Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Bunga Belum Layu


__ADS_3

ARINI, Meski kini ada penyakit yang menghinggapi tubuhnya, Arini kecil nampak seperti biasa karena ada Pak Guru dan Bu Guru serta Keluarga yang terus membuatnya bangkit.


Datanglah Hans bersama Disa, Untuk meminta kebijakan atas Arini dari Sekolah.


Hans melihat Arini, Menjadi assisten Pak Guru olah raga.Hans langsung menghampirinya meninggalkan Disa karena khawatir.


" Arin, Kenapa masih ngeyel sih? Kan Kamu nggak boleh capek-capek! Kenapa Kamu ikut pelajaran olahraga?" Kata Hans di depan Arini, Karena Ia sangat khawatir.


" Arin, Enggak capek kok Kak! Sekrang Arin jadi asisstennya Pak Guru." Jawab Arini dengan rasa takut saat melihat Hans.


" Permisi Mas, Kenalkan Saya Pak Isman. Saya selaku Guru olah raga Arini. Saya sudah tahu kok Mas, Mari ikut Saya dulu untuk saya jelaskan!" Pak Isman, Mengajak Hans untuk mengobrol.


Hans di bawa di teras ruangan yang jauh dari Arini.


" Mas, Jangan begitu sama Adiknya. Saya sudah tahu dari Ibu Keisya wali kelas Arini.


Biarkan Mas, Adekmu seperti anak-anak yang lain bila olahraga ya kelapangan. Mas tenang saja, Saya akan menjaga Arin selaku gurunya." Jelas Pak Isman.


Hans pun kembali tertunduk malu, Ia ingat kata Rino dan Disa. Disa menghampiri Mereka berdua.


" Pak, Kenalkan Saya Disa calon Kakak ipar Arini!" Disa menyalami Pak Isman, Lantas duduk di samping Hans.


Mereka melihat Arini terduduk menunduk seolah takut dengan sang Kakak.


" Kamu lihat Hans, Bagi Arin sekarang Kamu seperti Monster. Pantas Arin selalu tersenyum bersama Rino di bandingkan denganmu! Ayolah Hans, Bersikap seperti dahulu sebelum Arin sakit!" Disa menasehati Hans.


" Bener Mas, Apa kata mba'nya. Biarkan dia tumbuh seperti yang lain, Takutnya karena stress justru itu yang memacu penyakitnya kambuh!" Imbuh Pak Isman.


Tema Arini, Menendang bola ke arah Hans.


Hans lantas mengambil bola.


" Arin, Ayo main bersama kawan-kawanmu! Tapi ingat jika sudah ngerasa capek berhenti ya! Kak Hans percaya padamu!" Triak Hans melempar bola ke arah Arini pelan.


Arini pun bengkit dari duduk kemudian tersenyum mendapat lemparan bola dari Kakaknya Hans.


Lalu Arini bermain seperti biasanya bersama teman-temannya hanya saja Ia lebih sering beristirahat mengingat pesan sang Kakak.


Disa tersenyum melihat Hans, Sudah seperti dulu saat awal mula Ia bertemu bisa tersenyum sambil menyemangati Arini.


Dulu awal mula ketemu Hans adalah saat Arini Sd dan mengikuti lomba lari sekecamatan, Ia jatuh cinta karena Hans memperlakukan Adiknya begitu hangat dan mencerminkan rasa sayang.

__ADS_1


Dari belakang Disa berpamitan dengan Pak Isman, Lantas melangkah ke arah Hans kemudian menggenggam tangan Hans.


Hans terkejut kemudian Ia menatap Disa.


" Sudah lama sekali ya, Kita nggak begini! Yuk Kita ke Bapak Kepala Sekolah." Disa menggandeng Hans menuju kedalam sekolah.


Di lorong sebelum ruang Kepala Sekolah, Disa bertemu Ibu Keisya teman SMAnya dulu.


" Hay Dis, Kesini juga kamu sudah Aku tunggu!" Ujar Bu Keisya langsung memeluk Disa karena meluapkan rasa kangen.


" Ya, Namanya juga demi Adik. Ya kesini lah!" Balas Disa cipika cipiki.


" Ini pacarmu?" Tanya Bu Keisya menyalami Hans.


" Pacar? Udah calon suami, Doain sebentar lagi Aku." Ramah tamah Disa.


" Ganteng juga Dis, Pinter kamu dari dulu pilih cowok!" Ujar Bu Keisya.


Hans pun terkejut ternyata Dia bukan yang pertama bagi Disa, Ia baru tahu setelah ketemu Bu Keisya.


" Maaf Bu, Tadi Ibu bilang pacar Disa dulu ganteng-ganteng! Berarti Aku bukan yang pertama dong, Dis?" Hans ingin kejelasan, Cerita masa sekolah Disa.


