
Hari Ujian masuk pun tiba, Kali ini Arini hanya di antar Rizal.
" Rin, Semangat!" Ujar Rizal yang menemani Arini.
" Iya Zal, Sudah belajar dengan Dona!" Balas Arini memasuki Sekolah, Karena pengantar harus menunggu di luar.
Rizal terus khawatir dan berdoa agar Arini di terima, Tangan Rizal pun dingin.
Hp terus berdering, Namun Ia abaikan karena saking rasa cemasnya memikirkan Arini.
Botol air mineral yang Ia bawa dan di taruh di samping pun habis karena saking cemasnya.
" Duh, Kalau Ia enggak di terima lagi bisa beneran frustasi tuh anak." Gumam Rizal.
Datanglah Dona dengan naik ojek ke Sekolah itu.
" Bagaimana, Kak?" Tanya Dona, Yang tiba-tiba mengagetkan Rizal dari belakang.
" Kamu bukannya harus Sekolah, Kok bisa di sini?" Tanya Rizal menatap Dona heran.
" Ah....Sekali kali bolos, Kak! Aku cemas pada Arin!" Jawab Dona.
Rizal sering menoleh ke gerbang sekolah, Dona yang melihat gerakan kakaknya tahu jika Ia sedang cemas.
" Yang ujian kan Arin, Kenapa kok Kak Rizal yang cemas?" Ujar Dona.
" Aku mikir Dek, Jika Arin nanti gagal lagi gimana coba? Kan di sini langsung di umumkan nunggu 3 jam!" Balas Rizal memberikan alasan kecemasan terus menatap pagar Sekolah.
Dona memberikan air minumnya untuk Rizal Kakaknya.
" Nih Bos, Adekmu ini tahu jika Kakaknya jika sudah cemas sering haus." Kata Dona sambil memberikan air mineralnya.
Dona melihat semua orang tua yang menunggui anaknya untuk ujian, Ia heran kenapa Ibunya dan Budhe tidak datang untuk mengantar.
" Kak, Budhe Ayah Ibu kok enggak kelihatan? Dimana Mereka?" Tanya Dona.
" Arin meminta hanya Kakak yang mengantar, Jadi Mereka sedang berdoa di rumah Arin bersama-sama!" Jawab Rizal.
" Tunggu sebentar, Kak!" Dona dengan pelan-pelan menuju pos Satpam untuk menanyakan sesuatu.
Tak lama, Dona kembali menghampiri Kakaknya.
" Aman, Kak!" Ujar Dona sambil tersenyum.
Rizal penasaran, Kenapa Dona raut wajahnya tidak ada sama sekali kecemasan bahkan malah bahagia.
" Kamu kenapa seneng, Dek?" Tanya Rizal, Menatap Dona.
" Hehehehe.....Ujian ini pyurr dari para pengajar, Berarti soal yang ku ajarkan sama Arin 80% akan hampir sama. Karena Aku tahu Mereka menggunakan metode lomba kemarin untuk membuat soal!" Jelas Dona.
Rizal pun sedikit tersenyum, Mendengar Dona sudah memberikan latihan untuk Arini.
" Testnya berapa lama sih, Dek?" Tanya Rizal.
Dona melihat ke jam di tangannya, Menunjukkan pukul 08.30 wib.
__ADS_1
" Sampai jam 10 Kak, Tenang Kak. Mari kita makan mie dulu!" Ajak Dona, Ia ingin membuat Kakaknya sedikit santai.
Rizal mengikuti kemauan Adiknya, Karena sudah lama Mereka tidak berdua qualitytime.
Mereka berdua memasuki warung Mie Ayam di seberang jalan depan Sekolah.
" Oh...Ternyata Kamu mau ajak Kakak buat makan mie kesukaanmu, Sudah lama juga ya Dek enggak makan bareng berdua." Ucap Rizal, Sambil tersenyum.
Mereka pun duduk saling berhadapan.
" Kak, Inget enggak saat Aku juga test masuk seperti Arin? Ya kan waktu itu Kakak bolos sekolah demi melihat Aku di terima ya." Balas Dona mengingatkan nostalgia saat dirinya mencari Sekolahan.
" Iya, Tapi dulu Kamu masih Asyik Dek! Sekarang buat ngobrol aja harus nunggu kamu selesai belajar dan ngegame." Kata Rizal.
" Oh...Jadi selama ini Kakak pengen ngobrol toh, Maaf ya Kak kalau sudah belajar sama ngegame lupa Aku punya keluarga..hehehhe." Ucap Dona.
Dona memesankan mie Ayam kesukaan Kakaknya, Rizal pun tersenyum.
" Masih hafal kamu Dek, Apa yang Kakak suka!" Rizal memuji Dona.
" Ternyata adanya Arin, Bisa membuat Kita ngobrol lagi ya Kak. Kemarin Aku itu menilai Arin hanya bocah merepotkan, Eh ternyata karena Arin malah Aku dan Kakak bisa nostalgia mengingat dulu." Ujar Dona tersenyum.
Tak lama pesanan pun tiba, Dan Mereka menyantap mie yang sudah tersedia sambil menunggu Arini keluar.
