
Setelah seharian berdagang bersama, Pukul 13.00 wib Mereka kembali kerumah.
Wak Nana dan Arini seperti berangkatnya Mereka menaiki angkot untuk kembali kerumah yang berjarak 2 jam dari rumah mereka.
Sedang Hans dan Rino mendorong gerobak dengan jalan kaki.
" Besok, Pagi buta Aku akan pergi ke rumah Wak Nana. Aku mohon kamu beri pengertian pada Arin ya Hans, Dan berikan ketiga kura itu padanya" Ujar Rino dengan tersenyum.
" Maksudmu, Kamu nggak mau berpamitan dengan Arin?" Balas Hans menghentikan gerobak.
" Bukannya nggak mau berpamitan, Hanya saja Aku tidak kuat menahan sedih harus berpisah dengan Arin!" Kata Rino menepuk bahu Hans.
" Kamu yakin, Mau meninggalkan Kami? Jarak rumah Wak Nana hanya dua jam dari rumah kita, Apa tidak sebaiknya kamu pulang pergi?" Bujuk Hans.
" Bukan tentang jaraknya atau waktunya Hans, Ketahuilah Aku berjanji merawat Uwak Nana. Berarti Aku harus dua puluh empat jam bersamanya, Ini udah kesepakatanku!" Jelas Rino sambil duduk di tepian jalan.
" Kalo tekadmu sudah bulat, Maka Aku sebagai Kakakmu tidak bisa berkata-kata lagi!" Balas Hans merangkul Rino.
" Inget nggak Hans, Dulu Ayah dan Ibu selalu mengajak kita jualan lewat sini sewaktu kecil.
Kamu sering bilang Aku manja karena sering di gendong Ibu saat capek!" Kata Rino mengajak Hans bernostalgia di jalan itu.
" Yah, Aku ingat! Kamu selalu bilang, Aku lebih ganteng dari Kamu makanya Aku di sayang Ibu. Itu kan yang Kamu katakan dulu." balas Hans tersenyum mengingat masa kecilnya.
" Sekarang Kita udah jalan sendiri di jalan ini, Bahkan Kita yang gantikan Ayah yang mendorong gerobak ini. Di saat ini juga Aku harus berpisah dan membiarkanmu kelak mendorong gerobak ini sendiri." Kata Rino dengan mata berkaca-kaca.
Mereka pun berpelukan layaknya rasa sayang Adik dan Kakak.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang, Melewati warung bakso kesukaan Arini.
" Hans, Berhenti! Kita beli bakso kesukaan Arin yukk!" Ajakan Rino.
" Emang Kamu yang paling paham Arin." Balas Hans setuju.
Hans memilih menunggu di gerobak, Sedang Rino yang membeli bakso.Tak lama Rino kembali membawa 6 plastik Bakso yang di wadahi plastik hitam besar.
" Udah, Yukk pulang." Ujar Hans.
Mereka pun mendorong gerobak berdua, Bakso di taruh di dalam gerobak.
Sesampainya di rumah, Arini terlihat tidur pulas karena lelah seharian Ia bermain di pasar dengan Ikhsan dan Disa.
Wak Nana duduk sendiri di teras, Karena Bu Sara dan Pak Romi sedang tidur seusai kembali dari jualannya.
__ADS_1
" Wak, Besok kita perginya pagi-pagi buta ya!" ajak Rino.
" Apa Kamu yakin?" Tanya Wak Nana.
" Yakin, Wak!" Jawab Rino.
Hans yang kembali dari memarkirkan gerobak di samping rumah.
" Apa tidak bisa di undur, Wak?" Tanya Hans.
" Kalo Uwak tidak bisa di undur, Soalnya takut pelanggan ikan Uwak pada pindah. Kalo Rino mau nyusul nggak apa-apa Uwak tunggu di rumah uwak." Jawab Wak Nana.
" Enggaklah Wak, Rino bareng sama Uwak aja." Sahut Rino.
" No, Kamu serius tidak mau berpamitan dengan Arin?" Tanya Hans duduk di samping Wak Nana.
" Enggaklah Hans, Kamu yang pamitin aja. Nggak sanggup kalo liat Dia nangis." Terang Rino.
Rino pun langsung masuk ke kamar Arini, Melihat Arini tidur dari dekat dengan duduk di sampingnya.
