
Waktu cepat berlalu, Arin dan Sahabatnya akan naik ke kelas 9.
" Wah, Tinggal seminggu lagi kita harus menghadapi kenaikan kelas Rin!" Ujar Dina menunggu bell masuk.
" Kalo Arin pasti siap, Kita itu loh gimana! Kalau olahraga sih Kita yakin tapi ini kan pelajaran haduh!" Sahut Tary.
" Kamu enak, Kemarin laporan Study Tour bisa sama sama Arin. Nilai ke tolong Nay. Kalo kita ya pasrah." Sambung Hera melirik Nayla yang duduk di meja belakang bersama Tary, Sementara Hera duduk di samping Dina mengambil kursi sebelahnya.
" Aku yakin, Kalian bisa kok! Pasti kita naik sama-sama." Balas Arini sambil tersenyum melihat semua sahabatnya, Sementara tangannya memegang buku.
" Kerja kelompok Yuk?" Ujar Dina.
" Tapi, Rumah kita jauh-jauh Din! Gimana bisa Kita belajar kelompok!" Balas Tary.
" Yah, Gini saja Rin! Kita pulangnya telat mulai besok, Kita belajar di kelas setelah siswa lain pulang!" Ide Hera.
Arini berpikir lama, Karena Ia harus memikirkan transportasi pulang yang Angkot hanya melayani sampai jam 1 jika lebih dari itu akan sulit dan lama menunggu angkot.
" Ibu boleh ikutan nggak, Biar besok Ibunyang mengajar seusai sekolah selesai!" Sahut Bu Keisya yang tak sengaja mendengar obrolan Arini dan Sahabat-sahabatnya ketika lagi mengontrol ruang kelas.
Arini masih terdiam, Hera melihat Arini " Kamu enggak bisa, Rin? Bukannya obatmu selalu Kamu bawa!" Ucap Hera.
" Kamu pasti berfikir angkutan pulangmu kan Rin, Soalnya angkot hanya sampai pukul 1 siang!" Kata Nayla memahami pikiran Arini.
" Sudah, Tidak usah di fikirkan Rin. Biar Ibu nanti yang mengantarmu!" Balas Bu Keisya melihat Arini.
" Tidak usah Bu, Biar Arin naik angkot besok. Baiklah Arin ikut." Kata Arini tidak ingin membuat Sahabat-sahabatnya kecewa.
" Yey....Arin setuju!" Teriak Dina.
Tet....Teeet...( Bel masuk berbunyi)
Semua kembali ke tempat masing masing dan Bu Keisya keluar dari kelas.
...****************...
*****Sepulang sekolah, Setibanya di rumah*****.
" Assalamualaikum.." Ucap Arini memasuki teras rumah, Melihat Ibunya dan kedua Orang Tua Disa sedang bercengkrama di luar.
"Wa'alaikumsalam.." Balas Semuanya.
Arini lalu mencium tangan semuanya, Selanjutnya Ia duduk menghadap ke semuanya.
__ADS_1
" Adiknya Kak Disa sudah pulang, Ada apa Rin kok mukamu di tekuk? Masalah belajar kelompokkan!" Ujar Disa keluar membawa cemilan dan minum untuk semuanya.
" Ibu sudah tahu Rin, Dari Bu Keisya yang memberi tahu Kak Disa. Enggak apa-apa Ibu setuju!" Ujar Bu Sara.
" Biar nanti Kak Erin yang jemput juga bisa Rin, Mumpung lagi di sini." Sahut Erin keluar bersama Dira.
Arini pun bingung kenapa banyak orang di rumahnya.
" Kak Dira, Enggak kerja to?" Tanya Arini heran, Melihat Kak Erin dan Kak Dira di rumah.
" Libur Sayang, Ini baru mau ajak Kamu jalan-jalan jajan ke pasar menemui Kakak-kakakmu!" Sahut Dira sambil tersenyum.
" Sudah minum obat kan, Rin?" Tanya Disa, Mengingatkan Arin sembari duduk di samping Bu Sara
" Bu, Kak. Obat Arin sudah tinggal buat nanti malam, Jika Ibu tidak ada uang besok saja Kita ke Rumah Sakitnya buat minta obat!" Ujar Arini sambil mengeluarkan obat dari tasnya, Lantas menunjukkan ke semuanya.
" Udah sekarang aja, Ganti baju kita ke Rumah Sakit buat kamu berobat! Biar Kak Dira dan Kak Erin yang antar!" Sahut Dira.
" Ayo Buk, Kita periksakan Arini biar bisa menghadapi ujian kenaikan kelas." Ucap Erin menghampiri Bu Sara lalu menggenggam tangannya tanda mengajak.
Bu Sara terdiam karena Ia takut merepotkan, Beliau hanya menatap Erin yang menggenggam tangannya.
