
Waktu menunjukkan pukul 13.00 wib,
Hans datang dari membeli bakso bersama Disa, Ia membungkuskan bakso untuk Ikhsan, Rino dan Sang Ibu.
Setelah memasuki teras bersama Disa, Rino yang melihat kedatangan mereka setelah beres-beres di ruang tamu langsung buru-buru keluar.
" Stop...Jangan masuk lewat depan! Depan akan di pakai Arin untuk belajar bersama Bu Keisya, Aku dan Ikhsan sudah capek membersihkannya!" Ujar Rino.
" Hey Tuan Bucin, Terus kami mau masuk lewat mana! Ini bakso keburu dingin untuk kalian!" Bentak Disa.
" Itu jumlahnya berapa?" Tanya Rino.
Ikhsan yang mendengar dirinya di belikan bakso, Bergegas keluar lalu mengambil plastik bakso dari Hans.
" Makasih Hans, Suka di repotkan!" Sahut Ikhsan.
" Ya cuma beli 3 lah!" Jawab Hans, Yang melihat plastik bakso di ambil Ikhsan.
" Gimana sih, Kan akan ada Arin sama Bu Keisya!" Kata Rino, Lalu mengambil bakso dari tangan Ikhsan.
" Ya udah, Buat Ibu tetap buat Kalian kasih aja ke Arin sama Bu Keisya beres!" Kata Disa menjawab persoalan Rino.
" Bentar nih, Kenapa punyaku juga ikut di balik nama?" Ujara Ikhsan berdiri di samping Rino.
" Udah nanti kita beli, Aku yang traktir San! Ini buat tamu dulu. Emang kedua Kakak dan calon Kakak tidak peka!" Pungkas Rino, Membawa masuk plastik bakso ke dalam rumah.
" Itu anak di perhatikan Kakaknya nggak ada terimakasih-terimakasihnya!" Ujar Disa kesal.
" Kamu kenapa melamun, Hans?" Tanya Ikhsan.
" Enggak Aku masih bingung, Kok sampai rumah bakso cepat ya berpindah tangan!" Gurau Hans.
" Emang kelakuan adikmu." Balas Disa.
" No..Traktir bakso, Buat ganti'in itu!" Teriak Ikhsan masuk ke dalam rumah menyusul Rino.
Sang Ibu yang duduk di dapur ingin makan, Tiba-tiba di kejutkan dengan Rino.
" Nih Bu, Dari Calon mantu sama Kakak! Buat Ibu satu nah yang dua buat Arin dan Bu Keisya!" Ujar Rino memberikan bakso bagian sang Ibu.
" No..Ayo kita ngebakso!" Teriak Ikhsan mendekati Rino.
" Iya bentar San, Nunggu Bu Keisya datang dulu. Nggak mati kalo cuman nahan laper 10 menit!" Gurau Rino.
Hans dan Disa karena kekenyangan duduk di karpet yang di tata Rino untuk Arin dan Bu Keisya.
Rino kembali dari dapur dan melihat keduanya lagi duduk santai bersandar di dinding.
" Waduh ini buat Arin ya, Kalo mau nyantai di belakang! Ini nanti ngegulung karpetnyah gimana!" Kata Rino kesal.
" Kamu kenapa sih No, Ribet amat? Cuman kedatangan Bu Keisya aja kayak kedatangan orang penting!" pungkas Hans kesal.
" Iya, Cuma Keisya aja segitunya!" Imbuh Disa.
" Get Out! Abangku dan Kakak perempuanku!" Perintah Rino.
Hans dan Disa terpaksa mengikuti kata Rino karena Mereka tahu perasaan Rino.
" Kenapa sih pada ribut?" Tanya Bu Sara melihat Disa dan Hans menggerutu sampai di dapur.
" Tuh Bu, Anak lelakimu! Jadi Aneh." Kata Hans kesal.
