
Hari Senin,
Arini kecil berangkat ke sekolah sama seperti kebiasaannya sebelum teman-teman datang.
Bu Keisya piket pagi, Melihat ruangan kelasnya pukul 06.20 wib sudah terbuka Ia penasaran lalu melihat ke ruang kelas.
" Arin, Pagi banget?" Tanya Bu Keisya kaget melihat Arini kecil sedang membaca buku pelajaran.
" Ia Bu, Arin biasa datang jam segini!" Jawab Arini kecil.
Bu Keisya lantas duduk di samping Arini kecil.
" Udah sarapan?" Tanya Bu Keisya melihat Arini di sampingnya.
" Sudah Bu, Ini Arin juga bawa bekal buat makan pas istirahat nanti!" Jelas Arini kecil.
Bu Keisya sudah paham dengan kondisi keluarga Arini, Karena pagi-pagi buta Bu Sara sudah memasak karena untuk sarapan sebelum berdagang pagi-pagi sekali.
" Bukannya Arin sudah punya tv, Terus bawa bekal buat apa?" Tanya Bu Keisya.
" Sudah jadi kebiasaan Bu, Ya lumayan uang sakunya di kumpulin buat besok studytour Arin nggak mau nyusahin orang tua dan Kakak Arin, Bu!" Jawab Arin dengan memegangi buku, Melihat ke Bu Keisya.
" Oh...Hebat kamu, Yaudah belajar dulu juga Ibu sama kayak Arin belajarnya pagi sehabis sholat subuh jadi mudah hafalnya!" Ujar Bu Keisya sambil mengelus rambut Arin.
" Bu, Arin mau tanya. Kan Arin punya penyakit di tubuh Arin, Mungkin nggak Bu. Arin bisa menggapai cita-cita Arin sebagai perawat?" Tanya Arin kecil dengan polos.
" Bisa Arin, Selama Arin mau bekerja keras untuk menggapainya! Ingat Arin hanya satu yang tidak mungkin di dunia ini, Yaitu memakan kepala kita sendiri!" Jawab Bu Keisya di selingi canda.
" Baik Bu, Arin pasti akan bersungguh-sungguh mengejar cita-cita Arin!" Jawab Arini kecil.
" Tapi Arin juga harus rajin sembahyang, Minta sama TUHAN biar nanti cita-cita Arin terwujud." Pesan Bu Keisya.
" Iya Bu, Arin akan meminta dalam doa Arin." Balas Arini kecil.
Datanglah Dina teman sebangku Arin memasuki ruang kelas.
" Pagi Bu..." Sapa Dina, Menghampiri Bu Keisya lalu mencium tangannya.
" Nah, Dina udah dateng. Ibu pamit mau ngawasin di gerbang dulu!" Pamit Bu Keisya.
" Arin, Pamanku baru dateng bawa oleh-oleh baju. Ini satu buat Kamu satu buat Aku." Dina mengeluarkan dua baju oleh-oleh paman dari luar kota.
__ADS_1
" Tapi kan ini buat kamu!" Ujar Arini kecil.
" Yah, Kan dua biar samaan. Kita kan teman toh Kamu juga sering bantuin Aku buat ngerjain PR." Balas Dina sambil tersenyum.
" Nanti Aku juga mau temenin Kamu makan siang, Aku sudah bawa bekal Rin. Kita makan di sini ya!" Imbuh Dina menunjukkan kotak bekalnya.
" Emang uang saku dina kurang?" Tanya Arin.
" Yah bosen jajan terus, Mending buat di tabung kan Aku ikutin kamu Rin buat tambah-tambah besok piknik!" Jawab Dina.
Ada teman sekelas Arin yang bernama Hera, Nayla, dan Tari mereka suka mengganggu Arini kecil sejak kelas satu.
" Yah, Kutu buku tukang cari muka jam segini udah belajar!" Kata Hera masuk ke kelas.
" Mentang-mentang mau ikut lomba, Sok rajin Kamu Rin! Biar di kasihani Guru?' Ujar Tari.
" Kemarin yang lain olah raga Dia enak-enakan ngobrol sama Pak Isman, Cari muka banget!" Ujar Nayla.
Arini kecil hanya diam, Karena Ia takut di keroyok oleh geng kelas yang terkenal bandel.
Arini kecil tidak menggubris hanya fokus ke Buku, Beda dengan Dina Ia dulu sewaktu kelas satu memang penakut kemudian orang tuanya memasukkannya ke latihan beladiri untuk membuatnya Percaya Diri.
