
Setelah memberikan bimbingan terhadap Arini, Waktu menunjukkan pukul 16.00 wib.
" Udah ya, Ibu pamit. Terimakasih atas baksonya." Pamit Bu Keisya pada Arini kecil.
" Ia Bu, Sama-sama. Terimakasih atas waktu Bu Keisya mengajar Arin Bu." Balas Arini kecil sambil mencium tangan Bu Keisya.
Pak Romi dan Bu Sara yang baru pulang, Karena tidak mau mengganggu memilih menunggu di depan teras mengobrol bersama Ikhsan.
Rino mengambil gerobak dan memarkirkan di depan rumah siap-siap berjualan di pasar malam.
Bu Keisya ke luar, Melihat Kedua orang tua dan Ikhsan Bu Keisya pun berpamitan.
Saat hendak keluar, Ia melihat Rino menata pernak-pernik wanita untuk di jual di pasar malam. Bu Keisya pun penasaran sekaligus tertarik dengan yang Rino jual, Akhirnya mendekati gerobak.
Bu Keisya memegangi pernak pernik di gerobak Rino, Rino pun kaget karena Ia sedang fokus menata tiba-tiba ada Bu Keisya di sampingnya.
" Bu Keisya, Sampai kaget saya." Ujar Rino.
" Ini barang dagangan Mas Rino?" Tanya Bu Keisya.
" Iya nih Bu, Mau jualan di pasar malam di lapangan depan sana!" Jawab Rino sembari tersenyum.
" Pasar Malam?" Bu Keisya menegaskan.
" Iya Bu, Malem ini baru buka. Kenapa, Ibu mau lihat?" Ajak Rino.
Bu Keisya pun berfikir sejenak dengan terdiam.
" Ayo Bu, Ikut saja rame nanti." Ajak Rino kembali.
Bu Keisya yang sepantaran usianya dengan Rino, Sudah lama tidak melihat pasar malam.
" Ya udah, Tapi Saya naik motor biar nanti sekalian pulang, Mas!" Jawab Bu Keisya.
" Ya Bu, Tunggu dulu saya tak menata dagangan biar cepat nanti buka lapaknya! Ibu tunggu di teras atau duduk di sini dulu!" Kata Rino sambil memberikan bangku ke Bu Keisya.
Bu Keisya pun duduk di samping Rino, Setelah 10 menita Rino sudah selesai.
" Yuk, Buk berangkat!" Kata Rino.
Bu Sara keluar rumah melihat Bu Keisya belum pulang.
" Loh, Ibu belum pulang?" Tanya Bu Sara.
" Belum Bu, Ini mau di ajak Mas Rino jualan di pasar malam. Maklum sudah lama tidak melihat pasar malam." Balas Bu Keisya malu-malu.
" Oh, Iya Bu pasti ramai nanti!" Ujar Bu Sara.
Rino berpamitan dengan mencium tangan sang Ibu.
" Permisi, Bu" Pamit Bu Keisya.
Rino mendorong gerobak sedangkan Bu Keisya mengikuti di belakang Rino.
Karena dekat dengan rumah hanya 5 menit Akhirnya sampai.
Rino melihat Bu Keisya kebingungan memarkirkan motornya, Karena ada penjaga yang tidak memperbolehkan motor masuk ke area pasar malam
Rino meletakkan gerobak di dalam area pasar malam kemudian menghampiri Bu Keisya.
" Udah ini Bu, Biar saya bantu memarkirkan motornya!" Ujar Rino memberikan bantuan.
Bu Keisya turun dari motor, Kemudian Rino mematikan motor menuntunnya masuk ke dalam.
" Ini siapa No?" Tanya Petugas pasar malam teman dari Rino.
" Gurunya Arin, Mau lihat pasar malam. Motor saya masukkan ya Bos, Boleh kan?" Tanya Rino.
" Alah No, Kayak siapa aja. Silahkan bawa masuk!" Jawab Petugas itu.
Setelah motor masuk ke area pasar malam.
__ADS_1
" Mas, Bukannya motor nggak boleh masuk?" Ujar Bu Keisya membaca tulisan di depan.
