Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Kepedulian Hera dan Kawan-kawan


__ADS_3

Hera, Nayla dan Tari di panggil Bu Keisya ke kantor Guru.


Mereka nampak takut karena kali ini mimik wajah Bu Keisya terlihat sangat marah.


Setelah sampai di meja Guru Bu Keisya.


" Duduk kalian!" Perintah Bu Keisya.


Mereka pun mengikuti Perintah Bu Keisya dengan wajah tertunduk.


" Kenapa, Kalian ganggu Arin?" Tanya Bu Keisya tegas.


" Karena Arin terlalu enak Bu, Kemarin Dia nggak ikut olahraga bisa hahahahihi dengan Pak Isman!" Jelas Hera mengungkapkan ke iriannya.


" Okey, Posisinya kita balik apa kamu mau seperti Arin?" Tanya Bu Keisya.


" Maksud, Ibu?" Tanya Hera.


" Yah, Kamu sakit seperti Arin dan biarkan Arin sembuh dan ikut pelajaran olahraga!" Jelas Bu Keisya.


Hera dan kawan-kawan pun terkejut mendengar Arini kecil yang terlihat sehat ternyata Ia sedang sakit.


" Dia sehat kok, Bu!" Bantah Tari.


" Apa kamu yakin?" Tanya Bu Keisya.


" Arini teman kalian itu sakit! Kemarin Kakaknya telah menghadap ke Bapak Kepala Sekolah untuk di beri keringanan agar Arin tidak ikut olahraga. Yang perlu kalian tahu, Hera sekarang Arin tidak bisa lagi bersaing denganmu di kompetisi lari sama sekali Arin tidak boleh capek. Senangkan Kamu kehilangan Rival yang harusnya memacu semangatmu!" Kata Bu Keisya.


Hera pun tertunduk diam, Karena apa yang di katakan Bu Keisya benar. Selama kelas satu dirinya dan Arini adalah Rival yang saling ingin membuktikan keunggulan di mata pelajaran olahraga.


" Apa selamanya Arin akan begitu, Bu?" Tanya Hera yang mulai peduli.


" Ya Ibu tidak bisa memastikan, Tapi untuk sembuh dari sakit Arin butuh waktu yang sangat lama!" Jawab Bu Keisya.


Hera sangat kecewa mendengar hal itu, Ia hanya tertunduk dan di pandangi Tari dan Nayla.


" Kamu kenapa, Her?" Tanya Tari.


Namun, Hera hanya terdiam menunduk. Selama ini kelakuannya hanya untuk memancing Arini agar down dan menyerah menjadi pesaingnya, Tapi bukan dengan penyakit Ia harus menyerah.


Hera pun menitihkan air mata.

__ADS_1


" Kamu kenapa, Hera?" Tanya Bu Keisya.


" Saya sangat sedih, Bu. Saya memang ingin sekali mengalahkan Arin, Selama ini Saya mengganggu Arin hanya agar Ia menyerah dengan saya. Bukan kerena penyakit Ia harus menyerah dengan saya itu sangat tidak Fair, Bu!" Ujar Hera.


" Bagi Saya tidak ada yang lebih bisa memacu semangat selain bersaing dengan Arin, Bu!" Imbuh Hera.


Tari dan Nayla kaget, Selama ini tujuan Hera mengganggu Arin hanya untuk mengedownkan semangat bersaing Arini. Mereka baru tahu itu hari ini.


" Jadi bagimu saingan terberatmu adalah Arin, Her?" Tanya Tari.


" Ia, Kalian tidak paham rasanya dapet pesaing yang punya banyak kelebihan Arin pintar dan selalu semangat itu yang membuatku terus dan terus ingin mengunggulinya di satu bidang!" Jawab Hera melihat Tari sambil berkaca-kaca.


" Dan Kamu Neyla, Ibu tidak suka Kamu menjahati Arin secara fisik. Andai tadi Arin kambuh karena perbuatanmu, Apa kamu siap melihat temanmu harus terbaring sakit? Arin baru sakit Ibu mohon kalian jangan mengganggunya dan Ibu harap kalian bisa memotivasinya untuk sembuh!" Pesan Bu Keisya.


" Hanya itu saja yang ingin Ibu sampaikan, Kalian boleh kembali ke kelas!" Perintah Bu Keisya.


Mereka pun berpamitan keluar dari kantor Guru, Setelah di luar Hera berlari tidak memperdulikan kedua sahabatnya. Hera ingin segera menemui Arini yang berada di kelas.


Setelah sampai di depan kelas, Hera langsung menghampiri meja Arini.


