
Setelah pemakaman Sang Ayah,
Sekembalinya Hans, Rino, Ikhsan, Disa, Uwak Nana, Arini, Bu Sara dan Bu Keisya.
Hans dan Rino terus memapah Sang Ibu yang masih berat untuk berpisah dengan Sang Ayah.
" Udah Bu, Ibu harus kuat." Kata Hans melihat Sang Ibu yang masih menitihkan air mata.
Rino terus menyeka air mata Sang Ibu.
Arini kecil hanya tertunduk masih menangis di gendong oleh Ikhsan yang berjalan di belakang Hans. Disa merebahkan kepala di pundak Bu Keisya juga dengan di iringi air mata.
" Kak, Ayah....Kak...Ayah...Sudah ninggalin Arin, Kak." Kata Arini kecil lirih di gendongan Ikhsan.
" Ssst...Arin, Arin jangan nangis terus nanti Ayah Arin di sana menangis juga. Arin doa'in ya biar Ayah Arin bisa tersenyum." Ikhsan mencoba menghibur Arini.
Arini kecil masih saja menangis, Seolah hari itu adalah hari paling sedih untuk Arini kecil.
" Kak, Arin pengen jalan sendiri." Pinta Arini kecil.
Setelah Ikhsan menurunkan Arini dari gendongan, Arini kecil langsung berlari sekuat tenaga untuk menuju pusaran Sang Ayah.
" Arin....." Teriak Ikhsan.
Disa, Bu Keisya dan Ikhsan langsung berusaha mengejar Arin, Begitu pun dengan Rino. Mereka takut kalo Arin kenapa-napa, Hingga melihat Arin masuk kembali ke makam dan memeluk pusaran sang Ayah.
" Ayah..Maafin....Ari..n..." Kata Arini kecil terbata-bata langsung pingsan mendekap pusaran sang Ayah.
Melihat Adiknya pingsan, Rino langsung menyilakan semua orang langsung membopong Sang Adik sambil menangis karena khawatir.
Rino pun langsung berlari sekuat tenaga untuk kembali ke rumah yang jaraknya hanya 400 meter dari pemakaman.
Setibanya Rino memasuki rumah, Rino mengacuhkan semua Ia langsung menuju kamar Arini kecil untuk membaringkan Arini kecil di ranjang.
Sang Ibu yang duduk di tenangkan oleh Wak Nana dan Hans, Sontak langsung bangkit melihat Arini di bopong Rino.
Semua pun menuju kamar Arini kecil.
__ADS_1
Arini kecil sayup-sayup melihat ke arah semuanya.
" Ayah...Ayah...Ayah..Mana Bu..Ayah?" Kata Yang terus di tanyakan Arini kecil.
Sang Ibu langsung mendekap Sang Putri, Sambil menahan air mata.
" Ayah telah tersenyum melihat Arini dari atas, Arin jangan sedih lagi Ayah tetap menjaga kita semua kok justru Ayah lebih dekat ke TUHAN jadi jika kita kenapa-napa nanti Ayah yang minta bantuan ke TUHAN untuk kita." Bu Sara mencoba menguatkan Arini kecil.
" Ayah...Ayah tetap memandangi kita ya Bu, Ayah sekarang udah di dekat TUHAN ya Bu. Berarti nanti Ayah bisa mintakan Ke TUHAN bahwa Arin ingin menang lomba." Kata polos Arini kecil.
" Pasti Nak...Pasti!" Bu Sara meneteskan air mata karena sekuat apa pun Ia mencoba menahan kesedihan itu tak terbendung lagi.
Hans yang melihat itu, Tak kuasa menahan sedihnya Ia lari ke belakang rumah menyandarkan punggungnya di tembok lalu menangis sekencang kencangnya tidak peduli tetangga yang rame di hadapannya.
" Kenapa...Kenapa sekarang Ayah harus pergi, Kami masih butuh Ayah!" Teriak Hans sambil tangan mengepal di adu ke dinding rumah.
Disa menyusul Hans karena Ia tahu, Pacarnya sedang dalam keadaan tidak stabil karena kesedihan yang dalam kehilangan Sang Ayah.
Seketika Ia mendekati Hans dan ingin memegang tangan Hans untuk menguatkan, Tangannya di Hempaskan oleh Hans hingga terjatuh.
Rino langsung memukul Hans hingga terjatuh, Ikhsan pun menarik Rino takut Rino semakin emosi.
