Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Awal Arini Memupuskan Mimpinya.


__ADS_3

Keesokan harinya,


Arini berangkat sekolah, Diam-diam memasukkan baju olah raga di dalam tasnya. Kemudian Ia akan berpamitan kepada kedua orang tua, Untuk pergi kesekolah sendirian.


" Apa ini, Arin dapet kado dari siapa?" Tanya Arini melihat kado di tengah ruang tamu.


" Hey, Di lihatin aja nggak mau di buka?" Ujar Rino yang tahu adiknya sudah bangung, Rino ngopi di depan teras rumah.


Mendengar suara Rino, Arini seneng banget karena Kakaknya datang pastilah yang membawa kado, Arini berlari keluar menemui sang Kakak.


" Kak Rino...." Panggil Arini lantas memeluknya.


Rino pun membalas pelukan Arini.


" Wuih adik, Kakak yang cantik ini mau sekolah. Udah sarapan dulu nanti berangkat Kak Rino anter, Sekalian Kakak mau kembali ke rumah Wak Nana! Itu bingkisan untuk Arin dari Uwak dan Kakak Rino, Bukak gih!" Ujar Rino.


Dengan semangat Arini kembali ke ruang tamu, Ia menyobek kertas kado untuk melihat isi di dalamnya.


Lantas, Rino juga masuk untuk mengembalikan sepatu lari milik Arini yang pernah Ia umpetin karena tahu keadaan Arini.


" Ini sepatumu, Itu kan sudah jelek! Tapi inget ya Rin, Jangan buat lari!" Kak Rino memberikan sepatu, Lantas membungkuk untuk memasangkannya.


" Hore....Makasih Kak, Arin sekarang punya tas baru, Buku, Penggaris dan alat gambar yang baru dan lengkap! Makasih Banget nih...Bilang juga sama Uwak Arin suka!" Arini kegirangan.


" Yaudah itu tasnya di ganti yang baru ajah!" Kak Rino memandang tas lusuh Arini.


Karena Arini diam-diam memasukkan seragam olahraga, Ia menolak.


" Nggak Kak, Arin malu besok saja pakainya. Arin ingin bawa tas ini dulu aja." Alasan Arini menutupi seragam olahraga yang Ia bawa.


" Yaudah, Kamu sarapan dulu. Kak Rino tunggu di luar!" Ujar Rino melihat wajah Arini.


Arini pun ke dapur, Ia memilih sarapan karena waktunya yang masih panjang.


Hans sudah berjualan semenjak sehabis subuh, Sedang Pak Romi dan Bu Sara kedua orang Tua mereka sedang bersiap-siap untuk jualan juga.


Pak Romi selesai mandi melihat Arini masih makan di dapur.


" Santai saja, Kan mau di anter Kak Rino." Ujar Sang Ayah.

__ADS_1


" Ibumu dimana, Rin?" Tanya Pak Romi tidak melihat istrinya.


" Tidak tahu Yah, Arin belum melihat Ibu. Tadi Arin mau berpamitan mencari Ayah dan Ibu malah di suruh sarapan sama Kak Rino." Jelas Arini.


Datanglah sang Ibu membawa plastik berisi makanan untuk Uwak Nana yang akan di titipkan kepada Rino untuk ucapan terimakasih atas semua kebaikannya.


" Haduh, Capek! Habis nyari oleh-oleh buat Uwakmu." Ujar sang Ibu menaruh bungkusan plastik di atas meja dapur.


" Arin, Sudah mau berangkat bersama Kak Rino ya! Nih uang jajan Arin Ibu tambah." Kata Bu Sara memberi tambahan uang saku 10 ribu.


" Terimakasih Bu, Ibu baik deh...!" Rayu Arini.


Setelah selesai semua Arini langsung mencium tangan kedua orang tua.


Lanjut, Ke depan untuk mengajak Kak Rino berangkat ke sekolah.


Rino di tatakan bingkisan plastik untuk Uwaknya oleh Sang Ibu di motornya, Lalu Ia pun pamit.


Arini menggonceng Kak Rino, Dengan memakai helm yang sudah Kak Rino siapkan.


Setibanya di sekolah Arini


********


Rino pun lekas pergi, Dan tak menaruh curiga pada Arini.


Arini memasuki kelas, Ia melihat teman-temannya sudah berganti pakaian olahraga.


Arini menuju ruang ganti di toilet sekolahnya, Namun ketika melangkah Ia memikirkan lagi tindakannya dengan terus menatap seragam olahraga ditangannya, Ia mengingat pesan semuanya bahwa Ia tidak boleh terlalu capek.


Namun, Ia tak berani berkata pada gurunya karena masih baru dan masih takut.