" Pasti berfikir merepotkan Kami! Udah, Ayo Buk segera Kita ke Rumah Sakit kan Kami semua anggap Ibu Orang Tua Kami sendiri jadi otomatis Arin adalah adik Kami!" Ucap Erin merayu Bu Sara.
Bu Sara menatap Arini " Baiklah, Tapi Ibu mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kebaikan kalian semua." Tutur Bu Sara.
" Ya udah, Rin ganti baju sana!" perintah Disa.
Arini langsung menuruti perintah Disa karena ini untuk kebaikannya.
" Ibu tak ganti baju dulu." Pamit Bu Sara.
Setelah Mereka siap, Tanpa membuang waktu Mereka menuju Rumah Sakit untuk memeriksakan Arini.
Setibanya di Rumah Sakit, Arini masuk bersama Bu Sara sementara Erin dan Dira menunggu di luar.
" Mas, Pantes betah di sini orang-orangnya makin ke sini makin asyik." Ujar Erin.
" Iya, Di sinilah tempat yang bisa merubah orang sepertiku! Kamu juga nampaknya betah di sini!" Balas Dira tersenyum.
" Iya, Mulai betah pengen cari kerja di sini saja!" Ucap Erin.
" Kenapa harus nyari, Kamu ikut saja di Restaurantku. Itu nanti juga buat Kamu jika jadi istriku!" Kata Dira, Duduk di kursi tunggu sebelah Erin.
__ADS_1
Erin pun tersipuh malu.
Arini dan Sang Ibu tak lama keluar, Lalu Erin dan Dira segera menghampiri keduanya.
" Bagaimana, Bu?" Tanya Dira.
" Arin membaik, Ia boleh aktifitasnya di tambah sedikit jadi boleh kerja kelompok!" Jelas Bu Sara.
" Sekarang tinggal ambil obat sama administrasi kan Bu! Arin kamu sama Kak Dira di sini, Biar Kak Erin dan Ibu yang urus obatmu." Ujar Erin lalu menggandeng Bu Sara layaknya orang tua sendiri mengajaknya ke ruang Administrasi.
Dira yang melihat ke akraban Erin dan Bu Sara pun tersenyum, Melihat banyak perubahan Erin selama Ia tinggal di sini.
" Kak Dira kenapa? Senyam-senyum sendiri?" Tanya Arini yang duduk di sebelahnya.
" Oh...Sampai lupa, Kakak bersama Adik tercinta. Maaf Rin, Kakak baru memikirkan hal lucu yang ada di hp Kakak." Alasan dari Dira, Menutupi kekagumannya pada sikap Erin.
" Tapi melihatnya ke Kak Erin, Kak Dira cinta ya sama Kak Erin! Udah Kak, Bilang saja atau mau di bantu sama Arin?" Gurau Arini pada Dira.
Dira pun tersipuh malu atas godaan Arini, Wajahnya berubah memerah.
" Rin, Ke kantin yuk! Kita beli minuman dan makanan." Ajak Dira.
" Tapi Kak Erin dan Ibuk, Bagaimana Kak?" Tanya Arini.
" Udah, Kakak udah kirim pesan ke Kak Erin kok. Nanti Mereka menyusul!" Jawab Dira.
Lalu keduanya pun menuju kantin Rumah Sakit untuk mebeli makan sekaligus mengobrol.
Bu Sara kembali untuk menemui Arini dan Dira, Dengan di gandeng manja oleh Erin.
" Tinggal di sini dan kenal dengan keluarga Bu Sara merupakan mukjizat bagiku Buk!" Ujar Erin membuka obrolan.
" Kok begitu?" Tanya Bu Sara sambil jalan.
" Iya, Meski hidup sederhana tapi bisa tersenyum. Dulu Aku pikir hanya materi yang melimpah yang bisa membuat Kita tersenyum, Tapi di sini Kita bisa sesederhana itu untuk tersenyum tanpa perlu harus punya ini itu!" Balas Erin.
" Yah Nak, Kami mau menjangkau yang di luar jangkauan Kami juga enggak mungkin. Jadi yah, Mensyukuri yang ada saja! Mendiang Suami Ibu selalu menanamkan kepada Ketiga anak-anak Ibu bahwa tidaklah butuh syarat untuk bahagia andai mereka pintar bersyukur." Jelas Bu Sara.
" Itu Buk, Mungkin dulu Erin kurang bersyukur kali ya! Hingga melepaskan Dira." Kata Erin.
" Enggak kok, Kayaknya di penglihatan Ibu nak Dira juga masih tulus Sayang sama nak Erin." Tutur Bu Sara sembari tertawa.
" Ah..Ibu Bisa saja!" Balas Erin.
__ADS_1