Pukul 10.00 wib,
Arini keluar gerbang Sekolah, Ia celingukan mencari Rizal. Arini melihat mobilnya masih terparkir namun Rizal tidak ada, Ia memutuskan duduk di kursi samping parkiran menunggu datangnya Rizal.
Rizal dan Dona setelah selesai melihat jam di tangan Dona.
" Kak, Arin pasti sudah keluar! Karena keasyikan mengobrol Kita jadi lupa waktu!" Ucap Dona.
Semua orang tua sudah menunggu bersama anaknya, Dona melihat Arini yang sedang bermain game di laptopnya sendirian di sebelah parkiran mobil.
" Kak, Itu Arin!" Ujar Dona menunjuk posisi Arini.
" Serius amat Dia, Lagi ngapain?" Tanya Rizal dan Dona menghampiri Arin.
" Gimana, Rin? Testnya?" Tanya Dona.
Arini langsung kaget atas kehadiran Dona.
" Kamu kok di sini, Na! Harusnya kan Kamu sekolah!" Balas Arini, Memandang Dona.
Dona duduk di samping Arini, Melihat Laptop Arini.
" Yeh, Malah ngegame. Emang sesetress itukah?" Ujar Dona.
Arini membalas dengan senyum, Rizal juga duduk di samping Arini sebelah kiri.
" Gimana nih, Di terima atau di tolak kira-kira?" Sahut Rizal.
Arini tidak lagi berani berkata sombong, Arini hanya tersenyum " Kita lihat saja ya, Arin enggak berani ngasih kepastian lagi sudah trauma." Jawab Arini.
" Tahu nggak, Kak Rizal tadi sampai tangan dingin dan air mineral habis 2 botol karena memikirkanmu!" Ujar Dona, Memandang Rizal.
__ADS_1
" Bantu doa ya." Ucap Arini.
Setelah menunggu 3 jam,
Rizal di panggil selaku wali dari Arini untuk mengambil hasil test.
Tak lama Rizal kembali, Namun raut wajah yang lemas dan mencerminkan rasa kekecewaan.
" Arin gagal ya, Zal. Maafin, Arin." Ujar Arini melihat ke Rizal.
Dona langsung mendekap Arini, Karena Dia tahu pasti ini berat untuk Arini.
Rizal langsung memberikan hasil ke Arini, Dan Dona ikut membaca hasil test masuk.
" Selamat ya Rin, Kamu di terima!" Teriak Rizal, Yang membuat Keduanya kaget.
Dona dan Arini langsung saling memeluk " Kakak'ku hebat, Akhirnya Kak Sekolah ini menerima Kakak." Ujar Dona menitihkan air mata karena mengenang perjuangan Arini yang dari pagi hingga petang terus belajar.
" Tetimakasih ya Na dan Zal, Tanpa Kalian Arin tidak bisa apa-apa." Ucap Arini.
" Yukk, Pulang!" Ajak Rizal ingin segera menyampaikan kabar bahagia kepada keluarganya.
Arini sekarang terdiam, Dona dan Rizal pun merasa penasaran apalagi yang di fikirkan sang Kakak.
" Kamu Kenapa, Kak?" Tanya Dona, Merangkul Arini.
" Kok malah jadi murung?" Sambung Rizal.
" Zal dan Na, Nanti sebelum pulang Arin boleh minta satu ha?" Balas Arini, Menatap kedua Adiknya.
Dona dan Rizal saling menatap, Karena merasa bingung.
" Minta apa, Kak?" Tanya Rizal.
" Arin minta bantu Arin, Carikan kost dekat sini! Karena jarak dari rumah 2 jam tak mungkin Arin merepotkan banyak orang! Kata Dona mental seorang yang berprestasi harus mandiri dan kuat, Arin ingin mandiri." Jelas Arini.
Sontak Dona dan Rizal pun kaget, Dona menatap Arini " Bukan begitu Kak, Maksudku!" Ujar Dona yang tak ingin merasa Arini menjadi beban.
Arini tersenyum " Arin hanya ingin seperti teman-temanmu Na, Ketika libur masih bisa belajar!"
" Tapi Mbak, Tentang penyakitmu!" Ujar Rizal keceplosan.
" Zal, Aku akan baik-baik saja! Kita bicarakan lagi nanti di rumah. Kita cari kost dulu ya!" Pungkas Arini.
Dona dan Rizal hanya bisa mengiyakan, Karena takut Arini kecewa dan sekaligus menghargai kerja keras Arini hingga dapat di terima di Sekolah Favorite itu.
Mereka pun menaiki mobil, Arini segera mengambil nasi box untuknya sebelum memakan obatnya.
" Zal dan Dona, Mari makan ini bekal ibuku buat Kita." Tawaran Arini.
" Kami sudah makan Mbak, Sudah buat Mbak. Tadi sempat makan mie ayam sama Dona!" Balas Rizal.
" Kakak yakin, Ingin ngekost?" Tanya Dona yang masih memikirkan rencana Arini karena khawatir dengan penyakitnya.
Rizal menunggu hingga Arini selesai makan, Untuk melanjutkan perjalanan mencarikan kost untuk Arini.
__ADS_1
" Ya Na, Arin yakin!" Jawab Arini menjeda makannya.
Rizal dan Dona terus memperhatikan Arini, Karena keputusan yang Ia buat membuat keduanya terkejut.