
Bu Sara menunggui di samping Arini yang terbaring di klinik.
Sedang Rino dan Hans meunggu di luar ruangan klinik di pariwisata.
" Ini, Hanya kelelahan biasa kok Buk. Jadi tidak usah cemas." Tutur Ibu Dokter, Melihat Bu Sara yang terus menangis sambil memegang satu tangan Arini.
Bu Dokter lantas meninggalkan keduanya.
" Andai penyakitmu bisa di pindah ke Ibu Nak, Biar Ibu yang merasakan semua sakitmu. Kalo seperti ini sama aja hanya seperti menyakiti Ibu terus menerus." Curahan hati Bu Sara.
Disa begitu sampai, Langsung menerobos masuk setelah selintas melihat Bu Sara menangis di samping Arini dari jendela.
Rino dan Hans tidak bisa melarang, Karena Disa langsung masuk.
Ikhsan mengikuti di belakang bersama Dira, Sedang Bu Keisya di suruh untuk tetap di tempat menemani yang lain.
" Hans, No kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Ikhsan.
" Kami enggak tahu San, Tahu-tahu Arin sudah jongkok tak lama Ia tergeletak." Jawab Rino.
" Arin, Emang sering kayak gini ya?" Sambung Dira melihat Arini dari jendela kaca di pintu.
" Ya, Begitulah kondisi Adik kami." Sahut Hans, Mendekati Dira.
Disa di dalam mendekap Bu Sara " Sudah Bu, Arin pasti kuat kok. Sebentar lagi juga sudah sembuh!"
Bu Sara masih saja menangis sambil mengelus kening Arini yang masih tidak sadarkan diri.
Dira menyimak dari kaca, Ia merasa kasihan kepada keluarga Hans.
" San, Kamu ambil mobilku! Kita bawa ke rumah sakit yang terbesar di sini!" Perintah Dira.
" Hans, Kamu sama Aku kita ke admisnistrasi kita tanya keadaan Adikmu. Jika boleh di pindah kita segera pindahkan saja." Imbuh Dira, Sembari melihat ke arah ranjang Arini.
Hans dan Rino saling melihat, Dira melihat ke arah Mereka " Kenapa, Takut biayanya? Biar Aku yang tanggung! Anggap aja Aku Kakak Arini yang nomer 4."
__ADS_1
Melihat keduanya masih terdiam, Dira memutuskan untuk mencari tahu keadaan Arini sendiri dengan bertanya ke administrasi.
Rino sontak, Langsung mengikuti dari belakang langsung menyahut tangan Dira untuk menghentikan " Sudah, Dia hanya kecapek'an! Jika di suruh pindah, Maka tadi Bu Dokter sudah mengintruksikan. Ini sudah biasa bagi Kami, Dir!" Kata Rino melihat Dira.
Rino pun menarik Dira untuk kembali ke depan ruangan di mana Arini di rawat.
Di dalam ruangan,
" Dulu Ayahnya sangat membanggakannya, Aku masih ingat kala Almarhum Ayahnya bercerita kepada penjual di pasar tentang Arini yang juara kelas. Penuh energi Ayahnya menceritakan Putri kecilnya ini, Kemarin Ayahnya menutupi saat Ia Frustasi mendengar Arin di vonis sakit ginjal.
Kami berdua semalam tidak bisa tidur memikirkan Arini, Ayahnya yang kelihatan tegar di mata anak-anaknya tapi Ia rapuh malam itu. Aku melihat Ayahnya menangis sambil Aku memeluknya dan Aku pun juga menangis, Tapi sekarang Aku tak tahu lagi gimana cara agar terlihat tegar seperti Ayahnya di mata Hans, Rino dan Arini." Curhat Bu Sara melihat ke Arini.
Disa yang mendekap pun ikut menangis, Ia merasakan ke sedihan Calon Mertuanya yang tinggal seorang diri mengurus tiga anaknya.
Sambil menitihkan air mata" Ibu jangan sedih, Kita hadapi bersama. Sekarang Disa anak Ibu! Jangan merasa sendiri Bu."
Bu Sara mengelus tangan Disa.
Ada perawat di luar ruangan yang menghampiri Rino dan Hans " Mas, Ini Kami akan kasih obat vitamin terbaik namun harganya mahal sekitar 500 ribu ini untuk menjaga ketahanan tubuh Arin, Bagaimana?" Tanya Perawat.
" Mari ikut Saya Pak, Untuk mengelakukan administrasi terlebih dahulu!" Kata Perawat.