" Ya kan motor pengunjung, Beda kalo pedagang Bu." Jelas Rino dengan cengengesan.
" Mana Mas, Biar saya tuntun sendiri. Kan Mas Rino bawa gerobak!" Bu Keisya mengambil motor dari Rino karena tidak mau merepotkan.
Semakin ke dalam pedagang kanan kiri, Semua menyapa Rino seolah Mereka sudah akrab dengan Rino.
Ada anak kecil salah satu pedagang menghampiri Rino.
" Om No..Om No....Aku bisa bunyi'in Ini!" Kata Anak kecil itu menyegat Rino.
Rino tidak marah, Ia meletakka gerobak kemudian bercanda dengan anak kecil itu sebentar.
Bu Keisya melihat kehangatan Rino mulai terpesona, Karena Ia sangat ramah kepada semua orang.
" Om No, Jualan dulu ya sayang. Nanti mampir ke lapak om No di situ om kasih kesayangan om nanti bando lucu!" Ujar Rino berpamitan dengan anak kecil itu.
Anak kecil itu pun menurut apa kata Rino.
Rino mendorong gerobak 3 langkah tepat di pinggir lapangan dekat dengan orang tua anak kecil itu berdagang.
" Sini Bu, Motor taruh sini aja. Biar keluarnya gampang nanti!" Ujar Rino menunjuk samping gerobaknya yang ada jalan kecil.
" Itu siapa, No?" Tanya Ibu anak kecil itu.
" Ibu Guru dari Arin, mau lihat pasar malam!" Jawab Rino sambil membuka lapak.
Setelah memarkirkan motor, Bu Keisya pun kembali lalu membantu Rino menata dagangan.
" Bu, Mau lihat pasar malam ya!" Sapa pedagang sebelah Rino mengakrabkan diri.
" Iya, Bu!" Jawab Bu Keisya.
Untungnya Bu Keisya sempat ganti baju dengan baju casual sebelum ke rumah Arini.
Semakin sore semakin berdatangan pengunjung, Penuh karena baru pertama kali buka.
" Bu, Mari ibadah maghrib dulu di sana!" Ajak Rino.
" Tapi itu dagangan kamu siapa yang jaga, Mas?" Tanya Bu Keisya.
" Udah, Itu nanti di jagain sama sebelah!" Kata Rino.
" Titip dagangan ya!" Triak Rino melangkah ke mushola kecil dekat pasar malam.
" Okey, No!" Jawab pedagang-pedagang di sekeliling Rino.
Bu Keisya pun kaget, Baru tahu kalo keakraban antar pedagang seperti itu sudah layaknya saudara saling menjaga satu sama lain.
Melangkah melewati Wahana-wahana, Bu Keisya sangat senang.
" Dulu Saya tidak bisa naik ini, Mas! Bukan karena takut karena waktu itu ya ekonomi keluarga masih sulit, Saat teman-teman beli balon Saya cuma bisa lihat. Hanya jalan-jalan sama Kakak perempuan Saya kalo ke pasar malam!" Cerita Bu Keisya.
Rino pun menyimak cerita Bu Keisya.
Seusai Ibadah, Mereka kembali ke lapak.
Rino menuju pedagang balon yang dimana teman dari Rino.
" Kita ngapain, Mas?" Kata Bu Keisya di depan penjual balon.
" Ibu pilih aja, Yang mana yang di suka. Kan kata Ibu dulu nggak bisa beli sekarang mumpung di pasar malam mengobati sedikitlah meski sudah telat...Hehehhe!" Kata Rino cengengesan.
" Udah, Nggak usah Mas!" Bu Keisya menolak karena takut merepotkan.
Rino mengambil balon yang bergambar Putri, Lalu mengikat di pergelangan tangan Bu Keisya.
" Berapa, Bos?" Tanya Rino ke temannya.
" Kamu apa'an sih No, Udah bawa aja itu pacarmu ya No?" Tanya Pedagang balon.
__ADS_1
" Guru Arin, Ini mau lihat pasar malam!" Jawab Rino.
