
Keesokan hari,
Setelah semua Kakak Arini bangun, Layaknya biasanya Mereka mengopi di teras.
" Hari ini mau ngapain, Ya?" Ujar Dira.
" Iya, Ya bingung padahal ada pacar di sini." Balas Rino.
" Arin udah bangun, Belum?" Sambung Rino.
" Belum, Masih tidur sama Keisya. Kecapekan Mereka kan Keisya kemarin baru dateng udah langsung masak-masak aja." Sahut Disa.
" Enaknya ngapain, Hari ini?" Sambung Disa.
" Rekreasi aja yukk, Tuh Rizal ama Dona mumpung di rumah. Jalan aja, Kan ada dua mobil!" Kata Erin memberi ide.
" Iya, Tapi kemana?" Balas Rino.
" Yah, Ngapain ribet-ribet! Kan Arin butuh alat sekolah, Ya Kita carikan aja alat sekolah sekaligus jalan-jalan." Ucap Hans memberikan solusi.
Semua menatap ke arah Hans, Yang sedang menyeruput kopi setelah mengutarakan ide.
" Tak ku sangka Suamiku begitu cerdas, Nak nanti kalo lahir kayak Ayahmu ya sedikit bicara sekali bicara bermutu. Jangan seperti Om Rino, Enggak ada kualitas." Ujar Disa, Sambil mengelus perutnya.
Semua pun tertawa, Mendengar kata-kata Disa.
" Aku kena lagi, Emang Kamu nikah sama Kakak'ku cuman mau sering ngebully Aku kok ya." Ucap Rino, Melihat Disa.
" Tapi bener sih, No!" Sahut Dira.
" Ssst...Pelan-pelan, Kasian yang masih tidur, Nanti terbangun." Kata Erin, Mengingatkan semuanya.
" Okey, Fik Aku setuju. Kita tunggu Arin bangun dan Keisya, Nanti biar Aku yang panggil Rizal dan Dona." Kata Dira.
Sembari menunggu, Disa dan Erin memasak di dapur. Sementara Dira, Hans dan Rino mengobrol di luar.
...****************...
Pukul 09.00 wib,
Arini dan Keisya bangun, Keluar dari Kamar kemudian di susul Bu Sara keluar dari Kamarnya.
Mereka melihat masakan sudah siap, Dan semua mengobrol di teras rumah.
" Maaf ya, Baru bangun." Sapa Keisya, Menghampiri semuanya di luar teras.
" Enggak apa-apa, Kami tahu Kamu capek. Oh ya, Arin sudah bangun?" Tanya Erin.
" Baru mandi, Emang kenapa?" Tanya Keisya.
__ADS_1
" Kamu kan udah mandi, Ganti baju Sya! Kita jalan-jalan, Buat ngebeli perlengkapan sekolah Arin." Jelas Disa.
" Tapi, Pasti'in Arin meminum obatnya dulu!" Sahut Hans.
" Apa Kalian enggak capek, Semalem begadang ini malah ngajak jalan-jalan?" Tanya Keisya.
" Aman Sayang, Bagi lelaki lelah hilang karena kopi!" Jawab Rino.
" Okey, Aku bakal kedalam kasih tahu Arin dulu." Kata Keisya, Langsung kembali masuk ke dalam rumah.
Rizal dan Dona lewat setelah keduanya di suruh sang Ayah mengantar pesanan ke pelanggan konveksi, Melewati rumah Arini.
" Eh Zal, Berhenti!" Teriak Rino.
Rizal dan Dona kaget, Segera Ia menghentikan kendaraan di depan jalan rumah Arini.
" Kebetulan Kalian lewat, Na kamu enggak sekolah?" Tanya Rino, Menghampiri keduanya.
" Enggaklah Kak, Masuk cuma remidi toh Aku enggak ada kabar remidi. Kenapa, Kak?" Jawab Dona.
" Kamu Zal, Enggak kuliah?" Tanya Rino, Menatap Rizal.
" Enggak, Kenapa Kak?" Balas Rizal.
" Kebetulan kalau begitu, Jalan-jalan yuk?" Ujar Rino.
" Ya, Nyari perlengkapan sekolah. Kan Kalian yang paham kota ini, Jadi ya di bantulah." jawab Rino.
" Di toko ya, Kak! Biar nanti Aku aja, Yang ngebeliin buat Arin." Kata Rizal.
" Orang mau jalan-jalan, Malah nitip ke kamu. Yuk lah, Ke mall gitu." Ujar Rino.