" Dek, Kakak pergi besok. Arin sehat-sehat ya, Selalu ceria ya!" Kata Rino lirih menatap Arini yang tertidur.
Rino lantas duduk di meja belajar Arini, Ia membuka buku diary Arini.
Membaca tulisan Arini, Menyebut Hans dan Dirinya adalah pintu ajaib yang selalu membawa Arini kemana pun yang Arini mau.
Hans pun melihat dari luar pintu, Ia pun merasa berat harus berpisah dengan Rino.
Rino pun keluar kamar, Ia melihat Hans berkaca- kaca menatapnya.
" Kamu laki-laki tertua, Jelek kalau nangis!" Gurau Rino sambil berkaca-kaca juga menatap Hans.
" Kamu juga, Adik yang sok tegar! Hati-hati disana." Balas Hans, Kemudian memeluk Rino sambil meneteskan air mata.
Akhirnya mereka memakan bakso bersama di depan teras bersama Wak Nana. Setelah selesai memutuskan tidur untuk melepas penatnya.
Pukul 04.00wib,
Rino dan Wak Nana sudah siap untuk pergi, Namun mereka memilih menunggu setelah menjalankan Ibadah sholat Subuh.
Bu Sara dan Pak Romi pun bangun untuk melepas kepergian Rino.
" Buk, Jaga kesehatan ya. Rino ikut Wak Nana!" Pamit Rino.
__ADS_1
Bu Sara yang baru pertama kali harus berpisah dengan salah satu anaknya pun langsung mendekap erat Rino.
" Iya, Kamu di sana juga jaga diri dan kesehatan." Ujar Bu Sara sambil berlinang air mata.
Setelah melepas peluka sang Ibu, Rino langsung bersalaman dengan sang Ayah.
" Yah, Rino merantau dulu. Doain sukses, Sama Ayah jangan banyak minum kopi." Kata Rino menyalami sang Ayah.
Pak Romi pun juga tidak kuat menahan perasaan yang berat melepas Rino anak keduanya, Ia pun memeluk erat Rino sambil meneteskan air mata.
" Maaf'in Ayah ya No, Karena Ayah yang tidak bisa mencukupi biaya untuk perawatan Adikmu. Kamu harus berpisah dengan saudara-saudaramu, Ayah memang Ayah yang tidak berguna." Ujar Sang Ayah menangis memeluk Rino.
" Nggak Yah, Ini karena Rino sayang sama Arin ini bukan pengorbanan tapi ini adalah bukti rasa sayang Kakak kepada Adik Rino." Balas Rino.
Sebelum pergi Rino juga membuka sedikit pintu kamar Arini untuk melihat Sang Adik.
" Dek, Pamit ya Kakak!" Pamit Rino melihat Arini tertidur.
Hans pun ternyata sudah menunggu di depan teras, Ketika Rino keluar dengan Wak Nana Hans langsung menyahut tas Rino.
" Sini, Biar Aku yang bawain sampai depan! Anggap saja ini perhatian Kakak terhadap Adik!" Ujar Hans menenteng tas Rino.
Rino menatap Hans.
" Ya udah, Yuk!" Balas Rino.
Hans membawa tas Rino dan Wak Nana, Menghantarkan sampai jalan raya di ujung gang Rumah mereka.
Rino berpelukan dengan Hans.
" Inget, Jaga Arin kalo sampai Adik kita kenapa-napa. Kamu yang Aku salahin!" Pesan Rino.
" Pasti, Tanpa kamu minta." Balas Hans tersenyum.
Kemudian Hans mencium tangan Wak Nana, Rino pun menyetop angkot yang jurusan di terminal.
Wak Nana dan Rino pun naik, Setelah angkot jalan Rino menatap Hans dari kaca belakang angkot.
" Apa Kamu berat meninggalkan saudaramu?" Tanya Wak Nana.
" Berat pasti Wak, Tapi kesepakatan Aku dengan Wak Nana harus Aku tepati!" Jawab Rino dengan senyuman.
" Uwak bisa membatalkan kesepakatan kita, Anggap aja Uwak membantu keponakan!" Ujar Wak Nana menatap Rino.
__ADS_1
" Jangan Wak, Ini bukti sayangku sama Arin. Aku nggak papa Wak." Balas Rino dengan mantab berkata.
Wak Nana pun salut terhadap Rino yang sangat dewasa dalam menyikapi semuanya.