" Bu, Maaf." Kata Pedagang Balon.
Bu Keisya pun wajah malu karena di sebut pacar Rino.
" Kamu No, Kakakmu sudah mau nikah. Kamu cewek aja nggak ada!" Sindir Pedagang balon akrab dengan Rino.
" Ya gimana, Cowok humoris itu kalo nyatain suka di anggep bercanda!" Gurau Rino.
" Boro-boro ngungkapin ke cewek, Semut cewek aja nggak mau nempel ke Kamu No!" balas Penjual Balon.
Rino pun segera pamit untuk kembali ke lapaknya.
" Mas, Emang setiap pedagang itu kenal semua ya? Dan kalo sesama teman pedagang apakah tidak rugi ngasih cuma-cuma gini?" Tanya Bu Keisya ingin tahu.
" Ya sudah kayak keluarga segini kenal satu sama lain Buk akrab, Kalo hitung-hitungan rugi nggak lah pasti ketutup sama daganga. Yang laku dari pengunjung!" Jelas Rino.
Kemudian Bu Keisya tertarik dengan wahana sangkar burung. Ia mendekati lalu meminta tolong Rino memfotonya.
" Kenapa, Hanya foto Buk. Apa Bu Keisya takut naik ini?" Tanya Rino.
" Ya gimana ya, Mas! Takut ngebayanginnya." Jawab Bu Keisya.
Rino lantas menarik Bu Keisya.
" Mari Buk, Kita naik!" Ujar Rino, Sambil menarik Bu Keisya.
" Mas Bro!" Kata Penjaga tiket akrab dengan Rino.
" Mau naik nih, 2 tiket berapa?" Tanya Rino sambil cengengesan.
" Alah kayak sama siapa sih Lu, Itu adikmu gimana ajak sekalian dong Aku kangen nih!" Kata Penjaga tiket.
Lalu penjaga tiket melihat Bu Keisya.
" Pacarmu, No?" Tanya Penjual tiket.
" Ini Gurunya Arin, Mau lihat-lihat pasar malam!" Jawab Rino.
Kemudian Penjaga menghentikan wahana untuk Rino dan Bu Keisya naik.
" Dari tadi gratisan terus ya Mas, Jadi nggak enak!" Ujar Bu Keisya saat naik wahana.
" Bu, Kalo pedagang menerima uang dari pedagang lain itu malu. Karena mereka tahu rasanya mengais rejeki di tempat yang sama, Ini saya di gratiskan karena Saya kalo yang beli teman pedagang atau penjaga ya saya gratiskan. Paling satu dua kan kita gratiskan!" Jelas Rino.
Bu Keisya melihat dari atas wahana.
" Ternyata indah ya, Mas!" Ujar Bu Keisya melihat desa dari atas.
" Emang belum pernah naik, Bu?" Tanya Rino.
" Ini baru pertama kali, Karena di paksa mas Rino. Biasanya sih takut!" Kata Bu Keisya
" Oh...Jadi ini berani karena kepaksa atau karena nggak enak kalo nolak sama Saya!" Gurau Rino.
Bu Keisya pun hanya tersenyum.
Setelah turun dari Wahana, Rino kembali ke lapaknya.
" No, Itu tadi ada 5 orang yang beli! Uangnya di tempat biasa." Ujar pedagang samping Rino memberi tahu.
" Makasih, Mas Bro!" Kata Rino.
Bu Keisya, Pun melihat jam di tangan sudah pukul 7 malam. Ia memutuskan berpamitan karena besok masih mengajar.
Bu Keisya bingung dengan balon di tangannya untuk membawanya pulang.
" Mana sini, Bu!" Rino membuka tali kemudian menalikan di belakang motor Bu Keisya dengan balon tali di lilitkan agar lebih pendek.
Bu Keisya pun tersenyum, Lalu berpamitan.Kemudian Rino menunggu lapaknya.
__ADS_1
Bu Keisya tersenyum-senyum senang mengingat tadi bersama Rino di pasar malam, Seolah membangkitkan kenangan masa lalu bersama Kakak perempuan Bu Keisya waktu mereka remaja.