Satu Jendela Dua Pintu

Satu Jendela Dua Pintu
Ketegaran Rino


__ADS_3

Rino dan Wak Nana menaiki motor Wak Nana langsung menuju ke Rumah Sakit tempat Arini di rawat, Meski janji dengan Hans bertemu di rumah Ia tahu pasti Hans melupakan janji itu memilih langsung menuju Rumah Sakit.


Hans dan Ikhsan pun menaiki angkot menuju rumah sakit.


Di Rumah Sakit, Arini mulai sadar dan bangun dari pingsan.


" Bu, Arin kenapa di pasang infus? Dan ada selang di hidung Arin. Ini di mana, Bu?" Tanya Arini Sadar.


Ibu yang menunggu di samping Arini pun langsung memeluk Arini.


" Arin ada di Rumah Sakit, Tadi Arin pingsan. Nggak apa-apa kok Nak hanya kecapek'an." Jawab Ibu masih memeluk Arini sambil menangis.


" Arin pengen pulang Bu, Mau main sama Kak Hans dan Kak Rino. Mereka di mana?" Arin mencari kedua Kakak'nya.


Datang Sang Ayah membawa makanan untuk Istrinya.


" Ayah, Ayo pulang! Arin pengen lari kan sepatu Arin baru, Arin larinya kencang Yah bisa juara kelas nanti Yah. Berkat sepatu pemberian Kakak-kakak, Yah." Cerita Arin tentang keinginannya.


Tak bisa berkata-kata Pak Romi, Langsung memeluk Putrinya dengan meneteskan air mata.


" Ayah Ibu, Kenapa menangis? Arin nggak apa-apa hanya sedikit lelah karena tadi latihan lari." Arini yang belum mengerti tentang kondisi sebenarnya.


" Arin nanti jangan lari dulu ya, Kata Dokter Arin harus banyak istirahat biar nanti kalo ada kompetisi lari Arin sudah fit dan bisa menang." Tutur Pak Romi memberi motivasi ke Arini.


Arini pun mengangguk dan patuh terhadap apa kata Sang Ayah.


Di depan Rumah Sakit, Hans dan Ikhsan tiba duluan masih memakai kostum badut. Rino melihatnya dengan Wak Nana.


Rino pun tak kuasa melihat apa yang di lakukan Sang Kakak, Dan Ia pun menangis.


Sampai di depan sang Kakak, Rino menghentikan motor dan menyuruh Wak Nana turun.


Ia segera memeluk Kakaknya.


" Kamu kenapa, No?" Tanya Hans heran.


" Aku kagum padamu Hans, Sampai seperti ini perjuanganmu demi Arini." Kata Rino di iringi air mata.


Hans pun membalas pelukan Rino.


" Demi Adik Kita, Jangankan jadi badut mau jadi apa pun sehina apa pun pasti Aku lakukan." Tutur Hans melepas pelukan Rino.


Wak Nana pun tersentuh dengan ucapan Hans.


Setelah menyalami Wak Nana, Tanpa membuang waktu mereka langsung menuju kamar di mana Arini di rawat.


" Bentar, Kami melepas kostum dulu." kata Hans.


Hans setuju dan langsung menuju ruang Arink di rawat.


" Nggak usah Hans, Lebih baik Kalian pakai bisa menghibur Arin." Rino menanggapi.


" Bener tuh Hans, Aku sependapat dengan Rino." kata Ikhsan.

__ADS_1


Dengan bertanya ke Receptionist, Mereka tahu dimana kamar Arini.


Saat tiba di depan pintu kamar, Rino mendahului yang lain untuk memberi kejutan untuk Arini.


TOK...TOK....ASSALAMUALAIKUM.


( Suara Rino mengetuk Kamar Arini)


Arini yang sudah hafal pun kegirangan karena Kakaknya datang pasti untuk menemaninya.


" Buk..Kak Rino...Buk...cepet Buka, Arin kangen dengan Kak Rino dan Kak Hans." Arino kegirangan.


" Wa'alaikumsalam.." Balas Sang Ibu membuka pintu.


Rino pun masuk sendirian menghampiri Arini.


" Bidadarinya Kakak, Sudah siuman.Kakak punya hadiah buat Arin." Kata Rino memegang tangan Arini.


Arini masih clingak-clinguk memandang pintu masuk.


" Hey, Kamu nyari Kak Hans ya. Wah ternyata Kak Rino tidak penting kalo begitu Kakak pulang ah.." Rino menggoda Arini.


Rino paham Arini sangat sayang kepada mereka berdua, Tidak mau satu Kakaknya tidak hadir.


Tiba-tiba muncullah dua badut dan Wak Nana keruangan.


Sontak semua kaget,


Arini tertawa terbahak-bahak melihat badut menari-nari di hadapannya.


Arini lebih kaget karena itu Kak Hans yang Ia cari.


Hans langsung memeluk Arin.


" Arin, Maaf'in Kak Hans baru dateng. Arin seneng nggak?" Ujar Hans mendekap Arini.