" Kamu sebagai Kakak, Cengeng Kamu. Teriak-teriak nggak berguna, Sampai kamu bikin seorang perempuan jatuh. Itu bukan yang di ajarkan Ayah Hans, Kamu Kakak tapi Aku sudah muak dengan pola pikirmu yang suka seperti anak kecil. Gimana Kamu mau melindungi Kami dan menggantikan tugas Ayah jika kelakuanmu masih begini, Sini Aku pukul lagi..Kalau nggak terima, Ayo bangkit sini balas!" Teriak Rino penuh emosi di iringi air mata tubuhnya di pegangi Ikhsan dengan erat.
Disa pun menghampiri Hans, Ia memegang pundak Hans yang belum bangkit dan masih menangis.
Uwak Nana mendengar suara gaduh, Ia mendengar suara Rino teriak-teriak segera Ia bangkit dari duduk di kamar Arini kemudian melangkah ke belakang rumah.
" Lepasin...Lepasin San, Biar Aku beri pukulan agar Dia sadar harus gimana bersikap, Harus gimana berfikir, Bukan selalu emosi yang di kedepankan!" Rino yang terus meronta.
Tetangga mereka hanya melihat tidak berani melerai karena sudah paham dengan kondisi kedua Kakak beradik itu.
" Berhenti...Stop...!" Teriak Wak Nana menghampiri keduanya.
" Kalian ini apa-apa'a, Lihat Ibu kalian masih sedih, Adik kalian masih sedih. Kalian berdua malah kayak anak kecil!" Bentak Wak Nana.
" Tapi Ia Wak, Dia Ngga berguna jadi Kakak. Hanya emosi terus, Muak Aku melihatnya." Ungkapan hati Rino.
__ADS_1
" Diam..Diam Kamu No, Kakakmu sekarang juga bingung harus bagaimana untuk menggantikan Ayahmu! Kalian sama-sama Anak Romi, Harusnya kalian mencontoh sifat Almarhum Ayah kalian bukankah kalian yang setiap hari bersamanya tentu kalian hafal dengan cara berfikir Ayah kalian. Kalian berdua adalah Dua anak laki-laki dari Ibumu, Jika kalian tidak rukun siapa yang akan melindungi Ibumu dan Adikmu yang sedang berjuang melawan penyakitnya!" Bentak Wak Nana
Akhirnya Rino pun lemas dan terjatuh, Namun Ikhsan masih menopang badan Rino yang kurus.
Rino pun duduk di tanah sambil menangis, Hans pun sama masih dengan perasaan sedih yang mendalam.
Disa di samping Hans pun ikut menangis melihat dua saudara bertengkar.
Uwak Nana menghampiri Hans lalu menjulurkan tangan untuk membantu Hans berdiri.
" Ayo Kita harus kuatkan Ibu dan Adikmu!" Kata Wak Nana.
Kemudian Uwak Nana juga melakukan hal yang sama kepada Rino.
Hans dan Rino saling berpelukan dan mengakui kesalahannya.
Disa mendekati, Kemudian tangan Disa di genggam erat oleh Hans dan Hans meminta maaf atas kekasarannya tadi terhadapnya.
Ikhsan merangkul Rino.
" Kalian tidak sendirian, Aku adalah Kakak ke tiga dari Arin dan kalian adalah Saudaraku. Aku janji Akan selalu ada untuk keluarga ini!" Ujar Ikhsan, Sambil merangkul Rino menuju kamar Arini.
Hans, Disa, Wak Nana masuk ke kamar Arin untuk menguatkan Ibu dan Adiknya.
Rino langsung jongkok, Menyandarkan punggung ke dinding dan memegangi kepala sambil menatap ke bawah di jalan sebelum masuk Kamar Arini.
Ikhsan berdiri di samping untuk terus menghibur ke Rino.
Bu Keisya yang berdiri di depan pintu kamar pun, Kasihan melihat Rino yang terpuruk hebat. Ia pun menghampiri dengan maksud menghibur.
" Sabar ya,Mas!" Tangan Bu Keisya memegang Pundak Rino.
Rino pun menoleh, Namun Ia masih diam karena perasannya masih terguncang.
" Jangan sedih demi Ibu dan Adikmu Mas, Mereka akan lebih sedih jika melihatmu sedih!" Kata Bu Keisya memotivasi Rino.
Rino pun menyaka air mata, Setelah mendengar kata-kata Bu Keisya kemudian Rino menyusul keluarganya berkumpul di dalam kamar Arini
__ADS_1