak Ibu, Bukan begini menghilang tanpa kabar." Ucap Bu Sara menyesali keputusan Disa yang tiba-tiba tifak ada kabar.


Rino, Dira dan Ikhsan pulang dari berdagang di pasar. Melihat Ibunya dan Keisya saling mendekap dari kejauhan.


Rino mendorong gerobak " Kenapa dengan Ibuku, Kenapa Ia menangis bersama Keisya?" ujar Rino melangkah menuju rumah.


" Dir, Kamu duluan cek ada apa?" Imbuh Rino, Meminta tolong Dira untuk mempercepat langkahnya mendahuluinya.


Dira langsung berlari menuju rumah, Ia khawatir dengan Bu Sara yang Ia sudah anggap sebagai Ibunya sendiri.


" Assalamualikum.." Dira memasuki teras rumah dengan terburu-buru, Lalu Ia duduk menghadap Bu Sara dan Keisya.


" Wa'alaikumsalam.." balas Bu Sara dan Keisya.


" Kenapa Ibu menangis?" Tanya Dira.


" Ibu menangis karena melihat kondisi Hans yang semakin hari semakin terpuruk!" Sahut Keisya.

__ADS_1


Ikhsan dan Rino sampai, Namun Rino harus memasukkan gerobak di samping rumah terlebih dahulu.


Pyar.....( suara pecahan dari kamar Hans)


Arini yang mendengar karena takut segera berlari keluar kamar menemui Ibunya di teras.


" Bu, Kak Hans terdengar marah-marah terus membanting sesuatu." Cerita Arini di menatap sang Ibu.


Dira dan Ikhsan langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Hans.


" Hans, Jangan bodoh kamu! Buka pintu kami khawatir denganmu." teriak Ikhsan.


" Ada kami Hans, Kamu jangan begini kasihan ibumu!" Sambung Dira.


Rino yang baru masuk ke teras, Di beritahu oleh Arini tentang Hans. Rino melihat sang Ibu yang terus menangis " Nggak bisa gini terus, Udah harus di akhiri!" pungkas Rino buru-buru masuk ke dalam rumah.


" Kalian minggir!" Perintah Rino pada Dira dan Ikhsan yang di depan pintu kamar Hans.


Ikhsan dan Dira mengikuti perintah Rino yang terlihat emosi.


Brakk....( Pintu kamar di tendang Rino hingga terbuka)


Hans terlihat duduk di kamar sambil bengong, Lalu Rino masuk menarik kerah baju dan menyeret Hans keluar kamar.


Brukk...Rino mendorong Hans hingga terjatuh ke lantai.


" Udah No...Udah...!" Teriak Ikhsan sambil menarik Rino di bantu Dira.


" Kamu orang bodoh! Hanya bisa menangis tanpa usaha, Kayak gitu aku malu menjadi adikmu! Kamu lihat itu Ibu kamu bikin menangis terus terusan mengkhawatirkanmu! Dasar Kakak enggak guna! Aku sudah sabar sebulan ini banting tulang sendiri mendorong gerobak, Tapi enggak bisa begini terus ini tanggung jawabmu karena kamu tertua di rumah ini bukan aku!" Teriak Rino sambil menunjuk Hans penuh emosi.


Mendengar ke ributan di dalam, Keisya langsung membawa Arini menjauh dari rumahnya.


Lalu Bu Sara masuk sambil menangis tersedu-sedu mendekap Hans yang masih tersungkur " Cukup No...Cukup...Kakakmu sedang bersedih No!" kata Bu Sara sambil menangis.


" Kamu lihat itu, Ibu sampai menangis! Katamu Disa tidak sebanding dengan keluargamu mana buktinya! Kamu itu kayak pengecut sekarang Hans!" Teriak Rino sambil menunjuk Hans penuh emosi.


" Sudah Hans, Cukup sedihmu! Orang-orangku sudah Aku perintahkan untuk mencari Disa dan keluarganya!" sahut Dira sambil memegangi Rino.


Hans melihat sang Ibu, Lanjut Ia memeluk Ibunya dan menangis sejadi-jadinya sembari meminta maaf.


Rino di tarik keluar oleh Ikhsan dan Dira, Lalu Ia di dudukan di teras untuk Ia tenangkan.

__ADS_1


Tiba-tiba Dira mendapat pesan " Aku tahu di mana Disa! Orangku baru saja menemukannya! Nanti sore kita semua ke sana!" ucap Dira.


Ikhsan dan Rino pun memandang ke arah Dira.


__ADS_2