Semua yang di ruangan itu pun menjadi Haru, Hingga meneteskan Air mata.


" Arin, Masih kenal dengan itu nggak?" Tanya Hans menunjuk Ikhsan.


" Kenal, Dia Kak Ikhsan. Orang yang paling jahil yang Arin kenal." Jawab Arini melihat Ikhsan.


Ikhsan pun mendekati Arini, Lalu mendekap erat Arini sambil menangis.


" Arin, Arin kuat ya nanti Kak Ikhsan bikinin kostum badut buat Arin, Mau?" Ujar Ikhsan.


" Arin, Nggak mau badut kak. Arin maunya jadi Putri, Bikinin ya." Kata Arini membalas pelukan Ikhsan.


" Pasti..Pasti di bikinkan, Buat Adik'Kakak apa yang enggak!" Pungkas Ikhsan.


Bu Sara dan Pak Romi pun saling menguatkan, Kepala Bu Sara di sandarkan kepada bahu Pak Romi.


Mereka sangat terharu dengan kedatangan Orang-Orang yang sayang dengan Putri kecilnya.

__ADS_1


Masuklah Wak Nana ke ruangan, Bu Sara pun terkejut kedatangan Kakaknya.


Sontak Ia melepas dekapan pada Suaminya, Langsung berlari memeluk Kakaknya.


" Arin...Arin Wak...!" Bu Sara menangis di dekapan Wak Nana.


" Sudah, Ini ujian bagi kalian pasti kalian kuat! Arin pasti sembuh." Wak Nana menguatkan Adiknya.


Pak Romi pun mendekat dan menyalami Wak Nana.


Arin melihat kedatangan Wak Nana pun tersenyum lebar.


" Wak Nana, Arin kangen sama Wak Nana. Nanti pasti sepulang dari sini langsung ke rumah Wak Nana ya, Mau bakar ikan Arin tuh." Kata Arin dengan manja.


Wak Nana melepaskan pelukan sang Adik kemudian menuju pada Arin.


Wak Nana langsung memeluk keponakan kesayangannya.


" Mau berapa banyak ikan yang Arin bakar? Pasti Wak Nana beri." Wak Nana sambil memeluk Arin


Pak Romi mengajak Hans dan Rino keluar untuk menanyakan uang yang mereka dapat.


" Gimana Hans dan Rino, Dapet berapa kalian?" Tanya Sang Ayah di koridor depan kamar Arini.


Hans langsung mengeluarkan uang pecahan di hadapan Ayahnya di atas kursi, Kemudian menghitungnya.


Rino dan Sang Ayah tahu itu uang hasil ngamen, Sang Ayah langsung berkaca-kaca melihat Sang Anak rela melakukan apa pun demi Adiknya.


" Maafin Ayah ya Hans, Ayah memang Ayah terburuk sedunia bahkan tidak berguna." Ujar Sang Ayah melihat Hans menghitung uang recehan.


Rino langsung mendekap Sang Ayah da menguatkannya.


" Aku hanya ada uang 350 ribu." Ujar Hans selesai menghitung.


Sang Ayah mengeluarkan uang 675 ribu dari saku celana.


Rino hanya tersenyum.


Sang Ayah dan Hans memandang ke arah Rino yang belum mengeluarkan uang.


" Simpan uang kalian, Semua biaya di tanggung Wak Nana hanya saja Aku meminta pada Hans, Ayah, dan Ibu untuk menjaga sungguh-sungguh Arini. Sehabis ini Aku akan tinggal dengan Wak Nana membantu mengelola kolamnya, Jadi Aku harap kalian bisa menjaga Arin, Tanpa Aku di rumah." Kata Rino memandang Kakak dan Sang Ayah.


" Maksud'mu, Kamu menggadaikan dirimu untuk biaya Arini sendirian No?" Ujar Hans berdiri di hadapannya.


" Bukan menggadaikan, Karena Kita masih bisa ketemu. Aku hanya bisa melakukan apa yang seharusnya di lakukan Kakak kepada sang Adik." Ucap Rino dengan tersenyum.


Hans memeluk Rino.


" No, Biarkan Aku saja yang berkorban. Akan Aku minta ke Wak Nanan menggantikanmu!" Ujar Hans.


" Jangan, Jika Arin kehilanganmu maka Ia akan sangat sedih karena Kamu adalah Kakak yang sangat Ia sayangi dan Kamu bagaikan pintu yang membuatnya bisa kemana saja dan mewujudkan harapan Arin. Sudah, Ini kita bahas nanti yang terpenting Arin bisa semangat dan kita bantu melawan penyakitnya." Balas Rino sambil meneteskan air mata.


Sang Ayah pun langsung mendekap ke dua anaknya.

__ADS_1


" Hapus air mata, Kita hibur Arini." Ujar Rino.


Kemudian Sang Ayah, Hans, dan Rino kembali ke ruangan Arini.


__ADS_2