Bu Keisya pun mengantar ke ruang Bapak Kepala Sekolah.


" Terimakasih ya, Cantik!" Ujar Disa pada Temannya Bu Keisya yang pergi setelah mengantar mereka.


" Nanti, Kamu ceritakan masa sekolahmu!" Ujar Hans penasaran dengan mantan-mantan Disa.


Disa pun tersenyum, Karena itu bukti bahwa Hans sangat menyayanginya.


Bapak Kepala Sekolah secara kebetulan juga mau keluar sehingga mereka berpapasan.


" Mba dan Mas, Mau cari siapa ya?" Tanya Bapak Kepala Sekolah, Melihat Disa dan Hans.


" Permisi Pak, Saya Kakak dari Arini bermaksud untuk bertemu Bapak Kepala Sekolah." Disa mengutarakan maksudnya.


" Oh...Silahkan Masuk, Saya Bapak Kepala Sekolah." Bapak Kepala mempersilahkan masuk ke ruangannya.


" Silahkan duduk!" Imbuh Bapak Kepala.pada keduanya.


Disa dan Hans duduk di hadapan Bapak Kepala sekolah.

__ADS_1


" Bapak, Sudah tahu maksud kalian kesini pasti ingin membicarakan penyakit dari Adek anda kan?" Kata Bapak Kepala


" Ia Bapak, Kami memohon kebijaksanaan sekolahan untuk memberi kelonggaran kepada Adek kami di bidang olahraga dan mata pelajaran yang bisa membuatnya lelah, Karena akan menjadi pemacu untuk penyakitnya Kambuh, Bapak." Jelas Disa.


" Hemmt....Yah itu bisa kok, Adek kalian itu pintar jadi sekolahan juga nggak keberatan bila Ia tidak mengikuti pelajaran olahraga, Hanya saja Bapak mohon untuk Ia bisa mewakili sekolah kita untuk mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah Sekota!" Pinta Pak Kepala Sekolah.


" Apakah di izinkan?" Imbuh Bapak Kepala Sekolah.


" Tentu Bapak...Tentu Kami ijinkan, Selagi bukan memakai fisik boleh, Bapak!" Balas Disa bersemangat.


Hans pun bingung, Jika ikut lomba berarti fisik Arini akan capek karena mengikuti pelatihan-pelatihan.


" Maaf Bapak, Bukannya Saya tidak boleh, Tapi jika Adik saya ikut lomba berati kan Ia harus mengikuti latihan setelah sepulang sekolah. Apakah itu tidak akan membuat fisiknya drop!" Ujar Hans, Memikirkan Adiknya.


" Oh..Itu semua Bapak dan Ibu guru sudah sepakat, Nanti mereka memberikan bimbingan dengan datang di rumah. Jadi Mas'nya bisa juga mengawasi! Terang Bapak Kepala Sekolah.


" Kalo begitu, Saya setuju Bapak." Hans menyalami Bapak Kepala Sekolah.


Setelah keluar dari ruang Kepala Sekolah, Hans sangat gembira di karenakan Adiknya Arini meski fisiknya drop masih bisa berprestasi di mata pelajaran.


" Hebat Dia, Satu jalur tidak bisa Ia buka jalur yang lain. Aku akan menemui Arin, Aku bangga banget sama Ia,.Sayang!" Ungkap Hans menggebu-gebu.


Keluar dari sekolah, Ia melihat Arini duduk di samping Pak Isman dan sedang tertawa bercanda dengan Pak Isman.


Hans berlari ke Arah Arini.


" Arin, Kakak bangga padamu!" Triak Hans lari ke arah Arini.


" Aduh itu Pak, Kak Hans triak-triak Arin jadi malu!" Arini berkata Ke Pak Isman.


Sampai di tempata Arini, Langsung Hans mendekapnya dan menjujung Arini untuk Ia banggakan.


" Kak, Arin malu. Arin sudah besar!" Arini merasa malu tentang yang dilakukan Hans


" Udah Hans, Turunin Arin! Lihat tuh semua teman Arin melihat ke kamu." Disa menghentikan euforia Hans.


Pak Isman yang melihat pun tersenyum, Karena melihat seorang Kakak yang sangat sayang pada Adiknya.


" Arin, Kamu besok ikut lomba! Arin minta apa biar Kak Hans dan Kak Disa carikan biar Arin nyaman belajar?" Tanya Hans.


Arini bingung karena belum ada yang memberitahunya, Arini tidak meminta apa-apa karena Para Guru belum ada yang memberi pemberitahuan kepada Arini.

__ADS_1


__ADS_2