Arini memutuskan memgikuti teman-temannya, Ia mengikuti kegiatan olah raga.


Saat Pak Guru, Meminta pemanasan untuk berlari mengelilingi sekolah. Arini memutuskan memberanikan diri untuk meminta ijin pada Sang Guru karena kondisinya.


" Iya Nak, Ada apa?" Tanya Pak Guru olah raga.


" Arin, Mau ijin Pak tidak mengikuti mata pelajaran olahraga." Pinta Arini pada sang Guru.

__ADS_1


" Kenapa? Apa Kamu sakit?" Tanya Pak Guru meminta penjelasan.


Arini tidak bisa menjawab karena Ia tak tahu tentang penyakitnya, Ia hanya menunduk.


" Kalau tidak ada alasan, Lebih baik ikut saja sama teman-temanmu biar kamu sehat!" Ujar Guru Olahraga.


" Stop...Stop...! Jangan suruh Arini untuk berolahraga!" Bu Keisya tiba-tiba datang, Meminta Pak Guru mengijinkan Arini untuk tidak mengikuti mata pelajaran olahraga.


Bu Keisya menarik Pak Guru menjauhi Arini, Untuk menjelaskan kenapa Arini tidak boleh berolah raga.


" Kenapa Bu, Siswi ini nggak boleh mengikuti pelajaranku?" Tanya Guru olah raga melihat Arini yang duduk dengan wajah lesu.


" Bukan hanya sekarang Dia tidak ikut, Selamanya Dia tidak akan ikut selama belum sembuh!" Jawab Bu Keisya.


Guru olahraga itu pun bingung dengan maksud Bu Keisya.


" Pak, Saya kenal calon Kakak dari siswi tersebut. Beliau menceritakan bahwa siswi tersebut ada penyakit sumbatan pada ginjal yang tentu saja tidak membolehkan Dia terlalu capek! Jadi saya mohon kebijaksanaan Bapak untuk siswi tersebut, Berikan tugas saja untuk menyusul nilai teman-temannya." Jelas Bu Keisya, Karena Beliau adalah teman dari Disa.


Pak Guru dan Bu Guru, Memandangi Arini yang duduk di jongkok di pinggir lapangan. Mereka kasihan dengan kondisi Arini, Gadis kecil yang sudah menanggung beban sebesar itu.


Akhirnya Pak Guru punya akal agar Arini tidak merasa di kucilkan, Ia menghampiri Arini.


" Hey, Kenapa Kamu sedih! Mulai sekarang Kamu assisten Bapak ya, Bapak mohon kan Kamu yang hafal nama-nama teman kamu, Jadi Bapak ingin kamu yang menilai mereka! Bapak yang ngasih nilai, Kamu yang nulis ya. Nanti Kamu bapak kasih nilai 8, Karena membantu Bapak gimana?" Ujar Pak Guru olahraga.


Arini pun bangkit dari rasa keterpurukan dan Ia menyetujui usulan Pak Guru.


Bu Keisya hanya melihat dari jauh, Dan sangat berterimakasih kepada Bapak Guru karena sudah memiliki ide agar Arini selaku siswi yang Ia pegang untuk tetap berolahraga namun lebih ringan dari yang lain.


Ketika berjalan bersama Pak Guru, Arini ingin menanyakan sebenarnya dirinya sakit apa.


" Pak, Apakah Arin tidak bisa sembuh?" Tanya Arini berjalan bersama Pak Guru.


Pak Guru pun kaget sekaligus terkejut, Ia memberhentikan langkah menatap Arini dengan wajah tersenyum.


" Arin, ya namamu! Pasti bisa sembuh, Yang penting Arin itu semangat terus. Mana Arin nggak sakit kok, Bapak minta Arin buat jadi asisten Bapak karena Bapak sudah tua takut salah ngasih nilai!" Pak Guru memberikan motivasi.


" Arin pengen ikut kompetisi lari, Apakah itu mungkin Pak?" Tanya Arini kembali.


Pak Guru lantas mengajak Arini duduk di emperan depan ruang kelas sambil mengawasi siswa siswi yang berolahraga.

__ADS_1


" Arin, Gagal di satu cita-cita nanti TUHAN akan membuka seribu cita-cita untuk Arin! Bagi TUHAN tidak ada yang mustahil, Makanya Arin sering-sering ibadah lalu berdoa pasti akan di dengar. Arin pasti sembuh kok Bapak yakin itu! Jadi tetap semangat!" Nasehat dari Pak Guru.


Kata-kata itu memotivasi Arini untuk bersemangat menjalani hari-harinya, Tidak lagi mengeluh dan putus asa akan penyakit yang Ia derita.


__ADS_2