" Biarin Hans, Ia kan lagi seneng mau ketemu sama Guru Arin!" Ujar Bu Sara.
__ADS_1
Hans dan Disa duduk di meja dapur.
" Ini Ikhsan, Kemana?" Tanya Hans.
" Tuh tidur di kamarmu, Kasihan Dia menahan laper!" Jawab Bu Sara.
" Kerjain Rino, Yukk?" Ide Disa.
Disa pun diam-diam memberikan satu bakso untuk Ikhsan di kamar.
" Gila kamu Dis, Kalau Rino tahu ngamuk loh!" kata Hans memperingati.
" Ahh...Itu nanti urusanku." Jawab Disa.
" Bener loh Nak, Kalo Rino ngamuk bisa rame nih rumah!" Imbuh Bu Sara khawatir.
" Tenang Bu, Nanti pasti Ia berterimakasih." Ujar Disa.
Datanglah Bu Keisya memboncengkan Arini di depan rumah,
" Assalamualaikum...." Sapa Arini dan Bu Keisya memasuki rumah.
" Wa'alaikum salam.." Balas Rino keluar rumah.
" Silahkan masuk Bu..!" Imbuh Rino.
Hans, Disa, Dan Bu Sara mendengar kedatangan Bu Keisya dan Arini.
" Udah di sini aja, Biar Rino yang menemui!" Kata Disa.
Bu Sara dan Hans mengikuti permintaan Disa.
Arini kecil langsung mencari sang Ibu setelah masuk ke rumah, Ia melangkah ke ruang dapur.
Rino berbincang dengan Bu Keisya sembari menunggu Arin ganti baju.
" Mmt..Udah makan siang, Bu?" Tanya Rino sambil cengengesan.
" Ya nanti aja Mas!" Jawab Bu Keisya.
" Bentar!" Kata Rino, Pamit bermaksud mengambilkan bakso.
Rino ke dapur.
" Bakso mana nih?" Tanya Rino tidak melibat Bakso di meja makan.
" Satu di makan Ikhsan, Dan yang satu buat makan Arin! Kasihan Arin soalnya lesu!" Jawab Disa.
" Terus...Buat Bu Keisya gimana?" Ujar Rino bingung.
" Kalo beneran ingin ngasih, Ajak aja ke warung belakang!" Imbuh Disa.
" Iya No, Ajak saja ke warung! Kan Arin juga masih makan kan. Sana ajak aja!" Kata Bu Sara.
Rino pun malah terdiam sambil cengar cengir melihat Disa.
" Ngapain sih No, Lihat Disa gitu amat!" Pungkas Hans.
" Enggak ini pasti ide Kakak'ku itu kan!" Balas Rino.
Disa sontak bangkit dari duduk, Lalu melangkah berniat menemui temannya Bu Keisya.
" Itu orang, Mau ngapain lagi?" Ujar Rino melihat Disa melangkah keluar, Rino yang curiga mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Sesampainya di ruang tamu Disa menyalami sahabatnya " Hey Sahabatkuh, Sudah Aku tunggu dari tadi!" Ujar Disa memeluk Keisya.
" Oh tadi Mas Rino memanggilmu, Memberi tahu kalo ada Aku gitu Ya!" Balas Bu Keisya.
" Enggak gitu, Kan Arin lagi makan bakso untuk memakan obatnya baru bisa belajar. Aku sudah pesenin Kamu bakso tapi belum di anter, Aku bilang sama Rino kalo Keisya datang ya Aku minta Dia temenin Kamu dulu makan siang di warung bakso sembari menunggu Arin!" Ujar Disa.
Rino yang keluar dan mendengar kata-kata Disa pun kaget.
" No, Anterin Bu Keisya dulu ngebakso!" Perintah Disa.
" Udah, Enggak usah!" Kata Bu Keisya menolak.
" Udah Aku bayar loh, Masak menolak sih Sya! Kamu enggak buru-buru kan?" Tanya Disa.
