Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
PILIHAN HANS


__ADS_3

Melihat Arini yang sakit, Disa Pacar Hans merasa perhatian Hans ke Dirinya berkurang.


Setiap di ajak bertemu Hans selalu mengutamakan Arini dan menjadikan salah satu alasannya.


Datanglah Disa ke Rumah,


Rino, Arini, dan Hans yang lagi bercengkrama yang di maksudkan untuk menghibur Arini.


" Hans....!" Triak Disa di depan pagar Rumah.


Semua kaget kemudian menatap Disa.


" Hay Dis." Sapa Hans dengan wajah tersenyum senang karena Pacarnya datang.


Namun, Rino tahu dari tatapan mata Disa mencerminkan emosi kemarahan.


" Arin...Yukk masuk, Kita main di dalem biarin Kak Hans dan Kak Disa ngobrol, Ya!" Ajak Rino pada Arini, Agar Arini tidak mendengar pertengkaran Hans dan Disa.


Orang Tua dan Wak Nana baru ke pasar untuk berjualan, Arini di titipkan kepada dua kakaknya.


" Arin, Kita joget-joget yuk!" Rino memutar suara speaker di tancapkan di hpnya, Lalu memutarnya dengan keras.


" Iya Kak, Ini favorit Arin lagunya." Arini pun berjoget.


Hans merasa kesal dengan suara speaker yang di putar secara keras.


" Apa'an sih itu Rino! Udah tahu ada Disa masih cari masalah." Kata Hans Kesal.


" Hans, Aku selalu menghubungimu sibuk terus nggak Kamu angkat. Alasan Kamu ngerawat Arin lah, Jagain Arin lah...Apa...Apa Arti'ku bagimu sekarang Hans! Waktu untukku sudah tidak ada, Kenapa Kamu masih menjeratku dengan status Pacarmu!" Kata Disa meluapkan isi hatinya dengan nada tinggi.


" Duduk dulu..Kita omongin baik-baik!" Hans menanggapi dengan sabar.


" Alah, Nggak ada yang harus Aku dengar atas pembelaanmu pasti Arini...Arini...Arini dan Arini...Sekarang di otakmu." Bentak Disa.


Lewat jendela Rino mengintip pertengkaran Hans dan Disa, Sementara Arini masih asyik berjoget tanpa mengetahui pertengkaran Hans.


" Diam...Diam....Jangan bawa-bawa Adikku! Aku sudah diam dari tadi, Sudah sabar waktu Kamu selalu membawa-bawa nama Adikku! Tapi Kamu terus memancing emosiku. Terus maumu bagaimana?" Bentak Hans balik menantang Disa.


" Okey, Mauku Kamu tanya! Aku mau Kamu pilih Aku atau Arini Adikmu?" Ujar Disa menyuruh Hans memilih.


" Aku memilih Adikku, Karena Adikku yang sekarang sangat membutuhkanku! Terserah mau gimana Kamu yang jelas ini pilihanku!" Jawab Hans tegas.

__ADS_1


" Baiklah, Anggap saja 3 tahun itu hanya sampah nggak berarti!" Kata Disa kemudian meninggalkan Hans.


Hans menyandarkan punggung di dinding dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


" Kenapa...Kenapa harus ada pilihan, Kenapa Kamu tidak paham keadaanku Disa." Gumam Hans menangis.


Melihat Hans hancur, Rino segera keluar untuk memeluk Hans.


" Hans, Sudah jika hatimu memilih Disa biarkan Aku yang akan merawat Arini. Kejar Dia sekarang Hans....!" Kata Rino.


Hans langsung terduduk lemas.


" Tidak No, Biarin Dia pergi Aku tetap pilih Arin.Jika Dia benar sayang sama Aku harusnya Ia memahami posisiku bukan malah membuatnya rumit!" Ujar Hans sambil menangis.


Hans buru-buru menyeka air matanya, Takut kalo Arini melihat dirinya sedih.


" Kamu yakin?" Tanya Rino menanyakan pilihan Hans.


Hans membalas dengan senyuman.


Kemudian Hans menemui Arini dan Ikut berjoget.


Melihat tawa Arini. Hans semakin yakin, Lebih memilih merawat Adiknya dari pada bersama cintanya.


" Kadang apa yang di pilih tidak sesuai hati, Hanya karna keterpaksaan situasi!" Ujar Rino duduk di samping Disa.


" Maksudmu?" Tanya Disa memandang Rino.