Rizal da Dona pun saling pandang.
" Udah, Nggak usah mikir! Aku jemput habis ini di rumah Kalian, Sana kembali ke rumah dulu buat laporan sama Ayahmu soal tugasnya yang sudah Kalian kerjakan." Kata Rino.
Keduanya pun segera pulang untuk melapor tentang pekerjaan yang di berikan sang Ayah, Dan akan bersiap untuk ikut Kakak Arini jalan-jalan.
Rino kembali ke teras,
" Gimana No, Udah di kasih tahu?" Tanya Dira.
" Udah, Yuk siap-siap!" Ucap Erin.
Saat semua masuk, Arini dan Keisya sudah berganti pakaian modist.
" Widih, Adik Kakak dan Calon Kakaknya udah siap nih!" Goda Rino.
Bu Sara melihat ke depan " Kalian mau jalan-jalan?" Tanya Bu Sara melihat semuanya.
__ADS_1
" Iya Bu, Ayo ikut!" Ajak Disa.
" Enggaklah, Udah kalian aja. Tapi Rizal dan Dona di ajak kan? Kalau tidak, Kalian bisa tersesat karena tak tahu jalan nanti." Tutur Bu Sara.
" Udah Bu, Rino yang ajak." Jawab Hans.
" Ayolah, Ibu ikut.." Pinta Erin.
" Enggak Nak, Ibu mau mengurus usaha kerja sama Alm Ayah Arin bersama Om Sono dan Bulik Yanti." Jelas Bu Sara, Memberikan alasan pada sang Anak.
Hans dan Rino kaget, Mendengar Alm Ayahnya, Mempunyai usaha dengan Om Sono.
" Ayah, Ninggalin kerja sama apa Bu?" Tanya Hans, Menatap sang Ibu.
" Itu konveksi Om Sono, Kan Ayahmu juga ada investasi di situ. Jadi secara tidak langsung, Kalian juga punya bagian di konveksi yang di kelola Om Sono." Terang Bu Sara.
" Sejak kapan Ibu tahu, Kenapa tak memberi tahu Kami?" Tanya Rino.
" Sejak Ibu kesini, Om Sono dan Bulik Yanti yang menjelaskan semuanya. Ibu juga baru tahu rumah ini dan usaha konveksi sudah di persiapkan Ayahmu agar Arin bisa Sekolah tinggi tanpa Kita khawatir biayanya." Jelas Bu Sara.
Hans dan Rino, Seketika terdiam.
" Sejauh itu cara Ayah berfikir, Pantas Ia tidak pernah mau memboroskan uang dan lebih memilih makan seadanya. Ternyata itu semua demi Kita, Demi Arin mencapai cita-citanya. Jaket lusuh dan Sandal yang selalu Ia tambal tanpa mau di ganti. Ternyata uang Ayah di jadikan ini semua." Kata Rino, Memuji Alm sang Ayah.
" Begitulah Nak, Ibu juga terkejut kemarin sewaktu tahu semuanya." Balas Sang Ibu.
" Ya udah, Jangan sedih-sedih. Kita kan mau jalan-jalan." Kata Disa menghentikan keharubiruan.
Semua pun berganti pakaian, Lanjut menemui Keisya dan Arin yang sudah menunggu di teras rumah bersama Bu Sara.
Semua berpamitan kepada sang Ibu, Bersalaman dan mencium tangannya.
" Aku, Arin dan Keisya di mobil kita biar nanti Rizal dan Dona di sini! Yang sisanya sama Dira." Ucap Rino mengatur posisi isi mobil.
" Okey No, Kita ke rumah Rizal dulu kan?" tanya Dira.
" Iya, Kita hampiri Mereka dulu!" Jawab Rino.
Semua pun menaiki mobil di posisi yang telah di tentukan.
Lalu Mereka segera bergegas dengan dua mobil menuju rumah Om Sono.
Rizal dan Dona sudah menunggu di depan Rumah bersama Kedua Orang Tua.
" Wess, Sudah siap nih!" Ujar Rino, Sampai di rumah Om Sono turun dari mobil di susul Dira dan lainnya turun dari mobil.
" Bulik dan Om, Ikut yukk?" Ujar Disa.
" Enggaklah, Udah janji sama Ibu Kalian. Mau mengurus usaha konveksi, Sudah yang anak muda saja. Pesan Bulik cuma hati-hati, Jangan ngebut!" Kata Bulik Yanti, Sembari tersenyum.
__ADS_1