" Enggak, Aku takut ngerepotin Kamu!" Jawab Bu Keisya.
" Udah di bayar kok repot, Yang repot mamangnya! Udah sana di anter Rino!" Pinta Disa memaksa.
" Yaudah, Ayuk Mas anterin Saya!" Balas Keisya.
Bu Keisya pun keluar dari pintu.
" Terimakasih Kakak, Tapi kalo buat rencana kompromi dulu Kakak!" Kata Rino lirih di depan Disa.
Rino mengantar Bu Keisya untuk makan bakso di belakang rumah, Anak-anak kecil yang bermain di gang jalan menuju warung bakso menyapa Rino karena akrab.
" Mas No, Ayuk main kelereng Aku udah minta uang Bapak nih buat beli!" Ujar Salah satu Anak tetangga Rino.
" Iya nih, Nggak seru ah kalo nggak ada Mas No!" Imbuh yang lain.
Tetangga yang sepantaran Rino, Yang lagi nongkrong di depan rumah pun menyapa Rino.
" Bos, Nanti kita nongkrong! Itu siapa Bos, Canti amat!" Ujar teman Rino satu Rt.
" Wih No, Baru kali ini lihat kamu jalan sama cewek." Gurau Satu lagi pemuda.
Wajah Rino pun memerah, Ia tidak menggubris semuanya karena malu.denga Bu Keisya.
" Itu di tanya teman kok nggak di balas Mas, Nanti di kata sombong loh!" Ucap Bu Keisya.
" Halah Bu, Mereka ya gitu suka menggoda maaf ya Bu!" Balas Rino.
" Kan udah sepakat, Kalo di luar sekolah panggil nama aja!" Kata Bu Keisya mengingatkan.
" Oh Iya Sya, Maaf!" Balas Rino malu-malu.
" Emang Mas Rino di lingkungan sini belum pernah gitu jalan sama ceweknya?" Gurau Bu Keisya.
" Hehehhe....Boro-boro cewek Bu, Lalat betina aja nggak ada yang mau nempel sama Saya!" Gurau Rino.
" Yah namanya orang keuangan standart, Isi di pikiran Saya hanya dagang da dagang cari cuan Bu. Hans dulu juga gitu, Kenal sama Disa tanya aja yang nembak Disa duluan! Kan Hans minderan orangnya. Kalo Saya ya karena nggak ada yang mau deket, Pakaian begini, Rambut acak gini anak orang siapa sih Sya yang mau sama type seadanya gini!" Imbuh Rino.
" Tapi Saya suka loh, Mas Rino! Maksudnya suka dalam arti pembawaannya kan dari anak-anak sampai dewasa aja banyak yang nyapa berarti Mas Rino itu orangnya mudah bergaul!" Kata Bu Keisya.
Rino hampir GR mendengar kata-kata Bu Keisya, Ia sekarang lebih pede untuk mendekati Bu Keisya karena pujian dari Bu Keisya.
" Lah Keisya sendiri, Kenapa belum ada suami? Kan udah mapan, Terus cantik, Pinter lagi jadi Guru?" Tanya Rino.
" Jujur kalo Saya, Setiap cowok yang mendekati Saya begitu Saya ajak kerumah lihat kondisi Ibu Saya pada mundur. Mereka kayaknya nggak mau di repotin merawat orang tua Saya, Malah ada yang bilang udah kita sewa perawat saja! Padahal Saya ingin Ibu saya saya rawat berdua dengan suami saya kelak Mas, Ada janji Saya sebelum Ibu saya sakit yaitu kelak akan merawat dengan tangan Saya sendiri!" Cerita Bu Keisya.
" Kapan-kapan boleh nggak, Aku main ke rumahmu Sya?" Tanya Rino spontan.
" Boleh, Silahkan kalo minggu nanti Mas tahu kesibukanku karo di rumah!" Balas Bu Keisya.
__ADS_1