
Malam pun menjelang sehabis Isy'a di Rumah Arini,
" No, Ikan udah dapet belum?" Tanya Disa, Yang melihat Rino lewat di dapur.
" Udah, Ini mau nyari pisau! Buat bersihin." Jawab Rino, Masih mencari pisau di lemari dapur.
Hans pun datang, Melihat Rino sibuk membuka lemari dapur.
" Ngapain sih, No?" Tanya Hans, Yang datang untuk menyapa Disa.
" Baru nyari pisau!" Jawab Rino, Sambil melihat dan mencari dengan tangan.
" Nih, Yuk Aku bantuin." Sahut Keisya datang di samping Rino, Memberikan pisau.
Rino melihat ke arah Keisya, Sambil cengengesan " Nah, Bu calon mantu idaman kan!" Celetuk Rino, Yang membuat Bulik Yanti, Om Sono dan Bu Sara tersenyum melihat ke konyolan Rino.
" Aduh...." Teriak Rino, Karena di cubit Keisya.
Keisya pun wajahnya memerah malu.
" Udah sana, No! Malah mau pacaran di sini, Kalau berani langsung lamar kayak Kakakmu!" Ujar Disa, Yang di sampingnya ada Hans.
" Tenang...Tenang, Tabungan sudah cukup! Arin masuk sekolah, Tengah semester libur. Kami akan menikah." Ujar Rino,Sambil senyam senyum menggenggam tangan Keisya.
" No, Sana pergi! Malah santai, Kasian Rizal menunggu sendiri!" Ujar Hans, Mengusir Rino.
Lalu Rino menuju depan rumah, Dimana di teras Dira, Erin, Rizal, Dona Dan Arini telah menyiapkan tikar dan panggangan.
" No, Kasian tuh Rizal. Suruh diem di depan kran air, Sana segera hampirin gih!" Kata Dira.
" Ya maaf, Namanya juga lagi nyari pisau eh..ketemunya jodoh." Celoteh Rino, Menatap Keisya di belakangnya.
Erin melihat tangan Rino dan Keisya bergandengan, Ia pun berniat menggoda Keisya " Yah, Takut amat cuma di depan rumah pakai gandengan segala mau nyebrang Mbak?" Celetuk Erin, Menatap Keisya sambil tertawa.
" Kakak Rino, Malu ada anak-anak!" Sambung Arini.
Semua mata tertuju pada Rino dan Keisya, Kembali Keisya merasa malu karena Rino.
" Woy Kak, Ikannya jadi di pakai enggak?" Teriak Rizal, Yang dari tadi diam di rumah samping menjaga ikan agar tidak di curi kucing.
" Yayaya...Bentar! Yang, Kamu di sini aja bantuin orang-orang iri ini!" Ujar Rino sambil cengengesan.
Rino langsung menghampiri Rizal, Lalu jongkok membersihkan ikan.
" Kak, Aku mau tanya. Itu pacar Kak Rino, ya?" Tanya Rizal.
" Iyalah, Calon Kakakmu. Cantik'kan, Rino..!" Jawab Rino, Menyombongkan diri.
" Sayang ya Kak, Nasibnya apes!" Balas Rizal, Mengguraui Rino.
" Heh! Kamu berani ya, Ngecengin Aku." Ujar Rino, Tertawa.
Dira datang mendekat " Ini ikannya kok besar-besar gini, Sayang kalo di makan ya."
" Ya udah Bos, Pilih satu cari yang betina biar bertelur bisa di bisniskan!" Balas Rino, Menatap ikan di ember yang berisi Ikan Nila.
__ADS_1
" Terus caranya milih yang cewek, Gimana No?" Tanya Dira.
" Gampang, Pilih aja kalo yang pakai gincu pasti cewek." Jawab Rino, Dengan candaan.
" Sial lu No, Tanya beneran malah di bercandain." Kata kesal Dira.
" Yah, Basic Saya dagang Bos. Salah nanya, Kan." Balas Rino.
" Tuh Zal, Diantara 3 saudara atau anak Bu Sara. Hanya nih orang yang ngeselin." Kata Dira, Menyindir Rino.
" Mau bantuin, Apa ngajak ngobrol nih?" Ujar Rino, Menyindir Dira.
" Aku mau ke sana aja lah, No! Sama Kamu, bikin dosa." Kata Dira, Melangkah pergi.
Rizal takut, Dira tersinggung Ia pun terdiam.
" Kenapa mbatu Kamu, Zal?" Tanya Rino.
" Enggak Kak, Aku takut candaan Kakak menyinggung Kak Dira." Jawab Rizal.
" Hahahhaha....Enggaklah, Zal. Santai saja!" Balas Rino, Sambil membersihkan ikan.
Dona dan Arini menggelar tikar, Di bantu Keisya, Erin dan Dira.
" Gimana nyaman Na, Pakai kakinya?" Tanya Erin.
Keisya melihat ke arah kaki Dona, Baru sadar kalau Adek Dona menggunakan kaki palsu.