" Arini punya penyakit di organ Ginjalnya, Kamu akan melakukan apa andai itu terjadi pada Saudaramu?" Tanya Rino.


Disa masih terdiam hanya memandang Rino.


" Aku tidak pernah seusiaku melihat Hans menangis, Dan Dia menangis untuk dua Orang yang berarti di hidupnya! Pertama mengetahui penyakit Arini dan yang kedua tadi Menangisimu pergi!" Terang Rino.


" Apa Kamu serius Dia menangis?" Tanya Disa.


" Kamu lihat saja sendiri!" Balas Rino.


" Pikirkan dulu, Baru memberi pilihan! Lihat kondisi Orang yang Kamu beri pilihan juga!" Kata Rino,Kemudian meninggalkan Disa sendirian untuk merenungi kata-katanya.


Arini menghentikan gerakannya berjoget.

__ADS_1


" Kak, Arin capek!" Kata Arini lirih.


Hans mematikan musik.


" Ya udah, Yuk ke kamar biar kakak bacakan dongeng atau menaynyikan lagu!" Kata Hans menggandeng Arini masuk ke kamarnya.


" Kak, Kenapa tadi Kak Disa tidak menemui Arin? Kenapa Kak Disa saat pulang tidak berpamitan dengan Arin? Apa Kak Hans marahan sama Kak Disa?" Tanya Arin sambil berbaring di ranjang.


" Kak Disa tadi buru-buru mau bantu Ibunya, Nggak kok Kak Hans nggak Marahan. Besok Kak Hans suruh Kak Disa main sama Arin kalo kesini yang lama!" Balas Hans dengan senyum menutupi kenyataan.


Rino masuk rumah, Melihat Hans sedang di kamar Arini. Ia memilih menunggu di ruang tamu untuk bicara pada Hans.


Setelah Arini tertidur Hans keluar dari kamar Arini.


" Hans sini, Kita ngobrol!" Panggil Rino.


" Kalo masalah Disa lupakan saja, Mungkin ini yang terbaik!" Ujar Hans berlalu begitu saja meninggalkan Rino.


Disa masih termenung sendiri, Kemudian Ikhsan turun dari angkot membawa sebuah bingkisan untuk Arini.


" Disa? Kenapa kok sendirian?" Tanya Ikhsan yang melihat Disa teman Sekelasnya dan Pacar sahabatnya.


" Hans mutusin Aku!" Ujar Disa.


Ikhsan pun duduk di samping Disa.


" Kenapa? Kamu merasa di acuhkan? Hans tidak ada waktu buat kamu?" Tanya Ikhsan.


Disa menatap Ikhsan yang seolah paham keadaanya.


" Dis, Kamu nggak usah bohong sama Aku! Aku sudah hafal sifatmu, Inget kita teman dari SMA." Kata Ikhsan tersenyum menatap lurus.


" Aku memberi pilihan pada Hans antara Aku atau Arini!" Disa menanggapi Ikhsan.


" Kamu masih nggak paham tentang Hans rupanya, Pilihan yang Kamu beri itu adalah beban buat Hans! Kamu perlu tahu buat Hans kamu itu adalah hatinya dan Arini adalah jantungnya, Jika kamu suruh memilih sama saja kamu membunuh Hans. Arini lagi sakit, Dan sebagai Kakak tertua Hans harus bisa bertanggung jawab atas kedua Adiknya. Andai Kamu di beri pilihan apa yang kamu pilih Saudaramu atau Pacarmu!" Kata Ikhsan bangkit dari duduk kemudian menepuk pundak Disa Kemudian pergi menuju rumah Hans.


Disa duduk kembali meratapi kata Rino dan Ikhsan. Disa menangis menyesali perbuatannya atas Hans


" Bodohnya Aku, Mengapa harus Aku buat pilihan itu! Pasti di mata Hans Aku wanita yang tidak punya rasa kepedulian. Hans pasti sangat sakit hati dan membenciku, Harusnya Aku bisa membantu merawat Arin bukan menjadikan Arin sebagai alasan ke egoisanku!" Gumam Disa sambil menyadari kesalahan-kesalahannya.


Kemudian Ia memutuskan untuk kembali kerumah Hans untuk meminta maaf. Dan Akan membantu Hans untuk merawat Arini.

__ADS_1


Disa pun berlari menuju rumah Hans dengan terus mengeluarkan air mata penyesalan.


__ADS_2