Dina mengikuti Arini kecil mencoba tidak menggubris.
Arini kecil mengambil buka, Hera dan kedua temannya menertawakannya.
Dina masih mencoba untuk sabar, Namun Nayla mendorong Arini hingga jatuh.
Dina sontak marah, Ia menghampiri Hera lalu menggengam tangan Hera.
" Ahh...Ahh...Sakit..!" Teriak Hera.
" Aku dulu takut, Tapi ternyata kamu lemah baru Aku pegang udah kesakitan!" Ujar Dina.
Dina mendorong Hera hingga jatuh.
Lalu menghampiri Arini untuk membantunya berdiri.
Nayla tidak terima temannya di kasari, Ia lantas ingin menendang Dina.
Dina mengelak lalu menggenggam Kaki Nayla.
__ADS_1
" Dasar anak-anak nakal, Berhenti ganggu Arini sahabatku atau kalian nanti bisa bonyok karena Aku." Ujar Dina menarik Kaki Nayla.
Hal itu pun di lihat oleh Bu Keisya, Ibu Guru pun masuk.
" Ada apa ini? Jangan berantem!" Bentak Bu Keisya.
" Tapi Bu, Hera dan kawan-kawannya yang mengganggu Arini. Dia membuang buku Arini, Lalu Nayla mendorong Arini hingga tersungkur." Jelas Dina.
" Apa benar itu Hera, Nayla dan Tari?" Bu Keisya dengan nada tinggi.
Mereka bertiga pun terdiam.
" Ikut Ibu ke kantor Guru, Sekarang!" Perintah Bu Keisya.
Mereka pun mengikuti Bu Keisya.
" Kamu nggak apa apa kan, Rin?" Tanya Dina melihat Arini yang berdiri terdiam.
" Aku nggak apa-apa, Aku takut mereka dendam pada mu nanti Kamu bisa di hadang loh Din. Harusnya biarin saja Aku, Toh sejak dulu memang Aku biasa di gini'in." Kata Arini kecil mengkhawatirkan Dina.
" Aku dulu tidak berani membelamu, Tapi sekarang kalo buat kebaikan Aku boleh kok menggunakan beladiriku. Kemarin Orang Tuaku waktu libur sekolah memasukkanku buat berlatih bela diri jadi ya sekarang Aku nggak penakut lagi." Ujar Dina sambil cengengesan.
" Kenapa Kamu ikut beladiri, Din?" Tanya Arini melangkah ke mejanya.
" Kata Orang Tuaku, Biar Aku nggak minderan dan penakut seperti dulu. Kan dulu Aku nggak bisa bergaul, Terus menyendiri, Sama sewaktu kamu di jahatin mereka Aku hanya bisa diam. Sekarang Aku udah bisa melindungi sahabatku." Jawab Dina.
" Hebat, Kamu Din. Terimakasih sudah mau melindungiku!" Kata Arini kecil.
" Hehehe...Sama-sama balasnya Aku minta kamu ajari Aku pelajaran ya!" Ujar Dina.
" Din, Aku pengen cerita sama kamu." Kata Arini.
" Cerita soal?" Tanya Dina.
" Din, Aku tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga dan Aku tidak bisa lagi main terlalu capek. Aku sakit Din, Kata Orang Tua dan Kakak'ku Aku tidak boleh lagi capek-capek biar penyakitku tidak kambuh. Jadi bukan Aku cari muka, Din!" Cerita Arini kecil tentang dirinya.
" Aku sudah tahu kok Rin, Soalnya waktu kemarin kamu masuk klinik Aku melihatmu di dorong. Nggak apa-apa, Aku sehabis pelajaran olahraga akan menemanimu di kelas. Kamu sekarang udah ada Aku jadi nggak perlu makan sendiri jika istirahat, Aku bakal nemenin sahabatku dan menjagamu dari anak-anak nakal itu Rin!" Balas Dina.
" Kamu lihat Aku di klinik, Kamu ngapain Din di klinik?" Tanya Arini kecil.
" Aku menjemput nenek'ku yang keluar dari klinik itu Rin, Waktu itu kamu di bopong Kakakmu. Aku ingin menghampirimu tapi keluargaku buru-buru pulang!" Jelas Dina.
__ADS_1
" Makasih ya Din, Sudah mau jadi sahabatku!" Kata Arini kecil.