
Sesampainya di Wisata Pegunungan.
" Hans, Kamu nggak capek kan Sayang?" Tanya Disa setelah turun dari mobil.
Hans ketika di panggil Sayang di hadapan Ibu dan Kedua Orang Tua Disa pun malu-malu.
Sorot mata tertuju pada Mereka bertiga.
" Oh...Paham Aku, Kamu masih malu ya Hans sama Kedua Orang Tuaku dan Ibumu?" Ujar Disa memeluk Ibunya dan Ibu Hans.
" Anak muda ya Bu, Kalo kita sudah tidak pantas!" Sahut Ibu Disa untuk Bu Sara.
Datang Rino, Bu Keisya dan Ibunda Bu Keisya.
" Wah-wah, Sudah akrab rupanya. Para Calon Besan!" Gurau Rino turun dari Mobil yang di parkir di samping mobil Disa, Melihat Ibu dan Kedua Orang Tua Disa akrab.
Rino langsung mengambil kursi roda di bagasi, Kemudian menggendong Ibunda Keisya ke kursi roda.
" Heh No, Ikhsan mana?" Tanya Hans, Belum ada tanda-tanda kedatangan.
Mereka pun menunggu hampir 10 menit di parkiran baru mobil yang di kemudikan Ikhsan terlihat.
Ikhsan memarkir di samping Mobil Rino, Ia pun langsung turun bersama Anak-anak dan Dira.
" Lama amat kamu, San?" Tanya Rino.
" Minum..Minum mana minum!" Ucap Dira, Langsung mengambil di mobil Disa.
" Kenapa tuh, Bocah?" Imbuh Rino, Melihat ke anehan Pada Dira.
" Habis macet, Itu orang habis dorong! Mobil mu tua amat No, Naik tanjakan nggak kuat!" Jelas Ikhsan.
" Jadi kalian telat gara-gara macet?" sahut Disa, Melihat Ikhsan.
" Ya begitulah, Tuh teman Arin aja sampe ada yang mabuk!" Jawab Ikhsan.
" Ntar Aku numpang di Rino lah pulangnya, Nyerah kalo naik mobilnya Ikhsan." Ucap Dira dengan muka lelah.
" Gampang nanti!" Ujar Rino.
Neyla dan Tary masih pucat karena naik mobil Ikhsan hingga mabuk karena goyangan.
Arini menghampiri Kak Disa.
" Kak, Tolong teman Arin masih lemas karena mabuk." Pinta Arini.
Disa dan Bu Keisya langsung menuju mobil yang di bawa Ikhsan.
Rino dan Hans pun mengikuti, Langsung Rino dan Hans membopong Satu orang satu Nayla di bopong Rino sedang Tary di bopong Hans. Di turunkan di pelataran.
Ayah Disa langsung mengambil dua minuman soda di mobil untuk di berikan kepada keduanya.
" Nih, Minumin!" Kata Ayah Disa memberikan soda ke Disa dan Bu Keisya untuk mengobati Tary dan Nayla.
Sambil menunggu Rino, Hans, Ikhsan dan Dira mengeluarkan bekal dan tikar untuk Mereka duduk berpiknik.
" Cari tempat, Hans!" Perintah Rino.
__ADS_1
Hans langsung masuk ke tempat Pariwisata dan membayar tiket untuk semuanya lanjut Ia mencari tempat di bawah pohon yang teduh untuk berpiknik dan di gelari tikar yang Ia bawa.
" Masih asri ya, San!" Ucap Dira.
" Iya masih hijau dan belum banyak pedagang." Balas Ikhsan.
Mereka melihat hamparan kebun teh dan strawbery yang luas.
Setelah selesai, Ikhsan keluar kembali untuk mengabari ke yang lain bahwa tempat sudah siap.
Semua pun masuk, Bu Keisya dan Disa menatih Nayla dan Tary.
" Gitu aja K.O!" sindir Hera.
" Jangan begitu Her, Kasian Tary sama Nayla." Kata Arini.
" Wah, Bagus pemandangannya. Enak kalo gini. Tidur nyenyak!" Pungkas Dina.
Ikhsan mendengar kata Dina " Nih Bocah, Dari tadi ngoceh terus nggak capek Kamu?" Sindir Ikhsan pada Dina.
" Eh..Babang Sopir, Enggak capek ya malah seneng nih bisa piknik! Kayak lepas dari kurungan nih, Bang." Balas Dina.
" Ini anak, Ngejawab terus kalo di tanya! Sampai pusing saya." Curhat Ikhsan sambil memandang Dina yang ada di sampingnya.
Bu Sara mendorong kursi roda Ibunda Keisya.
" Maaf, Merepotkan." Tutur Ibunda Keisya.
Bu Sara pun tersenyum " Enggak apa-apa Bu, Malah saya punya teman baru." Balas Bu Sara.
Mereka pun duduk di tikar yang sudah di siapkan oleh Hans, Rino dan Dira.
Disa memandang Hans " Ada apa, Hans?" Tanya Disa.