Perawat itu di ikuti Dira menuju ruang Administrasi.
Datanglah Ikhsan kembali setelah mengambil mobil atas perintah Dira " Dimana Dira?" Tanya Ikhsan.
" Ia sedang mengurus administrasi untuk membeli obat Arini." Jawab Rino.
Hans langsung terduduk dan menangis " No, Kita kayak enggak berguna ya. Kali ini Dira yang bantuin Kita, Kenapa ya No kita selalu merepotkan orang lain!" Gumam Hans sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Rino lantas menyandarkan tubuh ke dinding luar ruangan Arini menghadap Hans dan perlahan-lahan duduk " Iya ya Hans, Kakak macam apa kita! Enggak guna kayaknya, Kalo ada atau tidak ada kita kayaknya enggak ngaruh!"
Lalu Hans berfikir, Sebagai rasa terimakasih Ia akan menyerahkan Disa. Karena dengan kejadian ini Hans sangat yakin Dira bisa membahagiakan Disa, Bukan Ia yang serba kekurangan.
Hans berdiri, Lalu buru-buru ingin menyusul Dira di ruang administrasi.
__ADS_1
Rino da Ikhsan tidak peduli dengan Hans, Mereka mengacuhkan karena lebih fokus mementingkan Arini.
Belum sampai ruang Administrasi, Hans sudah bertemu Dira di lorong klinik menuju ruangan Arini.
" Udah beres Hans, Ayo kita balik melihat Arin!" Ujar Dira.
" Berhenti Dir, Aku mau bicara!" Ucap Hans, Menghentikan langkah Dira sambil menitihkan air mata.
Dira pun berbalik " Ada apa, Hans?"
Hans berbalik dan menatap Dira, Seolah mengumpulkan keberanian untuk mengikhlaskan Disa untuk Dira " Apakah Kamu masih mencintai Disa?"
Dira pun kaget " Maksudmu?"
Hans menatap tegas Dira " Jika masih cinta, Aku akan berikan Disa padamu jaga Ia. Karena Aku sadar Dia enggak akan bahagia dengan cowok tidak berguna sepertiku, Untuk menjaga Adikku saja Aku butuh uluran tanganmu."
Dira pun mendekat, Lantas Ia menonjok Hans " Itu buat pengecut seperti Kamu, Bukan karena Disa tapi pukulan itu mewakili Arin yang marah ketika mengetahui Kakaknya pengecut!" Ujar Dira menonjok Hans.
Hans terjatuh, Lalu Dira mengulurkan tangannya untuk membantu Hans bangun.
" Aku bilang apa tadi, Aku Kakak ke 4nya Arini! Jadi Aku juga bertanggung jawab atas Arini. Aku itu belajar menjadi orang baik pada keluarga kalian! Aku kenal ikhsan, Keisya, Rino, Arini semua itu karna Kamu. Aku sekarang tahu seperti apa tawa sahabat, Yang enggak pernah Aku bisa miliki walau Aku punya uang banyak! Perlu Kamu tahu Hans, Kalian buat Aku iri. Seolah hartaku itu tidak ada apa-apanya saat Aku melihat Persahabatan tulus kalian, Kamu dan Keluarga beserta sahabatmu adalah guru kehidupan bagiku! Udah, Uang bisa Aku cari namun Keluarga seperti kalian yang sangat tulus menerimaku itu sangat sulit Aku temukan." Jelas Dira.
Hans dan Dira langsung berpelukan, Hans menangis mendengar kata kata dari Dira " Terimakasih Dir, Aku minta maaf atas kebodohanku" sambil menitihkan air mata.
" Ssst...Udah, Ayo kita tunggui Adik kita! Kalo masalah Disa, Aku sudah enggak minat tahu sifat aslinya yang bawel...Heheheh" Balas Dira, Mencairkan suasana.
Mereka pun langsung melangkah kembali untuk menjaga Arini dari luar.
" Woy, Gimana ini?" Tanya Ikhsan, Melihat Dira kembali.
" Hehehhe...Maaf San, Enggak jadi katanya Arin hanya kecapek'an." Ujar Dira sambil merangkul Hans.
" Apa Aku balik saja ya, Buat menemani Bu Keisya untuk menjaga semuanya!" Ujar Ikhsan.
" Nah, Gitu San. Kesana saja siapa tahu, Bu Keisya ingin melihat Arini kan di sana biar ada yang gantian menjaga!" Balas Dira.
__ADS_1