" Kenapa Kamu enggak bilang kalo kamu sakit?" Tanya Hera sambil menahan air mata.


Arini dan Dina pun kaget mendengar ucapan Hera.


" Aku nggak ngomong sama Kamu, Aku ngomong sama Arin. Kenapa Kamu nggak bilang kalo kamu sakit? Sekarang siapa yang mau bersaing denganku di bidang lari?" Ujar Hera.


Semua teman sekelas pun memandang Hera.


" Arin tidak boleh caoek lagi Her, Biar kamu yang jadi pemenang Arin senang melihatmu lebih unggul dari Arin!" Jawab Arini kecil sambil tersenyum.


Hera langsung menyilakan meja Arini agar Ia bisa mendekati Arini lalu memeluk Arini kecil.


" Maafin Aku Rin, Selama ini Aku menjahilimu karena Aku ingin mendapat perhatianmu sekaligus agar kamu down saat bersaing lari denganku!" Kata Hera.


" Kamu selalu saja lebih dari kita semua Rin, Aku hanya ingin unggul darimu di satu mata pelajaran!" Imbuh Hera.


Dina yang berada di samping Arini pun terkejut mendengar ucapan Hera, Tari dan Nayla langsung mendekati meja Arin.


" Kami minta maaf, Rin. Kami janji tidak akan menjahilimu lagi!" Permintaan maaf Nayla dan Tari.


" Arin juga minta maaf, Kalo selama ini Arin sudah buat kalian kesal. Sekarang kita berteman ya!" Balas Arini kecil.

__ADS_1


" Aku janji bakal ngelindungi Arin, Jika ada yang menjahilimu maka akan berhadapan denganku!" Kata Hera.


" Tuh, Sekarang teman Arin nambah lagi. Jangankan Hera, Aku yang teman sebangku Arin akan selalu menjaga Arin juga Aku janji!" Sahut Dina.


" Oh iya Her, Besok kan mau ada lomba lari antar sekolah. Aku memintamu bisa ya jadi wakil sekolah kita, Tapi kamu harus berlatih agar terpilih! Jika kamu nanti yang mewakili sekolah Kita, Arin janji bakal melihatmu dan mendukungmu!" Kata Arini menatap Hera.


" Yah, Aku pasti berusaha dan Aku pegang janjimu Rin. Kamu harus melihatku memegang piala kemenangan nanti." Balas Hera.


" Aamiin..." Balas Arini dengan Polos.


Bell masuk berbunyi, Arinin dan kawan-kawan mulai belajar seperti biasa.


Setelah belajar waktu menunjukkan pukul 10.00 wib waktu bell istirahat berbunyi.


Arini dan Dina, Mengambil botol minuman yang mereka sudah bawa dari rumah.


Mereka hanya minum saja karena ingin menabung, Tiba-tiba Hera kembali ke kelas membawakan 2 Siomay untuk di berikan ke pada keduanya.


" Nih, Makan Aku tahu kalian pasti di dalam kelas!" Kata Hera sambil memberikan Siomay ke Arin dan Dina.


" Kok kamu sendiri?" Tanya Dina mencari Nayla dan Tari.


" Mereka masih di kantin! Aku memilih menemani kalian!" Jawab Hera sambil mengambil kursi sampingnya untuk bergabung berasam Arini dan Dina.


" Kamu baca buku pelajaran terus nggak bosen apa, Rin?" Tanya Hera.


" Enggak Her, Aku kan mengikuti kata Bu Keisya jika ingin menggapai cita-cita ya harus rajin belajar dan berusaha keras." Balas Arini kecil.


" Masih mau jadi Perawat?" Tanya Hera kembali.


" Ia lah, Arin kan konsisten dari dulu pengennya hanya itu! Kalo cita-cita kita malah belum kepikiran ya Her!" Ujar Dina.


" Aku tahu Din, Kalo Kamu masih bingung. Tapi kalo Aku ingin jadi atlet lari, Makannya Aku serius berlatih!" Balas Hera.


" Berarti di antara kita, Hanya Aku dong yang nggak terpikir cita-cita!" Kata Dina, Sambil cengengesan.


" Cita-cita itu buat memotivasimu Din, Agar kamu mau belajar dan berlatih untuk menggapainya." Sahut Arini.


" Tuh, Dengerin jangan ngikutin Arin mulu!" Sindir Hera.


" Iya, Nanti Aku cari!" Balas Dina.

__ADS_1


Bu Keisya menatap dari luar kelas, Beliau sangat kagum kepada Hera karena setelah Ia nasehati langsung bisa menjadi sahabat dekat Arini.


__ADS_2