Hans melihat semuanya sudah duduk, Lantas Ia memberanikan diri.
Hans berdiri di hadapan semuanya sambil menggenggam Disa " Perhatian semuanya, Maaf Saya mengganggu waktunya."
Semua mata langsung tertuju pada Hans, Dan penasaran apa yang ingin di katakan oleh Hans.
" Saya di sini tanpa mengurangi rasa hormat kepada semuanya, Ingin meminta ijin kepada Orang Tua dari Disa yang sebagaimana Orang yang Saya cintai, Saya ingin meminta ijin untuk melamar Anak Bapak dan Ibu di sini dan sekarang juga, apakah di izinkan dan di restui?" Kata Hans dengan mata penuh keyakinan dan kemantapan.
Ayah Disa pun berdiri " Saya serahkan semua keputusan di tangan anak Saya Nak, Terserah Ia mau menolak atau menerima!" Ucap Ayah Disa.
Disa bertatap wajah dengan Hans, Kemudian Hans mengambil cincin dari saku celananya yang sudah jauh-jauh hari Ia persiapkan.
" Gila Hans, Keliahatan Orangnya diem sekalinya bergerak melamar!" Gumam Ikhsan.
" Keren Kakak'ku, Penuh spontanitas." Ujar Rino.
Disa pun mengangguk kemudian Ia memasangkan cincin di jari manis Disa, Begitu pula sebaliknya.
Semua pun bertepuk tangan, Ibunda Disa dan Bu Sara saling berpelukan.
Bu Keisya melirik ke arah Rino, Dan Rino mengerti apa maksud Keisya " Kalo Aku belum ada persiapan, Baru juga jadian dua hari." Guma Rino di sebelah Dira mengartikan tatapan Bu Keisya.
" Makanya contoh tuh Kakak'mu, Nggak buang waktu!" Sahut Dira, Mendengar keluhan Rino.
__ADS_1
Lanjut Mereka pun makan bersama, Bekal yang di bawa Keluarga Disa di satukan dengan bekal yang di bawa oleh Keluarga Hans.
Rino melirik Bu Keisya, Memberi tanda untuk segera cabut agar bisa berduaan.
Bu Keisya memahami kode lirikan Rino.
" Mmmt..Maaf semua Sayanm harus ke toilet." Pamit Rino, Di susul Bu Keisya dengan alasan yang sama.
" San, Kayaknya ada yang nggak beres!" ujar Dira.
" Iya juga ya, Ikutin yuk godain." Balas Ikhsan.
Disa dan Hans yang lagi duduk bareng makan melihat kepergian Ikhsan dan Dira.
" Itu pasti mau jahilin Rino!" pungkas Hans.
" Udah biarin sih Sayang, Kan adikmu juga suka jahil!" Sahut Disa, Memegang tangan Hans takut kalo Ia mengikuti Ikhsan dan Dira.
Rino berjalan bergandengan dengan Bu Keisya, Melewati hamparan kebun teh.
" Berdua gini romantis juga ya!" Ujar Bu Keisya.
" Hayo loh, Bener kan San Mereka nyuri kesempatan!" Bentak Dira
Bu Keisya dan Rino pun kaget, Langsung berbalik ke belakang.
" Ini manusia jomblo, Mau ganggu aja sih! Pergi!" Kata Rino, Memarahi Ikhsan dan Dira.
" Eh..Mas, Tangan di lepas bukan muhrim gandengan! Mau nyebrang?" Gurau Ikhsan.
" Ganggu aja, Udah sana-sana balik!" pungkas Rino semakin kesal.
" Balik atau Aku timpuk pakai batu nih!" Ancam Rino.
Ikhsan dan Dira langsung lari menjauh melihat Rino membawa batu di tangannya.
Bu Keisya tersipuh malu.
Namun mereka lagi-lagi bermesraan, Pundak Rino di jadikan sandaran Kepala oleh Bu Keisya sembari jalan.
" Ada penjual jagung bakar, Kita beli yuk!" Ajak Rino.
Bu Keisya duduk di samping penjual jagung, Menikmati pemandangan alam berdua.
" Seneng nggak Mas?" Tanya Bu Keisya sembari memakan jagung bakar.
" Seneng dong, Di temani bidadari cantik." Balas Rino
" Ngrayu teros...teross...Dunia yang lain numpang!" Suara Dira, Namu. Tak terlihat keberadaannya.
" Ya ampun, Dua orang itu..hemt..Nggak seneng lihat orang baru menikmati moment!" Ujar Bu Keisya kesal.
" Tapi dimana sih, Mau Aku timpuk biar kapok." Imbuh Rino kesal dengan kejahilan Ikhsan dan Dira.
Mereka pun mencari dengan menengok ke kanan kiri namun tak melihat ke duanya.
" Nyari Kita Bos, Nggak nemu ya..Kasian!" Teriam Ikhsan.
__ADS_1
Ikhsan dan Dira sepakat untuk menjahili Rino, Karena Rino juga sering jahil.