" Nyaman Kak, Makasih banyak tapi masih penyesuaian " Jawab Dona tersenyum.
" Kenapa Sya, Mandangin Kami?" Tanya Dira.
" Pasti mau tanya tentang Dona, Kan?" Sambung Erin.
" Kalau Dona, Jangan di kasihani Kak. Meski begitu Dia itu siswa prestasi, Arin aja yang ngajari Ia bisa di terima di Sekolah Favorite.
" Iya Kak, Jangan kasihani Saya. Soalnya berkat bantuan Kakak Arin semua, Lihat Aku sudah bisa seperti orang normal kan!" Ujar Dona, Tersenyum menatap Keisya.
Keisya pun mendekati, Lalu merangkul Dona " Pokoknya, Kamu dan Arin jangan kalah sama yang lain. Justru Kalian berdua membuktikan, Kami bisa mandiri jangan kasihani Kami!" Ujar Keisya.
" Ya Kak, Tentu! Kata-kata Kakak akan Saya ingat." Kata Dona, Sembari tersenyum.
Semua membawa makanan dari dapur karena sudah siap, Namun Rino dan Rizal masih belum selesai mengurus ikan.
" Loh...Ikannya, Mana?" Tanya Disa, Terkejut.
" Bakarannya siap, Ikannya tuh dalam proses!" Balas Dira, Menunjuk Rino dan Rizal.
Langsung Disa menghampiri Rino dan Rizal, Di samping Rino." Udah selesai belum? Di tungguin tuh, Keburu laper." Kata Disa, Melihat ember ikan.
" Bentar Kak, Ikannya belum ikhlas." Celoteh Rino.
" No, Kamu itu di tungguin loh Ya! Nggak usah ngebanyol, Urusan perut orang banyak ini." Ujar Disa, Memarahi Rino.
" Nih, Udah bawa sana!" Kata Rino.
__ADS_1
" Eh...Jangan, Kamu lagi hamil Nak! Nggak boleh makan hewan dulu." Ujar Bulik Yanti langsung mencegah Disa mengambil ikan.
" Biar Bulik saja, Pokoknya Kamu dan Hans jangan makan ikan dulu!" Sambung Bulik, Membawa ember berisi ikan.
Disa langsung melihat Rino dan Rizal, Dengan bingung.
" Iya Kak, Jangan itu larangan atau pantangan di sini!" Jelas Rizal.
Rino langsung tertawa terbahak-bahak " Nahlo, Nggak boleh makan hewan dulu. Nanti makannya, Sama Sayur dulu ya Kakak Iparku." Celetuk Rino, Menertawai Disa.
" Yuk Zal, Makan ikan. Kan masih lebih banyak." Sambung Rino, Menggoda Disa.
Semua duduk, Menunggu Erin dan Dira membakar ikan di depan rumah.
" Nanti Hans dan Disa, Jangan makan Ikan ya. Udah pakai telur saja." Kata Om Sono.
" Iya, Soalnya takut nanti sama adek bayinya." Sambung Bulik Yanti.
Hans dan Disa saling menatap, Karena mereka bingung.
" Iya dengerin kata Bulikmu, Sabar dulu." Imbuh Bu Sara.
" Makannya nurut ya Kakak dan Kakak Iparku!" Ujar Rino, Menggoda keduanya.
" Iya, Dulu Ibumu waktu hamil kedua melanggar makan belut. Tahukan jadinya kayak, Siapa?" Ujar Om Sono.
" Kayak Rino,Hahahha.....Enggak bisa diem! Isinya jahil terus." Sahut Dira.
" Jangan ya Sayang, Mirip Ayahmu saja jangan kayak adeknya yang nomer dua!" Ujar Disa sambil mengusap perutnya.
Semua pun tertawa, Menertawakan Rino.
Melihat Keisya ikut ketawa " Pacarnya jatuh harga diri, Malah ikut jatuhin bukannya membela." Ujar Rino melirik Keisya.
" Abis kenyataan, Kurang ingetkan tragedi supermarket?" Balas Keisya.
" Kasihan tuh Ikhsan, Sering kena jahilnya Rino. Dia kan polos." Ujar Erin.
" Iya Kak, Jangan jahil terus." Sahut Arini.
" Ya gimana ya, Kalau enggak gitu kurang seru." Kata Rino.
Ikan pun matang, Semua menyantap makanan dan menghentikan obrolan.
Rino melihat Rizal, Ia ingin menjahili Rizal.
" No, Jangan!" Kata Keisya, Melarang Kekasihnya jahil.
" Kenapa, Sya?" Tanya Disa, Semua mata tertuju ke Keisya.
" Rino kalau matanya sudah jelalatan, Pasti mau menjahili Orang." Jawab Keisya.
" No...Mau Aku tempeleng?" Kata Disa, Mengancam Rino.
Rino hanya bisa cengar cengir, Karena ide jahilnya terbaca oleh Keisya.
__ADS_1